
Lilis mengerang, mendongak, memejam erat saat dihentak kuat dari belakang seraya ditahan pinggulnya. Ia sungguh tidak bisa menghindar, harus menampung seluruh hasrat gairah suaminya. Bahkan, tangannya yang sedang memegang tepian bathtub gemetaran, berikut kedua kakinya yang menopang tubuh membungkuknya saat ini.
Shehan yang masih berada di belakang Lilis ikut mengerang puas. Otot-otot tubuhnya yang sempat kaku kini mulai mengendur. Dadanya membusung kembang kempis, berusaha menetralkan ritme tarikan napas. Setiap kali bercinta, ia pasti akan mendapatkan kepuasan mutlak yang sama. Semangat hidupnya bertambah setelah itu.
Sesuatu diberikan Shehan pada penghujung puncak permainan. Naluri Lilis merasakan ada yang hangat sedang mengalir ke dalam dirinya, lantas ingin menggeser posisi. Namun, masih ditahan oleh Shehan posisinya sampai pria itu yakin kalau sesuatu yang telah dia berikan menyatu dengan sempurna dalam tubuh Lilis. Lilis pasrah, menunduk dalam.
Usai menjejaki ruang surga duniawi, barulah Shehan melepaskan Lilis. Lilis langsung terduduk lemas di tepian bathtub, sudah tidak berdaya. Kedua bahunya naik turun--seirama melodi napasnya yang tersengal. Di saat itu Shehan menghampiri, ingin memberi kecupan kasih sayang di kening Lilis sebagai tanda bahwa peraduan kasih asmara mereka telah berakhir.
Cup....
Sentuhan bibir Shehan terasa lembut, mengundang keinginan Lilis untuk mengangkat wajah agar dapat bersirobok dengan suaminya. Manik mereka saling bertemu. Kedua sudut bibir Lilis dipaksa untuk tersenyum meski masih amat lelah.
"Kamu kelelahan?"
"Ya ... Mas."
Shehan menyeringai malu. "Maafkan aku karena terlalu menyukaimu."
Perlahan Shehan mengangkat tangan kanannya, mendarat di kepala Lilis. Masih berada di bawah guyuran air pancuran, Shehan membelai rambut istrinya yang basah. Bukan hanya membelai, ia juga memberikan perlakuan manis lainnya. Lilis juga tidak keberatan walau dia harus merasa kelelahan berulang kali, tetapi di satu sisi Lilis merasa dicintai.
"Aku menyukai apa yang menjadi milikku, Lilis. Kamu adalah milikku, selamanya akan begitu." Shehan menatap Lilis dengan tatapan memuja. Ya, begitulah Shehan. Bila sudah mencintai, dia akan melakukannya sepenuh hati.
"Mas...." Lilis menyahut pelan dengan nada manja. "Aku juga menyayangi, Mas. Meski awalnya kupikir ini tidak akan mungkin terjadi, tetapi masa depan berkata lain."
Shehan semakin senang mendapat balasan yang sama. Ia memegang kedua lengan Lilis, membantunya berdiri.
"Kemarilah, Sayang! Aku ingin memelukmu sekali lagi." Dibimbingnya gadis itu menuju pelukannya. Lilis dan Shehan kembali menyatu tanpa celah di bawah rintik air.
Beberapa saat berlalu.
"Sayang...." Panggilan halus Shehan menyapa telinga Lilis. Lilis masih tertidur lelap ketika Shehan yang sudah berpakaian rapi mengenakan setelan kasual duduk di tepi ranjang berusaha membangunkannya.
"Sayang...." Panggilan halus kedua menguar, agaknya Lilis mulai sadar lantaran mengerjap-ngerjap lemah.
"Sayang...." Panggilan halus ketiga. Segenap nyawa Lilis sudah terkumpul. Katupan matanya perlahan terbuka. Mengucek-ngucek beberapa kali lalu menguap. Satu tangan Lilis menutupi mulutnya kala itu. Terakhir ia menggeliat ringan. Selimut yang menutupi sebagian tubuhnya ikut tertarik mengikuti gerakan yang Lilis ciptakan.
"Mas...." Tatapan Lilis tampak sayu.
Shehan menangkup pipi Lilis dengan satu tangannya. "Maaf membangunkanmu, Sayang. Tapi kamu belum makan malam. Aku tidak mau kamu sakit. Ayo, kita keluar!" ajak Shehan setelah memberi penjelasan.
"Eum ... tapi aku masih mengantuk, Mas!" tolak Lilis dengan manja.
"Makan dulu, Sayang! Setelah itu baru tidur lagi."
"Eum...." Lilis menggeliat lagi, malas-malasan bangkit.
"Ayolah!" ajak Shehan lagi.
