
Bayangan Sarah dan Nurbanu tampak samar dari balik sorot mata Lilis yang berkaca-kaca dan sedang berdiri di ambang pintu kamar Nurbanu dengan kedua tangan saling bertaut. Rasa haru biru dan kelabu bercampur menjadi satu--memenuhi benak Lilis.
"Banu sudah siap?" tanya Sarah usai membenarkan salah satu tali tas putrinya yang tersampir di pundak.
"Sudah, Ma," jawab Nurbanu, polos.
"Ayo, kita berangkat!"
"Iya, Ma."
Lantas Sarah berdiri tegak. Seraya menggandeng satu tangan Nurbanu, keduanya beranjak hendak meninggalkan kamar yang selama ini dihuni oleh anak kecil itu.
Tidak tahan lagi menanggung duka atas kepergian anak sambungnya, LiIis pun menangis pilu. Ia menghadang Sarah dan Nurbanu dengan air mata berderaian di pipi.
"Mbak Sarah ... Banu ... hiks ... hiks...."
"Kak Lilis...," panggil Nurbanu. Intonasinya sendu, membuat tangis LiIis semakin pecah.
"Hiks ... hiks ... hiks...." Beberapa kali LiIis mengusap lembut kepala Nurbanu. Sejatinya belum rela ditinggal pergi meski mereka hanya berpisah rumah. Bagaimanapun juga awal mula LiIis datang ke rumah Shehan karena ia bekerja sebagai baby sitter yang merawat Nurbanu.
Iba, Sarah mendekati Lilis lalu memeluknya penuh cinta. "Lilis, kuharap kehidupan kita akan menjadi lebih baik setelah ini. Izinkan aku membawa Nurbanu untuk ikut tinggal bersamaku. Datanglah lain waktu kapan pun kamu mau. Pintu rumahku selalu terbuka lebar untukmu."
"Hiks ... hiks ... hiks ... maafkan aku kalau ada salah selama menjaga Nurbanu, Mbak Sarah."
Satu titik air mata Sarah jatuh. Segera Sarah menyekanya. "Tidak, Lilis. Kamu adalah ibu sambung yang baik. Aku iklhas kamu menjadi penggantiku--merawat Nurbanu selama aku tidak bisa menjaganya." Suara Sarah bergetar ketika mengatakan itu.
"Kak Lilis," panggil Nurbanu lagi.
Perhatian kedua wanita itu teralihkan.
"Ya, Sayang!" Lekas LiIis berlutut di depan anak sambungnya.
"Maafin Banu kalau Banu nakal, Kak. Banu mau tinggal sama Mama sekarang. Kapan-kapan Kak Lilis datang ya ke rumah Mama. Biar kita bisa main sama-sama lagi."
Batin LiIis terenyuh, air mata yang sedari tadi ia tahan semakin berdesakan ingin keluar. Berkali-kali Lilis menghapus deraian itu. Namun, tak kunjung berhenti. LiIis mengabulkan permintaan anak sambungnya dengan lapang dada.
"Ya, Banu. Kak Lilis akan datang menjenguk Nurbanu nanti."
Sekonyong-konyong Nurbanu melingkarkan kedua tangan mungilnya memeluk Lilis. Lilis membalas dengan pelukan erat serta sebuah kecupan sayang di kepala Nurbanu.
Dreeett....
Yang tersisa kini adalah suara deru roda koper yang diseret, menemani isak tangis LiIis yang belum reda. Tiba saatnya bagi Sarah dan Nurbanu untuk meninggalkan kediaman investor asing--Shehan Murad. Banyak yang telah terjadi di rumah itu. Semua kenangan suka maupun duka tersimpan rapi di dalam dinding waktu.
Lilis melambaikan tangan tatkala mobil yang membawa Sarah dan Nurbanu akan pergi lalu mulai melaju menuju gerbang utama rumah. Pada menit selanjutnya penampakan kendaraan roda empat itu menghilang di balik tikungan pagar.
Shehan ikut merasa sedih atas kepergian Nurbanu. Ia melihat dari balik kaca jendela kamar utama yang ada di lantai dua rumah. Tidak ikut turun ke bawah karena Shehan tahu dia bisa saja berubah pikiran--tidak jadi mengizinkan Sarah membawa putri mereka. Shehan menahan diri agar tidak bersikap egois.
Lilis kembali memasuki rumah dengan sisa air mata yang sesekali menetes. Suasana rumah kini terasa sepi. Tidak ada lagi riang tawa Nurbanu yang sering LiIis dengar. Sekali LiIis menoleh ke belakang saat ia sudah menjejaki pertengahan anak tangga. Yang LiIis temukan hanyalah keheningan. Lilis kemudian berpaling--menuju kamar utama, tempat di mana Shehan berada.
Ceklek!
Ketika pintu dibuka, Lilis mendapati Shehan sedang berdiri dan menyambutnya dengan kedua tangan terentang.
"Kemarilah, LiIis! Aku ingin memelukmu."
