Butterfly In You

Butterfly In You
Bab 51 : Pelukan Cinta



Deru roda koper diseret mendominasi indera pendengaran Lilis dan Shehan yang bersama-sama sedang melewati ruangan demi ruangan rumah menuju kamar utama. Punggung Shehan yang kokoh menjadi objek pandangan Lilis. Ia berjalan di belakang dengan pergelangan tangan kanan dipegang erat oleh pria itu, hingga tak mungkin rasanya Lilis bisa kabur.


"Mas, lepaskan aku, Mas! Aku bisa jalan sendiri!" ronta Lilis, sedang menahan sakit akibat cengkeraman Shehan.


"Tidak! Di kamar nanti aku baru akan melepaskanmu!" Penolakan Shehan meluncur tegas tanpa melihat orang yang diajaknya bicara. Ia terus menjejakkan langkah pastinya seraya menuntun Lilis.


Lilis mengernyit, terpaksa menerima perlakuan otoriter Shehan. Setibanya mereka di kamar utama, barulah Shehan menepati janjinya, melepaskan pergelangan tangan Lilis.


Ceklek!


Pintu kamar utama tertutup rapat. Hanya ada dua orang yang menghuni di dalam, yakni Lilis dan Shehan. Koper yang tadi diseret-seret masih teronggok di dekat mereka.


Lilis melihat dengan sorot mata mengeluh seraya memegang pergelangan tangannya usai terbebas dari cengkeraman Shehan. Sisa rasa sakit itu masih membelenggu di sana. Lantas Lilis mengusapnya beberapa kali. Karena sikapnya yang demikian, Shehan jadi merasa khawatir.


"Apa tanganmu sakit?"


"Sedikit, Mas."


"Coba aku lihat!" Diraihnya tangan Lilis lalu mengembusnya pada bagian yang sakit. "Huu ... Huu ... Huu ... Sudah lebih baik?"


"Sudah, Mas." Lilis menarik tangannya dari Shehan. "Kenapa Mas merobek surat perjanjian pernikahan kita?"


"Aku masih punya surat itu. Kusimpan di kantorku. Nanti akan kuberikan surat itu sebagai ganti suratmu yang robek."


"Tapi sungguh, bukan aku yang memberitahu Nona Jesslyn tentang pernikahan kontrak kita, Mas."


"Ya, aku tahu itu."


Lilis kemudian menunduk lemah.


"Kenapa kamu mau tidur di kamar tamu?" Shehan mulai menginterogasi.


Lilis kembali mengangkat wajahnya. "Karena Nona Jesslyn meminta tidur di kamar ini."


"Kenapa kamu mau saja menurutinya?"


"Karena tidak mungkin aku menolak permintaannya. Apalagi dia kekasih Mas."


"Dia bukan kekasihku!"


"Tapi dia sedang hamil anak Mas, kan!"


Ketegangan di ujung percakapan membuat mata Lilis berembun. Pandangannya mulai kabur, berkaca-kaca ketika masih bersemuka dengan Shehan. Shehan sendiri juga tidak menyangkal tuduhan Lilis. Ia berpaling sengaja menghindari tatapan menuntut gadis itu.


"Kalau Mas sudah punya kekasih, kenapa Mas malah menikahi aku? Kenapa tidak menikah dengan kekasih Mas saja!"


"Sudah kukatakan dia bukan kekasihku!"


"Tapi Nona Jesslyn bilang begitu. Dia bilang Mas menikahi aku hanya untuk balas dendam karena dia pergi ke Amerika dan Mas pikir kalau Nona Jesslyn tidak akan kembali lagi."


"Kapan dia mengatakannya padamu?"


"Tadi pagi, saat Mas dan Nurbanu sudah pergi dari rumah."


"Lalu dia bilang apa lagi?"


"Dia bilang kalau Mas hanya memperalat aku saja agar Nona Jesslyn cemburu dan mau kembali pada Mas."


"Tidak, Lilis. Dulunya hubungan kami hanya sebatas teman. Itu saja, tidak lebih."


"Nona Jesslyn juga bilang kalau Mas-lah yang menyarankan dia hamil dan tinggal di rumah ini."


"Tidak, bukan seperti itu kejadiannya."


"Jadi seperti apa? Aku sempat berpikir, kenapa aku yang menikah, malah perempuan lain yang hamil. Tetapi itu wajar kalau perempuan lain itu adalah kekasih Mas dan aku cuma istri kontrak."


"Harusnya kamu lebih percaya aku karena aku suamimu."


Shehan terdiam lagi. Sulit baginya untuk menjawab pertanyaan Lilis. Meski diberitahu cikal bakal permasalahan ini sekalipun, belum tentu Lilis akan mengerti.


