Wife Or Nanny?

Wife Or Nanny?
72



Jihan menatap langit-langit kamar yang ditempatinya dalam posisi terlentang, untuk kesekian kalinya Jihan menghela napas dan merutuki dirinya sendiri.


"Kenapa aku bisa berkata seperti itu?" ada jeda sesaat, "Tapi kan itu memang benar!" lanjutnya, itu adalah pertanyaan untuk kesekian kalinya.


Lagi-lagi rasa bersalah merasukinya. Dia merasa sudah sedikit berlebihan, apalagi Chris sudah menolongnya saat ini.


Jadi, apa yang menyebabkan Jihan menjadi seperti ini?


Flasback_


Kembali saat Chris dan Jihan sedang berbicara siang tadi di tepi sungai.


"Apa kamu masih menyukai mantanmu itu?"


"Tidak."


"Lalu bagaimana dengan Marcell, kamu menyukainya?"


"Tidak!" jawab Jihan lagi, nadanya sangat tegas.


"Lalu bagaimana denganku?"


Jihan langsung gelagapan. Dia tidak bisa menjawabnya. Dia juga tidak ingin menjawabnya. Karena itu, dia mundur dan membuang pandangannya ke arah lain.


"Kamu membenciku, benar?"


Jihan menelan ludahnya dengan susah payah. Dia meremas kedua tangannya sebelum menarik napas dan menatap Chris dengan tegas.


"Sulit untuk mengatakan tidak, tapi... Aku tidak seperti benar-benar membencimu sepenuhnya. Hubungan kita diawali dari sebuah kebohongan darimu. Lalu kemudian... Hal-hal yang membuatku tidak bisa menerima bagaimana kamu bertindak, kita memiliki perbedaan dasar yang mencolok. Kita tidak cocok satu sama lain. Karena itu..."


"Orang tuamu sudah menunggu. Kita lanjutkan pembahasan ini lain kali."


Chris berbalik, meninggalkan Jihan dengan langkah panjangnya. Tangannya terkepal dan hatinya terasa amat sakit. Dia diliputi kekecewaan. Lebih sulit baginya untuk mendengar lebih banyak lagi jika terus berada disana.


Chris tidak jadi ikut makan siang, dia kembali ke kantornya. Rencana yang ia susun sebelum mengunjungi Jihan hancur begitu saja. Rencana, yang sudah ia susun sejak jauh-jauh hari setelah hubungan mereka membaik.


Flasback end_


Paginya, Jihan sudah dijemput oleh seorang supir wanita. Jihan tidak mengenalnya dan tidak pernah melihatnya. Seorang gadis muda yang membawa tas ransel dipunggunya. Memakai kemeja dan celana berbahan kain yang mirip sekali dengan celana laki-laki. Dia mengenalkan dirinya dengan nama Loli, seorang mahasiswa angkatan pertama. Dia mengatakan bahwa dia adalah adik ipar dari Arjun. Dia diberi pekerjaan mengantarkan Jihan pergi dan pulang kerja jika kakaknya dan Chris sibuk.


Jihan mengenali mobil yang dibawanya, ini adalah mobil perusahaan yang biasanya Jihan pakai. Pagi ini, Arjun juga mengabarkan kalau dia bisa mulai bekerja lagi. Chris mengabulkan permintaannya. Hal itu, membuat Jihan senang sekaligus merasa bersalah.


"Anda sudah sampai kak Jihan," kata Loli dengan ramah.


"Terima kasih, kamu hati-hati dijalan." sahut Jihan dengan ramah juga.


"Jangan kawatir kak, Loli pemegang sabuk hitam taekwondo dan jago tinju." katanya dengan bangga.


Jihan tertawa, "Ya, kamu tetap harus hati-hati dalam mengemudi, jangan ngebut." nasehatnya.


