
Betapa Lilis terkesiap, tiba-tiba Shehan melingkarkan tangan ke lengannya ketika mereka baru saja turun dari mobil, hendak menuju pintu masuk kantor kedutaan besar Turki di Jakarta.
Sambil tertegun, Lilis melihat rangkulan Shehan. 'Kenapa Tuan Murad tiba-tiba begini?' gumamnya merasa heran.
"Ayo, Sayang! Kita masuk ke dalam!"
Bukan hanya merangkul, Shehan bahkan tersenyum seraya memanggil Lilis dengan sebutan yang manis. Terlihat barisan gigi pria itu rapi di balik lengkungan garis simetris bibir.
'Apa? Tuan Murad memanggilku Sayang? Apa aku tidak salah dengar? Atau jangan-jangan penyakit Tuan Murad kambuh lagi. Penyakit suka kerasukan hantu!'
"I--iya, Tuan." Lilis gugup menjawab.
"Cih! Kenapa masih memanggilku Tuan?" sergah Shehan. "Kita sekarang harus bersandiwara di depan duta besar. Kalau dia melihat gelagat aneh di antara kita, duta besar bisa mengira kalau aku memaksamu."
"Oh ..." Bibir Lilis membentuk huruf O besar. "Begitu, jadi aku harus memanggil Tuan apa sekarang?"
Shehan diam sejenak seraya menatap lembut Lilis. "Panggil aku ... Sayang."
"Uhuk!" Tetiba Lilis batuk, omongan Shehan barusan rasanya malah seperti biji buah kedondong. Sekali lempar, langsung tersangkut di tenggorokan Lilis dan membuatnya tercekat.
"Panggil aku, Sayang!" pinta Shehan lagi.
Lilis tergugu, seolah lidahnya kelu untuk bicara. Ditatapnya Shehan intens. Pria itu terlihat bersungguh-sungguh menyukainya dan memanggil "Sayang" lantaran mencintai setengah mati. Padahal semua ini hanya untuk sandiwara belaka.
"Sa---yang!" Cukup lama Lilis kikuk, sebelum akhirnya bisa menyempurnakan panggilan baru kepada Shehan.
"Baiklah. Ayo, kita masuk sekarang!"
"Eum ...." Mengangguk patuh.
"Jangan bicara apa-apa kalau tidak ditanya. Cukup aku saja yang menjelaskan pada duta besar tentang rencana pernikahan kita."
"Baik Tu, eh, salah! Ya, Sayang."
Shehan tersenyum tipis. Lilis pun tersenyum. Mereka pasangan yang serasi bila disuruh bekerjasama untuk bersandiwara.
"Good girl!"
Pria itu kemudian mengajak Lilis masuk ke dalam kantor kedutaan besar Turki. Sambil berangkulan, keduanya berjalan bersama-sama.
Tuan Serkan Cayoglu--duta besar Turki untuk Indonesia, telah menunggu kedatangan mereka. Lantas menyambut keduanya di ruang penerimaan tamu. Shehan lalu menjelaskan kepada sang duta besar bahwa ia akan menikahi gadis Indonesia dalam bahasa Turki.
Tak lupa ia juga mengatakan kalau wanita yang duduk di sampingnya adalah gadis itu--calon istrinya. Lilis memberikan seulas senyum saat Tuan Serkan menoleh ke arahnya.
'Pasti Tuan Murad dan Tuan Serkan sedang membicarakan aku sekarang,' tebak Lilis dalam hati.
"Jadi Nona ini adalah Nona Lilis, calon istri Tuan Shehan Murad?"
Sontak Lilis dan Shehan sama-sama terkejut dan saling bertukar pandang. Panjang lebar berbicara dalam bahasa Turki, ternyata Tuan Serkan bisa berbicara dengan bahasa Indonesia. Dulu ketika Shehan akan menikah dengan Sarah sekitar lima tahun yang lalu, duta besar Turki untuk Indonesia adalah orang lain. Itu sebab, Shehan belum terlalu mengenal Tuan Serkan.
Sek!
Shehan menyenggol tangan Lilis dengan sikunya untuk memberi kode, agar tidak salah bicara. Lilis pun menoleh Shehan. Dapat terbaca ancaman Shehan lewat sorot matanya.
'Awas, kalau kamu salah bicara!'
'Iya, Tuan. Aku mengerti, kok!'
"Ehem! Nona Lilis?" Tuan Serkan berdeham, sengaja ingin menyela pembicaraan Shehan dan Lilis yang terjadi lewat tatapan mata. Untungnya, cara itu berhasil membuat Lilis beralih pandang ke arah pria paruh baya itu.
"Ya, Tuan."
"Mohon jawab pertanyaan saya, apakah benar Nona adalah calon istri Tuan Shehan Murad?"
"Hhmm...." Tuan Serkan mengangguk beberapa kali. "Berapa usia Nona sekarang ini?"
