Wife Or Nanny?

Wife Or Nanny?
94 - End



Kehidupan seorang manusia telah tertulis dan manusia hanya menjalankannya. Meskipun manusia diberikan pilihan, ketetapan yang mutlak tidak akan pernah berubah.


Begitulah Jihan memaknai hidupnya saat ini. Hal yang sama juga diyakini oleh Chris. Dalam dua tahun terakhir. Sejak itu pula, Chris dan Jihan rajin mengikuti kajian di masjid dan aktif dalam kegiatan amal.


Seluruh aturan perusahaan Chris juga berubah sedikit demi sedikit. Setelah dia mempelajari agama islam dan mendalami aturan syariatnya, dia berusaha memperbaiki caranya memimpin dan menjauhi hal-hal yang diharamkan agamanya. Sungguh, siapapun yang melihat Chris saat ini tidak akan menyangka bahwa dia akan bisa berubah sedrastis itu. Bahkan Alex kini mulai menjauhi minuman keras karena menghormati Chris sebagai atasannya.


Ibu Chris, perlahan sembuh. Setelah menjalani terapi diluar negeri selama enam bulan. Ada perubahan signifikan padanya. Dia sudah bisa bicara, tangannya sudah bisa digerakkan meski kakinya masih sangat lemah untuk berjalan. Kini dia tinggal bersama Jihan dan Chris selama dia ada di Indonesia.


Anak sambung Jihan, adik tiri dari Azam yang kini semakin besar, sudah mulai berbicara dengan lancar. Sepertinya dia mewarisi otak sang ayah. Dia terlihat sangat pintar sejak kecil. Azam sendiri saat ini sedang fokus ujian di pesantrennya. Dia juga tumbuh dengan cepat. Menjadi remaja yang bertambah tinggi dalam dua tahun ini.


Jihan yang saat ini hamil besar, berada dalam pengawasan ketat. Seorang perawat ditugaskan khusus untuk menjaganya dalam masa tunggu lahiran selama Chris bekerja. Meskipun Jihan pada awalnya menolak, Chris dengan tegas mengatakan bahwa ini untuk keselamatannya.


"Jihan, kamu kenapa? Apa mulai terasa sakit?"


"Ibu Jihan! Ya ampun! Ketuban anda pecah?" panik perawatnya.


Perawat itu segera berlari memanggil supir dan memintanya membantu membawa Jihan ke mobil. Jihan segera dilarikan ke rumah sakit.


Kepala pelayan segera menghubungi Chris, namun dia tidak menjawab panggilannya. Ibu Chris juga berusaha menghubunginya, namun tidak ada jawaban.


"Jordi, hubungi Jordi!" panik ibu Chris.


.


Sementara itu, Chris sedang menghadapi masalah terkait kecelakaan kerja yang terjadi disalah satu pabrik. Ada banyak korban karena tertimpa reruntuhan bangunan setelah alat berat yang mereka gunakan mengalami malfungsi dan menimpa atap bangunan.


Chris sedang meninjau lokasi dan ponselnya tertinggal di kursi penunpang. Arjun juga tidak mendengar bunyi ponselnya karena suasana yang sedikit ricuh. Mereka baru sampai dilokasi namun ada kericuhan antar pekerja yang saling menyalahkan.


"Hentikan mereka." suruh Chris pada Arjun.


"Mereka ini, bahkan tidak menyadari kedatangan Anda." gerutu Arjun.


Mereka berdua hanya berdiri memperhatikan orang-orang Chris yang selalu mengawalnya menghentikan pertengkaran. Ketika mereka menyadari kehadiran Chris, semuanya baru ketakutan dan hanya bisa tertunduk.


"Siapa yang bertanggung jawab disini?"


Seorang pria paruh baya melangkah maju dan berdiri lebih depan dari yang lain.


"Dimana para korban?" tanya Chris.


"Sudah dilarikan kerumah sakit, Presdir. Kami minta maaf! Anda sampai repot kesini, kami sungguh menyesal akan kejadian ini."


Seorang berlari menuju Chris, dia adalah supirnya. Sambil mengatur napas, dia berdiri di samping Chris sambil mengangkat tangan yang memegang ponsel milik Chris.


"Tuan, istri Anda dilarikan kerumah sakit. Dia... Dia lahiran!" ujarnya penuh semangat.


"Apa?"


Chris meraih ponsel miliknya yang disodorkan sang supir. Memeriksa panggilan tak terjawab yang sudah menumpuk.


"Arjun, selesaikan masalah ini. Beri penanganan dan konpensasi yang baik pada korban. Berikan laporan kronologi padaku besok." perintahnya sambil menatap ponselnya, melakukan panggilan pada Jordi yang juga tadi meneleponnya.


"Kamu dirumah sakit?" tanyanya sambil belari ke arah mobil.


"Kakak masih dipabrik? Aku sudah disini tiga puluh menit yang lalu. Kak Jihan akan dibawa ker**uang operasi sekarang."


"Apa? Apa keadaannya buruk? Apa maksudmu dengan operasi? Tidak, aku akan sampai dalam tiga puluh menit." Chris tidak mau menunggu jawaban, dia hanya akan langsung kesana.


