Wife Or Nanny?

Wife Or Nanny?
38



Jordi menghirup udara pagi Indonesia ketika ia baru saja mendarat di bandara. Senyum yang semula terlihat diwajahnya, tiba-tiba menghilang. Sorot wajahnya berubah gelap dan dingin.


Jordi sudah ditunggu oleh supir utusan ibu Chris. Dia memberikan kopernya dan masuk ke dalam mobil.


"Anda akan langsung ke rumah atau ke perusahaan, Tuan?"


"Dimana mama?"


"Dia sedang menghadiri rapat darurat diluar kota menggantikan Tuan Chris."


"Dia terlalu tua untuk terus melakukan pekerjaan itu, kenapa bukan kak Chris yang pergi?" ujarnya.


Supirnya tampak bingung, dia mengernyit mendengar perkataan itu. Bagaimanapun, selama ini Jordi tidak pernah memprotes apapun. Dia hanya akan melakukan perintah dari Chris atau ibunya, tidak pernah sekalipun berani membantah atau memprotes apa yang mereka putuskan.


"Tuan Chris menemui rekan bisnis dari Jerman. Dia tidak suka diwakilkan siapapun. Dia ingin menemui Tuan secara langsung."


"Ah... Begitu. Aku jadi kasihan pada mama." sahut Jordi. "Kalau begitu antar aku menuju toko kakak iparku." lanjutnya.


Supirnya tampak semakin heran, namun dia tidak mengatakan apapun. Hanya mengemudi dalam diam sampai ia mengantarkan Jordi ke depan pintu masuk toko.


"Anda sudah sampai, Tuan."


"Terima kasih, bisakah kamu membawa koperku sekalian? Akan sangat repot aku membawanya kemana-mana."


"Tentu, Tuan Jordi."


"Terima kasih." kata Jordi dengan senyum ramahnya.


Jordi masuk ke dalam toko dengan wajah sumringah. Ketika dia melihat Jihan yang sedang merapikan baju yang dipajang. Jordi segera berlari kecil untuk menghampirinya.


"Maaf, bisakah aku menemui pemilik tempat ini?" candanya.


Jihan berbalik, begitu mengetahui orang yang bertanya adalah Jordi, dia tersenyum kecil. Meletakkan pakaian yang sudah ia lipat dan mengajak Jordi duduk pada sofa tunggu yang disediakan disana.


"Kamu dari mana saja?"


"Ya ampun! Jahat sekali kakak tidak tahu aku ditugaskan dimana beberapa bulan ini? Kak Jihan tidak pernah mencariku ya?" kata Jordi dengan raut sedih yang dibuat-buat.


"Ah... Maaf. Bukan bermaksud... Aku hanya..."


Jordi terkekeh setelahnya, "Santai saja kak, aku tahu kakak sibuk menghadapi banyak masalah dengan kak Chris, bukan?"


Jihan tidak menjawab, dia hanya tersenyum masam.


"Kapan kamu kembali?"


"Baru saja, Kak Chris menyuruhku kembali." Jordi melihat sekeliling sesaat sebelum beralih pada Jihan lagi. "Kakak pintar berbisnis juga." ujarnya.


Jihan hanya tersenyum seadanya, dia terlihat ingin menanyakan sesuatu namun terlihat ragu. Karena itu Jordi yang bertanya duluan.


"Kenapa kak? Ada yang membuat kakak terganggu?" Jihan mengangguk sebagai jawaban.


"Kamu... Kenal dengan Adora? Wanita yang dulu dekat dengan Chris?"


Jordi membuat gekstur seperti mengingat-ingat sesuatu. Lalu dia mengangguk setelahnya.


"Dia dokter Nana dulu. Aku pernah mengantar Nana menemuinya ketika dia mendapatkan luka. Tapi kenapa kak Jihan mengatakan di dekat dengan kak Chris?" tanya Jordi.


"Karena... " Jordi tersenyum dalam hati ketika melihat keraguan Jihan. "Dia datang, dengan seorang bayi." lanjut Jihan.


