
Kekacauan terjadi di rumah sakit tempat Haris bekerja. Seorang pasien yang ditanganinya mengajukan tuntutan padanya. Menuduhnya melakukan malpraktik. Tentu saja skandal seperti ini tidak mudah bagi seorang dokter. Nama dan reputasinya dipertaruhkan. Mantan mertuanya tidak bisa membantunya. Dia cenderung terlihat ingin menyelamatkan rumah sakitnya. Bahkan menyarankan Haris pada jalan keluar yang tidak dia inginkan.
Haris pulang dengan wajah muram. Belum lagi kabar mengenai Jihan yang sampai pada telinganya. Ini membuatnya frustasi dan stres sendiri. Dia ingin meraih lagi wanita yang dicintainya, namun masalahnya sendiri membuatnya tidak berdaya. Bahkan dia kehilangan kotak ketika Jihan mengganti nomor dan pindah dari apartemen Meri. Meri juga tidak membantu sama sekali. Bukan karena tidak ingin Haris menolong Jihan, namun lebih kepada takut pada Chris.
Setelah mereka diterima sebagai pegawai di bidang yang berbeda, Meri diberi perintah untuk tidak memberikan informasi apapun pada Haris jika mereka masih ingin bekerja dengan nyaman.
Ketika Jihan mengetahui kabar yang kini viral akan skandal Haris, dia ingin sekali memberikan sedikit hiburan. Namun ketika mengingat bahwa hal itu hanya akan menggagalkan niatnya, dia memutuskan untuk tidak melakukannya. Dia sudah berniat melupakan masa lalu termasuk melupakan Chris. Karena itu dia mengganti nomornya. Tampa tahu, sesuatu yang besar menunggunya di depan mata.
.
Jihan dan Meri bertemu di lorong menuju aula perusahaan. Mereka semua diperintahkan untuk kesana karena akan ada pengumuman penting dari direktur utama mereka.
Semua orang saling berdiskusi mengenai berita penting apa yang akan disampaikan. Selama nyaris dua minggu Jihan bekerja disana, banyak rumor yang berkembang mengenai keadaan perusahaan yang sedang goyah.
"Apa rumor itu benar? Bahwa perusahaan ini nyaris bangkrut karena terus mengalami kerugian?" tanya Meri pada sesama karyawan disana. Seorang wanita dan pria yang seumuran dan berada di tim yang sama.
"Kalian tidak dengar rumor pagi ini?" tanya sang wanita bernama Yasmin.
"Rumor! Bahwa perusahaan ini sudah diambil alih oleh sebuah perusahaan raksasa. Aku dengar dari asisten manager yang mendengarnya langsung dari sekretaris direktur."
"Aku bahkan heran tim HRD menerima kalian ketika keadaan perusahaan sangat kacau." sela karyawan laki-laki bernama Rayhan.
"Aku juga heran, tapi tentu saja kami bersyukur. Kami memang butuh orang tambahan selama ini." sambung Yasmin.
"Ya, kami juga bersyukur diterima." sahut Jihan.
Seluruh karyawan berdiri ketika beberapa orang masuk. Dia adalah direktur dan beberapa manager. Mereka berdiri di atas podium dengan wajah serius.
"Terima kasih kalian telah hadir disini." mulai direktur yang umurnya beranjak kepala empat itu. Dia sesekali melihat jam dipergelangan tangannya. "Seperti yang kalian tahu, perusahaan tidaklah baik-baik saja. Tapi aku bersyukur perusaan yang orang tuaku dirikan ini tetap bisa bertahan. Aku sangat berterima kasih pada seseorang untuk hal ini. Meskipun banyak hal yang aku lepaskan, setidaknya aku bisa menyelamatkan karyawan dan tidak harus kehilangan kalian. Aku menyesal pada gaji yang beberapa bulan terakhir dibayarkan tidak lengkap. Setelah ini, aku berjanji akan melunasi hutang gaji kami pada kalian."
Pintu aula terbuka, menghentikan sejenak perkataan direktur dan membuat semua mata tertuju pada sosok yang baru saja masuk. Jihan bahkan tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Di depan sana, Chris naik ke podium dengan Arjun yang setia disisinya.
Direktur segera menyambutnya dan memberikan salam penghormatan sebelum kembali bicara dengan wajah penuh syukur.
"Aku sangat berterima kasih pada pak Christoper, Presiden direktur dari MC group. Mulai kemarin, perusahaan ini sudah di akuisisi oleh MC group. Aku berterima kasih pada Presdir karena tetap memberiku kepercayaan pada posisi ini. Dengan segala hormat, beri sambutan hangat pada pemimpin tertinggi kita." ujar direktur. Senyum diwajahnya yang akhir-akhir ini hilang tampaknya telah kembali.
