
Chris berjalan cepat melewati lorong rumah sakit menuju ruang ICU dimana ibunya dirawat. Ibunya menunjukkan perkembangan. Dokter memberitahunya bahwa dia membuka matanya.
Sesampainya disana, Alex segera keluar. Membiarkan Chris melihat ibunya. Dokter menjelaskan keadaan ibunya dengan singkat, Dokternya bukan dokter kemarin. Chris menggantinya dengan dokter lain. Seluruh dokter dan perawat sebelumnya sudah dipecat.
"Mama bisa mendengarku?" tanya Chris.
Ibunya hanya meliriknya, dia belum bisa mengangkat tangannya. Chris yang pada dasarnya tidak mengerti cara menunjukkan kasih sayang, hanya menatap ibunya dengan bingung.
"Dokter bilang Mama akan segera pulih jika tidak ada masalah baru. Jadi istirahatlah dengan baik. Ada banyak hal... Mama tidak boleh terus tidur, masalah kita masih banyak." ujarnya. Dia berbicara dengan raut tampa ekspresi. Chris bermaksud mengatakan cepatlah sembuh, namun karena dia begitu gengsi bersikap lembut, dia mengatakannya dengan cara seperti itu.
"Aku akan mengunjungi Mama lagi nanti." lanjutnya.
Dia melirik Alex yang berdiri di samping pintu. Yang mengikutinya ketika Chris berjalan pergi. "Hanya segitu?" tanyanya.
"Apa maksudmu?" tanya Chris balik sambil terus berjalan.
"Kamu tidak sampai lima menit disana setelah ibumu bangun. Apa hubungan kalian sangat buruk?"
"Bukan urusamu, bagaimana dengan urusan rumah itu."
"Dia tidak ingin memberikannya melalui dirimu. Katanya, dia sendiri yang akan memberikannya pada Jihan."
Chris berhenti, rasa kesal merasukinya. Alex tertawa pelan. "Dia memang tidak tahu terima kasih. Tapi kalau dipikir-pikir, bukankah kasus itu bisa kamu jadikan senjata. Bagaimanapun dia bagian dari mereka. Gunakan saja itu!"
"Kalau aku melakukan itu, aku harus bersiap melawan ayah angkatnya."
"Jadi benar rumor bahwa dia akan dijadikan penerus kelompok mereka?"
Chris kembali melanjutkan langkahnya. "Seperti yang kamu tahu, si tua itu menghubungiku. Memintaku bersikap baik terutama pada anaknya."
"Yah, saat ini kamu tidak bisa melawannya kan? Mereka cukup besar dan memiliki banyak relasi dari dunia gelap. Dia bisa menghancurkanmu."
Chris masuk ke dalam mobilnya, meninggalkan Alex yang menatap kepergiannya dengan ekspresi datar.
Chris juga tidak menyangka bahwa dia akan menghadapi Ebel. Ini hanya urusan antar dirinya dan Marcell, tapi sepertinya, Marcell memang memiliki posisi yang bagus di sisi ayah angkatnya, sehingga dia langsung turun tangan ketika Marcell mendapatkan masalah.
Chris larut dalam pikirannya. Matanya menatap keluar jendela namun sama sekali tidak memperhatikan apa yang dilihatnya. Kepalanya dipenuhi berbagai rencana baru. Dia harus mengikat Jihan sebelum Marcell mulai mengganggu lebih banyak lagi.
Seorang pria yang tidak pernah tahu bagaimana caranya memperlakukan orang lain dengan manusiawi, ketika jatuh cinta, dia bisa menjadi lebih serius dari pada menghadapi masalah perusahaannya.
.
Jihan dan orang tuanya bingung ketika banyak pekerja dan seorang arsitek datang pagi-pagi kesana. Membawa semua peralatan dan bahan yang akan digunakan untuk membuat taman.
Kepala pelayan melayani mereka dengan baik. Memberi mereka makanan dan minuman enak. Arsiteknya seorang pria yang sukup tua. ia pergi setelah memberikan intruksi dan pengarahan pada para pekerjanya. Menyapa Jihan seadanya sebelum benar-benar meninggalkan tempat itu. Jihan tidak sempat bertanya, dia tampak menjaga jarak.
"Sebenarnya apa yang mau mereka buat?" tanya Jihan.
"Tuan mengatakan pada saya bahwa mereka ditugaskan untuk membuat taman bunga dan memasang rumput di sekitar sini. Bukankah ini tempat anda suka menghabiskan waktu?"
Jihan mengerjap, dia ingat pembicaraan mereka kemarin. Tiba-tiba saja, wajahnya memerah.
"Kamu kenapa? Kenapa wajahmu jadi aneh, apa kamu sakit?" tanya ibunya.
"Tidak, Ibu... Saya akan masuk duluan." jawab Jihan.
Dia segera meninggalkan orang tuanya yang melihatnya dengan bingung. Jantungnya berdetak dengan cepat. Wajahnya terasa panas. Jihan jadi merasa malu sendiri ketika dia malah merasa tersipu pada usianya kini.
