Butterfly In You

Butterfly In You
Bab 68 : Dear Shehan



Tatapan penuh arti saling beradu di tengah malam yang hening nan dingin. Kedua insan yang sedang mabuk kepayang saling menghangatkan diri di atas sebuah ranjang. Kecupan-kecupan manis menerpa--menjelajahi paras, leher dan telinga.


Sang istri--Lilis yang menerima sentuhan sensual itu memejamkan matanya erat. Diikuti geliatan tubuh meliuk ringan. Satu tangannya betah melingkari leher sang suami--Shehan. Sementara tangan yang lain *******-***** rambutnya.


Mulut keduanya sedikit menganga, bertemu dalam peraduan rindu. Sesekali lenguhan lembut menguar. Menambah sensasi citarasa dalam bercinta. Gejolak kian membara, hawa panas menyelimuti sekujur tubuh--mendesak dan meronta.


Shehan melepaskan kemejanya, membuang ke sembarang arah lalu teronggok di lantai. Tubuh kekarnya terekspos di depan mata. Setelah melucuti pakaiannya sendiri, giliran lingerie burgundi yang Lilis kenakan--mendapat perlakuan yang sama. Lingerie itu dilepaskan dari tubuh Lilis berikut sisa-sisa kain penutup dada dan area sensitif lainnya. Keduanya kini tanpa busana. Saling merengkuh, erat tanpa celah.


Sentuhan tangan merayapi lekuk-lekuk tubuh sempurna itu. Keseluruhan incinya tak ada yang luput dari sentuhan. Lembut, sesekali menggelitik dan meremas pada tumpukan daging yang padat. Lilis mendesah pelan. Napasnya tersengal mengiringi gerakan kedua bahunya yang naik turun. Sesekali ia meremas sprei kuat saat sudah tidak berdaya menampung seluruh hasrat dewasa suaminya.


Shehan yang masih berada di atas tubuh istrinya, semakin mendominasi. Menunjukan perfoma yang sudah tidak perlu diragukan lagi. Ia menaklukan istrinya dengan segenap cinta berbaur nafsu membara. Begitu ahli memainkan perannya di area dada, perlahan turun menuju sisi kewanitaan yang paling sakral.


Ia menyentuh sisi itu dengan halus. Mencicipi rasa dan aroma. Mereguk manis dari sesuatu yang telah sah menjadi miliknya. Semakin Shehan banyak menyentuh, semakin sering pula Lilis menggeliat. Tarian irama tubuhnya tercipta erotis di atas permukaan kain beige muda yang polos tak bercorak. Gairah Shehan meningkat, menyaksikan lawan mainnya tenggelam--terseret arus kasih asmara yang ia ciptakan.


Sampai pada puncaknya, Lilis memejamkan matanya erat ketika sesuatu yang keras membelah dirinya, masuk begitu dalam hingga sangat terasa penuh dan kentara. Ia mengerang, merasakan sakit untuk pertama kali. Sprei yang diremasnya kuat ikut kusut. Noda merah segera terlukis membentuk kelopak-kelopak mawar. Kuncup bunga yang baru saja mekar itu, telah diambil kesuciannya.


Hentakan demi hentakan terjadi. Kian cepat seiring gairah yang telah menguasai diri. Sampai Shehan merasakan betapa indahnya surga dunia. Barulah dia puas dan merasa hidup.


**


Esok pagi.


Kerutan-kerutan ringan membias pada kelopak mata Lilis yang saat ini sedang terkatup hendak terbuka. Ia baru saja terbangun dari tidur setelah melewati malam panjang yang melelahkan. Rasa sakit sedikit terasa ketika kedua kakinya bergerak akan menggeliat. Bahkan pegal, sebab terlalu banyak melakukan adegan percintaan.


Lilis melihat satu tangan Shehan melingkari perutnya. Sedangkan wajah pria itu terbenam di punggungnya. Saat mengetahui posisi tidur mereka saat ini, kedua sudut bibir Lilis berkedut lalu akhirnya tersenyum tipis. Ia senang menyadari statusnya telah berubah. Bukan hanya berubah dalam kehidupan sosial, melainkan juga berubah kedudukannya di hati Shehan.


Benih kesabaran memang akan membuahkan hasil yang manis. Itulah yang Lilis pikirkan. Ia kemudian hendak bangkit, disingkirkannya selembar selimut yang menutupi tiga perempat tubuhnya. Di saat itu, lingkaran tangan Shehan semakin erat memeluk perutnya. Seketika Lilis menoleh.


"Mas...."


"Kamu mau ke mana?" tanya Shehan lembut dan dengan mata yang masih terpejam.