Jordi menunjukkan wajah bingungnya, "Bayi? Lalu kenapa?" tanyanya.


"Bayi itu... adalah bayi Chris."


Sepertinya kemampuan Jouji menular pada Jordi. Wajah pura-pura terkejutnya terlihat sangat natural.


"Aku tahu kakakku itu suka bermain dengan wanita yang suka rela menyerahkan dirinya. Tapi dia tidak pernah membiarkan seorangpun dari mereka mengandung anaknya. Jadi tidak mungkin...."


"Tidak pernah? Apa dia juga melakukan kejahatan pada wanita yang terlanjur hamil anaknya?"


Jihan terlihat syok, Jordi yang melihat itu jadi gelagapan. "Kak, maksudnya... bukan begitu. Maksudku adalah... Tidak ada wanita yang dibuat hamil. Memang terdengar bajingan, tapi... Mungkin wanita itu salah?"


"Mana mungkin salah, dia menunjukkan buktinya."


"Bukti?" ulang Jordi.


"Tes DNA."


Jordi terdiam beberapa saat, Jihan terlihat semakin sedih dan juga takut.


"Aku akan membantu kak Jihan untuk mencari tahu tujuan wanita itu. Kakak tenang saja."


"Heh, tenang katamu? Wanita mana yang bisa tenang? Belum selesai masalah mantan istrinya, wanita lain muncul juga. Lalu esok atau lusa mungkin wanita lain lagi. Aku rasa aku salah besar menerima lamarannya saat itu. Tapi... aku tidak akan bisa menyesalinya sekarang. Aku hanya harus mengambil keputusan."


"Keputusan.... Apa maksud kakak?"


Jihan tidak menjawab, dia juga terlihat tidak memiliki gagasan apapun. Jordi mengamati ekspresi wajah Jihan yang terlihat bingung itu. Tersenyum tipis tampa disadari oleh siapapun.


.


Chris sedang menatap pamannya yang terlihat gusar dan marah. Dalam hati menertawakan kebodohan lelaki tua dihadapannya ini. Hal yang sesungguhnya tidak di duga oleh Chris. Dia seperti mendapatkan jackpot.


"Aku tidak tahu kalau paman ingin menjualnya padaku. Apa yang membuatmu mengambil keputusan itu? Apakah paman sudah kehabisan simpanan uang?"


"Ini hal mendesak, kamu tidak perlu tahu." jawab pamannya.


"Aku tidak suka membeli hal-hal yang kecil paman? Empat puluh sisa saham seluruh keluarga kalian, aku ingin tiga puluh persen."


Brak!


Meja Chris digebrak dengan kuat. Arjun dan Bayu masuk kedalam. Chris tersenyum dan mengangkat tangannya. Mengisaratkan untuk tetap ditempat mereka.


"Jangan keterlaluan! Inikah caramu pada keluargamu sendiri?" bentak pamannya dengan wajah memerah karena amarah.


Chris hanya menyeringai. Dia menatap pamannya dengan remeh. "Paman, itu adalah kesepakatannya. Aku pikir paman tidak dalam posisi bisa bernegosiasi. Ya atau tidak, semua terserah padamu."


"Sialan! Kamu pikir kamu bisa membuatku miskin? Masih banyak yang akan mau membelinya."


Chris hanya mengangkat alisnya sambil tersenyum tipis. Pamannya memilih pergi dan membanting pintu sekut tenaga.


"Tuan," Arjun berdiri di hadapannya.


"Kalian berdua, pastikan tidak ada satupun yang akan membeli sahamnya." perintah Chris.


"Baik, tapi Tuan. Saya mendapat informasi bahwa rentenir yang berurusan dengan dua sepupu anda merupakan bagian dari jaringan gengster. Wanita bayaran itu, bagian dari jaringan mereka." ujar Arjun.


"Begitu?"


Respon santai Chris membuat Bayu dan Arjun cukup kawatir.


