Wife Or Nanny?

Wife Or Nanny?
54



Arjun datang pagi-pagi sekali ke kamar Chris dan menemukan bahwa tuannya itu masih berbaring di atas kasur. Tubuhnya tampak biasa saja dan wajahnya sudah terlihat segar.


"Tuan, tampaknya otot-otot itu membantu anda. Kalau anda sudah sehat cepatlah mandi. Saya akan menyiapkan sarapan dan pakaian anda."


Chris menatapnya datar, ingin sekali melempar wajah Arjun dengan sesuatu yang menyakitkan karena ekspresi mengejek diwajahnya. Ketika dia berdiri, tiba-tiba saja dia terjatuh ke lantai.


"Chris!" teriak Jihan.


Dia baru saja dari kamar mandi usai solat subuh untuk menyiapkan air panas jika Chris ingin mandi. Tepat ketika Jihan keluar, Chris malah jatuh kelantai.


Jihan reflek melupakan formalitas dan langsung menolongnya karena panik. Arjun yang melihatnya tentu saja ikut panik, tapi setelah melihat seringaian tuannya, dia menjadi kesal sendiri.


"Apa otot anda akhirnya kalah oleh umur, Tuan?" sindirnya.


Dia ikut membantu, pura-pura tidak tahu apa yang sedang dilakukan tuannya.


"Kamu bisa pulang untuk ganti baju, aku akan mengurus tuan Chris." kata Arjun.


"Aku sudah menghubungi teman serumahnya. Dia bisa memakai kamar kosong disebelah untuk membersihkan diri." sela Chris.


"Huh? Anda tidak perlu melakukan itu, Presdir."


"Bukankah tadi kamu sudah memanggil namaku, tidak bisakah tetap memanggil namaku? Kita sedang tidak dikantor."


"Huh?"


Arjun berdehem pelan, sedikit canggung karena merasa menjadi obat nyamuk diantara mereka.


"Apakah itu berlaku untuk saya juga, brother Chris?" godanya dengan wajah menggelikan.


"Lakukan sesukamu, aku tidak pernah melarangmu."


Arjun membuat wajah terkejut, lebih tepatnya pura-pura terkejut yang sangat estetik. Membuat Chris menatapnya datar.


Pintu diketuk dan Jihan berjalan untuk membukanya. Meri yang datang, karena itu Jihan langsung memohon izin untuk bersiap-siap.


"Wah... Brother. Anda membuat kemajuan pesat."


"Panggil aku seperti biasa. Itu terdengar menggelikan."


"Ya ampun, anda membuat hati saya sakit." sahut Arjun dengan wajah pura-pura sedih.


"Anda akan terus menjadi orang sakit atau apa? Apa saya perlu membawa kantor anda kesini?"


"Biarkan aku istirahat sebentar lagi. Lanjutkan jadwal dan pekerjaan. Aku akan ke kantor siang ini. Jaga Jihan, jangan sampai Marcell berhasil membawanya sendirian."


"Ah, masalah itu. Saya dengar Alex terlibat masalah dengan orang mereka."


"Apa yang dilakukan anak itu?"


"Meminjamkan uang pada kekasih salah satu anggota mereka. Wanita itu tidak bisa membayarnya dan kabarnya Alex menidurinya."


"Masalahnya dimana?"


"Wanita itu mati."


"Mati?"


"Alex membunuhnya."


Chris menghela napas panjang.


"Polisi?"


"Dari pada polisi, pacar wanita itu adalah teman baik Marcell. Itu lebih berbahaya dari pada sekedar polisi. Sampai sekarang belum ada laporan ke polisi. Sepertinya mereka akan balas dendam dengan cara mereka."


"Si bodoh itu, apa alasan dia membunuhnya?"


"Tidak ada yang tahu. Tapi Tuan, sebaiknya anda jangan melibatkan diri. Alex bisa saja meminta bantuan anda."


"Dia punya jaringannya sendiri. Tapi tidak menutup kemungkinan dia akan datang padaku."


Pintu diketuk dua kali sebelum dibuka. Jihan muncul di depan pintu. Namun dia bergeser ke samping setelahnya. Detik berikutnya, ibu Chris masuk bersama Adora.


Chris menatap pintu yang tertutup kembali dengan perasaan kesal. Dia memberi intruksi pada Arjun lewat bahasa isyarat agar segera pergi membawa Jihan dari sini.


"Kenapa kalian ada disini?"


"Aku dengar dokter Vincent datang kesini. Kenapa kamu tidak kerumah sakit? Atau kamu bisa memberi tahu Mama. Adora juga seorang dokter, dia bisa merawatmu lebih baik dari pada mantan istrimu."


