Butterfly In You

Butterfly In You
Bab 16 : Tetangga Iri



"Kalian sudah selesai belanjanya?" tanya Tina yang kini tampak lebih akrab. Padahal dulu semasih Lilis tinggal di kampung, ia jarang sekali menegur Lilis sekalipun mereka berpapasan di jalan.


"Oh iya, Mbak. Kami sudah selesai belanja. Sekarang mau ke kasir." Lilis tetap rendah hati menjawab.


Tina pun tersenyum. Namun, di balik ukiran senyum itu, secara sembunyi-sembunyi Tina memperhatikan gaun warna kecubung yang Lilis pakai. Dari atas sampai bawah, tak luput dari sorotan Tina.


'Wah, bagus sekali gaun yang Lilis pakai! Kelihatan mewah. Pasti harganya mahal. Nanti aku mau minta belikan juga sama Mas Hendra. Kalau Lilis bisa punya, masa' aku tidak,' batinnya, tak mau kalah saing.


"Lilis, ayo!" ajak Shehan. "Kita masih harus membeli barang yang lain lagi."


"Iya, Tu---"


Lekas genggaman Shehan meremas jemari Lilis, agar gadis itu tidak keceplosan memanggilnya dengan sebutan "Tuan". Jika itu terjadi, pasti sandiwara mereka akan ketahuan oleh Hendra dan Tina. Shehan menggeleng pelan ketika Lilis melihatnya. Untungnya Lilis cepat tanggap pada isyarat yang Shehan berikan.


"Baiklah, ayo!" lanjut Lilis menyempurnakan kalimat yang sempat terpenggal. Dialihkannya pandangan pada Tina dan Hendra sekarang. "Mbak Tina, Mas Hendra, kami duluan, ya."


"Iya, Lis!" tukas Hendra.


Lantas Shehan beranjak menuju meja kasir seraya masih menggenggam tangan Lilis. Lilis sesekali menoleh kagum pada Shehan dari posisinya yang berada di sebelah pria itu. Tak dinyana, Shehan mau melakukan sandiwara di depan Hendra dan Tina untuk melindunginya.


'Terima kasih, Tuan Murad. Aku telah berhutang budi pada Tuan hari ini. Suatu hari, akan kubalas budi baik Tuan.'


Setibanya di meja kasir, Shehan baru melepaskan genggamannya dari tangan Lilis. Ia mengambil dompet dari saku bagian dalam jas, lalu mengeluarkan sebuah kartu pembayaran tunai.


"Tolong bereskan pakaian tunangan saya yang tertinggal di dalam kamar pas, ya," ujar Shehan pada pramuniaga.


"Baik, Tuan." Pramuniaga itu segera melaksanakan tugasnya. Ia mengemasi pakaian Lilis yang tergantung di kait kamar pas. Memasukannya ke dalam kantong belanja, setelah itu diberikannya kantong tersebut pada Shehan. "Ini barang milik anda, Tuan."


"Terima kasih, Mbak." Lilis-lah yang menerima sodoran kantong belanja itu.


Sekali lagi, Lilis menoleh ke belakang, mengangguk sebentar sebagai salam perpisahan pada Hendra dan Tina. Shehan sendiri cukup mengurai senyum tipis saja kemudian membawa Lilis keluar dari butik.


Tinggallah Tina dan Hendra yang masih berada di butik setelah kepergian kedua orang tadi. Tina bergerak cepat, sigap mencari-cari gaun yang sama seperti yang dipakai oleh Lilis. Sedangkan Hendra setia menemani istrinya. Selang semenit, seorang pramuniaga datang menghampiri.


"Selamat siang, ada yang perlu saya bantu?"


Tina menoleh ke asal suara. Didapatinya gadis muda penjaga butik sedang tersenyum ramah padanya. "Siang, saya mau cari gaun yang sama seperti yang dipakai pembeli barusan."


Pramuniaga itu mengingat sejenak. "Oh, gaun warna kecubung itu, ya? Silakan ikuti saya, Nona!"


Tina dan Hendra berjalan di belakang pramuniaga menuju rak gaun yang dimaksud. Sesampainya mereka, pramuniaga itu mengambil gaun dengan desain yang sama, tetapi warnanya berbeda.


"Gaun itu cuma ada dua, Nona. Warna kecubung dan gandaria. Karena gaun warna kecubung sudah laku terjual. Yang tersisa warna gandaria ini, Nona," terang pramuniaga.


"Boleh saya coba?"


"Silakan, Nona!"


Tina dengan senang hati mengambil gaun itu dari tangan pramuniaga. Bergegas ia masuk ke dalam kamar pas, tak sabar ingin mencoba. Usai lima menit berlalu, gaun itu sudah melekat sempurna di tubuh Tina. Serta-merta pancaran mata Tina tersenyum seirama dengan guratan di bibirnya. Betapa ia mengagumi gaun itu.


"Cantik sekali! Aku juga mau gaun ini," celoteh Tina pada diri sendiri.


