
"Mas Shehan, tunggu aku!"
Lilis sudah yakin kalau acara makan malam istimewanya bersama Shehan akan terwujud dan terlaksana sesuai rencana. Ia melenggang penuh percaya diri--penuh harapan menuju pintu utama rumah. LiIis sudah pula membayangkan bagaimana sikap lembut Shehan menyambut kedatangannya nanti.
Di depan teras Pak Maman sudah menunggunya. Shehan berpesan pada pria paruh baya itu untuk mengantar Lilis ke restoran--tempat di mana Shehan telah menyiapkan kejutan. Namun, alih-alih mengantar ke restoran. Pak Maman justru diminta Mbok Tum mengantar LiIis ke rumah sakit karena Mbok Tum menemukan Lilis pingsan di ruang tengah dengan tubuh berlumur darah.
"Pak Maman, tolong Pak Maman!" seru Mbok Tum seraya menahan kepala Lilis di pangkuannya. Sementara tubuh Lilis yang lain terkulai lemah di lantai.
Pak Maman datang tergopoh-gopoh dari arah luar. Ia terkejut bukan kepalang melihat kondisi LiIis yang demikian. "Ini Non Lilis kenapa, Mbok?"
"Mbok tidak tahu, Pak. Tadi Non Lilis jalannya sempoyongan habis keluar dari kamar. Tahu-tahunya langsung pingsan di sini," papar Mbok Tum masih panik.
"Ya, sudah. Ayo, kita bawa ke rumah sakit, Mbok!"
"Iya, Pak. Tolong bantu angkat Non Lilis, Pak!"
"Ayo, Mbok!"
Dengan dibantu oleh Pak Maman, Mbok Tum membopong LiIis yang sedang pingsan menuju kabin belakang mobil. Mesin mobil bergegas dinyalakan. Pak Maman mengemudikan setir menuju rumah sakit terdekat. Sedangkan Mbok Tum ikut--duduk di kabin belakang menjaga LiIis.
Setibanya di rumah sakit, LiIis dibaringkan pada sebuah tempat tidur beroda. Beberapa perawat dan petugas rumah sakit yang lain buru-buru mendorong tempat tidur beroda itu ke ruang UGD. Mbok Tum dan Pak Maman menunggu, mondar-mandir gelisah di depan pintu. Saking risau, Mbok Tum dan Pak Maman sampai lupa memberitahu Shehan tentang keadaan LiIis.
Ketika dokter yang memeriksa LiIis sudah menyelesaikan tugasnya dan keluar dari ruang UGD, barulah Mbok Tum teringat Shehan.
"Apa pasien sudah menikah? Di mana anggota keluarganya?" tanya Dokter tersebut.
"Non Lilis sudah menikah, Dok," jawab Mbok Tum.
"Kalau begitu di mana suaminya sekarang? Saya perlu bicara dengannya."
"Astagaa!" Mbok Tum menepuk keningnya. Rautnya pucat pasi seketika, "Mbok lupa telepon Tuan dan bilang kalau Non Lilis masuk rumah sakit!"
"Telepon Tuan sekarang, Mbok!" timpal Pak Maman.
"Jadi suami pasien belum datang?" tanya Dokter itu lagi.
"Maaf, Dok. Suami pasien belum datang. Sekarang akan saya hubungi majikan saya."
"Baiklah, kalau sudah datang, tolong suruh segera temui saya!"
"Baik, Dokter."
Dokter itu mengangguk singkat, seraya ditemani seorang perawat yang memeluk buku catatan pemeriksaan pasien di dada, ia berlalu pergi meninggalkan Mbok Tum dan Pak Maman yang kelimpungan di depan pintu ruang UGD.
"Aduh, gawat ini, Pak!" keluh Mbok Tum lagi. Sontak membuat Pak Maman ikut mengernyit bingung.
"Gawat kenapa lagi, Mbok?"
"Mbok lupa bawa hape!"
"Ya, sudah. Pakai hape saya saja, Mbok!"
