
Satu tangan Lilis berpegangan pada tepian kusen pintu selagi ia melongok ke kamar tidur. Lilis baru saja selesai berganti pakaian. Sebuah piyama lengan panjang telah melekat sempurna di tubuhnya.
Namun, ia masih canggung bila harus keluar dari ruang berpakaian. Terlebih lagi didapatinya, Shehan sedang duduk bersandar pada headboard tempat tidur sembari membaca buku. Lampu utama kamar telah dipadamkan. Hanya bermodalkan cahaya dari lampu meja di atas nakas saja untuk membaca.
'Tuan Murad belum tidur. Masih asyik membaca buku. Bagaimana ini?'
Pelan Lilis menggigit bibir bawahnya. Menarik kepala dari kegiatan melongok yang cukup lama. Lilis pun menyadari bahwa tidak bisa bersikap menghindar seperti ini terus. Mau tidak mau, dia telah menjadi istri sah Shehan dan mereka harus tidur di kamar yang sama.
Lilis menarik napas dalam lalu mengembusnya perlahan. Sengaja agar segenap keberanian terkumpul di dalam dirinya. Usai memantapkan hati, barulah Lilis keluar dari ruang berpakaian. Sesekali ia melirik Shehan yang berada di tempat tidur.
Perhatian Shehan terusik dengan kehadiran Lilis yang sedang berjalan di depan tempat tidurnya. Dari balik buku, Shehan melempar pandangan ke arah gadis itu, mengawasi gerakan Lilis sampai jarak keduanya berdekatan.
"Mas," panggil Lilis, sudah berdiri di samping ranjang Shehan. Shehan kemudian menurunkan bukunya ke atas pangkuan. Demi saling bersitatap muka.
"Ya, Lilis. Ada apa?" Intonasi Shehan lemah, agaknya pria itu sudah berada di penghujung lelah.
"Kulihat di dekat pintu balkon ada sofa. Aku izin mau tidur di sofa itu saja ya, Mas," ujar Lilis lagi, menyatakan keinginannya.
Sorot sayu Shehan menoleh sebentar ke arah sofa yang Lilis maksud. "Ya, sudah." Cepat ia mengabulkan permintaan gadis itu lantaran tahu, tidak mungkin bagi mereka berdua tidur di ranjang yang sama.
"Terima kasih, Mas. Sudah memberi izin." Lilis semringah "Aku izin lagi mau tidur duluan."
"Hhmm ...." Dehaman Shehan menguar pelan seraya mengangguk singkat.
"Selamat malam, Mas."
"Malam."
Lilis bertolak menuju sofa di dekat balkon, hendak mengistirahatkan diri. Sedangkan Shehan kembali fokus membaca bukunya. Awalnya Lilis sempat merasa kesulitan untuk tidur. Wajar saja, kamar itu baru untuknya. Selain baru, ada Shehan juga yang menghuni ruangan itu. Tentu rasa canggung tak mungkin terelakan.
Cukup lama Lilis bergerak gelisah. Bergonta-ganti posisi tidur. Sampai menjelang empat puluh lima menit terlewati, akhirnya lelap berhasil menjemput Lilis. Membawa gadis itu pergi, melanglang buana ke alam mimpi. Lilis pun tidur dengan nyaman di sofa yang empuk.
Tap!
Bunyi kedua belah bagian buku yang tadi dibuka, terdengar jelas saat ditutup. Hal itu dikarenakan suasana kamar yang hening nan temaram. Bahkan, lari jarum jam begitu nyata melantun di gendang telinga.
Shehan meletakan buku yang sudah dia baca sampai setengah bagian ke atas pangkuan. Menyandarkan kepala di headboard tempat tidur agar tengkuknya menjadi rileks. Tak lupa ia memejamkan mata sejenak.
"Haah ...." Dada Shehan membusung lalu mengempis. Seiring keluarnya helaan napas panjang. Shehan bersantai sebentar, sebelum pergi tidur.
