Butterfly In You

Butterfly In You
Bab 80 : Aku, Suamiku Dan Mantan Istrinya



Sudah cukup banyak para pelayat yang datang mengenakan baju serba hitam tatkala rombongan Lilis dan Shehan tiba di rumah duka. Lilis tertegun melihat Shehan seketika meninggalkannya di pelataran rumah, tergopoh-gopoh pria itu berjalan bahkan nyaris setengah berlari demi menemui Sarah yang sudah menyambut kedatangannya di depan pintu masuk utama. Begitupun Nurbanu juga meninggalkan LiIis agar bisa segera memeluk ibu kandungnya.


"Shehan, hiks ... hiks ... hiks...."


Dari kejauhan, sayup-sayup terdengar isak tangis dan ratapan Sarah. Terdorong naluri sedih, Sarah tanpa sadar langsung memeluk Shehan. Shehan yang memang turut merasa iba atas penderitaan Sarah tidak bisa menolak pelukan itu. Ia membalas--melingkarkan kedua tangannya ke punggung Sarah.


"Bersabarlah, Sarah. Kamu harus kuat!" Shehan menimpali.


"Ya, Shehan."


"Mama ... Mama kenapa menangis, Ma?" Nurbanu ikut cemas.


Perhatian Sarah beralih pada anaknya. "Nurbanu Sayang, kemarilah, Nak!"


Saat ketiganya sudah berkumpul, mereka tampak seperti sebuah keluarga yang utuh, bukan? Sedangkan Lilis yang melihat pemandangan itu dari pelataran rumah, hanya seolah bagai orang asing di antara mereka.


"Selamat malam, Nyonya LiIis."


"Aku...." LiIis berdecak kaget. Sapaan seorang pelayan wanita telah membuyarkan lamunannya. Entah dari mana datangnya, tahu-tahu pelayan wanita itu sudah berdiri di samping LiIis.


"Nyonya LiIis, Nyonya Sarah meminta saya agar membawa Nyonya ke kamar tamu setibanya Nyonya di sini," ujar si pelayan dengan sopan.


"Oh begitu, baiklah," jawab Lilis tak kalah ramah.


"Mari ikuti saya, Nyonya. Tapi sebelum itu, izinkan saya membawakan koper Nyonya."


"Terima kasih."


Lilis mengizinkan pegangan kopernya berpindah tangan. Kemudian ikut berjalan di belakang pelayan wanita tadi menuju kamar tamu yang sebelumnya sudah dipersiapkan oleh Sarah. Tetapi mereka tidak masuk melalui pintu utama, melainkan dari pintu masuk lain yang berada di samping rumah.


Sebelum belok ke tikungan tembok, Lilis melihat Shehan masih memeluk Sarah sambil mengusap punggungnya beberapa kali. Shehan di seberang sana sama sekali tidak tahu kalau LiIis memperhatikannya. Sarah juga terlihat membalas pelukan itu, membenamkan wajahnya yang sembap ke leher Shehan dan masih menangis tersedu-sedu. Kendati pun begitu, Lilis tetap bersikap tenang. Tidak mau mencemari hati serta pikirannya dengan prasangka.


Ceklek!


"Silakan masuk, Nyonya." Pelayan wanita itu membukakan pintu kamar tamu sesampainya mereka, mempersilakan LiIis masuk ke dalam dengan posisi satu tangan mengulur ke dalam ruangan.


Lilis mengangguk singkat sebagai balasan. Jejak kakinya berayun seirama pandangannya mengedar ke sekeliling ruangan kamar yang cukup luas.


Dreett....


Suara deru roda koper diseret di atas lantai terdengar nyaring. Suara itu pun terhenti di dekat tepian tempat tidur.


"Nyonya Lilis."


Lilis menoleh.


