Butterfly In You

Butterfly In You
Bab 60 : Es Krim



Suara sesengukan yang pelan sayup-sayup terdengar dari dalam kamar utama. Shehan pun memasuki kamar itu setelah keluar dari kamar Jesslyn. Lantas, didapatinya Lilis sedang duduk di sofa yang biasa dia gunakan untuk tidur sambil sesekali menyeka matanya yang agak sembap dengan saputangan.


"Mas!" seru Lilis langsung berdiri ketika melihat Shehan, tetapi tidak meninggalkan sofa. Shehan-lah yang berjalan mendekatinya.


"Kenapa kamu masih menangis?" tanya Shehan selagi berjalan.


Lilis tak sabar lagi jika menunggu Shehan berdiri tepat di depannya. Ia pun ikut menyambangi hingga keduanya bersemuka dengan jarak yang dekat.


"Aku benar-benar tidak mencuri kalung Nona Jesslyn, Mas! Aku tidak tahu kenapa kalung itu ada di dalam lemari barang-barangku!" ratap Lilis, pilu.


Busungan dada Shehan mengempis dengan perlahan dan tenang. Satu tangan Shehan berayun, menyelipkan helaian rambut Lilis yang terurai di pipi ke belakang telinga. Lilis bahkan terkejut melihat bentuk perhatian yang diberikan Shehan padanya. Sorot matanya tak henti mengawasi.


"Jangan pikirkan masalah itu lagi. Semua sudah selesai. Jesslyn juga sudah mendapatkan kalungnya lagi," ujar Shehan, ringan.


"Tapi Nona Jesslyn menuduhku pencuri, Mas!" Lilis masih merengek.


"Ke depannya, dia tidak akan menuduhmu seperti itu lagi."


Lilis meneleng bingung. "Kenapa bisa begitu?"


"Sudah, jangan pikirkan masalah itu lagi. Yang terpenting sekarang, kamu jangan menangis lagi dan ingat untuk mengunci pintu lemari barang-barangmu. Kenapa kamu tidak menguncinya? Ceroboh sekali!" Shehan berlagak mengintimidasi.


"Itu karena selama ini di rumah ini aman-aman saja walaupun aku tidak mengunci pintu lemarinya. Makanya aku tidak pernah mengunci pintu lemari itu."


"Mulai sekarang kamu harus menguncinya dan simpan kuncinya di tempat yang aman."


"Tapi Mas percaya kalau bukan aku pencurinya?" Tatapan Lilis menuntut.


"Ya, aku percaya padamu. Nurbanu sudah tidur, kan?"


"Sudah, Mas."


"Ayo, kita pergi!" Shehan meraih tangan Lilis dan menariknya.


"Ke mana Mas?"


"Ikut aku saja!"


Shehan tidak memberitahu ke mana ia mengajak Lilis pergi. Keduanya masuk ke dalam mobil, duduk bersebelahan di kabin depan. Sepanjang jalan Lilis diam, menanti Shehan di mana akan menghentikan laju mobilnya. Lima belas menit berlalu, ternyata mereka tiba di sebuah cafe. Mereka turun dari mobil setelah Shehan memarkirkan mobilnya di pelataran depan cafe tersebut.


'Cafe? Kenapa kami ke sini?' gumam Lilis.


"Ayo!" ajak Shehan pada Lilis yang bengong melihat ke pintu masuk cafe. Seraya memasukan kedua tangan ke dalam saku celana, Shehan berjalan di depan. Sedangkan Lilis berjalan di belakangnya.


Nuansa temaram dan musik jazz yang diputar menjadi atmosfer yang melingkupi suasana di dalam cafe tersebut. Banyak pasangan muda-mudi juga orang-orang dari ras yang berbeda duduk berkumpul sembari bercerita.


Lilis mengikuti Shehan yang memilih duduk di dekat dinding kaca dan menghadap ke arah pemandangan laut di malam hari. Hanya berselang satu menit setelah itu, seorang pramusaji datang menghampiri.


Shehan tidak membiarkan Lilis memesan makanan ataupun minuman, hanya dia saja yang memesan. Itu pun berupa es krim dengan rasa vanila, cokelat dan stroberi.


