
"Maaf, Bu. Kami tidak bisa menginap dan harus pulang hari ini juga."
Shehan pamit undur diri ditemani oleh Lilis di teras rumah. Nining pun mengantarkan kepergian tamunya sampai di ambang pintu.
"Ya, Tuan. Tidak apa-apa, Ibu mengerti. Terima kasih sudah mau mengunjungi Ibu. Kalau sedang tidak sibuk, datanglah ke sini lain kali."
"Ya, Bu. Akan saya usahakan datang ke sini lagi lain kali."
Usai Shehan bicara, gantian Lilis yang pamit. "Bu, aku pergi, ya."
"Iya, Nak. Baik-baik di sana ya, Lis."
Lilis menyalami ibunya. Meletakan punggung tangan Nining yang mulai berkeriput di keningnya. Tak lupa Lilis memeluk sang ibu dan dibalas dengan pelukan juga oleh Nining. Keduanya tampak merasakan kesedihan yang sama. Saat Lilis membenamkan wajahnya di pundak sang ibu, Nining serta-merta membelai rambut panjang putrinya dengan kasih sayang.
"Jaga diri di sana ya, Nak."
Suara Nining terdengar bergetar menahan rasa ingin menangis. Kesedihan saat berpamitan seperti ini sudah dua kali terjadi. Yang pertama ketika Lilis akan berangkat ke Bali untuk merantau dan yang kedua adalah hari ini.
"Iya, Bu. Aku akan jaga diri, baik-baik di sana."
Lilis memejamkan mata, semakin mempererat pelukannya. Dihirupnya dalam-dalam aroma tubuh Nining. Tubuh berbau keringat bercampur lelah. Agar ia masih dapat mengingat sosok wanita yang telah membesarkannya dengan keringat dan lelahnya itu. Walau mereka berada di tempat yang berbeda dan berjauhan pula.
Selesai berpelukan, Lilis mengikuti Shehan masuk ke dalam mobil. Lambaian perpisahan turut mengiringi laju mobil yang kian menjauh pergi dari teras rumah. Sesaat setelahnya mobil itu memasuki badan jalan dan benar-benar menghilang dari hadapan Nining.
Sekali lagi, Nining menyeka air matanya ketika sudah sendirian. Dulu di rumah kontrakan itu, akan selalu terdengar tawa bahagia dan senda gurau Lilis. Sekarang hanya tinggal Nining dan Doni saja yang menghuni rumah itu sebab Lilis harus merantau, mencari uang untuk membantu perekonomian keluarga.
Dengan langkah lambat Nining masuk ke dalam rumah sederhananya. Ditariknya tuas dan pintu pun segera tertutup rapat. Sedangkan Lilis yang berada di jalan pulang, tengah menatap pemandangan langit sore dari balik kaca depan mobil.
Awan-awan mengepul berwarna kelabu, menutupi sinar mentari yang tersisa sore ini. Sesekali cahaya matahari yang mulai redup itu menampakan dirinya tatkala kumpulan awan hitam bergerak pergi mengikuti embusan angin.
"Sepertinya akan turun hujan," gumam Lilis seraya masih menatap langit.
"Ya."
Shehan hanya menjawab singkat tanpa menoleh. Pria itu memilih fokus memperhatikan kondisi jalan raya yang mulai padat dipenuhi kendaraan roda empat dan roda dua.
"Hhmm ... Nurbanu sedang apa ya sekarang? Apa sudah makan camilannya?" Lilis teringat pada anak asuhnya yang dia tinggal selama seharian ini.
"Tadi Mbok Tum menelpon. Mbok Tum bilang Nurbanu mencari kamu selesai pulang TK. Tapi Mbok Tum bilang kamu sedang pergi karena ada urusan dan sore baru kembali. Barulah Nurbanu diam. Tidak bawel lagi."
"Kasihan, Nurbanu! Mudah-mudahan tidak macet di jalan ya, Tuan. Supaya bisa cepat sampai di rumah."
"Ya."
Hanya obrolan singkat seputar Nurbanu saja yang menjadi awal sekaligus akhir percakapan antara Shehan dan Lilis sore itu, karena setelahnya tidak ada obrolan apapun lagi. Sepanjang perjalanan dari Banyuwangi ke Bali, Shehan terus diam. Lilis juga tidak berani mengajak bicara sebab takut akan mengganggu konsentrasi Shehan.
'Hubunganku dan Tuan Murad masih kaku sekali seperti ini. Bagaimana kalau kami sudah menikah nanti ya? Apa masih akan kaku seperti ini?' Lilis membatin dalam diamnya.
**
Selang hampir empat jam berada di perjalanan, Shehan dan Lilis pun tiba juga di rumah. Mobil berjenis sedan mewah yang dikemudikan oleh Shehan memasuki pelataran rumah. Keadaan sunyi senyap di sana. Tampak lampu taman telah menyala karena hari memang sudah malam.