"Jika Nyonya membutuhkan sesuatu, tolong jangan sungkan untuk memberitahu saya. Nyonya Sarah berpesan agar saya melayani Nyonya dengan baik selama tinggal di sini." Gelagat pelayan itu kelihatan ramah ketika bicara. Ia juga melayani Lilis dengan baik sampai tiba di kamar ini.


LiIis mengangguk lemah seraya menyematkan senyum di wajahnya. "Pasti aku akan memberitahu kalau butuh sesuatu."


"Kalau begitu, saya izin pamit keluar sekarang, Nyonya."


"Hhmm...."


Si pelayan mengangguk singkat sebelum berbalik badan. Lalu melangkah keluar dan menutup rapat pintu.


Ceklek!


Tinggallah LiIis seorang diri sekarang. Ia membuka koper yang tadi diletakan di dekat tepi tempat tidur. Mencari-cari pakaian warna hitam yang sudah dia sediakan sejak dari rumah. Selesai mengganti pakaian, Lilis pergi ke ruang tengah untuk bergabung bersama para pelayat lain.


Namun setibanya di sana, masih LiIis melihat Shehan dan Nurbanu lengket berada di sisi Sarah. Menemani Sarah duduk di dekat jenazah Jody yang ditutupi kain panjang di sekujur tubuh. Lantas Lilis menghampiri ketiganya.


"Mbak Sarah...."


Panggilan LiIis mengecoh Sarah yang kala itu sedang menyeka air mata dengan saputangan. Saat menoleh, Lilis dapat melihat jelas wajah Sarah tampak bengkak karena sudah terlalu banyak menangis. Ujung hidungnya merah juga sklera matanya.


Lilis refleks menyambut dan memeluk Sarah. Tak pelak lagi, Sarah kembali menangis saat berada di pelukan LiIis.


"Hiks ... hiks ... hiks...."


"Aku turut berdukacita atas kepergian Mas Jody, Mbak Sarah."


"Hiks ... hiks ... hiks...." Sarah terisak. Tidak bisa berkata apa-apa untuk mengungkapkan kehancurannya.


Iba, Lilis pun mengusap-usap punggung Sarah dengan lembut. Ini salah satu cara yang dapat dia lakukan untuk mengurangi beban penderitaan Sarah. Sedangkan cara lainnya adalah merelakan suaminya--Shehan terus berada di sisi Sarah sepanjang malam menuju pagi. Bahkan ketika jasad Jody akan dikebumikan, Shehan-lah orang yang selalu siap sedia menjaga Sarah serta memberikan bahunya untuk Sarah bersandar.


Kalau begitu situasinya, lantas di mana LiIis?


Lilis berada di seberang mereka. Terhimpit di antara para pelayat lain, wartawan dan kameraman yang tidak mau ketinggalan mengambil gambar serta video proses pemakaman sosok sang penyanyi terkenal. Apalagi berita kematian Jody yang tiba-tiba sudah menjadi topik teratas perbincangan di sosial media.


Sesekali LiIis menoleh Shehan yang tampak sedang merangkul Sarah. Ia berlapang dada mengikhlaskan suaminya menghibur wanita lain. Tak mau berlama-lama melihat pemandangan itu, Lilis beralih melihat proses pemakaman lagi hingga selesai. Satu-persatu orang yang datang menyalami Sarah, memberi ucapan belasungkawa serta wejangan agar ia harus tegar dan tabah menghadapi semua cobaan ini.


**


Tiga hari berlalu.


Jody sedang tersenyum di dalam sebuah bingkai foto yang terletak di salah satu rak hias yang berada di ruang tengah. Sudah sejak tiga menit lalu LiIis bergeming--memandangi foto itu. Selagi tidak ada orang lain, LiIis mengambil bingkai foto tersebut. Melihatnya intens sekali lagi.


'Mas Jody, aku tidak menyangka kalau Mas-lah yang lebih dulu pergi di antara kita. Aku masih ingat saat Mas datang ke acara pernikahanku dan Mas Shehan. Waktu itu Mas juga menyempatkan diri untuk bernyanyi. Suara Mas merdu sekali. Selamat tinggal, Mas Jody. Mas orang yang baik. Aku berdoa agar Mas ditempatkan di sisi terindah Tuhan.' Lilis meletakan bingkai foto itu kembali ke tempatnya semula.