Chris menyibak selimut dan memperbaiki tali pengikat piyamanya. Dia berjalan dengan santai menuju kulkas dan meminum air dingin.


"Aku sudah sembuh, Mama tidak perlu kawatir." ujarnya, meletakkan gelas dan berjalan ke arah sofa. Duduk disana dengan kaki bersilang.


"Setidaknya beritahu kami, Chris. Kami menghawatirkanmu."


Chris tidak mengidahkan perkataan Adora. Chris malah menatap malas kuku tangannya yang mulai panjang.


"Aku tahu Mama tidak hanya datang karena aku sakit, jadi katakan dengan cepat sehingga aku bisa istirahat dengan nyaman."


"Ck, kamu benar-benar tidak sopan. Kedua sepupumu sudah menerima keputusan pengadilan. Apa kamu sudah tahu?"


"Penjara tidak buruk untuk mereka. Tenang saja, hanya dua tahun. Lagi pula kita mendapat simpati publik karena taat hukum." jawab Chris acuh.


"Kamu yang membuat mereka masuk kesana bukan?"


Chris tersenyum tipis. Lalu matanya menatap ibunya dengan sorot penuh kelicikan. "Itu berlaku untuk orang disampingmu, Mom. Jika dia masih ingin terus bermimpi." katanya dengan nada rendah yang penuh ancaman.


Sontak saja Adora menjadi tersentak. Tubuhnya terasa kaku dan bulu kuduknya merinding seketika.


"Begitu? Apa aku harus kawatir akan keselamatan ibu dari cucuku?" Adora dengan cepat menatap ibu Chris dengan perasaan takut yang sama. Entah kenapa, dia merasakan bahwa dua orang ibu dan anak ini terdengar sangat mengerikan.


"Anak itu... rawat saja dengan baik. Tapi Mom, dia tidak akan pernah menjadi penerusku."


Ibu Chris langsung merubah raut wajahnya menjadi dingin. Menatap Chris dengan penuh keseriusan.


"Adora, tunggulah dimobil. Aku butuh bicara dengan anakku." perintahnya tampa melihat.


Adora jelas terkejut, dia tadinya berpikir ibu Chris telah mempercayainya dan mendukungnya karena sang cucu. Tapi kini dia menjadi ragu dan hal itu memunculkan kemarahan di dalam hatinya.


"Baik Ma," jawabnya pelan. Segera bangkit dan keluar dari sana.


"Kamu yakin dengan yang kamu ucapkan? Ingatlah Chris, kamu tidak punya penerus lain saat ini. Kehadiran anakmu bisa mengokohkan posisimu."


Chris tertawa, "Apa aku setua itu untuk tidak bisa punya anak lagi? Selain itu, selama ****** peliharaan Mama masih dirumah itu, jangan berpikir untuk kita bisa membawaku kembali. Mama tentu tahu siapa yang aku inginkan."


"Jihan tidak bisa memberimu dukungan, dia hanya akan menjadi penghalang dan membuatmu lemah."


"Itu alasan yang selalu Mama ucapkan."


"Kenyataannya memang begitu Chris, lihatlah dirimu saat ini. Semua orang mulai meremehkanmu karena dia. Apa kamu tidak mendengar apa yang mereka gaungkan setiap saat? Kamu dijuluki raja yang mulai lemah. Kamu tahu kenapa? Karena kamu memiliki itu dihatimu. Kelemahan terbesar manusia adalah hati, Chris. Jika mereka menemukan kelemahanmu dan menggunakan itu untuk menjatuhkanmu, kamu akan membuat perjuangan kakek dan orang tuamu sia-sia!"


Pernyataan menggebu-gebu itu membuat Chris menggertakkan giginya. Urat tangannya keluar saking kuatnya dia menekan kedua tinjunya sebagai usaha untuk tidak mengamuk dihadapan ibunya.


"Benar!" kata ibunya pelan, matanya berkilat marah. "Dan iblis tidak punya hati! Jadi berhenti melakukan kebodohan!"


Ibunya bangkit berdiri, keluar dari ruangan itu dengan bantingan pintu yang cukup keras. Hal yang menjadi tujuan ia datang kesana menjadi terlupakan karena pertengkaran mereka.


Sesampainya di mobil, dia mengusir Adora keluar dan menyuruhnya pulang naik taksi. Membuat Adora menjadi lebih kesal padanya.


"Nenek tua ini... apa aku salah langkah?" Adora berjalan menuju taksi yang terparkir diluar gedung hotel. Menggigit kukunya dengan raut cemas dan kening yang berkerut. Matanya bahkan tidak fokus pada jalan.


