
Hari-hari berlalu begitu saja. Jihan banyak diam ketika berhadapan dengan mertuanya. Ibu Chris yang sudah tahu ceritanya hanya diam. Terlalu pasrah dan juga terlihat kawatir jika ia ingin membujuk Jihan. Namun selama 3 hari terakhir sejak kepulangannya, suasana hati menantu dan cucunya tampak terganggu.
"Jihan."
Mertuanya menghampiri Jihan ketika akan bersiap-siap mengantar Catrin kesekolah. Mereka berdiri di samping mobil dimana Catrin sudah di dalam.
"Kita tidak bisa selamanya mengatakan kalau ayahnya keluar kota."
"Maaf Ma, Kami akan bercerai jadi sangat tidak nyaman jika melihat satu sama lain." ucap Jihan dengan nada datar.
"Jihan, perceraian bukan solusi. Setidaknya duduklah berdua dan dengar penjelasan suamimu. Sikap Chris sejak awal adalah kesalahan kami. Kami mendidiknya terlalu keras tampa kasih sayang. Tapi mama bisa lihat, sejak kehadiranmu dia berubah. Bahkan mama sendiri, merasa ikut terpengaruh oleh kalian. Karena itu... Mama akan sangat sedih melihat Chris kembali menjadi dirinya yang dulu."
Ibu Chris tidak menunggu jawaban Jihan, dia hanya masuk ke dalam rumah ketika selesai menyampaikan pemikirannya. Jihan segera masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Catrin. Supir keluarga itu mulai menyalakan mesin mobil dan pergi dari sana.
Jihan menatap Catrin yang lebih banyak diam akhir-akhir ini. Sepertinya anak itu tahu seperti apa keadaan orang tuanya. Dia tidak seceria sebelumnya.
Sesampainya disekolah, seperti biasa dia memeluk Jihan setelah mereka turun. "Mama, kapan Daddy pulang? Apa hari ini Daddy sudah pulang?" tanyanya.
"Cat rindu Daddy?" Anak itu hanya menganggu sambil menunduk.
"Daddy tidak keluar kota, kan? Daddy pergi karena kalian bertengkar." Jihan tentu saja terkejut mendengarnya. Dari mana anak itu tahu?
"Cat tahu ketika mendengar Grandma menelepon Daddy. Apa Daddy nakal Mama? Apa dia punya wanita lain seperti Daddy teman Catrin?"
Sungguh pertanyaan itu membuat Jihan lebih terkejut lagi, bagaimana mungkin anak sekecil ini mengetahui masalah orang dewasa?
"Cat, dari mana kamu tahu Daddy teman kamu seperti itu?"
"Teman Cat yang cerita karena orang tuanya selalu bertengkar karena tante baru."
"Catrin sayang, dengar ya... Daddy tidak punya wanita lain. Daddy dan Mama hanya punya masalah kecil. Daddy benar-benar harus lembur sayang. Jadi tidak bisa pulang. Nanti, pulang sekolah kita kunjungi Daddy, Oke?"
Wajah Catrin langsung sumringah. "Benarkah? Mama janji!" serunya sambil mengacungkan jari kelingkingnya.
"Ya sayang, Mama janji. Nah, sekarang masuk sebentar lagi bel berbunyi."
Catrin mengangguk dan berlari dengan riang menuju kelasnya. Jihan menghela napas, menggaruk keningnya karena bingung sendiri. Tapi karena dia sudah menjanjikan hal itu, mau tidak mau dia akan melakukannya.
.
Jihan disambut oleh karyawan tokonya ketika sudah sampai. Seperti biasa, mereka dibawakan makanan oleh Jihan untuk sarapan pagi.
"Kak Jihan, si Barby katanya dirumah jualan sarapan pagi, Ibunya tapi... pesan sama dia saja untuk anak-anak tiap pagi." usul Rini.
"Benarkah? Barby bisa sampaikan ke ibumu?" tanya Jihan pada Barby yang berjaga di kasir. Mereka semua sedang berkumpul untuk sekedar berdiskusi masalah yang ada di toko di depan meja kasir. Kebetulan pagi itu memang masih belum ada pengunjung.