Ingin Lilis bertanya kenapa Shehan membawanya ke tempat itu di waktu yang nyaris menuju tengah malam dan kenapa pula Shehan hanya memesan seporsi es krim saja. Kalau masalah uang, tidak mungkin Shehan tidak punya uang. Apa mendadak Shehan menjadi pelit?


Sesudah es krim disajikan ke atas meja mereka, Shehan rupanya menyodorkan seporsi es krim itu pada Lilis. "Makanlah!" katanya kemudian.


Sontak Lilis bengong dan bingung. "Mas tidak makan es krimnya?"


"Tidak, aku memesan ini untukmu."


Lilis melihat ke arah es krim lalu beralih pada Shehan lagi. Begitu terus sampai tiga kali. "Kenapa Mas memesan es krim ini untukku?"


"Supaya kamu tidak menangis lagi setelah makan yang manis-manis."


Lilis bergeming. Tersentuh mendengar alasan Shehan.


"Makanlah! Nanti es krim ini cair."


"Mas juga ikut makan!" ajak Lilis.


"Tidak, aku sudah sikat gigi. Kamu saja yang makan."


'Aku juga sudah sikat gigi!'


Tetapi demi menghargai kebaikan Shehan, Lilis akhirnya menyuapi mulutnya dengan es krim tersebut. Rasa manisnya seketika lumer di atas permukaan lidah dan membuat suasana hati Lilis jadi membaik. Benar kata Shehan tadi.


Pelan-pelan Lilis memakan es krimnya sambil menunduk sebab tidak berani melihat Shehan yang terus memperhatikannya sejak tadi dari seberang. Lama-lama hidung Lilis mulai berair karena udara malam pantai dan sensasi dingin es krim yang dia makan.


"Hatchiiii!" Tiba-tiba Lilis bersin di depan Shehan. Ia pun mengambil selembar tisu untuk menekan-nekan ujung hidungnya.


'Mungkin dia kedinginan karena es krim itu,' batin Shehan.


"Mas mau ke mana?"


Tetapi Shehan tidak menjawab. Dia terus berjalan meninggalkan Lilis sendirian di cafe. Setibanya Shehan di area pelataran depan cafe, ia mendatangi barisan kios-kios yang menjual tas rotan dan pakaian bertema bohemian. Di kios pakaian itu terdapat juga selendang-selendang. Shehan pun membelinya satu, lalu kembali ke dalam cafe.


Lilis terperangah melihat Shehan kembali dengan membawa tas kantong berukuran kecil. Sampai pria itu tiba di meja mereka, Lilis lebih terperangah lagi ketika Shehan mengeluarkan isi dari tas kantong tadi lalu mengenakannya ke punggung Lilis.


Lilis menoleh ke belakang. Didapatinya sebuah selendang berwarna krem agak gelap. Polos, sama sekali tidak ada coraknya. Hanya ada rumbai pada tepian sisi lebar selendang yang menjadi pemanisnya.


"Mas keluar tadi karena mau membeli selendang ini?" tanya Lilis pada Shehan yang sudah kembali duduk di posisinya semula.


"Ya, kamu pasti kedinginan karena memakan es krim itu. Tidak usah dihabiskan. Ayo, kita pulang!"


Lilis melihat ke wadah mangkuk. Tersisa setengah es krim yang masih membentuk gumpalan. Sedangkan lainnya sudah meleleh.


"Tapi sayang kalau tidak dihabiskan, Mas!"


"Tidak apa-apa, daripada kamu terkena flu. Ayo, kita pulang."


"Baiklah, Mas."


Lilis dan Shehan beranjak meninggalkan meja mereka dan pulang menuju rumah.


Beberapa saat kemudian.


"Mas, terima kasih sudah membelikanku es krim juga selendangnya," ucap Lilis saat mobil mereka sudah memasuki garasi yang terletak di samping teras utama rumah.


Shehan yang duduk di bangku kemudi malah fokus ke sudut bibir Lilis lantaran sedikit kotor. "Ada sisa es krim di sudut bibirmu."


"Oh, ya!" Lilis lekas mencari tisu. Akan diambilnya selembar dari kotak yang berada di atas dasbor mobil. Namun, Shehan menahan tangannya. Seketika Lilis tersentak dan menoleh.