Loli mengacungkan jempolnya. Namun, baru saja Jihan melangkah untuk masuk ke dalam gedung perusahaan, mobil yang ditumpanginya tadi melaju dengan kecepatan tinggi. Menimbulkan bunyi decitan saat dia melakukan akselerasi melewati lingkaran air mancur di halaman gedung.


"Wah, apa dia pembalap. Itu kan berbahaya." ujarnya pelan.


Ketika melewati lobi, Jihan merasakan atmosfir di dalam gedung berubah drastis. Pandangan penasaran dan mencela yang terkadang ia dapatkan tidak lagi ia rasakan. Resepsionis yang biasanya hanya memberi sapaan datar kini membungkuk dan menyapanya dengan riang.


Beberapa karyawan menunduk atau berpura-pura melakukan sesuatu kalau tidak memiliki keberanian menyapanya. Ketika dia mengunjungi perusahaan pertama kali dulu, orang-orang juga tidak bereaksi seperti ini. Mereka lebih normal saat itu, mungkin karena Jihan bersama Catrin. Entahlah, Jihan tidak ingin banyak berpikir. Dia hanya harus cepat-cepat menghadap pada Chris.


.


Sesampainya di lantai atas, Chris sedang berbicara dengan beberapa direktur dan kepala cabang di dalam kantornya dengan pintu yang teebuka lebar. Arjun tidak ada disana. Tidak tahu kemana dia pergi.


Ketika mereka menyadari kedatangan Jihan, Chris menghentikan pembicaraan. Semua orang menoleh dan menyapa Jihan dengan penuh hormat. Membuat Jihan salah tingkah dan bingung.


"Kembali pada rencana awal jika cara ini tidak berhasil. Segera laporkan jika ada masalah."


Perintah itu menandakan bahwa pembicaraan selesai dan Chris menyuruh mereka semua kembali.


Jihan yang masih berdiri di depan pintu segera bergeser. Membalas sapaan mereka dengan sama sopannya dan canggung yang kentara.


"Aku akan di pindahkan?" tanya Jihan, dia teringat pembicaraan kemarin dan mengira bahwa Chris marah sehingga tidak ingin memindahkannya.


"Mulai sekarang, kamu akan menjadi manager perencanaan menggantikan manager lama yang aku pindahkan ke cabang lain."


"Ta-tapi kenapa? Maksudku, aku belum pernah menjadi manager tim perencanaan. Aku tidak punya pengalaman disana."


Chris menatap Jihan dengan tatapan penuh makna. "Aku bukan orang yang sembarangan menempatkan sesuatu, aku tidak akan menempatkanmu disana jika kamu tidak mampu." Chris meletakkan tangannya diatas meja sebelum melanjutkan. "Tapi kamu bisa memilih." lanjutnya.


"Memilih?"


"Bukankah kamu membenciku? Akan tidak nyaman jika kamu melihatku setiap hari. Dulu aku tidak peduli tentang itu, tapi mendengarmu langsung mengatakan hal itu, membuatku sadar," Tatapan mata Chris berubah menjadi sendu, "Bahwa aku seharusnya tidak egois. Jadi, satu-satunya hal yang tidak egois yang bisa aku lakukan hanyalah ini. Selain dari ini, aku minta maaf padamu."


Jihan terlihat mencerna perkataan Chris dengan hati-hati. Dia tertunduk cukup lama dalam keheningan.


"Bi-bisakah aku tetap jadi asisten saja? Aku merasa belum memiliki kemampuan untuk posisi itu." pintanya pelan.


"Apakah itu akan nyaman bagimu? Karena pilihannya hanya ada dua. Aku tidak akan menempatkanmu pada posisi selain dua itu walaupun kamu memintanya."


Jihan mengangguk pelan. Chris menarik senyum tipis disudut bibirnya. Pancaran matanya berubah drastis. Seolah semua itu sudah diperkirakan olehnya dan dia terlihat sangat puas melihat respon Jihan akan permaianan kata-kata yang dibuatnya.