Tiga menit bergeming, pejaman mata Shehan terbuka. Penatnya sudah hilang, berganti rasa kantuk yang sudah berat, bergelayut di pelupuk mata. Shehan meletakan bukunya ke atas nakas. Beranjak membaringkan tubuh di ranjang. Tetapi belum sempat ia memejamkan mata, tetiba Shehan teringat Lilis.
'Lilis sudah tidur belum? Bagaimana dia tidur?' gumamnya penasaran.
Timbul keinginan Shehan untuk melihat gadis itu. Shehan pun bangkit kemudian berjalan menyambangi Lilis yang sedang terjaga dalam tidurnya di sofa dekat balkon. Posisinya miring meringkuk. Hanya beralaskan lengan sofa sebagai bantal tumpuan kepala. Bahkan selembar selimut pun, tidak Lilis gunakan.
Kasihan, Shehan beranjak mengambil selembar selimut dari lemari di kamar itu. Juga sebuah bantal yang tak terpakai yang berada di tempat tidurnya. Kedua tangan Shehan penuh barang saat kembali mendatangi Lilis.
"Lilis ... Lilis ...," panggil Shehan. Niatnya untuk memberikan bantal dan selimut yang dia bawa agar Lilis bisa memakainya sendiri.
"Lis! Lilis!" Panggilan Shehan yang kedua. Namun, Lilis tak kunjung bangun. Benar-benar nyenyak tidurnya.
Akhirnya Shehan berbaik hati, mengangkat kepala Lilis cukup tinggi agar bisa menaruh sebuah bantal di bawahnya. Untuk menggantikan lengan sofa sebagai pengganjal kepala. Selimut yang Shehan bawa tadi juga dia bentangkan menutupi sekujur tubuh Lilis agar tidak kedinginan.
Sesaat Shehan memperhatikan Lilis intens. Cukup lama, barulah dia pergi kembali ke tempat tidurnya. Tidur nyenyak juga sampai pagi menjelang.
**
Sebuah celemek Lilis lepaskan dari tubuhnya. Pagi ini sebagai istri Shehan, Lilis turut membantu Mbok Tum memasak menu sarapan pagi. Usai dari dapur, Lilis terlebih dahulu pergi ke kamar Nurbanu. Membantu anak sambungnya berpakaian sekolah TK.
Selesai menyiapkan penampilan Nurbanu, Lilis kemudian menuju kamar utama. Hendak membantu Shehan berpakaian pula. Memang ada banyak tugas yang harus Lilis kerjakan, sejak statusnya berubah menjadi Nyonya rumah.
Tok! Tok! Tok!
Pintu Lilis ketuk sebelum masuk. Meski sudah tinggal di kamar itu, tetapi kebiasaan baik Lilis tak langsung hilang. Ia tetap mengetuk pintu sebelum masuk.
"Masuk!" Shehan memberi izin dari dalam kamar.
Ceklek!
Lilis menarik tuas dan masuk ke dalam. Tak lagi segan, ia langsung menghampiri Shehan. Ingin menunaikan kewajibannya sebagai seorang istri.
"Mari, Mas. Kubantu," kata Lilis di samping Shehan. Tangannya sudah akan meraih dasi yang sedang Shehan rangkai di balik kerah kemejanya.
Shehan melirik sekilas. "Tidak usah. Aku biasa memakainya sendiri."
Lilis bingung harus berbuat apa. Ia mengedarkan pandangan, mencari-cari kegiatan yang bisa dia lakukan. Di saat itu juga, Shehan memperhatikan Lilis dari pantulan bayangan gadis itu di cermin.
"Apa Nurbanu sudah selesai berpakaian?" tanya Shehan kemudian.
Lilis menoleh. "Sudah, Mas. Aku sudah mengantarnya ke ruang makan. Kami sedang menunggu Mas untuk mulai sarapan."
"Sebentar lagi aku selesai."
"Iya, Mas."
Shehan memakai jas coklat muda, membalut kemeja putih berompi hitam yang sudah dipakainya terlebih dulu. Dicarinya tas kantor miliknya, sebelum meninggalkan kamar. Lilis yang tahu kalau Shehan sedang mencari tas itu, bergegas mengambilkannya dari atas meja. Lalu memberikannya pada Shehan.