Sesaat Lilis bergeming. Memang hati serta keinginannya tidak bisa sejalan. Lilis tidak ingin menangis lagi, tetapi binar matanya kembali berkaca-kaca. Sekali Lilis mengayunkan langkah lemahnya menjejaki lantai. Dilanjutkan dengan langkah lemah kedua. Setelah itu Lilis berlari kecil menghamburkan diri--memeluk suaminya.
"Mas Shehan...." Lilis membenamkan wajah sembapnya ke leher Shehan. Mencurahkan segala lara.
"Aku mencintaimu. Tinggallah di sisiku. Semua musim dan waktu datang dan pergi silih berganti. Kuharap perasaanmu padaku tidak akan pernah berganti. Tetap menjadi LiIis-ku yang seperti ini."
"Hiks ... hiks ... hiks...."
Lilis tidak dapat membalas ucapan Shehan dengan kata-kata. Tidak mampu bibir bergetarnya bicara. Ia hanya terus memeluk Shehan dengan erat. Sungguh tidak ingin lepas. Sungguh tidak ingin berpisah.
'Masih bolehkah aku bahagia sekali lagi? Perasaanku begitu menakjubkan. Mencium aroma lelaki ini. Merengkuh kehangatan lelaki ini. Dia--shehan Murad, pria yang membelenggu jiwa ragaku. Sekarang aku terbang layaknya kupu-kupu mengepakan sayapnya. Menari dengan bebas di padang bunga yang indah.'
'Masih bolehkah aku bahagia sekali lagi?'
Shehan merenggangkan pelukannya. Menatap istrinya dengan sorot mata dalam lalu mulai berbicara tentang keinginannya.
"Lilis, apa kamu masih menyimpan jepit rambut yang pernah kuberikan padamu?"
Lilis ingat Shehan pernah memberikannya sebuah jepit rambut dengan taburan permata. Shehan mengatakan kalau jepit rambut itu adalah hadiah pernikahan yang diberikannya secara pribadi. Kejadian itu rasanya sudah cukup lama, tepatnya sebelum kehadiran Jesslyn dan sampai sekarang LiIis masih menyimpannya.
"Ya, Mas. Aku ingat."
Shehan menyelipkan sekumpulan rambut Lilis yang terjuntai di pipi ke belakang telinga dengan penuh perhatian.
"Aku belum pernah melihatmu memakai jepit rambut itu. Maukah kamu makan malam denganku dan menggunakan jepit rambut itu?"
"Ya, Mas." Lilis menatap Shehan dengan sorot mata tersenyum. Tak ragu lagi ia mengiyakan ajakan suaminya.
Dahulu setelah Shehan memberikan jepit rambut itu, Lilis juga mengajak makan malam sebagai balasan hadiah untuk Shehan. Namun, sebuah tragedi terjadi yang menyebabkan acara makan malam itu gagal.
Apakah sekarang makan malam romantis bersama suami seperti yang LiIis harapkan bisa terlaksana?
**
Shehan mengosongkan sebuah restoran di tepi pantai dengan memesan semua meja untuk tamu. Ia ingin acara makan malamnya bersama LiIis menjadi sempurna. Hanya ada mereka berdua serta cahaya lilin dan alunan musik yang menentramkan.
Selesai mandi, Lilis menyiapkan diri. Memakai gaun ungu amethyst--gaun yang pertama kali Shehan beli untuknya dulu. Saat itu mereka belum menikah. Lilis sengaja memilih gaun tersebut karena ingin mengenang perjalanan cintanya bersama Shehan.
Tema riasan natural LiIis aplikasikan di wajah. Juga parfum agar penampilannya semakin menawan. Lilis keluar dari kamar utama dalam bentuk cantik jelita. Melenggang perlahan menapaki lantai dengan anggun.
Shehan sudah menunggu istrinya di restoran. Bukan sekadar berpakaian formal, Shehan memilih memakai setelan jas favoritnya. Ia ingin menghabiskan waktu dengan istimewa bersama Lilis. Setengah jam Shehan menanti. Satu jam kemudian terlewati.
Shehan melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, waktu sudah menunjukan nyaris pukul sembilan malam. Seharusnya acara makan malam bersama Lilis sudah dimulai sejak jam tujuh petang tadi.
Terus menunggu, itulah yang Shehan lakukan saat ini. Sama seperti waktu itu, ketika LiIis mengajak Shehan untuk makan malam bersama, yang Lilis lakukan juga terus menunggu.
Ddrrtt ... ddrrtt ... ddrrtt....
Suara dering ponsel tiba-tiba berbunyi seketika menyentak penantian Shehan. Sebaris angka tidak dikenal terpampang di layar. Shehan meneliti angka-angka itu sesaat lalu menerima panggilan telepon pada dering ketiga.
"Halo...."
"........."
Ketenangan Shehan berubah menjadi kebekuan. Ia bergeming mendengarkan seseorang bicara dari seberang.
***
BERSAMBUNG...