"Jangan gila, Jihan. Kenapa kamu seperti anak remaja. Memalukan!" rutuknya pada diri sendiri. Dia menunduk dan menepuk-nepuk kedua pipinya sambil berjalan.
.
Jihan bosan, dia terbiasa bekerja. Tidak melakukan apapun membuatnya jenuh. Bahkan ketika dia membantu di dapur, pelayan langsung mencegahnya dan memohon dengan wajah memelas. Seakan mereka akan terkena masalah kalau Jihan memegang pisau.
Ponselnya disita oleh polisi dengan alasan untuk penyelidikan dan barang bukti. Dia tidak bisa membeli yang baru karena tidak diizinkan keluar. Satpam komplek itu mengatakan bahwa Chris yang memerintahkannya untuk menahan Jihan keluar. Dengan alasan untuk keamanannya saat ini.
"Aku ingin kembali kerja. Kenapa aku malah terjebak disini? Meri saja sudah diizinkan kembali kerja, dia juga saksi." gerutunya.
Jihan sedang berguling-guling di lantai dua. Tempat santai di dalam perpustakaan. Dia bangun dan berjalan menuju jendela. Melihat para pekerja yang membuat taman di dekat sungai buatan itu.
"Waah... Sungainya jadi lebih indah di tempat itu."
Jihan berbalik, ingin melihatnya dari dekat. Dia turun dengan setengah berlari karena sedikit bersemangat untuk melihat hasilnya.Pasalnya, dari informasi yang Jihan dengar dari kepala pelayan Chris, arsiteknya adalah orang yang juga membuat desain unit ini.
"Oh, kamu bisa tersenyum juga?"
Jihan berhenti ketika dia sudah diluar pintu utama, dia menoleh ke kanan dimana Alex baru saja keluar dari mobilnya. Dia tidak sendirian, dia bersama Chris dan juga Arjun.
Melihat Chris yang melihatnya dengan binar cerah seperti itu, membuat dia semakin merasa aneh pada dirinya. Jantungnya seakan ingin melompat keluar.
"Mau kamana? Kamu terlihat senang." tanya Arjun.
"Hanya... mau kesana."
Chris menoleh pada Alex dan Arjun. Memberikan perintah lewat matanya. Alex dan Arjun kembali masuk ke dalam mobil dan pergi dari sana. Mereka memiliki hal yang harus mereka urus.
Jihan hanya memperhatikan interaksi itu, meski tampaknya penasaran, namun dia lebih memilih menutup mulut.
"Boleh aku ikut kesana?" tanya Chris, membuyarkan lamunannya.
"Ini rumahmu, Kamu tidak perlu bertanya." sahut Jihan.
Chris tersenyum, dia mengikuti Jihan yang sudah melanjutkan langkahnya kembali.
"Kamu suka?"
"Huh?"
"Tamannya, bukankah kamu bilang akan lebih indah kalau ada taman bunga dan rumput disini."
"Aku ingin makan siang disini. Bersama orang tuamu, apa boleh?"
Jihan menoleh sesaat, lalu menunduk ketika Chris menatapnya balik.
"Ya, itu... tidak masalah."
Chris memperhatikan gerakan Jihan yang terlihat sedikit gelisah. Seperti sedang menahan keinginan untuk menyampaikan sesuatu. Juga ada rasa kawatir diwajahnya.
Penasaran, Chris tidak tahan hanya menebak-nebak di dalam kepalanya. Dia ingin tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Jihan.
"Ada sesuatu yang mau kamu sampaikan?"
Jihan melebarkan matanya, ekspresi terkejut terlihat disana ketika Chris menebak isi hatinya.
"Itu... Soal aku yang tinggal disini."
Tiba-tiba kekawatiran merasuki hati Chris. "Ada apa, kamu tidak nyaman?"
"Itu... Maafkan aku dan aku sangat berterima kasih. Tapi... Ini terlalu banyak. Aku ingin kembali bekerja. Aku juga ingin keluar. Aku rasa mereka tidak akan melakukan apapun padaku, mereka sudah di tangkap semua kan. Aku... Aku akan hati-hati, kamu tidak perlu..."
"Kamu tidak suka tinggal disini? Apa yang membuatmu tidak nyaman? Aku bisa mencarikan tempat lain." potong Chris dengan menahan amarahnya.
Meski tahu apa yang dimaksudkan Jihan. Tapi dia bersikap seolah tidak mengerti. Jihan menggeleng dan merubah posisinya. Kini dia berdiri di hadapan Chris dan menatapnya. Rasa terima kasih dan kebaikan Chris membuatnya tidak enak hati untuk bersikap keras seperti biasanya. Namun Jihan tetaplah Jihan, ketika dia menyampaikan apa yang menurutnya benar, dia akan langsung bersikap tegas.