"Ini, Mas. Tasnya."
Shehan tertegun seraya menerima sodoran tas dari tangan Lilis. Ia tertarik melihat senyum menawan Lilis yang tetap bersahaja meski berulang kali, Shehan bersikap dingin padanya.
"Kamu tidak perlu melakukan ini lagi, Lilis. Bila di depan banyak orang saja, kita perlu bekerjasama. Tapi kalau sedang tidak ada orang lain, kita bisa menggunakan hak privasi kita masing-masing."
Itulah balasan yang terlontar dari bibir getir Shehan atas kebaikan yang Lilis berikan. Untung saja Lilis memiliki hati seluas samudra. Tidak akan dimasukannya ke dalam hati ucapan Shehan barusan.
"Yang Mas katakan itu benar, tetapi yang kulakukan juga tidak salah. Aku hanya menjalankan tugasku sebagai seorang istri. Tidak peduli aku istri kontrak atau bukan, yang penting aku sudah berusaha yang terbaik," tutur Lilis dengan lembut.
"Benarkah ucapanmu? Kamu mau berusaha yang terbaik menjalankan tugasmu? Tidak peduli kamu istri kontrak atau bukan?" Shehan mengintimidasi.
"Iya, Mas. Aku sungguh-sungguh."
"Kalau begitu cium aku!"
Seketika mata Lilis membulat. "A--apa? Mencium Mas?" Sampai terbata saking terkejutnya.
"Ya, tugas seorang istri harus mencium suaminya kalau suami mau berangkat bekerja ataupun pulang bekerja."
Sontak Lilis bingung bukan kepalang. Apakah ucapannya tadi sudah menjadi bumerang baginya.
"Ta--tapi Mas, dalam surat kontrak, di antara kita tidak boleh ada kontak fisik kalau tidak diperlukan."
"Memang, tapi kita harus saling mendukung dalam bentuk apapun sekiranya diperlukan untuk kepentingan pernikahan kontrak. Apa kamu sudah lupa itu isi pasal 3, surat perjanjian pernikahan kita?"
Shehan melangkah maju mendekati Lilis. Sementara Lilis berangsur mundur ke belakang, sudah buncah tidak karuan.
"Ja--jadi Mas, mau aku mencium Mas?"
"Kamu yang bilang mau menjalankan tugasmu sebagai istri sebaik mungkin."
Glek!
Saliva Lilis tertelan dalam.
"Ta--tapi ... a--aku, tidak mau mencium Mas."
"Hah!" Shehan berdecak konyol saat ditolak mentah-mentah oleh Lilis. Senyumnya tersungging lebar, sembari berpaling ke sembarang arah. Rasanya jawaban polos gadis itu membuat batinnya tergelitik. "Baiklah kalau begitu, pergilah sekarang. Tunggu aku di ruang makan!"
'Hah ... selamat!' Lilis lega.
"I--iya, Mas." Sambil menunduk, Lilis beranjak akan pergi. Tetapi baru selangkah, tiba-tiba
"Akh ...." Lilis berdecak kaget. Shehan menarik tangannya kencang, hingga Lilis menabrak tubuh suaminya.
Cup ....
Tidak tahu pada detik ke berapa itu terjadi, Shehan sudah berhasil mencium pipi Lilis. Spontan Lilis membeku, merasakan sebuah kecupan singkat baru saja mendarat di pipinya. Wajah Lilis merah merona tersipu malu. Ia memandangi Shehan, tetapi tidak bisa berucap sepatah kata pun.
"Lain kali jangan setengah-setengah kalau mau menjalankan tugasmu."
Shehan tersenyum licik, meninggalkan Lilis yang masih mematung di ruang berpakaian.
'Mas ... Shehan ...,' ucap Lilis bergetar sambil memegang pipinya yang bekas dicium Shehan tadi.
***
BERSAMBUNG...