"Tentu kak, siap 86!" seru Barby semangat.
"Apa aku mengganggu?"
Seluruh orang menoleh pada orang yang baru saja datang. Rini yang sangat mengenalnya maju dengan wajah dibuat seramah mungkin, seolah dia sedang menghadapi pengunjung.
"Ada yang anda butuhkan, Pak? Pakaian atau barang apa yang anda cari?"
Haris, orang yang mengintrupsi mereka, mebalas senyum Rini tidak kalah ramah. "Apa kabar, adik sepupu." sapanya.
Senyum Rini seketika hilang. "Anda orang asing kalau saya tidak lupa. Sekali lagi saya bertanya, apa yang anda cari?"
"Sejujurnya aku mencari pemiliknya, tapi aku juga membutuhkan beberapa kemeja." Matanya beralih pada Jihan yang hanya menatapnya datar.
"Tak apa Rin, aku akan mengantarnya." kata Jihan. "Tolong ikut aku." lanjutnya pada Haris.
Haris memberikan senyum simpul pada Rini yang terlihat menyebalkan di mata gadis itu. Rini bahkan meninju udara dibelakang punggung Haris melampiaskan kekesalannya. Para karyawan lain yang melihat reaksi Rini, berbondong-bondong menghampirinya untuk bertanya. Mereka jelas saja penasaran siapa pria yang mencari bos mereka.
"Itu mantan suaminya, jadi kalau besok dia datang lagi, kalian harus memberitahuku. Dia itu jahat! Paham?" ujar Rini.
"Siap! Kita harus melindungi Bu Jihan dari buaya itu." sahut yang lain.
Rini mengacungkan jempolnya. Dia diam-diam mengikuti keduanya dari belakang dengan jarak yang cukup jauh. Dia melakukannya dengan tujuan melindungi kakaknya jika nanti Haris berani macam-macam.
"Tadi aku ke rumah Meri, katanya kamu kembali kerumah itu."
"Ini kemeja yang kamu cari. Kamu mau yang bermotif atau polos?"
Jihan tidak mengidahkan pertanyaan Haris, dia mengambil dua jenis kemeja dan menunjukkannya di depan Haris. Haris tidak menjawab, dia hanya menatap kedalam bola mata Jihan.
"Kamu tahu apa yang aku sukai." ujarnya dengan sangat lembut.
Jihan menghela napas dan meletakkan kemeja bermotif dan memberikan kemeja yang polos. "Butuh berapa?" tanya Jihan begitu ia memilih merk lain.
"Aku pikir 3 cukup."
Haris tersenyum melihat cara Jihan memilihkan untuknya. Dalam pandangannya, Jihan sama sekali tidak berubah. Selalu teliti memilihkan barang untuknya.
"Kapan kamu akan mengajukan gugatan?"
"Bukan urusanmu, ini dan ini! Pelayanan selesai silahkan bayar di kasir." jawab Jihan.
"Aku benar-benar menyesal mengecewakanmu. Kamu tahu, aku punya alasan saat itu. Tapi apapun itu, aku yakin kamu akan tetap membenciku. Karena itu, aku benar-benar minta maaf,Ji."
Jihan hanya diam saja, bukannya tidak bisa menanggapi, tapi dia hanya ingin menjaga hatinya agar tidak kembali rapuh. Rasa sakit yang Haris torehkan belum sepenuhnya sembuh. Bahkan dia masih terus berusaha sekuat tenaga ketika Chris tiba-tiba masuk kedalam kehidupannya. Jadi tentu saja ini tidak mudah baginya.
"Ji, Aku minta maaf. Aku mohon... percepat perceraianmu dan kembali padaku. Aku mencintaimu dan sejak dulu hanya kamu. Jadi please...."
"Silahkan bayar ke kasir, aku permisi." potong Jihan, suaranya sudah bergetar dan secepat yang ia bisa, ia pergi dari sana.