"Nyonya Lilis, anda di sini rupanya. Tadi saya mencari Nyonya di kamar tamu, tetapi tidak ada sahutan." Pelayan wanita yang sejak Lilis datang selalu melayaninya, mendadak muncul dari balik tikungan tembok.


LiIis yang sudah berbalik badan lantas bersirobok dengannya. "Maaf ya sudah merepotkanmu."


"Ah, tolong jangan sungkan, Nyonya. Saya mencari Nyonya karena ingin memberitahu kalau Nyonya Sarah meminta saya untuk menjemput Nyonya. Waktu makan pagi sebentar lagi akan dimulai, Nyonya. Tuan Shehan dan Nona Nurbanu sudah berkumpul di meja makan."


"Aku terlambat kalau begitu. Terima kasih sudah memberitahuku. Ayo, kita ke sana!"


"Ya, Nyonya."


Pelayan itu membimbing Lilis mengitari ruangan-ruangan rumah yang sudah sepi. Di hari menjelang proses pemakaman itu saja rumah besar ini ramai. Setelah proses pemakaman berakhir--berikut acara serangkaian doa yang diadakan tiga malam berturut-turut, rumah ini kembali sunyi. Hanya pelayan saja yang tampak mondar-mandir di sekitar rumah.


'Pasti Mbak Sarah akan kesepian tinggal di rumah ini nantinya,' gumam Lilis selagi berjalan. Tatkala tiba di ruang makan, Sarah, Nurbanu dan Shehan sudah duduk di kursi mereka masing-masing sambil menunggu LiIis.


"Selamat pagi, semuanya. Maaf kalau aku terlambat." LiIis berusaha bersikap tenang dan normal. Padahal di dalam hati dia merasa canggung seperti orang asing.


"Tidak apa-apa, LiIis. Duduklah dan makan bersama kami." Sarah beramah-tamah pada tamunya meski keadaan dirinya sendiri masih terguncang. Tetapi ia berusaha menunjukan sikap tegar.


"Ya, Mbak."


Tanpa diperintah, pelayan wanita tadi sudah tahu akan tugasnya. Ia pun menarik sebuah kursi untuk LiIis duduk. "Silakan, Nyonya."


"Terima kasih." Lilis bersemayam di sebelah Nurbanu dan berhadapan dengan Shehan. Sementara Sarah menempati posisi lebar meja.


"Ayo, semuanya! Kita makan sarapan kita," ajak Sarah. Suaranya masih terdengar parau.


Semua orang sibuk dengan makanan di atas piring masing-masing. Tidak ada yang bicara antara satu sama lain. Sesekali LiIis melirik keadaan sekitar, memerhatikan para penghuni meja makan yang tampak kaku. Duka atas kepergian Jody mungkin yang menjadi penyebabnya.


Sampai suatu ketika, Sarah tersedak. "Uhuk ... uhuk ... uhuk...." Satu tangannya menutup mulut sambil masih terbatuk, "uhuk ... uhuk ... uhuk...."


"Minumlah ini!" Shehan yang berada di sampingnya muncul sebagai pahlawan, dengan sigap menyodorkan segelas air putih untuk Sarah.


"Terima kasih, Shehan." Sarah mengambil gelas yang disodorkan padanya lalu meminum airnya sampai tandas.


Lilis bersikap netral melihat kedekatan keduanya. Ia berpikir kalau Sarah masih sedang pilu hatinya sementara Shehan berbaik hati ingin membantu dan menghibur. Tetapi takĀ  menampik kemungkinan kalau perhatian yang Shehan berikan pada Sarah berbuah cikal bakal cemburu di hati Lilis.


***


BERSAMBUNG...