Sementara itu, Chris yang masih meredakan emosinya, mendapat panggilan telepon dari Alex. Chris menekan ikon hijau dan mulai menempelkan layar ponsel ketelinganya.


"Ada apa?" tanyanya langsung.


Entah apa yang dikatakan oleh Alex, tapi Chris segera memerintahkannya untuk datang ke kantornya. Chris segera mandi dan bersiap-siap. Niatnya untuk beristirahat buyar begitu saja.


.


Sesampainya di kantor, Alex sudah duduk di kursi kerja Jihan. Sementara Jihan tidak ada ditempatnya. Arjun juga tidak ada disana. Membuat Chris menatap Alex yang masih duduk dengan santainya.


"Jangan tanya aku, aku tidak tahu kemana asistenmu pergi." ujarnya.


"Kita bicara di dalam."


Maka keduanya masuk ke dalam ruangan dan Chris sengaja menguncinya. Mereka berdua duduk di sofa seperti biasa.


"Katakan."


"Aku mendapatkan informasi ini secara kebetulan. Tapi aku akan memberikanmu dengan cuma-cuma jika kamu juga membantuku membuat kesepakatan dengan Marcell. Aku punya masalah dengan bawahannya."


"Masalah wanita yang kamu bunuh?"


"Hah... ****** itu, dia punya masa lalu yang buruk denganku. Aku sengaja memberinya pinjaman untuk menjebaknya. Tidak disangka dia malah merayu bawahan Marcell untuk melawanku. Kamu tahu kan, aku tidak suka repot-repot mengurusi wanita sampah. Jadi aku membunuhnya."


"Bajingan ini, kamu juga memperkosanya?"


"Mana sudi, itu kerjaan anak buahku."


"Sama saja bodoh! Selesaikan sendiri. Jangan melibatkanku."


"Kamu yakin? Informasi ini berkaitan dengan masa lalumu, Christoper." Alex tersenyum, seolah mengatakan bahwa Chris akan menyesal jika menolak permintaannya. "Selain itu, polisi akan lebih merepotkanku." Itu adalah permintaan selanjutnya.


"Mereka akan membunuhmu untuk membalas dendam, untuk apa repot memikirkan polisi."


Alex berdecak sebal. "Ya, aku baru saja berhasil lolos pagi ini. Adiknya sudah melapor pada polisi karena kakaknya menghilang."


"Berikan aku informasi itu dan aku akan menutup kasusmu."


Alex menyeringai dengan senang. Dia melempar sebuah flasdist. "Kamu harus menyuruh seseorang mengunjungi rumah sakit yang tertera dalam rekaman. Aku yakin kamu akan menemukan hal yang sangat menyenangkan."


Alex bangun dari duduknya dan menatap Chris dengan senyum penuh misteri. "Aku jadi tahu apa alasanmu sering menghilang saat disekolah" katanya dengan senyum lebar.


Chris menatap flasdist diatas meja. Sorot matanya masih datar, perlahan dia menoleh kearah pintu yang tertutup. Dimana Alex baru saja keluar.


Pintu kembali terbuka, Jihan dan Arjun masuk untuk langsung melapor padanya. "Tuan? Anda baik-baik saja? Anda bilang akan datang siang."


"Panggil Bayu kesini." Perintahnya.


Baik Arjun dan Jihan bisa melihat ada flasdist dimeja. Namun keduanya tidak berani menanyakan apapun. Arjun segera mengirim pesan pada Bayu dan Jihan meletakkan sebuah map diatas meja.


"Ini adalah laporan rapat pagi ini. Tiga proyek yang sedang berjalan tidak memiliki masalah besar. Hanya ada masalah kecil dan direktur Jordi sudah mengatasinya. Anda juga memiliki pertemuan dengan direktur Anggara siang ini. Apa saya harus membatalkannya karena kesehatan anda, Presdir?" tanya Jihan.


"Tidak perlu."


"Apa saya perlu memesan makanan? Apa anda sudah sarapan dihotel? Anda terlihat lebih pucat."


Perlahan Arjun mundur dan berbalik. Dia memilih keluar dari sana dan melanjutkan pekerjaannya. Apalagi ketika Chris mengangkat kepalanya dan memberikan wajah anak anjing yang minta didopsi pada Jihan. Arjun merasa merinding sendiri melihat kelakuan atasannya itu kalau sudah mulai mencari perhatian Jihan.


"Anda bu-butuh sesuatu?" tanya Jihan, jadi gugup sendiri. Apalagi ketika ingatan ketika Chris sakit tadi malam, membuat jantungnya tidak bisa diajak kompromi.