Ketika Haris akan mengejarnya, dia mendapatkan telepon dari pihak rumah sakit yang memintanya segera datang. Mau tidak mau dia berlari kekasir dan secepatnya membayar.
.
Rini berdiri di depan pintu. Dia hanya mengintip dari celah pintu yang sedikit terbuka. Dia tahu kakak sepupunya itu akan sangat sensitif bila menyangkut mantan suaminya, jadi dia tidak berani mengusiknya saat ini.
.
Chris sedang berada di sebuah hotel saat ia mendapatkan kabar bahwa lagi-lagi Haris menemui Jihan. Dia sedang dalam perjalanan menemui rekan bisnis mereka dari Jepang.
"Suruh anak itu membelikan es krim untuknya." kata Chris sebelum masuk ke dalam ruang khusus yang sudah ia pesan disana.
Arjun mengernyit mendengar kata es krim, tapi dia tidak bertanya lebih. Hanya mematuhi perintah atasannya itu.
"Apa kabar, Chris. Senang bertemu kembali denganmu."
"Baik, senang melihat anda baik-baik saja setelah mendapat tamparan dari kelakuan anak anda." jawab Chris dengan senyum tipis.
Lelaki tua itu tertawa hambar. "Masalah anak itu tolong jangan libatkan perusahaan kita. Aku sudah memberinya teguran. Jangan kawatirkan dia lagi." ujarnya. Ya, dia adalah ayah Jouji. Rekan bisnis yang sebenarnya cukup penting bagi perusahaan mereka.
"Senang anda bersikap bijaksana." balas Chris.
Setelahnya, mereka membahas urusan perusahaan. Bagaimana mereka menghadapi masalah yang timbul akibat ulah Jouji maupun paman Chris sendiri. Sejak dulu, ayah Jouji adalah pendukung yang baik untuk posisinya. Pengaruhnya bisa mempengaruhi pemikiran para pemegang saham lain. Masalah timbul karena anak dari istri keduanya. Dimana Chris sangat tahu bahwa ayahnya sama sekali tidak menganggap berharga anak dan ibu itu. Alasan ayahnya tidak meninggalkan ibu Jouji hanya karena tidak ingin skandal. Dia seorang pengusaha dengan nama baik di masyarakat, jika menceraikan ibu Jouji, wanita itu bisa membuat masalah lebih besar untuknya.
Usai pertemuan itu, Chris kembali menuju kantornya. Dalam perjalanan, dia teringat akan satu hal lain.
"Apa kamu sudah melakukan rencana kita pada pamanku?"
"Oh, itu! Tuan, Bayu menyewa wanita bernama Rossa. Seorang DJ untuk membuat anak pertama paman anda terjebak pada perjudian dan tentu saja, memperparah ketergantungannya pada obat-obatan terlarang."
"Itu artinya dalam proses yang baik, bukan?"
"Saya pikir... Itu sedang berjalan. Kita hanya perlu menunggu."
Chris tidak melanjutkan pembahasan itu, dia membuang pandangannya keluar.
"Anda ingin menghampiri Nyonya Jihan?"
"Apa maksudmu?" tanya Chris akan tawaran itu.
"Anda terlihat sangat merindukannya." goda Arjun dengan senyum tampa dosa.
"Apa aku terlihat sedang ingin bercanda?" tanya Chris dingin.
Arjun meneguk ludahnya dengan kasar. Dia menggeleng dengan cepat. "Maaf Tuan, saya hanya berpikir anda harus lebih agresif. Jika anda pasif begini. Saingan anda akan menang." ujar Arjun.
Chris tidak menjawab, namun dia memikirkan perkataan Arjun itu dengan cukup serius. Sejak dahulu, Chris sangat tidak menyukai perasan-perasaan melankolis. Saat teman sekolah atau kuliahnya jatuh cinta, dia hanya akan menyibukkan diri dengan belajar. Karena didikan keras tampa cinta dari orangtuanya, di menjadi sosok dingin yang membentengi dirinya dari hal-hal seperti itu.