Riuh tepuk tangan disertai bisik-bisik penuh kekaguman terdengar diseluruh aula. Meri menoleh pada Jihan yang kini tertunduk. Ada amarah di wajah Jihan saat ini. Lalu, perlahan dia menoleh pada Meri, membalas tatapan Meri dengan ekspresi penuh tuduhan yang kentara.
"Aku tidak tahu apapun tentang ini, kita bicara setelah ini, oke!" bisik Meri.
Chris bisa melihat wajah kesal Jihan dari tempatnya berdiri. Menikmati wajah frustasi Jihan membutnya lebih senang dari apapun. Arjun memberikan mikropon pada Chris. Hal yang sebenarnya tidak perlu ia lakukan, karena untuk datang ke tempat itu saja sudah cukup aneh baginya. Jika tidak karena Jihan, sudah dipastikan hanya perwakilan perusahaan yang akan hadir.
"Perusahaan ini hampir hancur. Tapi aku memilih membelinya, cukup beresiko dengan tumpukan hutang pada bank. Karena itu, seluruh tim akan diganti dan dipilih langsung olehku. Kecuali direktur, semua posisi akan berubah besok. Jika ada yang tidak setuju, silahkan datang padaku. Bekerjalah dengan caraku dan tingkatkan kemampuan kalian." ujarnya dengan suara tenang dan datar.
Arjun meletakkan kembali mikropon dan buru-buru mengejar Chris yang telah keluar begitu saja. Seluruh aula yang tadi sunyi kembali ramai oleh suara-suara. Direktur mereka sudah keluar mengejar Chris. Meninggalkan seluruh karyawan yang tampak terkejut.
"Perubahan besar-besaran, menurut kalian siapa-siapa saja yang akan menempati kepala tim dan manager?" Tanya Yasmin. Mereka sedang berkumpul di dekat lorong antara tim perencanaan satu dan tim pemasaran.
"Jihan, kamu oke?" tanya Rayhan. Beberapa dari orang di kantor ini sudah tahu bahwa Jihan adalah mantan istri dari Chris. Secara tidak langsung sudah menjadi rahasia umum di antara mereka.
"Aku... Aku ingin ke kamar mandi." kata Jihan seraya beranjak dari sana. Meri dengan cepat mengejarnya. Dia tahu Jihan tidak akan kesana, itu hanya alasan untuk dia menyendiri.
"Ada apa dengannya?" tanya Rayhan lagi.
"Ck, kamu tahu sendiri presdir adalah mantan suaminya. Perpisahan mereka karena orang ketiga, itu pasti berat baginya." ujar Yasmin.
.
Jihan memang tidak ke kamar mandi. Dia berlari ke atas atap gedung perusahaan. Dimana disana memang disediakan banyak kursi santai untuk siapa saja yang ingin menikmati udara segar.
"Ji... " lirih Meri.
Jihan berbalik, menatap sahabatnya itu dengan mata memerah.
"Katakan! Apa kamu bersekongkol dengannya?"
"Menolong? Bagaimana bisa kamu berpikir begitu? Dia yang menyebabkan aku lehilangn semuanya. Sudah pasti dia yang meminta bos rentenir itu merubah kesepakatan kami! Dan sekarang! Aku bahkan tidak tahu apa yang dia inginkan. Ini seperti dia sedang berencana membuatku memiliki penyesalan meninggalkannya. Sejak awal dia hanya ingin mempermainkanku!"
"Ji... Tenanglah! Bukankah kalian sudah saling mencintai pada akhirnya? Kamu tidak bisa menyimpulkan sesuatu tampa bukti. Kamu sendiri yang pernah bilang padaku." jawab Meri dengan nada membujuk.
Jihan meneteskan air matanya. Dia duduk di salah satu bangku dan memegang kepalanya dengan kedua tangannya.
"Aku tidak tahu, rasanya sangat sakit saat aku melihatnya. Bahkan aku tidak mempercayai lagi kata cinta yang dia ucapkan. Orang seperti dia... Dia dan ibunya hampir sama. Mereka hanya memandang orang lain seperti sebuah alat bisnis. Aku bahkan takut sekarang. Bagaimana kalau dia melakukan ini untuk balas dendam karena aku memutuskan pergi? Bagaimana kalau dia sakit hati karena merasa harga dirinya diinjak saat aku tidak memilihnya? Padahal dia tahu apa yang menyebabkan aku mengambil keputusan itu. Dia yang membuat keadaan rumit, tapi dia hanya pria egois yang merasa selalu benar!"