"Bukan itu...!" Chris menatapnya datar, tidak menyembunyikan wajah marahnya, namun tetap menjaga suara dan tindakannya. "Aku berterima kasih kamu menjagaku. Juga menyelamatkanku. Aku hanya... Aku hanya tidak nyaman dengan semua kebaikanmu. Ini terlalu banyak. Aku... Aku hanya ingin seperti dulu, kembali bekerja. Aku bahkan tidak bisa sekedar keluar untuk membeli sesuatu, Seminggu lagi Azam juga akan libur sekolah. Aku ingin menghabiskan waktu dengannya."
"Aku bisa melakukan itu untukmu. Aku akan membawanya kesini."
"Tidak, dia tidak akan nyaman denganmu setelah semua masalah yang terjadi. Lagi pula kemungkinan dia akan dijemput oleh ayahnya." Aura Chris langsung berubah gelap. Jihan bisa merasakan bahwa Chris jadi menakutkan. Ekspresinya tidak ramah sama sekali.
"Kamu akan bertemu dengannya? Mantanmu itu?" Chris merutuk dalam hati, belum selesai masalah Marcell kenapa Haris masih mengganggunya. Itulah yang ada di pikirannya saat ini.
"Tentu saja, mau tidak mau karena dia ayah dari anakku." jawab Jihan dengan lancar, tidak sadar bahwa jawabannya bisa membangunkan harimau yang sudah terusik sejak tadi.
Chris menutup matanya sejenak lalu menghela napas. Berusaha menurunkan emosinya agar tidak merusak komunikasi yang sudah susah payah ia perbaiki.
"Kamu sengaja ya?" tanyanya dengan memasang wajah kecewa dan sedih. "Sengaja membuat alasan untuk menolakku lagi. Kamu... Menolakku dan ingin pergi, benar kan?"
Jihan hampir mengalami serangan jantung karena perubahan mendadak itu. Seorang Chris yang selama ini ia kenal arogan, seenaknya sendiri dan segala sifat buruk yang dilekatkan padanya. Sekarang bersikap seperti anak anjing yang dibuang.
"Bu-bukan gitu! Aku hanya... Aku tidak bermaksud begitu. Ini hanya tentang perlakuanmu yang berlebihan." Tampa sadar Jihan menunjukkan penyesalan. Dia jadi panik sendiri.
"Oh, jadi kalau Marcell atau orang lain yang berlebihan padamu itu baik-baik saja? Dia juga dulu memberikan hadiah padamu setiap hari dan kamu menikmatinya dengan senang hati."
'Kenapa jadi lari kesana?' tanya Jihan dalam hati.
"Itu... Aku hanya tidak memikirkan hadiah itu spesial. Jadi aku tidak... Intinya itu tidak ada hubungannya dengan hal ini. Aku hanya ingin bisa keluar."
"Jadi kamu ingin keluar?"
"Huh? Iya. Keluar dan kembali bekerja."
"Bukan menghindariku?"
"Tidak!" sahut Jihan cepat. Chris tertawa dalam hati. Tentu saja dia senang mendengarnya.
"Mau kerja dimana?"
"Apa aku dipecat?" tanya Jihan dengan polos, membuat Chris harus menahan diri untuk tidak tersenyum.
"Belum. Tapi kamu harus tetap tinggal disini kalaupun bekerja denganku. Pulang pergi denganku dan hanya pergi kemanapun denganku. Sidang belum digelar dan polisi masih bekerja keras membongkar jaringan mereka. Kamu tidak bisa berkeliaran sembarangan."
"Ta-tapi kan aku tidak ada hubungannya dengan jaringan mereka. Aku hanya korban."
"Ya, tapi Marcell ada, Jihan." Tiba-tiba Chris kembali serius. Menatap Jihan dengan tegas dan tak ingin dibantah.
"Sebenarnya... Siapa Marcell sebenarnya? Kamu pasti tahu kan? Apa dia benar teman sekolahku dulu?"
"Mungkin." jawab Chris ambigu.
"Tuan, maaf mengganggu pembicaraan anda. Tapi makan siang sudah selesai disajikan. Orang tua Nyonya juga sudah di meja makan." kata kepala pelayan yang menghampiri mereka.
"Kami akan segera kesana." jawab Chris.
"Terima kasih bu, maaf merepotkan." sambung Jihan.
Kepala pelayan itu terseyum dan memohon izin untuk kembali. Meninggalkan mereka yang kembali melanjutkan pembicaraan.
"Jihan, bisakah aku bertanya sesuatu?"
"Silahkan." sahut Jihan.
"Apa kamu masih menyukai mantanmu itu?"
Jihan terkejut sekaligus heran karena tiba-tiba Chris merubah topik pembicaraan dan diberi pertanyaan seperti itu.
"Tidak."
"Lalu bagaimana dengan Marcell, kamu menyukainya?"
"Tidak!" jawab Jihan lagi, nadanya sangat tegas.
"Lalu bagaimana denganku?"
Nah!
Mendapat pertanyaan dengan mode serangan mendadak seperti itu, membuatnya mati kutu. Kira-kira, jawaban apa yang akan ia berikan?