Tak sengaja Tina menemukan label harga yang terselip di dekat resleting. Ia pun mengambilnya, agak terkesiap setelah mengetahui harga dari gaun itu.


"Hampir tiga juta. Mahal juga," keluh Tina, cemberut. Namun, entah apa yang menyesatkan pikiran Tina hingga menginginkan gaun yang lebih dari itu. "Eh, kenapa aku harus membeli gaun ini. Kalau Lilis memakainya, aku harus memakai yang lebih bagus dari ini."


Terpampang sisi arogan di mimik Tina. Lantas, wanita itu melepas lagi gaun yang dia pakai dan mengembalikannya pada pramuniaga toko.


"Bagaimana, Nona? Suka dengan gaunnya?"


Tina menyipit sinis. "Ah, kurang bagus! Ada tidak yang lebih bagus dari ini?"


"Iya, mana gaun itu. Ayo, tunjukan!"


"Di sebelah sana, Nona."


Pramuniaga tadi menggiring Tina ke rak yang berada di samping kanan dekat kamar pas. Hendra sedari tadi tidak berkomentar apa-apa, selain bermain ponsel dan mengikuti istrinya ke mana pun wanita itu pergi.


"Sebenarnya gaun di rak yang tadi adalah keluaran terbaru, Nona. Tapi gaun di rak ini juga keluaran terbaru." Pramuniaga menggerakan tangannya ke seluruhan gaun yang dipajang.


Tina kembali fokus menyortir tiap pakaian yang ada di sana. Sampai ditemukannya sebuah gaun berwarna mambang kuning. Gaun itu terlihat lebih mencolok dibandingkan dengan gaun yang lain. Bermotif herringbone serta dihiasi ikat pinggang warna hitam yang terbuat dari kulit.


"Bagus tidak, Mas?" tanya Tina usai mengeluarkan gaun tadi dari kumpulan pakaian.


"Bagus! Bagus! Dicoba saja," saran Hendra, sebentar ia memperhatikan Tina yang beranjak menuju kamar pas. Setelah itu ia kembali asyik dengan ponselnya.


Tina lekas melepas pakaian, berganti dengan gaun mambang kuning tadi. Sama seperti sebelumnya, gaun ini pun sangat pantas dan sesuai dipakai oleh Tina.


"Yang ini juga tidak kalah cantik dari yang tadi. Ada ikat pinggangnya lagi," imbuh Tina, girang.


Sambil masih memakai gaun, wanita itu keluar dari kamar pas. Ingin menunjukannya pada sang suami.


"Mas Hendra!" panggil Tina.


"Iya." Hendra segera mendekat.


"Bagus tidak, Mas, gaunnya?" Tina berputar-putar, bergaya kemayu di depan Hendra. Hendra pun melihatnya dengan seksama.


"Bagus, cantik kok!"


Senang bukan kepalang tergambar jelas di senyum lebar Tina. "Belikan aku gaun ini ya, Mas!" rengeknya.


Hendra tak langsung menjawab, hanya menyunggingkan senyum sebelum mendekat untuk melihat label harga gaun tersebut. Ketika ia melihatnya, sontak kening pria itu langsung ditumbuhi garis kerutan.


'Mahal sekali! Harganya sama dengan sebulan gajiku.'


Hendra galau gara-gara harga. Ia pun memutar otak untuk berkilah pada istrinya agar tidak membeli gaun mambang kuning itu. "Sayang, gaunnya kelihatan agak kebesaran deh di badan kamu."


Refleks Tina terkejut. "Ah, masa' sih, Mas? Kelihatannya pas kok di badanku."


"Tidak Sayang, kamu jadi kelihatan agak gemuk."


Tina mencebik sebal. "Padahal aku suka sama gaun ini loh, Mas."


"Sayang, aku tahu toko mana lagi yang menjual gaun bagus. Kemarin ada teman kantor yang rekomendasi toko pakaian di Bali. Masih di sekitaran mall ini juga kok. Kita ke sana, yuk!"


Tina merajuk. Memalingkan muka kesalnya ke arah lain lalu bersedekap. Hendra yang dulunya seorang playboy cap gayung tentu berusaha membujuk dengan rayuan maut.


"Tina Sayang! Percaya deh, kamu kelihatan gendut kalau pakai gaun ini. Mas tidak mau dong istri Mas yang paling cantik sedunia ini diledekin orang gendut nanti. Kita cari gaun yang lain saja, ya!"


Hendra mengelus pinggang sang istri dengan lembut. Saat Tina menoleh, ia sengaja melempar senyum paling manis yang dia punya, mujurnya Tina pun luluh.


"Ya sudah deh, Mas. Kita ke toko pakaian yang Mas bilang itu saja."


"Nah begitu, dong. Jadi istri baik. Mas jadi tambah sayang sama kamu, Tin."


Hendra mencubit dagu Tina dengan manja. Tina pun bereaksi tersipu malu.


***


BERSAMBUNG...