"Biar aku saja yang membersihkan!"


Lilis membeku tatkala Shehan mendekatinya dan memegang kepala belakangnya. Rasanya itu sangat cepat, tahu-tahu bibir Shehan sudah menempel, membersihkan sudut bibirnya dengan ciuman.


Mata Lilis membola, gugup dan gemetaran. Kedua tangannya sudah bereaksi mendorong dada Shehan, tetapi tangan Shehan yang lain melingkari punggungnya erat. Merengkuh Lilis semakin rapat ke dalam pelukannya.


Lilis tidak bisa menolak lagi. Tiap kali akan berpaling, Shehan akan menahan kepalanya. Lilis meremas kemeja Shehan dan memejamkan matanya erat. Membiarkan kelembutan ciuman Shehan menikmati bibirnya.


**


Mbok Tum baru saja mendudukan tubuh lelahnya di tepian ranjang. Keningnya mengernyit tipis padahal wanita paruh baya itu sudah akan hendak tidur. Dalam benak Mbok Tum masih terngiang kejadian beberapa hari lalu yang sampai detik ini mengusik ketenangannya.


Kilas balik dua hari lalu.


Sambil menenteng dua buah plastik berisi sayuran dan lauk-pauk yang dibeli di pasar, Mbok Tum baru saja pulang berbelanja kebutuhan pangan. Keadaan sunyi di rumah karena Shehan sudah berangkat bekerja. Sementara Lilis sedang menjemput Nurbanu di sekolah TK Bunga Matahari.


Setelah meletakan sayur-mayur dan lauk-pauk ke dalam kulkas, Mbok Tum berniat pergi ke kamar. Ingin menelepon keluarganya di kampung. Baru akan memasuki mulut koridor yang menghubungkan deretan kamar pelayan, Mbok Tum ternyata memergoki Jesslyn sedang berjalan mengendap-endap keluar dari kamar utama.


"Loh, itu kan Non Jesslyn! Bukannya tadi pagi sudah pergi bekerja? Kenapa tiba-tiba pulang?"


Mbok Tum berniat menyapa, tetapi gelagat Jesslyn sangat mencurigakan. Dia celingukan mengedarkan pandangan ke sekeliling rumah dengan waspada. Malahan membuka sepatu stiletto-nya agar suara jejak langkahnya tidak menimbulkan bunyi sama sekali.


Akhirnya Mbok Tum diam-diam menguntit Jesslyn. Ketika sudah berada di teras rumah, barulah Jesslyn mengenakan sepatunya lagi dan pergi menuju mobilnya. Selang dua hari berikutnya, keributan pun terjadi pagi ini. Jesslyn menuduh Lilis telah mencuri kalungnya dan entah bagaimana kalung itu bisa ada di dalam lemari penyimpanan barang-barang milik Lilis.


Kembali ke masa sekarang.


"Hah! Tidak disangka Non Jesslyn tega memfitnah Non Lilis. Apa salah Non Lilis? Kasihan!"


Rasanya tenggorokan Mbok Tum panas dan tercekat bila mengingat itu semua. Tak jadi tidur, Mbok Tum beranjak pergi ke dapur ingin meneguk air. Akan tetapi, belum sampai di dapur, lagi-lagi Mbok Tum memergoki Jesslyn sedang membuang sesuatu di tempat sampah.


"Non Jesslyn! Sedang apa tengah malam begini?"


Mbok Tum sembunyi di balik lemari hias ketika Jesslyn keluar dari dapur, hendak kembali ke kamarnya. Setelah terdengar suara tarikan tuas pintu ditutup rapat, barulah Mbok Tum keluar dari persembunyian. Lekas pergi ke dapur dan memeriksa tong sampah.


"Hah, apa ini?"


Sebuah map warna merah muda yang terbungkus plastik bening telah Mbok Tum temukan.


"Jangan-jangan ini dokumen penting punya Tuan. Nanti Non Jesslyn menuduh Non Lilis lagi menghilangkannya!"


Tidak ingin Lilis difitnah lagi, Mbok Tum pun tidak jadi minum. Langsung kembali ke kamarnya dan menyimpan seberkas dokumen tadi.


***


BERSAMBUNG...