Meri duduk disampingnya, menurunkan paksa tangan Jihan dan menatap mata yang penuh air mata itu. "Dan bagaimana kalau kehadirannya disini hanya karena bisnis? Jika dia hanya ingin balas dendam, kamu punya aku. Kita hanya harus keluar dari sini dan mencari tempat lain, Kan?"
Sejujurnya, Meri tidak yakin akan ucapannya sendiri. Tapi kata balas dendam tidak ada didalam pikirannya mengenai tujuan Chris. Terlihat bagaimana posesifnya dia bahkan setelah mereka berpisah. Namun Meri juga tidak yakin akan pemikirannya mengingat bagaimana sifat Chris.
.
Chris sudah berada di dalam ruangan kerjanya. Arjun sedang menyampaikan beberapa laporan ketika Jordi masuk dengan napas memburu dan keringat di keningnya. Tampaknya ia baru saja berlari.
"Kak, kenapa tidak mengangkat telepon?"
Chris mengangkat kepalanya, menatap Jordi yang saat ini berdiri di hadapannya. "Kalian tidak melihat ponsel masing-masing?" tanyanya lagi, menatap bergantian Chris dan Arjun.
"Kami sedang rapat membahas perusahaan yang baru saja dibeli. Kami baru saja kembali dan sibuk memeriksa berkas dari sana. Memangnya ada apa?" tanya Arjun.
"Oh, Maaf. Tapi Kak, beberapa reporter menulis berita tentang kak Jihan yang terlibat dengan rentenir di laman artikel gosip. Beritanya disandingkan dengan berita Adora yang menyewa preman. Kakak tahu sendiri netizen akan sangat tertarik dengan semua yang terlibat dengan Kak Chris."
Chris berpikir sejenak sebelum meraih ponselnya dan memeriksa laman berita terkini. "Mereka cukup berani, bahkan membawa namaku." katanya dengan tenang. "Hubungi Bayu dan buat mereka menarik semua artikel yang ada."
Arjun segera keluar untuk menghubungi Bayu. Sementara Chris melanjutkan pekerjaannya.
"Hal ini akan berdampak pada kak Jihan. Dia pasti akan mendapatkan banyak mata mengarah padanya." kata Jordi
"Itu bukan hal yang harus kamu kawatirkan. Segera selesaikan perintahku pagi tadi." sahut Chris dingin.
"Ehm! Aku hanya kawatir... Tapi Kak, bagimana kalau ibulah dibalik munculnya berita itu? Maksudku, orang-orang sudah tidak terlalu tertarik dengan kehidupan kak Chris akhir-akhir ini setelah skandal meredup. Tapi tiba-tiba artikel itu muncul..."
Chris meletakkan berkas yang dibacanya dan menatap Jordi dengan tajam. Bahkan Arjun yang baru saja masuk merasakan kekesalannya.
"Kamu pikir aku anak polos yang tidak mengenal ibuku sendiri?" desisnya tajam. "Bahkan aku tahu siapa yang memberi informasi pada ****** itu ketika dia masih menyusun rencana diluar negeri." tambah Chris.
Jordi meneguk ludahnya dengan susah payah. Wajahnya langsung memucat dan dia segera meminta maaf.
"Maafkan aku, Kak. Aku akan kembali keruanganku." ujarnya.
Arjun berdehem pelan ketika Jordi sudah keluar, melihat wajah Chris terlihat kesal membuatnya cukup tertekan.
"Tuan, Bayu mengatakan bahwa dia sedang mengurusnya atas permintaan ibu anda."
"Ibuku?"
"Ya, ibu anda, Tuan."
Chris terkekeh pelan. Membuat Arjun mengernyit karena tidak mengerti bagian mana yang lucu.
"Tampaknya dia ingin membuat syok terapi kecil untuk kelinciku. Tapi tidak mengira reporter akan menyertakan ular yang dipeliharanya." sinisnya.
"Awasi itu dan sekarang lanjutkan laporanmu. Kita harus menempatkan orang yang pas disana. Beberapa orang berkompeten akan dikirim dari sini. Juga... Aku akan menarik satu orang dari sana untuk bekerja denganku disini. Dia pasti akan senang karena bekerja pada perusahaan induk karena gajinya lebih tinggi."
"Maksud anda... Nyonya Jihan?"
"Siapkan satu meja untuk posisi asisten keduaku." perintah Chris dengan seringaian penuh kemenangan di wajah tampannya.
"Dengan senang hati, Tuan." jawab Arjun.