"Aku ingin memelukmu."


Chris membuat wajah kecewa ketika Jihan hanya diam dengan wajah terkejut, tentu jada dia tahu Jihan tidak akan mengizinkannya, dia sangat tahu prinsip Jihan. Dia hanya ingin menggidanya saja.


"Sa-saya akan membuatkan anda teh hangat."


"Tetap disini, hanya duduk disana dan tetaplah dalam pandanganku."


Jihan berusaha mengatasi gugupnya, lalu duduk disofa yang bersebrangan dengan Chris.


"Kamu tahu, ketika aku melihatmu, aku menjadi tidak ingin melakukan hal-hal yang berbahaya. Terlalu banyak hal kotor disekelilingku, bahkan diriku sendiri."


"Kalau begitu anda hanya perlu melakukan hal baik dan berhenti dari hal kotor." jawab Jihan. Walau dia tampaknya tidak mengerti masalah apa yang dikatakan oleh Chris.


Chris yang tadi bersandar pada sofa meluruskan tubuhnya, lalu menatap Jihan dengan tulus. Sorot matanya sudah bisa menjelaskan bahwa ada cinta dan kerinduan yang besar disana. Jihan bukan wanita polos dan naif, tentu saja dia menyadarinya. Namun lagi-lagi, dia ingin menghindarinya. Menciptakan dinding pembatas yang jelas antara mereka, dengan berusaha bersikap profesional.


"Bagaimana kalau aku tidak bisa menghindarinya?"


"Hidup itu pilihan, Presdir. Anda bisa atau tidak tergantung keinginan anda. Bahkan jika anda terpaksa melakukannya, anda seharusnya tahu ada akibat yang akan anda dapatkan. Karena itu, buatlah pilihan yang mudah."


"Pilihan yang mudah?" ulang Chris, dia tersenyum tipis ketika pandangannya berganti pada flasdist diatas meja. Jihan mengikutinya, bertanya-tanya dalam hati apa isi flasdist itu.


"Pilihan yang mudah itu seperti apa, Jihan?"


Chris kembali menatap Jihan, pandangan mereka kembali bertemu. Untuk beberapa saat, Jihan hanya diam. Seolah berpikir apakah perkataannya penting dan bisa mengubah pikiran Chris sehingga dia memberikan pertanyaan seperti itu.


"Jika itu saya, saya hanya akan mengikuti aturan berdasarkan pada benar dan salah menurut agama."


Chris terdiam cukup lama. Memorinya seolah berputar pada masa lalu dan semua yang telah ia lakukan. Hal-hal kotor dan licik apa yang telah ia lakukan. Bahkan saat membawa Jihan pertama kali kedalam hidupnya, dia juga menggunakan cara manipulatif.


"Apa itu bisa menjamin semuanya akan berjalan lancar?" tanyanya setelah beberapa menit saling diam.


"Tidak juga, tapi setidaknya saya tidak memiliki penyesalan dan saya merasa tenang. Pertanggungjawaban saya dihadapan Tuhan itu yang terpenting. Karena semua manusia akan mati. Semua akan kita tinggalkan. Apa yang penting dari dunia ini, Presdir? Tidak ada."


"Tidak satupun? Bahkan keluargamu?"


Untuk pertama kalinya sejak mereka berpisah, Jihan tersenyum. Terlihat sangat tulus dan tampa maksud apapun.


"Mereka penting, tapi aturan tetaplah aturan. Peraturan agama jauh lebih penting jika maksud anda saya harus memilih. Karena itu berkaitan dengan perintah Tuhan saya."


Chris ikut tersenyum, "Aku mengerti." katanya. "Ambilkan laptopku dan kamu bisa melanjutkan pekerjaanmu." perintahnya.


"Anda tidak ingin makan sesuatu?"


"Tidak, aku tidak lapar."


Jihan menghela napas. Dia tahu Chris tidak sehat, dia bahkan ragu Chris membawa obatnya. Jihan mengambilkan laptopnya dan meletakkannya diatas meja setelah dinyalakan.


"Jihan, terima kasih banyak. Tentang apa yang aku katakan tadi malam. Kamu bisa melupakannya jika itu membuatmu tidak nyaman. Tapi..." Chris menoleh pada Jihan yang tadi sudah berjalan ke arah pintu. "Aku tidak akan menarik pernyataanku." lanjutnya.


Jihan menggigit bibir bagian dalamnya, dia bahkan tidak berani membalikkan badan. Lagi-lagi wajahnya memerah dan jantungnya berdegup kencang.


"Saya mengerti." jawabnya, setelah itu dia berjalan dengan cepat untuk keluar dari sana.