"Usiaku 22 tahun, Tuan."
"Wah, cukup muda ternyata!" Tuan Serkan tercengang. Meski tahu perbedaan rentang jarak umur Shehan dan Lilis cukup jauh, tetapi Tuan Serkan menyampaikan rasa antusiasnya dengan cara yang halus.
"Tetapi kepribadiannya dewasa. Itulah yang membuat aku menyukainya." Shehan mengusap pelan punggung tangan Lilis. Mereka saling memandang teduh.
"Kalau boleh tahu, sudah berapa lama kalian saling mengenal?"
"Hampir setahun kami sudah saling mengenal dan mencintai." Lekas Shehan memotong karena dia tahu, Lilis pasti akan kelabakan menjawab pertanyaan ini. "Makanya kami tidak mau membuang waktu lagi, ingin segera menikah dan menjadi pasangan suami istri yang sah. Benarkan, Sayang?"
Shehan menggamit tangan Lilis lalu meremasnya lembut di depan Tuan Serkan.
"Eh, ya. Hehehe ...." Lilis cengengesan. "Benar Sayang. Hehehe ...." Rasanya sungguh canggung bila harus sering-sering memanggil dengan sebutan itu.
Satu tangan Tuan Serkan bersedekap, sementara satu tangan yang lain memagut dagu sembari mengangguk beberapa kali. Setelah itu, keterangan yang dilontarkan sang duta besar hanya seputar persoalan tata cara dan prosedur pernikahan pasangan beda kewarganegaraan serta semua surat untuk keperluan dokumen pernikahan harus diterjemahkan oleh jasa penerjemah tersumpah.
Hampir tiga puluh lima menit Shehan dan Lilis melakukan wawancara dengan duta besar Turki, keduanya dipersilakan pulang dan akan dikirimi surat resmi dari kantor kedutaan kurang lebih seminggu kemudian.
**
Di perjalanan pulang, tak sengaja Lilis melihat deretan gaun pengantin yang dipajang dalam etalase toko pakaian pengantin dari balik kaca jendela mobil. Cukup lama ia melihat, apalagi saat itu sedang lampu merah.
'Bagus sekali, gaun pernikahannya!'
Lilis memang memuji gaun itu. Namun, tersirat kesedihan dalam tutur pujiannya.
Shehan yang juga duduk di kabin belakang di sebelah Lilis menoleh. Ia mendapati gadis itu sedang mengamati gaun pengantin yang ada di seberang jalan. Lantas menghela napas dalam, lalu memberitahu Lilis agar tidak berharap lebih.
"Kamu mau kita melakukan pemotretan untuk prewedding?"
Lilis menoleh, terperangah. "Ah, tidak Sayang. Tidak kok. Kita menikah sederhana saja."
"Baguslah! Karena pernikahan kita hanya sampai setahun saja dan kontrak juga. Jadi tidak perlu serepot itu."
Kini terjawab sudah kesedihan Lilis ketika memuji gaun pengantin itu. Dia tidak akan pernah menjadi pengantin paling bahagia sebab baru saja Shehan menyadarkan Lilis tentang status pernikahan mereka.
"Ya, Sayang." Lilis menunduk pilu.
"Dan satu lagi, jangan memanggilku Sayang karena sandiwara kita sudah berakhir."
Glek!
Saliva Lilis tertelan dalam. Miris sekali hidupnya. Bila dipikir-pikir, sebenarnya Lilis sudah memilih keputusan yang salah dengan setuju menikah kontrak dengan Shehan. Bila sedang bersandiwara saja, pria itu akan berubah hangat, sehangat musim semi. Namun, bila sandiwara mereka telah usai, maka sosok Shehan akan menjadi dingin, sedingin kulkas.
"Jadi aku harus memanggil Tuan apa kalau kita sudah resmi menikah nanti?"
Shehan bergeming. Dia sendiri juga tidak tahu harus memanggil Lilis apa.
"Kita pikirkan itu nanti saja," sahutnya lalu berpaling. Pria itu tampak tak bersemangat. Beda sekali dengan kondisinya tatkala lima tahun yang lalu, ketika dirinya akan menikahi Sarah. Shehan dan Sarah sangatlah harmonis pada masa itu. Kini rekam jejak keharmonisannya bersama Sarah, malah kembali terngiang di benak Shehan.
"Baik, Tuan." Lilis sendiri juga berpaling ke arah kaca jendela mobil yang tertutup. Keduanya duduk saling membelakangi.
Pancaran aura Lilis dan Shehan sama-sama mencerminkan ketidakbahagiaan. Yang satu masih mencintai mantan istri dan masih terbayang kisah manis dengan sang mantan. Dan yang satu lagi meratapi nasib buruk yang baru saja akan dimulai. Dimulai ketika Lilis telah sah menjadi istri Shehan.
***
BERSAMBUNG...