"Aku mau mandi, Mas. Sekarang sudah pagi."


"Nanti saja mandinya! Tidurlah lagi! Temani aku di sini."


Lilis semringah. "Kalau aku tidak bangun, Mas bisa tidak sarapan nanti. Tidak ada yang memasak makanan."


"Kan ada Mbok Tum, Sayang," celotehnya mesra. Pejaman mata Shehan terbuka sedikit. Ia merengek seperti anak kecil. "Jangan pergi! Temani aku sebentar lagi."


Lilis gemas melihat tingkah suaminya.


Cup....


Kali ini dia-lah yang menyematkan kecupan manis di kening Shehan. Sudah tidak ragu lagi ia bermesraan dengan pria itu. Shehan yang mendapat kecupan dari Lilis langsung merekahkan senyum lebar. Mengetuk-ngetuk bibirnya dengan jari telunjuk--ingin dicium di situ. Sontak Lilis terkekeh pelan.


"Tadi malam kan sudah, Mas."


"Aku mau lagi...," pinta Shehan, seduktif.


"Apa setelah itu Mas mau melepaskan aku?"


Sesaat Shehan bungkam.


"Ya...." Mengangguk lemah untuk mempertegas jawabannya.


"Janji?"


"Janji."


Lilis kemudian mengabulkan keinginan suaminya. Mencondongkan tubuh lalu mengecup bibir pria itu sekali. Tak dinyana, Shehan malah memeluk pinggangnya kencang--membuat Lilis tak bisa bangkit. Lekas satu tangan Shehan yang lain menahan tengkuk Lilis. Ia membalas kecupan yang Lilis berikan dengan tautan bibir yang lebih dalam.


Lilis meronta, tetapi tak kunjung lepas. Shehan terus mengerahkan aksinya. Cukup lama juga ia berhasil membelenggu bibir Lilis lagi. Baru setelah itu, benar-benar melepaskan istrinya.


"Mas! Iiihh...." Lilis merajuk.


Shehan malah tersenyum geli. "Kenapa kamu marah?"


"Tadi janjinya habis dicium sekali, aku boleh pergi!"


"Yang lama itu bonus."


"Bonus apa?"


"Bonus karena sudah menjadi istriku yang baik." Satu tangan Shehan mendarat di kepala Lilis, membelainya beberapa kali.


"Mas ini...." Pelan Lilis mencubit lengan Shehan seraya tersipu malu.


"Ya sudah, kamu boleh pergi sekarang."


"Eum ... ya, Mas. Mas mau dibuatkan sarapan apa pagi ini?"


"Sarapan yang enak."


Lilis mengernyit. "Sarapan yang enak?"


"Ya, terserah mau membuatkan sarapan apa yang penting enak. Kalau tidak enak, aku akan memakanmu lagi."


"Kalau begitu, aku harus cepat memasak sekarang sebelum badanku bolong-bolong Mas gigit."


"Hahaha!" Sontak Shehan terpingkal.


Lilis beranjak turun dari tempat tidur. Mengutip pa-kaian da-lam miliknya yang berserakan di lantai lalu memakainya kembali sebelum masuk ke toilet. Tatkala akan mencapai pintu, Shehan berseru dari posisinya yang masih berbaring di atas ranjang dengan setengah tubuh terbalut selimut.


"Lilis!"


Lilis menoleh. "Ya, Mas."


Shehan menatapnya penuh cinta. "I love you...."


Lilis tidak membalas. Seulas senyum cerah bersemi di parasnya yang bening sebagai balasan atas ungkapan manis Shehan. Dengan pipi merona, Lilis memasuki toilet. Membasuh sekujur tubuh di bawah derasnya air pancuran.


Satu jam kemudian.


Shehan yang juga sudah mandi dan bersetelan jas rapi tengah berdiri di kamar tamu. Kamar yang sebelumnya ditempati oleh Jesslyn. Tatapan matanya terpatri pada sepucuk surat yang berada di tangan kanannya. Perlahan manik coklat muda Shehan bergulir ke bawah. Membaca pesan menyentuh yang tertulis di sana.


-------------------------------------------------------------------


Dear Shehan,


*Maaf jika kehadiranku sempat menjadi gangguan dalam rumah tanggamu. Aku pasrah pada cintaku yang ternyata tidak pernah mendapatkan balasannya. Terima kasih sudah menjadi sahabatku. Semoga bila kita bertemu lagi suatu hari nanti, kita berada dalam keadaan yang jauh lebih baik dari sekarang*.


^^^Jesslyn Tjandra Kesuma^^^


-------------------------------------------------------------------


***


BERSAMBUNG...