Tak tega menolak suaminya, Lilis tidak mau membantah lagi. "Baiklah, Mas."
Gadis yang juga memakai pakaian santai saat tidur tadi kemudian bangkit dan duduk di atas ranjang. Mengumpulkan segenap energi sebelum turun dari kasur.
Shehan yang masih duduk di tepinya sambil memperhatikan, bertindak perhatian dengan merapikan rambut Lilis yang sedikit berantakan dengan jari.
Senyum Lilis dibalas dengan hal serupa. "Ayo!" Tangan Shehan mengulur.
"Ya, Mas."
Lilis menyambut uluran tangan suaminya. Bersama-sama keduanya keluar dari kamar hotel tempat mereka menginap.
**
Tidak jauh dari pusat kota tepatnya di Eryaman distrik Estimesgut--Ankara, Shehan mengajak Lilis pergi ke Göksu Park--sebuah taman yang diperuntukkan bagi khalayak umum. Taman kota ini berupa danau yang luas, dihuni pohon-pohon perindang serta kios-kios yang menjual makanan khas negeri yang dulunya adalah bekas Kekaisaran Romawi Timur.
Dari tempat ini, Shehan dan Lilis bisa melihat gedung-gedung tinggi menjulang ke langit. Terlebih lagi makin cantik saat malam karena cahaya dari lampu-lampu gedung tersebut jatuh ke permukaan air, menciptakan biasan riak yang terang.
Ketika sedang berjalan menyusuri area taman sembari dituntun tangannya oleh Shehan, tak henti-hentinya Lilis mengedarkan pandangan kagum ke sekitar. Selain mereka, banyak orang juga datang ke sana. Sekadar berjalan-jalan, menikmati pemandangan danau atau bercengkerama sambil mengunyah santapan ringan.
Lilis dan Shehan duduk di salah satu bangku yang menghadap ke danau. Di atas meja mereka telah terhidang satu cangkir kopi Turki untuk Shehan dan satu cangkir teh Turki untuk Lilis, lahmacun--roti tipis dengan taburan daging sapi giling yang sudah diberi bumbu, pilav--nasi Turki yang dimasak dengan mentega, garam serta diberi tambahan kacang polong.
Terdapat pula dolma--sayuran yang diberi isi. Umumnya diisi dengan nasi, daging, bawang. Kofte--daging sapi giling yang diberi rempah-rempah, telur, remahan roti dan irisan daun peterseli. Dibentuk bulat ataupun memanjang. Biasanya dipanggang ataupun digoreng dengan mentega. Terakhir adalah baklava--kudapan manis dengan sensasi renyah yang dijadikan sebagai makanan penutup.
"Banyak sekali makanan di meja kita, Mas!" Lilis antusias.
"Aku sengaja memesan banyak untuk memperkenalkanmu dengan makanan yang dulu biasa aku makan saat masih tinggal di sini. Aku yakin kamu bisa menghabiskan semuanya karena rasa makanan ini sangat enak."
"Aku coba dulu ya, Mas!" Lilis minum seteguk tehnya sebelum memulai acara icip-icip, "menurut Mas makanan yang mana dulu yang harus kucicipi?"
"Hhmm...." Shehan berdeham, menyortir hidangan di atas meja, "Dolma, ini adalah makanan pembuka." Tangan Shehan menunjuk ke arah makanan yang dimaksudnya.
"Baiklah, aku cicipi ya, Mas!" Lilis mengambil satu dolma, meletakan di atas piringnya. Terlebih dulu ia memotong makanan itu menjadi potongan kecil sebelum memasukkannya ke dalam mulut.
Selang beberapa detik selanjutnya, raut semringah Lilis tercipta. "Eum ... rasanya enak, Mas! Gurih dan juga wangi sekali!" gumamnya lalu mengunyah lagi.
"Kamu harus menghabiskan semuanya!" kelakar Shehan.
"Tidak mau, aku bisa muntah karena kekenyangan nanti." Lilis mencebik.
Sontak Shehan tertawa mendengar jawaban Lilis. "Hahaha!"
Di tengah perbincangan yang akrab itu, tiba-tiba ponsel Shehan berdering.
Ddrrtt ... Ddrrtt ... Ddrrtt....
Segera fokus keduanya teralihkan pada gawai yang baru saja dikeluarkan Shehan dari saku celananya.
"Tunggu sebentar, ya. Mehrunissa yang meneleponku," kata Shehan setelah tahu adik perempuannya yang menelepon.
"Eum ... ya, Mas." Lilis mengangguk singkat kemudian memakan lagi makanan di atas piringnya selagi Shehan menjawab panggilan telepon dan bicara dengan menggunakan bahasa Turki.
***
BERSAMBUNG...