Chris keluar dan membuka pintu depan. Menyuruh supirnya pindah dan dia yang mengendarai mobil karena ingin sampai dengan cepat. Tentu saja, dia akan membawa mobilnya pada kecepatan diatas rata-rata. Sesuatu yang tidak akan dilakukan supirnya yang taat aturan.


"Sudah dimulai?"


"Sudah berjalan lima belas menit."


"Aku akan masuk!"


Cris membuka pintu ruang operasi dan langsung disambut oleh perawat disana. Tentu saja mereka menyadari siapa Chris. Dia langsung diberikan baju ganti dan diminta membersihkan tangannya terlebih dahulu.


Setelah Chris memakai alat pelindung diri, dia segera ditemani satu perawat untuk masuk ke dalam ruang operasi. Dokter yang sedang fokus tidak melihatnya. Tapi Jihan yang sadar Chris telah masuk, langsung memanggil namanya.


"Chris..." lirihnya.


"Tidak apa-apa, jangan kawatir. Aku disini, kamu akan baik-baik saja." hibur Chris.


Dia membelai kepala Jihan dan mencium keningnya berkali-kali. Begitu mereka mendengar suara bayi menangis, keduanya langsung mengucapkan kalimat syukur. Namun sesuatu yang salah terjadi.


"Jihan?"


Chris yang menyadari ada yang salah dengan istrinya langsung panik. Jihan tiba-tiba menutup matanya, peluh semakin membanjiri wajahnya. Tangannya yang tadi menggenggam tangan Chris terlepas seperti kehabisan tenaga.


"Ada apa dengannya?" tanya Chris ditengah hirup pikuk ruang operasi, suara dokter saling sahut menyahut memberi intruksi.


"Segera siapkan transfusi darah!"


Chris menoleh pada dokter yang memberi perintah seperti itu pada seorang perawat. Kantung darah langsung disiapkan dan dialirkan melalui pembuluh darah Jihan.


"Tekanan darah kembali normal, detak jantung normal." lapor perawat.


"Bagus, pasien kembali stabil." ujar dokter. Tampaknya dia juga sempat panik.


"Tapi kenapa dia tidak membuka matanya?" tanya Chris, suaranya semakin panik.


"Coba anda panggil, Pak Chris. Ibu Jihan memang mengalami penurunan kesadaran. Namun kondisinya telah stabil kembali. Dia akan bisa berkomunikasi dalam beberapa menit kedepan. Mohon ajak istri anda terus bicara."


Chris sungguh tidak tahu bahwa melahirkan ternyata semengerikan ini. Dia melihat istrinya berjuang antara hidup dan mati. Dia bahkan sampai gemetar, tangan yang mengusap kening Jihan juga bergetar. Chris sungguh takut kehilangan istrinya.


"Terima kasih, terima kasih sayang. Aku mencintaimu. Aku sungguh mencintaimu." bisiknya.


Jihan mengerang sedikit, seolah menjawab pernyataan suaminya. Chris benar-benar terlihat sangat emosional. Dia menangis dan terus berbisik pada Jihan. Mengucapkan ribuan terima kasih dan kata penuh cinta.


.


Setelah proses penyembuhan yang panjang. Jihan diperbolehkan kembali kerumah. Bayinya digendong oleh sang nenek. Ibu dari Jihan. Sedangkan sang ayah menunggu dirumah untuk menyambut kedatangan mereka bersama yang lain.


Rumah dihiasi dan ditata dengan cantik untuk menyambut keluarga baru dan Jihan yang pulang dari rumah sakit. Bayi laki-laki mungil yang sangat sehat. Jihan dan Chris kini memiliki tiga anak. Dan mereka sangat bersyukur akan kehadiran mereka.


"Terima kasih telah menunjukkan cinta ini pada Mama, Chris. Mama tidak tahu, bahwa cinta keluarga ternyata sangat berharga dan begitu membuat bahagia." kata ibu Chris. Mereka sedang duduk berdampingan.


"Lupakan masa lalu, Mama. Tidak ada satupun hal baik dimasa lalu tentang kita. Jadi, lupakan itu dan ayo mulai masa depan kita bersama."


Chris menggenggam tangan ibunya. Keduanya bertukar pandang sejenak dan tertawa setelahnya. Chris menghampiri Jihan. Memeluknya dari belakang dan mencium pipinya bertubi-tubi. Sampai-sampai Azam memprotes dan menyuruhnya pergi saja ke kamar kalau mau bermesraan. Membuat semua orang tertawa.


Setelah semua masalah dan masa lalu yang buruk terlewati. Berdamai dengan diri sendiri dan membuang segala penyakit hati adalah langkah yang tepat untuk dilakukan. Karena penyakit hati hanya akan mendatangkan segala kesengsaraan dan kegelisahan yang tidak pernah ada habisnya. Apa tujuan hidup di dunia ini selain menuju akhirat? Jadi itulah yang berusaha Chris jaga saat ini. Ketenangan hatinya baru ia dapatkan ketika ia menuju jalan Tuhannya.


END_