Pak Maman mengeluarkan ponsel miliknya dari dalam saku celana lantas memberikannya pada Mbok Tum setelah lebih dulu menyambungkan panggilan telepon ke nomor ponsel Shehan.
'Mohon maaf, pulsa anda tidak mencukupi untuk melakukan panggilan ini.'
Mbok Tum menjauhkan lagi ponsel Pak Maman dari telinganya. "Pulsanya habis toh, Pak!"
"Aduh!" Gantian Pak Maman yang menepuk keningnya "ayo, kita pinjam telepon rumah sakit saja, Mbok!"
"Ayo, Pak!"
Mbok Tum menyerahkan ponsel Pak Maman lagi. Kedua orang yang sedang panik itu cepat-cepat mendatangi bagian pelayanan rumah sakit yang ada di setiap lantai gedung. Usai menjelaskan kondisi mereka, untung saja perawat yang bertugas menjaga bagian pelayanan tersebut mengizinkan Mbok Tum dan Pak Maman menggunakan telepon rumah sakit. Kali ini panggilan ke Shehan pun berhasil.
Di restoran, Shehan mengamati layar gawainya sebentar ketika ada panggilan masuk dari nomor yang tidak terdaftar di kontaknya. Shehan menerima panggilan telepon itu dengan tenang.
"Halo...."
"Halo, Tuan! Ini Mbok Tum, Tuan. Non LiIis masuk rumah sakit, Tuan. Sekarang lagi di ruang UGD!"
Ketenangan Shehan berubah menjadi kebekuan. Ia bergeming mendengarkan penjelasan Mbok Tum barusan.
"Tuan! Tuan masih mendengar saya? Halo, Tuan!"
"Sekarang LiIis ada di rumah sakit mana, Mbok?"
"......."
Tidak mau membuang waktu lagi, Shehan lekas pergi meninggalkan restoran yang sebelumnya telah dia rancang sesempurna mungkin untuk menyambut LiIis.
**
"Anda adalah suami pasien yang bernama LiIis Ekawati?" tanya Dokter yang tadi memeriksa LiIis setelah Shehan menemuinya di ruang bertugas.
"Ya, Dokter. Saya adalah suami LiIis Ekawati. Maaf saya terlambat datang. Boleh saya tahu, istri saya kenapa, Dokter?" Kening Shehan penuh garis kernyitan menanti penjelasan Dokter dengan perasaan cemas.
Dokter tersebut membenarkan posisi kacamatanya yang tersanggah di tulang hidung. Kedua bahunya turun perlahan seiring ia menghela napas panjang. Dari gelagatnya, tampak ada beban yang mengganjal di benaknya.
"Apa anda sama sekali tidak tahu kondisi kesehatan istri anda sebelumnya?"
"Saya tidak tahu apa-apa, Dokter. Selama ini yang saya lihat istri saya selalu baik-baik saja dan dia juga tidak pernah mengeluhkan tentang kesehatannya pada saya."
Dokter mengangguk lemah beberapa kali. "Waktu dibawa ke rumah sakit ini, istri anda pingsan dan mengalami mimisan. Istri anda juga sudah pernah memeriksakan kesehatannya beberapa kali di rumah sakit ini sebelumnya. Dari hasil pemeriksaan medis, diketahui bahwa istri anda mengidap kanker darah atau dalam bahasa kedokteran disebut penyakit leukemia."
Shehan bergeming--rasanya tidak sanggup lagi berkata-kata. Ia amat terpukul mendengar kabar buruk ini. Tidak pernah terbayangkan olehnya hal ini akan terjadi. Nyaris mata Shehan berembun di hadapan Dokter tersebut, tetapi Shehan berusaha mencegahnya.
"Be--benarkah itu, Dokter? Apa sudah dilakukan pemeriksaan lanjutan? Apa memang benar hasilnya itu?"
"Maaf, Tuan. Istri anda memang pernah tercatat melakukan pemeriksaan di rumah sakit ini beberapa kali dan hasil pemeriksaan memang menunjukan kalau istri anda mengidap penyakit leukimia stadium akhir."
"Apa! Stadium akhir?"
