
"Ah ... itu, tidak apa-apa, Tuan."
Lilis grogi dipergoki seperti itu, lantas menundukan pandangan serta menggigit bibir bawahnya untuk mengurangi rasa canggung yang melanda.
Kali ini gadis itu selamat sebab bukan tipe Shehan untuk memperpanjang urusan sepele. Ia pun menyeret sorot mata sinisnya ke arah pintu masuk mall yang ada di depan mereka.
"Ayo!" ajak Shehan tanpa melihat. Tatapannya kini lurus ke depan seraya melanjutkan langkah yang sempat tertunda. Dengan kedua tangan masuk ke dalam saku celana, pria itu berjalan lebih dulu.
"Ya, Tuan."
Lilis, si gadis polos, tentu saja mengekor di belakang. Ia sangat tahu diri agar tidak mensejajarkan posisinya dengan majikannya. Sementara para wanita yang berada di sekitar mereka langsung takjub, terpana pada sosok Shehan yang berkelas dan berwibawa.
'Untunglah aku cuma jadi istri kontrak Tuan Murad, kalau jadi istri sungguhan harus tahan banting karena saingannya banyak, hihihi!'
Lagi-lagi Lilis bergurau dengan dirinya sendiri. Malahan pipinya merona membayangkan hal itu. Baru kali ini dia pergi berdua dengan majikannya. Sebab itu pula Lilis merasa gugup, tidak percaya diri. Ia pun dapat memaklumi sikap para wanita yang terkagum-kagum ketika melihat Shehan. Siapa pun akan terpesona karena pria itu memang tampan, kharismatik pula.
Banyak melamun, Lilis baru menyadari kalau ia berjalan sendirian. Ketika melihat ke depan, tampak Shehan berjarak sekitar lima meter darinya. Gadis itu sudah tertinggal cukup jauh. "Tuan, tunggu aku!" gerutunya refleks lalu bergegas menyusul.
"Hah ... hah ... hah ...." Lilis megap-megap begitu sudah berhasil menjangkau Shehan. Dipegangnya dada, merasakan ritme napas yang tersengal-sengal.
Shehan yang masih berjalan dengan langkah lebar, menoleh sebentar. 'Bukan hanya kampungan, terkadang sikapnya juga konyol. Kau harus banyak bersabar Shehan.' Pria itu membatin lalu memalingkan wajahnya ke depan lagi.
Berkeliling mall sekitar sepuluh menit lamanya, akhirnya Shehan memasuki sebuah butik khusus pakaian wanita. Serta-merta Lilis juga melakukan hal yang sama. Saat keduanya masuk ke dalam, tidak ada pengunjung lain di sana. Seorang pramuniaga toko pun menyambut mereka dengan seulas senyum ramah.
"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?"
Shehan berhenti di samping pramuniaga itu. "Tolong tunjukan pakaian wanita keluaran terbaru."
"Baik, Tuan. Silakan ikuti saya!"
Shehan beranjak mengikuti pramuniaga toko mengarahkan mereka ke rak pakaian keluaran terbaru. Sedangkan Lilis sedari masuk tadi terus diam, sungkan bicara. Ia hanya mengikuti Shehan ke mana pun pria itu pergi.
"Pakaian yang digantung di rak ini semuanya keluaran terbaru, Tuan," jelas pramuniaga toko dengan gerakan tangan yang lihai.
Manik coklat muda Shehan mengedar ke seluruhan pakaian yang digantung. Tangannya turut menyortir beberapa helai yang ada di hadapannya. Sampai pada sortiran ke tujuh, Shehan menemukan sebuah gaun tanpa lengan berwarna kecubung.
Desain gaun itu polos pada bagian tengah sampai ke bawah. Namun, pada bagian kerah terdapat mutiara-mutiara warna broken white yang disusun secara apik, menjadikan gaun sederhana itu terlihat elegan.
Shehan mengeluarkannya dari barisan gantungan, disejajarkannya gaun tersebut ke arah samping Lilis. Pria itu hendak melihat, apakah cocok bila Lilis mengenakannya. Lilis sendiri memperhatikan gaun itu dari atas sampai bawah.
"Lilis, coba baju ini!" Shehan menyodorkan gaun yang ia pegang.
"Baik, Tuan." Usai mengangguk Lilis mengambilnya. Sempat celingukan mencari kamar pas, untung saja pramuniaga toko yang masih menemani mereka segera membimbing Lilis.
"Kamar pasnya di sebelah sana, Nona."
Lilis menoleh ke arah petunjuk tangan si pramuniaga, tampak olehnya kamar pas berada di sisi kiri dari posisi mereka. Di dekat rak rok wanita.
"Terima kasih," sahut Lilis beranjak pergi.
"Kalau butuh bantuan, silakan panggil saya," ujar pramuniaga itu lagi.
"Iya, Mbak. Terima kasih banyak."