"Arjun sedang mengurus sesuatu yang aku perintahkan. Dia tidak akan kembali sampai jam makan siang. Jadi kamu ambil alih pekerjaan yang ditinggalkannya. Dia mungkin meninggalkan catatan untukmu dimejanya."


"Baik."


Jihan berbalik, hendak melangkah keluar. Namun langkahnya terlihat ragu. Benar saja, dia kembali menghadap ke arah Chris.


"Aku... Aku minta maaf soal kemarin. Bisakah kamu melupakannya? Aku tidak bermaksud... Aku sudah memikirkan banyak hal. Rasa benci itu... Aku pikir semakin menipis sekarang. Jadi aku akan mencoba memperbaiki sikapku juga."


Chris tertegun, kali ini diluar ekspektasinya. Dia tidak menyangka bahwa Jihan akan minta maaf padanya. Karena itu, raut senang terlihat jelas diwajahnya. Rasa marah dan kecewa yang memenuhinya sejak kemarin menguap begitu saja. Rencana mempermainkan emosi Jihan hari ini juga buyar dari kepalanya.


"Aku mengerti, pasti sulit bagimu memaafkanku. Aku sudah banyak menyakitimu."


"Ka-kalau begitu... Aku akan bersikap profesional sekarang. Permisi Presdir."


Jihan berbalik, dengan cepat dia berjalan keluar dan menutup pintu ruangan Chris dibelakangnya. Chris terkekeh pelan. Wajahnya memancarkan aura yang berbeda. Wajah tampan dan tegas yang biasanya memberi kesan memaksa orang menundukkan diri padanya itu, kini terlihat lebih ramah dan manusiawi.


.


Sepanjang pagi Jihan berkutat dengan banyaknya pekerjaan yang ditinggalkan Arjun. Chris juga sibuk memeriksa laporan diruangannya. Hingga waktunya makan siang, Arjun muncul dengan wajah tegang dan terlihat tidak seperti biasanya.


Dia langsung masuk ke dalam ruangan Chris. Melewati Jihan begitu saja. Membuat Jihan bertanya ada apa dengannya.


Arjun berdiri di depan meja Chris dengan peluh di keningnya. Memberikan sebuah laporan terperinci mengenai kasus kecelakaan kerja 15 tahun yang lalu. Dimana ayahnya masih memimimpin perusahaan ini.


"Dia memang salah satu anak dari pekerja yang saat itu menjadi korban kecelakaan kerja. Seperti yang ia akui juga pada saya. Tapi... saya mengetahui satu fakta dari saksi hidup saat ledakan yang terjadi di pabrik kimia perusahaan saat itu. Kakek itu mengatakan, bahwa ledakan itu disengaja. Seseorang sengaja disuruh membuat pemicu ledakan dan menewaskan banyak pekerja."


"Lalu?" tanya Chris dengan suara lambat, seolah bisa menebak siapa dalang dari ledakan itu.


"Anda tidak harus tahu, Tuan. Yang pasti Bayu memang punya motif dendam."


"Katakan saja." Perintah Chris.


"Ibu anda yang menyewa saksi itu. Dia, saksi sekaligus orang yang membuat ledakan."


Chris mengusap wajahnya, sedikit frustasi dan kesal. Kesal karena baru tahu fakta ini. Selama ini dia memang terlalu sibuk dengan dirinya sendiri sampai melupakan siapa ibunya.


"Motif?" tanyanya lagi.


"Sedang diselidiki lebih jauh, Tuan."


Chris menghembuskan napasnya.


"Bawa dia padaku sekarang!" Perintahnya mutlak.


Chris tidak mau menunggu lebih lama untuk masalah ini. Dia ingin mendengar dari Bayu langsung. Juga alasan mengapa dia baru membalaskan dendamnya sekarang. Setelah lebih dari sepuluh tahun mengabdi pada keluarganya.