
Yakin kalau tidak ada jejak noda darah di lantai serta tisu-tisu kotor pun sudah hanyut--hilang tak bersisa, Lilis segera keluar dari toilet sambil masih mengenakan handuk kimono. Jalannya terhuyung, sesekali tangannya mengepal. Pantas bila Shehan yang masih berdiri di depan pintu mengernyit khawatir ketika mendapati kondisi istrinya tampak lemah dan berkeringat dingin.
"Mas...," sapa Lilis seperti biasa.
"Kenapa wajahmu pucat sekali?"
Manik mata Shehan meneliti wajah sampai kaki Lilis. Lilis pun menyadari kalau Shehan mencurigainya. Lantas ia menangkup pipinya dengan satu tangan, bersikap normal untuk menepis prasangka Shehan.
"Ah, tidak apa-apa, Mas. Mungkin aku kelelahan saja dan belum memakai riasan wajah juga."
Shehan tak langsung menyahut, tetapi juga tidak membantah.
'Dulu meskipun belum memakai riasan, tetapi wajahnya tetap cerah,' pikir Shehan. Ia mendekat, memegang kepala belakang Lilis. "Benar kamu tidak apa-apa, Sayang?"
Senyum simetris Lilis menyeruak--ingin membuktikan kalau dia memang baik-baik saja. "Tidak apa-apa kok, Mas. Kalau sudah memakai riasan, pasti wajahku tidak pucat lagi. Oh, ya ... aku mau pakai baju dulu ya, Mas. Aku sudah kedinginan, nih!"
Shehan menghela napas ringan lalu mengangguk lemah beberapa kali. "Hhmm ... baiklah!" Meski enggan, kedua sudut bibirnya berhasil menciptakan senyum walau segaris.
Lilis kemudian berlalu meninggalkan Shehan dan pintu toilet menuju lemari kamar utama. Shehan sendiri berjalan hendak duduk di tepi ranjang seraya terus mengawasi gerak-gerik Lilis yang sudah tampak punggungnya saja.
Bayangan Shehan terpantul di cermin rias dan itu agak membuat Lilis merasa kurang nyaman saat akan melepas handuk kimono yang sedang dia pakai. Lilis merasa malu jika harus berganti pakaian di depan suaminya. Padahal Shehan sendiri tidak merasakan hal serupa.
Lilis berputar badan dan memanggil suaminya. "Mas," suaranya terdengar lembut.
"Ya," sahut Shehan.
"Maaf, Mas. Bisa tidak Mas keluar sebentar karena aku mau memakai baju," mohon Lilis.
"Pakai saja di depanku!" balas Shehan dengan gampangnya.
"Ck!" Lilis berdecak manja sembari menghampiri pria itu dan membawa baju yang dia akan kenakan, "Mas, aku malu di depan Mas!"
Tingkah konyol Lilis membuat Shehan gemas kemudian terkekeh pelan. "Aku bahkan sudah melihat semua tubuhmu. Kenapa harus malu?"
"Ah ... Mas ini!" Lilis cemberut dan berpaling.
Shehan semakin gemas melihatnya, malah ikut berdiri di belakang Lilis. "Hahaha! Kamu harus pasrah menerima kenyataan kalau suamimu lebih suka melihatmu tanpa penghalang benang. Berikan bajumu! Biar aku yang pakaikan."
"Hah!" Sontak Lilis terkejut mendengar keinginan Shehan, tetapi belum sempat Lilis menyampaikan penolakannya Shehan sudah lebih dulu merebut pakaian Lilis dan meletakannya di tepi ranjang.
"Mas, tidak usah, Mas! Aku sendiri saja yang memakai pakaianku." Lilis memberontak ketika Shehan akan melepas handuk kimononya. Namun, sudah kepalang tanggung. Hitungan detik selanjutnya, handuk kimono Lilis sudah terlepas dengan sempurna--diambil oleh Shehan lalu diletakan ke sisi tempat tidur yang lain.
"Mas...." Lilis malu--menyilangkan tangan di depan dada yang hanya terlindungi oleh bra saja. Untung saja bagian sakral miliknya juga sudah dilapisi kain pelindung. Jika tidak, mungkin saja Shehan akan memilih bermain-main dengan itu lebih dulu sebelum memakaikan baju istrinya.
Shehan dengan wajah jahil, menyoroti aset berharga Lilis. Dilepaskannya pula silangan tangan Lilis tadi. "Kenapa ditutupi, ini indah sekali! Aku mau melihatnya!" gumamnya serta merta membuat Lilis tambah canggung.
"Mas ... aku malu, Mas...."
"Tidak perlu malu! Kemarilah, aku akan memakaikan pakaianmu."
Siapa sangka ternyata Shehan benar-benar melakukannya. Ia tidak bertindak lebih jauh meski tergiur dengan tubuh ranum Lilis yang ada di hadapannya. Bukan hanya memakaikan baju, Shehan juga menemani Lilis saat merias wajah. Keduanya terlibat perbincangan ringan yang sesekali mengundang gelak tawa.