"Aku sadar Mas kalau statusku cuma istri kontrak. Karena itu aku mau meninggalkan kamar ini saat Nona Jesslyn bilang mau tidur di sini. Aku memang istri kontrak, Mas. Sebenarnya aku tidak perlu merasa sakit hati setelah tahu Nona Jesslyn hamil anak Mas. Tahun depan kita akan bercerai dan Mas bisa menikah lagi dengan Nona Jesslyn. Tapi entah kenapa aku merasa sedih. Aku merasa dipermainkan."


Air mata Lilis mengalir, mengiringi kalimat terakhir yang dia ucapkan. Shehan bergeming, tetapi di dalam hati dia juga sedih melihat istrinya seperti itu. Semua kemalangan ini bukanlah keinginannya.


Lilis kemudian pergi, membawa dukanya ke sofa tempat biasa dia tidur. Di sanalah ia menangis pilu. Meluapkan puncak emosi, berharap sesak dadanya berkurang. Kedua pundaknya bergetar, selaras dengan sesenggukan yang kian menjadi.


Shehan lalu menyusul. Bukan hanya sekadar membawa diri. Melainkan sebagai pria yang ingin meredam kegundahan wanitanya. Ia duduk persis di samping Lilis. Menangkup pipi Lilis dengan telapak tangannya. Mengarahkan wajah mereka agar kembali bersitatap muka.


Lilis terkesiap ketika sorot mata mereka saling bertemu, tetapi dia pasrah menerima sikap lembut Shehan.


"Maaf ... maafkan aku!"


Itulah yang Shehan katakan, yang secara langsung meneduhkan hati Lilis. Perlahan-lahan ibu jari Shehan menyeka linangan air mata yang membekas di sana. Sambil menatap istrinya dalam, ia mengulangi permintaan maaf yang sama.


"Maafkan aku. Aku tidak bisa menjelaskan apa yang terjadi secara rinci. Tetapi aku meminta maaf dengan tulus padamu."


Lilis diam, menghayati perubahan sikap Shehan yang bertolak belakang dari biasanya. Bila dahulu pria itu keras bak kayu, kini halus sehalus sutera. Namun, seberkas kepahitan terlanjur menyakiti relung kalbu Lilis.


"Aku tidak mau tinggal di sini, Mas! Aku mau pergi!" katanya bernada gusar. Mengingkari perasaannya yang telah meleleh.


"Kamu mau pergi ke mana?" Shehan mengernyit cemas.


"Aku tidak akan pulang ke Banyuwangi, tapi aku juga tidak mau tinggal di sini!" Ditepisnya tangkupan tangan Shehan, Lilis berdiri hendak beranjak pergi.


"Jangan pergi, Lilis!" Shehan ikut berdiri, mencengkeram tangan Lilis lagi. Ditariknya gadis itu ke dalam pelukannya.


"Lepaskan aku, Mas!" Sekonyong-konyong Lilis mendorong tubuh Shehan agar menjauh.


"Tidak! Kamu tidak boleh pergi!"


"Sudah ada Nona Jesslyn yang menemani Mas di sini!"


"Aku tidak membutuhkannya. Aku membutuhkanmu!"


"Lepaskan aku, Mas! Tolong biarkan aku pergi!"


"Tidak, kamu tidak boleh pergi! Tanpa seizinku, kamu dilarang meninggalkan rumah ini! Jangan lupa statusmu masih terikat pernikahan denganku secara hukum."


Lilis terisak dan meronta, tetapi Shehan semakin mempererat dekapannya sampai tubuh mereka menempel tanpa celah.


"Lepaskan aku, Mas! Aku mau pergi!" Lilis sesenggukan menyertai deraian air mata yang betah mengalir.


"Tidak! Aku tidak mengizinkanmu pergi!"


Terus meronta membuat energi Lilis terkuras. Malahan usahanya tidak membuahkan hasil apapun. Dia tetap tidak bisa lepas dari pelukan Shehan. Tubuhnya lemas, hanya mampu menangis saat ini.


"Hiks! Hiks! Hiks!"


Shehan menyandarkan kepala Lilis di dadanya. Membelai-belai lembut rambutnya yang tergerai dengan satu tangan. Sedangkan tangan yang lain masih memeluk Lilis. Tidak renggang sedikitpun.


"Tetaplah di sini! Aku khawatir bila tidak melihatmu."


Cup ....


Sebuah kecupan hangat Shehan sematkan di kepala istrinya. Senantiasa agar kecamuk batin Lilis mereda. Agaknya itu berhasil sebab intonasi sesenggukan Lilis sudah lebih teratur.


'Mas Shehan menciumku?'


Perlahan Lilis menengadah setelah merasakan kecupan singkat tadi. Dari balik matanya yang sembap, Lilis menatap suaminya intens. Shehan membalas dengan sorotan yang sama. Sekelumit hasrat timbul dari dalam nalurinya. Tetapi tidak dibiarkannya itu terjadi. Shehan lebih memilih menghormati privasi Lilis dan tidak bertindak lebih jauh.


***


BERSAMBUNG...