Shehan turun lebih dulu sesudah memarkirkan mobilnya di garasi. Disusul oleh Lilis yang tak lama kemudian juga ikut turun. Gadis itu terus melihat majikannya yang berjalan memutari bagian belakang mobil.
"Tuan!" panggil Lilis saat Shehan melintasinya.
Shehan menoleh, tetapi tidak menjawab panggilan Lilis.
Lilis berbaik hati menawarkan minuman. Namun, siapa sangka kalau Shehan membalasnya dengan ucapan dingin lalu melengos pergi begitu saja.
"Tidak usah."
Lilis masih terus melihat kepergian shehan yang kini hanya terlihat punggungnya saja sampai menghilang di balik tikungan tembok.
'Tuan Murad kenapa ya? Mungkin kelelahan makanya seperti itu.' Tidak mau berburuk sangka, Lilis memilih berpikir positif saja.
Hari berikutnya, Shehan masih bersikap tak acuh dan dingin. Pria itu memang sebelumnya jarang berbasa-basi dengan Lilis. Dia hanya bicara bila ada hal penting ataupun sesuatu yang ingin ditanyakan.
Akan tetapi tidak seperti biasanya, sekarang bila melihat Lilis seolah Shehan ingin menghindar. Ia buru-buru memalingkan wajah ataupun memilih melewati jalan berbeda agar tidak berpapasan dengan gadis itu. Bahkan sikap Shehan yang seperti itu sudah berlanjut sampai tiga hari berikutnya.
'Ada apa dengan Tuan Murad? Apa aku ada salah bicara waktu berkunjung ke rumah Ibu? Sepulangnya dari Banyuwangi Tuan Murad jadi lebih pendiam.'
Lilis pun menyadari perubahan perangai Shehan yang menurutnya tak biasa. Pagi ini saja, ketika pria itu hendak melewati ruang tengah sambil bicara di handphone dengan seseorang, tiba-tiba Shehan berputar badan. Tidak jadi melintasi ruang tengah lantaran ada Lilis yang sedang menyuapi Nurbanu di sana.
Jarum jam terus berlari, hari pun berganti. Tak terasa sudah seminggu sejak kepulangan Shehan dan Lilis dari Banyuwangi. Tepatnya malam hari saat Lilis menarik tirai, menutupi jendela sebab langit akan turun hujan, tiba-tiba Shehan muncul di belakang Lilis lalu memanggilnya.
"Lilis!"
"Akh! Tuan!" Lilis terkejut sampai berjingkat. Tangannya refleks memegang dada. Tatkala wajah Shehan sudah tergambar jelas di netra Lilis, barulah ia bisa menghela napas lega. "Haah ... aku pikir siapa tadi. Maaf Tuan, aku tidak tahu kalau Tuan datang."
Shehan menatap datar Lilis yang berdiri di hadapannya. Meski ekspresi keterkejutan Lilis luar biasa tadi, tetapi Shehan biasa saja.
"Lilis, aku ingin bicara empat mata denganmu."
Manik coklat muda pria Turki itu tak bergerak. Menatap intens lawan bicaranya. Ditatap tanpa berkedip oleh Shehan membuat Lilis pun bertanya-tanya, ada apa gerangan?
"Eum ... ya, Tuan. Silakan!"
Shehan memperhatikan keadaan sekitar. Terlihat sepi sama sekali tidak ada orang kecuali mereka berdua. Kendatipun begitu, Shehan masih merasa tidak nyaman sehingga mengajak Lilis berbincang di tempat lain.
"Ayo, kita ke ruang kerjaku saja! Lebih baik bicara di sana."
"Ya, Tuan." Lilis mengangguk patuh. Kemudian mengikuti Shehan yang berjalan lebih dulu di depannya.
Sesampainya di ruang kerja, Shehan duduk di kursi yang biasa dia tempati untuk bekerja. Sementara Lilis berdiri di depannya. Dari balik meja kayu mengkilap itu, Shehan mengatakan hal tak terduga. Hal yang membuat Lilis seketika remuk redam tak berdaya.
"Lilis, maaf. Aku tidak bisa menikah denganmu."
"A--apa? A--apa yang Tuan katakan barusan?"
Shehan menarik napas dalam. Bergeming sejenak sembari menatap Lilis yang sedang menunggunya bicara dengan mimik wajah sendu.
"Maaf, Lilis. Aku tidak bisa menikah denganmu."
Kedua mata Lilis membulat, menatap dengan sorot mata tak percaya. Kelopaknya bergoyang mengisyaratkan kepedihan.
***
BERSAMBUNG...
Apa gerangan yang membuat Shehan tiba-tiba merubah keputusan?