Bukannya tidak ada, ada banyak wanita yang mendekatinya, bermain dengannya dan masuk dalam hubungan saling menguntungkan. Namun tidak sekalipun dia menggunakan hati. Bahkan sering tampa belas kasihan dia merendahkan wanita-wanita disekelilingnya. Seolah mereka hanya benda habis pakai.
Mengejar cinta?
Hal itu terdengar menggelikan ditelinganya. Namun ironisnya, setiap Jihan berada dekat dengan pria lain, dia akan sangat terganggu dan marah. Chris tahu dia jatuh cinta, tahu hatinya telah kalah. Namun ego luar biasa dalam dirinya seperti sebuah gunung batu yang sulit dihancurkan.
"Arjun."
"Ya, Tuan?"
"Aku ingin pria itu mendapatkan masalah. Posisi kepala divisi bedah terlalu bagus untuknya."
Arjun jelas terkejut, jika ini dimasa lalu. Dia akan langsung melakukannya tampa banyak bertanya. Namun Arjun akan membuat masalah baru untuk Chris jika dia menurutinya.
"Tuan, anda tidak perlu sejauh itu. Jika Ibu Jihan tahu anda bisa dibenci lebih dari ini."
"Aku tidak peduli, Jihan masih dalam genggamanku. Aku ingin lihat dia disibukkan dengan hal itu agar tidak punya waktu untuk menemui istriku."
"Tapi Tuan, jika Bu Jihan ta__"
"Tidak ada bantahan!" potong Chris dengan tegas.
Arjun menghela napas. Dia merasa sedang menghadapi remaja labil yang tengah cemburu buta. Sehingga menghalalkan segala cara untuk menjatuhkan lawannya.
.
Jihan menatap remaja yang tersenyum lebar menikmati es krim ditangannya. Anak itu seperti biasa, memakai pakaian serba gelap dan topi khas anak remaja gaul. Dia duduk santai di sofa ruangan Jihan setelah menyerahkan sekantung es krim di hadapannya.
Jihan akhirnya beralih pada es krim itu. Mengirim pesan pada Rini setelah mengambilnya satu. Ketika sepupunya itu masuk, dia menatap heran pada anak laki-laki yang sibuk dengan dirinya di atas sofa.
"Nyonya, saya harus pergi. Sampai jumpa." katanya lalu dengan santai keluar dari sana.
Setelah dia keluar, Rini menarik bangku dan duduk di hadapan Jihan. "Kak, dia siapa? yang membeli ini semua dia?" tanyanya.
"Suruhan Chris, dia biasanya memang berada disekitarku." jawab Jihan.
"Mata-mata?" Jihan hanya mengangkat kedua bahunya sebagai jawaban, lalu memakan es krimnya.
"Ini dari suami kakak?" tanya Rini lagi dan Jihan mengangguk sebagai jawaban. "Waaah! Romantis sekali. Pria dingin itu bisa manis juga. Dari mana dia tahu kakak suka es krim, Hmm?"
"Makan saja, sisanya berikan pada pegawai lain."
"Hmm... Baiklah... Jangan terlalu banyak berpikir, oke! Abaikan saja perkataan buaya tadi!" ujar Rini.
Jihan tersenyum melihat wajah lucu yang dibuat sepupunya itu. Dia mengibaskan tangannya menyuruh Rini pergi.
Jihan termenung menatap es krim ditangannya. Dia ingat saat Chris membelikannya es krim saat di restoran kala itu. Dia jadi menebak-nebak, apakah ini sebagai hiburan kecil atau sebagai bujukan.
"Apa sih yang aku bayangkan! Mana mungkin dia sebaik itu. Mungkin saja ini trik agar aku menunda gugatan demi nama baiknya." gumamnya.
Mulutnya mungkin berkata demikian, namun dari ekspresinya jelas berbeda. Dia terlihat senang meski menahan diri. Bahkan semakin ragu untuk kembali pada pengadilan agama itu. Hanya saja, saat dia mengingat perkataan Jouji dan Haris, entah mengapa hatinya mudah sekali goyah. Sehingga ia merasa keputusannya sudah benar.