Selesai merias wajah serta merapikan rambut, Shehan menggandeng tangan Lilis--mengajaknya ke ruang makan yang Shehan yakin kalau Lilis pasti sudah lupa di mana letaknya.
Beberapa saat kemudian.
Selesai sarapan bersama Mehrunissa pagi ini, Shehan mengajak Lilis mengunjungi beberapa tempat wisata di kota Ankara--ke teater Romawi salah satunya. Turki memang dulunya merupakan wilayah dari Kekaisaran Romawi. Tak heran jika terdapat sisa bangunan khas Romawi yang sudah dibangun sejak 200 masehi di pusat kota Ankara.
Teater kuno itu berbentuk setengah lingkaran dan berupa anak tangga yang sangat banyak. Dibuat mirip stadion sepakbola, agar para penonton bisa duduk berbaris di sana. Sedangkan di depan barisan anak tangga itu, terdapat panggung berisi pilar-pilar tinggi yang digunakan untuk pementasan sebuah acara.
Sayang, ketika Lilis dan Shehan mendatangi tempat itu, barisan anak tangga itu kosong tak berpenghuni lantaran sedang tidak ada acara teater yang sedang berlangsung. Kendati pun begitu, Lilis dan Shehan masih bisa menikmati panorama bangunan yang tetap terjaga fisiknya meski usianya sudah berabad-abad. Walaupun ada sebagian yang hancur karena termakan usia, nyatanya tidak mengurangi pesona keindahan bangunan tua itu.
"Duduklah di sini! Aku akan mengambil fotomu," ujar Shehan. Ia memang suami baik. Demi ingin menyenangkan istrinya, Shehan yang dikenal tegas sebagai pemimpin perusahaan bahkan rela menjadi tukang fotografer dadakan.
"Ya, Mas." Lilis dengan senang hati menurut. Ia duduk di anak tangga yang Shehan tunjuk tadi seraya melakukan beberapa gaya.
Cekrak! Cekrek! Cekrak! Cekrek!
Keberadaan Lilis di kota Ankara pun berhasil diabadikan.
**
Lusa.
Selesai menjelajahi Ankara, kini giliran Kapadokia yang menjadi tujuan utama tempat wisata yang wajib disambangi oleh pasangan Lilis dan Shehan. Agar bisa naik balon udara, Shehan dan Lilis menginap di hotel yang ada di kota tersebut. Harus rela bangun awal sebab waktu terbaik agar dapat menikmati wisata balon udara adalah pukul enam pagi saat matahari terbit.
Shehan memilih untuk memesan penerbangan balon udara tipe ultra comfort ballon. Untuk tipe itu, biasanya satu keranjang balon udara hanya akan diisi dengan dua belas orang saja. Begitu pun, Shehan telah memborong semua tiketnya. Alhasil memang cukup baik, cuma ada pasangan Lilis dan Shehan saja yang berada di dalam keranjang tanpa penghuni lain kecuali pilot.
"Hati-hati, Sayang! Kamu harus memegang pagar keranjang supaya tidak jatuh!"
"Iya, Mas."
Shehan mendampingi Lilis berdiri di dekat pagar keranjang seraya memegang tepiannya tatkala balon udara siap untuk diterbangkan.
Berdebar-debar? Tentu saja. Ini kali pertama Lilis menaiki wahana wisata udara tersebut. Beda hal dengan Shehan yang mungkin sudah bolak-balik menaikinya.
Semringah? Ya, Lilis dan Shehan sama-sama semringah menikmati setiap detik perjalanan mereka. Dari atas, Lilis dan Shehan dapat melihat sebagian kawasan Kapadokia yang memiliki tebing-tebing tinggi terbentuk dari erosi bebatuan vulkanik. Pemandangan kota gua dan langit biru membentang dihiasi balon-balon udara warna-warni. Apalagi saat menyaksikan sang surya terbit di ufuk timur, ah, sungguh keindahannya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Sempurna!
"Indah sekali, Mas!" Binar mata Lilis terang benderang, menatap ke depan--menyaksikan hamparan pemandangan yang indah.
Shehan yang berdiri di sebelahnya menoleh. "Aku juga sedang melihat pemandangan yang tak kalah indahnya dari sini."
Lilis refleks menoleh, belum mengerti apa maksud perkataan Shehan. Dan ketika tatapan mereka saling bertemu, Shehan bergerak mendekati istrinya. Menangkup pipi Lilis dengan kedua tangan. Tak pelak lagi, tautan bibir keduanya pun terjadi.
Lilis memejamkan mata, membiarkan Shehan mencumbunya. Bahkan, Lilis ikut membalas cumbuan itu. Ikut melingkarkan tangan ke pinggang Shehan. Shehan juga memejamkan mata. Menikmati sesapan demi sesapan yang dia lakukan. Menghayati balasan ciuman Lilis yang tak kalah menyenangkan.
***
BERSAMBUNG...