Sikapnya yang lugu dapat terbaca oleh pramuniaga toko dan membuatnya bergumam dalam hati. 'Beruntung sekali gadis itu! Bisa bersama Tuan tampan ini.'
Lilis kemudian menjajal baju yang telah dibawanya ke kamar pas. Mula-mula ia melepas pakaian lama yang masih terbalut di tubuhnya. Lalu ia mengenakan gaun kecubung tadi. Saat bayangannya terbias di cermin kamar pas, terlihat ukurannya sangat pas. Panjangnya juga pas, lebih lima sentimeter di bawah lutut. Gaun itu melekat sempurna di tubuh Lilis.
"Cantik sekali!" puji gadis itu tatkala melihat dirinya sendiri.
Jemarinya merayap ke permukaan gaun, seketika ruasnya merasakan serat yang halus dan lembut. Di saat itu, tanpa sengaja Lilis menemukan label harga yang terselip di sisi kanan dekat resleting yang memanjang dari bawah ketiak hingga pinggul.
Sekonyong-konyong Lilis melihatnya. Betapa kedua mata gadis itu tercengang, melebar setelah mengetahui harga gaun yang ia kenakan. "Hah ... dua juta delapan ratus sembilan puluh sembilan ribu rupiah? Mahal sekali!"
Sudah pasti Lilis merasa tidak enak hati bila uang sebanyak itu hanya dihabiskan untuk membeli sepotong gaun saja. Ia pun berniat menolak pemberian gaun itu. Lantas beranjak keluar kamar pas, hendak menemui Shehan.
"Tuan ...." Raut Lilis malah risau gelisah tiba di hadapan Shehan.
"Ada apa? Apa bajunya kebesaran?"
"Tidak Tuan, baju ini pas. Tapi maaf ...."
Lilis mengedarkan pandangan sejenak, mencari pramuniaga toko. Melihat orang yang dia cari berada tak jauh dari mereka, Lilis pun setengah berbisik pada Shehan.
"Tuan, maaf. Jangan beli baju ini. Harganya terlalu mahal," sambungnya lagi.
"Cih!" Shehan malah mendengus geli. "Memangnya berapa harganya?"
"Dua juta delapan ratus ribu, Tuan. Hampir tiga juta." Nada suara Lilis kelimpungan.
Senyum tipis Shehan terbit kemudian. "Tidak apa-apa. Ayo, kita bayar!"
"Tuan, tapi ...."
Saat Lilis berusaha mencegah Shehan menuju kasir, ia lebih dikagetkan lagi dengan kemunculan mantan pacarnya, yakni Hendra yang datang bersama istrinya--Tina.
"Hendra!"
Lilis terpaku, bingung tak menentu. Shehan menoleh ke belakang ketika mendengar gadis itu menyebutkan nama seseorang. Dari tatapan Lilis yang tak berkedip pada pengunjung butik yang baru datang, sudah dipastikan ada hal lain yang dirasakan olehnya.
'Mati aku! Bagaimana ini? Aku malu sekali bertemu Hendra dan istrinya.'
Buru-buru Lilis masuk lagi ke kamar pas, demi menghindari pasangan pengantin baru itu.
"Lilis, mau ke mana?"
Shehan pun ikut menyusul, masuk ke dalam kamar pas. Ia ingin meminta penjelasan gadis itu. Begitu tiba di dalam, Shehan mendapati Lilis tengah berdiri dengan buncah. Jari-jemarinya pun saling beradu di depan dada.
"Tuan ...." Alis Lilis mengerut.
"Kenapa kamu masuk lagi ke kamar pas?"
Lilis berpaling sebentar. "A--aku ... aku malu sama tamu yang baru datang itu, Tuan."
"Malu kenapa? Kamu kenal mereka?"
"Mereka itu tetanggaku di kampung, Tuan."
"Kalau mereka tetanggamu, kenapa harus malu? Kita sapa saja."
"Tapi ...." Lilis bungkam, ragu melanjutkan ucapannya.
Melihat ekspresi Lilis sedemikian khawatirnya, Shehan dapat menerka alasan kegelisahan gadis itu.
"Laki-laki itu mantan pacarmu, ya?"
"I--iya Tuan. Dan perempuan yang bersamanya itu, istrinya. Mereka baru saja menikah." Lilis menunduk dalam.
"Ya sudah, bersikap sewajarnya saja. Lagipula kalian sudah putus dan mantan pacarmu juga sudah menikah. Ayo keluar!" Shehan menarik tangan kanan Lilis.
"Tapi Tuan!" Lagi-lagi Lilis menolak.
"Ada apa lagi?"
"Aku malu bertemu dia, karena aku pernah mendengar mantan pacarku itu bicara sama teman-temannya. Katanya aku miskin dan jelek." Aura Lilis berubah sedih usai mengatakan hal itu.
***
BERSAMBUNG...