"Apa saya belum terlambat, Dokter? Saya mau istri saya sembuh. Tolong berikan pelayanan kesehatan yang terbaik, Dokter. Berapapun biayanya, akan saya tanggung yang penting istri saya bisa sembuh!"
Selepas berbincang dengan Dokter, Shehan berjalan lemas menyusuri koridor rumah sakit menuju ruangan tempat LiIis dirawat. Seluruh energinya bagai rontok. Bahkan sekadar menapak saja seolah tidak sanggup. Hati Shehan hancur berkeping-keping. Tidak ada satu bagian pun yang bisa diselamatkan.
Mbok Tum dan Pak Maman masih setia menunggu di kursi tunggu dekat pintu ruang UGD. Ketika melihat Shehan tiba, Pak Maman dan Mbok Tum sama-sama berdiri menghadang.
"Tuan!"
"Tuan!"
Sorot mata sayu Shehan menangkap kedua pelayan rumahnya. Lidahnya kelu tidak bisa bicara. Pandangan Shehan pun mulai samar.
"Hah!" Shehan menghela napas berat agar rongga dadanya menjadi lebih lapang. Meski baginya bernapas saja saat ini sulit.
"Tuan...." Panggilan Mbok Tum terdengar pilu.
"Terima kasih, sudah membawa Lilis ke sini. Sekarang saya akan menjaganya. Pak Maman dan Mbok Tum bisa pulang ke rumah."
Pak Maman dan Mbok Tum saling bertukar pandang.
"Benar, Tuan?" tanya Mbok Tum kemudian, "tidak apa-apa kalau Mbok menjaga Non Lilis di sini, Tuan."
Shehan menggeleng lemah beberapa kali. "Tidak, Mbok. Biar saya saja yang menjaga Lilis di sini. Saya ingin bersamanya sekarang. Kalau perlu sesuatu dari rumah, saya akan meminta Pak Maman untuk mengantarnya ke sini."
Pak Maman dan Mbok Tum saling bertukar pandang lagi. Rasanya sangat sungkan bila harus meninggalkan Shehan sendiri dalam keadaan genting seperti ini. Namun, sikap Shehan menunjukan kalau dia hanya ingin berdua saja dengan Lilis sekarang. Pak Maman dan Mbok Tum pun tidak dapat menolak lagi.
"Baiklah, kalau begitu Mbok sama Pak Maman pamit pulang, Tuan."
Shehan mengangguk. "Ya, Mbok."
Kedua pelayan itu memalingkan wajah sedih mereka. Berbalik badan hendak pulang ke rumah. Tinggallah Shehan seorang diri. Ia masuk ke dalam ruang UGD untuk menjenguk LiIis. Di sana LiIis tampak terbaring lemah dengan beberapa alat kesehatan ditempel di tubuhnya.
Shehan mendekat ke tepi ranjang rumah sakit, berdiri di sebelah nakas. Matanya berembun lagi seiring jemari tangannya mengelus pipi pucat LiIis dengan lembut.
'Aku mencintaimu. Apa kamu tidak mencintaiku? Aku mau selalu berada di sisimu. Apa kamu mau meninggalkanku? Kenapa? Kenapa memendam semuanya sendiri? Kenapa tidak mau berbagi?' ratap Shehan penuh duka. Tubuhnya gemetar--sangat takut kehilangan.
"Aku akan menyelamatkanmu. Aku akan menyelamatkan jiwamu. Begitulah caraku mencintaimu."
Shehan membungkuk.
Cup....
Menyematkan kecupan sayang di kening istrinya.
***
BERSAMBUNG...
Hai Readers Tercinta, novel Butterfly In You sudah menuju bab-bab terakhir. Mohon terus setia membaca sampai tamat ya dan karena itu juga, Author mau memperkenalkan novel penggantinya dengan judul PLAY DATE.
Novel PLAY DATE sudah bisa kalian temukan dan baca di aplikasi Noveltoon. Nah, berikut cuplikan Bab prolog novel tersebut. Happy reading! ^^
Sinopsis.