"Tuan, jaringan mereka cukup kuat."


"Baik, Tuan." sahut keduanya, lalu meninggalkan Chris sendirian.


Sesampainya diluar, Arjun memijit pelipisnya. "Lakukan dengan baik tampa meninggalkan jejak. Tuan tidak boleh berurusan dengan mereka." kata Arjun.


"Aku tahu."


"Hah... Aku pikir dia sudah sedikit berubah. Ternyata hanya untuk bu Jihan saja. Hanya karena cintanya. Ckckckck! Tuan memang sesuatu."


Bayu tidak memberikan respon apapun. Hanya memasang wajah tidak peduli. Setelah tidak ada hal yang ingin disampaikan Arjun lagi, dia segera pergi.


.


Jordi turun dari parkiran dan berpapasan dengan pamannya. Dia memberi salam, namun pamannya malah menatapnya remeh.


"Anak pungut kembali? Apa pekerjaanmu lancar diluar negeri?" Hinanya. "Berhati-hatilah, Kakak angkatmu itu bukan manusia. Kamu juga akan dimakan suatu saat nanti." ujarnya.


"Saya akan mengingat nasehat anda Paman."


"Cih! Sudah aku bilang jangan panggil aku paman brengsek. Aku tidak pernah mengakui sampah sebagai keluargaku." sahutnya dengan wajah angkuh.


Jordi hanya tersenyum. Pamannya berlalu meninggalkannya menuju mobilnya. Seketika senyum Jordi hilang, digantikan wajah datar yang memendam amarah. Kakinya melangkah memasuki lift menuju ruangan kerja Chris.


.


Arjun sedang membalas beberapa Email ketika Jordi berdiri di depan mejanya. Dia mengangkat kepala dan mengangguk untuk memberikan jawaban bahwa Chris ada di dalam dan dia bisa masuk.


Jordi mengetuk pintu dua kali sebelum membukanya. Dia masuk dan memberi sapaan hormat pada kakaknya. Berdiri seperti bawahan yang sedang melapor pada atasannya.


"Saya sudah menyelesaikan tugas disana. Proyek berjalan lancar dan sudah dipegang oleh orang yang berkopeten."


"Aku tahu, duduklah." suruh Chris.


Jordi duduk, menurunkan pandangannya ketika Chris menatapnya tajam.


"Apa menyapa istriku lebih penting dari pada menemuiku terlebih dahulu?"


Jordi menggeleng, dia tidak heran dari mana Chris tahu. "Bukan begitu, hanya saja jarak bandara sedikit lebih dekat dengan toko kak Jihan."


"Benarkah? Bukan karena tujuan lain?" tanya Chris.


"Tentu saja tidak, Kak."


Chris menatapnya lebih tajam dan penuh intimidasi. Memberi keheningan yang menyesakkan dan perasaan menekan yang kuat. Jordi bahkan sampai berkeringat dingin. Padahal dia sudah cukup sering menghadapi Chris yang seperti ini.


"Kamu tahu kenapa aku memanggilmu kembali?" Chris menjeda. Membuat Jordi merasakan was-was. "Katakan padaku, apa yang kamu ketahui tentang anak Nana."


Jordi mengernyit bingung, ekspresi wajahnya tidak terlihat dibuat-buat. Dia sungguh terlihat tidak mengetahui apa yang dimaksud oleh Chris.


"Maksud kakak_ Catrin? Tapi kenapa?" tanyanya.


"Catrin bukan anakku."


"Apa?"


Chris melihat ekspresi Jordi dan menilai bahwa adik angkatnya itu juga tidak tahu. Maka dia segera merubah pertanyaannya.


"Sejak kapan Jouji menyukai Nana?"


"Huh? Itu... Aku pikir dari mulai mengenal Nana."


"Apa mereka lebih dekat dari sekedar berteman?"


"Kakak mencurigai Jouji ayah dari Catrin? Tapi itu tidak mungkin. Jouji sangat menghargai dan menjaganya. Dia tidak mungkin berbuat hal bodoh itu." sangkal Jordi dengan yakin.