Apa jadinya bila kakak ipar menghamili adik iparnya?
Sonia Cartwright, seorang pekerja room service yang mengalami pelecehan oleh anak dari pemilik hotel di tempatnya bekerja. Gustav Romero Hilton adalah sang pelaku. Untuk mengakhiri kasus itu, Tuan Franklin Hilton mengambil keputusan mutlak, yaitu menikahkan putranya yang bersalah dengan Sonia.
Nahas, pernikahan yang tidak didasari dengan cinta malah menjadi petaka bagi Sonia. Statusnya sebagai istri tidak pernah diakui oleh suaminya sendiri bahkan ia juga mendapatkan perlakuan buruk dari ibu mertuanya--Jennifer Katherine Hilton.
Namun, diam-diam kakak ipar Sonia--Nicholas Howard Hilton yang dikenal sebagai sosok dingin dan ambisius malah jatuh hati pada adik iparnya yang malang. Perlahan tetapi pasti, Nicholas berusaha merebut Sonia dari sisi Gustav dan perang di antara kedua saudara itu pun dimulai.
**
"Aku yang menghamili istrimu," jawab Nicholas yang sebenarnya pertanyaan dari jawaban itu ditujukan Gustav kepada istrinya--Sonia.
Gustav dengan mata berembun menoleh ke ambang pintu kamar, menatap sang kakak berjalan perlahan memasuki ruang kamar dengan sorot mata tak percaya.
"A--apa ... apa yang barusan kau katakan tadi?" Ucapannya bergetar. Tangannya yang sedang menodongkan sebuah pistol ke arah Sonia gemetar. Sedangkan Sonia yang berdiri di hadapan Gustav tiada hentinya menangis sampai sesenggukan.
"Hiks! Hiks! Hiks!"
Udara dingin tengah malam semakin menusuk kulit, tatkala perseteruan di antara kedua saudara dan satu wanita itu pecah dalam kesunyian. Napas memburu milik Gustav, isak tangis Sonia dan langkah lambat Nicholas terasa begitu mencekam lari jarum jam yang menuju pukul 02.14 dini hari waktu kota New York.
"Bukankah kau mau tahu siapa yang menghamili istrimu?"
"Kau ... kau sudah tahu kalau Sonia adalah istriku. Adik iparmu sendiri! KENAPA KAU MENGHAMILINYA!" sergah Gustav, menjerit frustasi.
"Kau juga sudah tahu dia hamil anakku. Kenapa kau masih mau memilikinya?" balas Nicholas dengan dingin. "Berikan Sonia padaku!"
"Dia istriku!"
"Aku mau istrimu!"
"Jangan mendekat!" Seruan Gustav menghentikan langkah Nicholas yang kian masuk ke dalam kamar. "Sekali saja kau ayunkan kakimu lagi. Akan kutarik pelatuk pistol ini!"
"Tidaak! Aku mohon jangan! Aku mohon, jangan lakukan itu! Hiks! Hiks! Hiks!"
Ancaman Gustav telah meluruhkan semua energi Sonia yang tersisa. Tak mampu lagi kedua kaki gadis itu menopang tubuh lemahnya. Akhirnya meringsut, jatuh terduduk di lantai.
"Berdiri kataku! Berdiriii!" Teriakan Gustav membuat tangis Sonia makin menjadi-jadi.
Nicholas melirik kekasih simpanannya sekilas. Mengayunkan satu langkah ke depan saat Gustav tengah lengah. Gustav yang waspada segera mengetahui sang kakak telah melanggar titahnya. Lekas ia mengalihkan arah todongan pistolnya pada Nicholas.
"Kau! Tetap berdiri di sana!! Jangan coba-coba mendekat. Kalau kalian tidak mendengarkanku, aku tidak akan segan-segan membunuh kalian berdua!"
Emosi Gustav sudah mencapai ubun-ubun. Dikhianati istri dan kakak laki-lakinya sendiri begitu menggores luka mendalam di relung hati Gustav. Bukan hanya berkhianat, tetapi Sonia juga telah hamil anak Nicholas.