"Pergi dan temui dia, dapatkan sampelnya dan berikan pada Bayu." perintah Chris.


"Baik, kak."


Jordi keluar dari sana dengan wajah syok sekaligus bingung. Dia masih tidak percaya akan fakta yang baru saja ia dengar. Dia tidak pernah menyangka akan hal ini. Meski memang agak aneh, mengingat Nana pernah bercerita dia hanya sekali tidur dengan Chris. Itupun saat Chris mabuk. Kakaknya itu tidak pernah sudi menyentuh Nana bahkan seujung rambutpun ketika ia sadar.


"Masuk akal jika dia curiga Catrin bukan anaknya. Mereka hanya sekali tidur dan itupun kak Chris tidak ingat."


Jordi berhenti di depan pintu lift. Dia teringat akan luapan emosi dan perkataan Nana ketika dia masih waras dulu.


Flasback_


Nana akan masuk ke kamar Jordi dengan asal lalu berbaring disana. Dia akan mulai mengeluh ketika Jordi sedang belajar untuk kuliahnya.


"Apa sih yang bisa membuat Chris bisa jatuh padaku? Dia terus saja bermain dengan para ****** diluar sana tapi tidak mau menyentuhku!"


"Jangan memaksanya, bukankah sudah pernah walau dia sedang mabuk?" sahut Jordi.


"Apanya yang pernah!"


Jordi menoleh, mengernyit heran. Nana tertawa lalu duduk di atas kasur Jordi dengan kaki bersila.


"Iya iya aku ingat. Mana mungkin aku lupa, hanya sekali tapi kan sedang mabuk, jadi tidak terhitung." kekeh Nana.


Flasback and_


Jordi baru menyadari, bahwa ekspresi Nana saat itu juga sedikit aneh.


'Tapi, informasi dari mana yang sampai pada Kak Chris?'


Telunjuknya menekan tombol tutup dan lift mulai turun. Hanya ada satu orang dalam kepalanya. Seseorang dengan sifat licik yang manipulatif.


Tampa banyak berpikir, Jordi segera menemuinya. Ia memanggil taksi dan pergi untuk menemui orang itu alih-alih mengerjakan perintah Chris terlebih dahulu.


Sesampainya di sebuah gedung apartement, dia naik ke lantai tiga. Dia baru saja keluar dari lift ketika berpapasan dengan orang yang ingin ditemuinya.


"Adora... Kita perlu bicara." katanya dingin. Adora tersenyum dan berjalan mengikutinya dari belakang.


"Kamu sudah bertemu dengan kakakmu?" Mereka bicara di sebuah kafe dekat sana.


"Apa yang kamu ketahui tentang anak Nana?" tanya Jordi tampa basa-basi.


Adora tersenyum, "Jadi karena itu kamu langsung menemuiku? Ck, aku pikir karena kamu merindukanku." sabutnya dengan ekspresi kecewa palsu yang memuakkan.


"Berhenti main-main. Jawab saja pertanyaanku."


"Ya, seperti yang kamu dengar. Anak itu bukan anak Chris. Chris tidak pernah menyentuhnya. Dia hanya akan menyentuhku."


Jordi sudah tampak muak, namun pria itu masih menjaga sikapnya. "Wanitanya bukan hanya dirimu, jangan besar kepala. Apa yang dikatakan Nana padamu?"


Adora terlihat jengkel, namun dia tetap menjawab pertanyaan itu.


"Curhat tentang cinta, kebodohan, kekejaman. Apa lagi?"


Jordi akhirnya mendengus karena jengkel. "Siapa ayahnya?" Mendengar pertanyaan itu, Adora yang sedang menatap cangkir kopinya, perlahan mengalihkan perhatiannya pada Jordi. Tersenyum penuh arti. "Siapa lagi yang begitu terobsesi padanya?" jawabnya dengan nada main-main.