
Jouji kembali datang kedalam ruangan dimana Nana dirawat. Menatapnya dengan wajah sedih dan penuh penyesalan. Jouji memijit kepalanya yang terasa berdenyut. Air matanya menetes, perlahan semakin banyak dan semakin deras hingga berakhir menjadi isakan tertahan.
Sebuah tangan menyentuh puncak kepalanya. Jouji menurunkan tangannya dan menatap si pelaku. Nana, menatapnya dengan sorot mata kosong namun tangannya mengelus rambut Jouji dengan lembut. Jouji menghentikan tangisnya, dia menggenggam tangan itu dengan erat.
"Nana ... ingat aku?"
Nana hanya diam saja. Dia menarik tangannya lepas dan kembali duduk di atas kasurnya. Dia tertawa sendiri, lama-lama tawa itu menjadi tangisan dan dia terus saja mengucapkan satu nama. Hal yang tampaknya terus melekat didalam otaknya. Ketika dia mengabaikan semua orang, hanya satu nama yang terus mempengaruhinya. Bahkan dokter menggunakan nama dan foto orang itu untuk menenangkannya saat mengamuk.
Ya, orang itu adalah Chris. Pria yang sangat digilai oleh Nana. Sejak mengenal Chris, Nana mulai terobsesi padanya dan melakukan segala cara untuk mendapatkannya. Obsesi yang berujung pada tindakan diluar batas kewajaran.
Jouji keluar dari sana setelah dokter dan petugas medis masuk. Nana kembali mengamuk dan berteriak-teriak histeris. Ketika dia berjalan pulang, langkahnya terhenti saat dia berpapasan dengan ibu Nana.
"Kamu datang?" sapa ibunya.
"Saya akan segera pulang, Nana sedang ditangani dokter."
Ibu Nana tidak merespon hal itu, dia menatap Jouji dengan sorot dingin.
"Pastikan pria itu hancur, dia harus menerima balasan atas apa yang dia lakukan pada anakku." katanya, lalu berlalu meninggalkan Jouji.
.
Jihan termenung di dalam ruang kantor gedung yayasan milik mertuanya. Dia tidak bisa berkosentrasi pada apapun. Setelah berhasil mendengarkan rekaman suara dari mantan istri Chris, Jihan semakin dibuat tidak tenang.
Pagi ini sikap Chris juga sedikit berbeda. Dia luar biasa diam namun tidak menunjukkan wajah dingin seperti biasa. Jihan bisa melihat sorot kawatir di matanya. Suaminya hanya menatapnya sebelum pergi karena dia buru-buru. Chris bahkan tidak sarapan pagi ini dan mengabaikan rengekan Catrin.
"Apa aku harus menemuinya? Dia menyuruhku mengatakan pendapatku kan?" gumam Jihan.
Dia memutar-mutar pena diatas meja dengan kepala bertumpu pada lengannya. Kepalanya sibuk memikirkan berbagai hal. Dia mengambil ponselnya, memutar rekaman itu lagi.
'Chris melukaiku lagi, yang ini belum hilang.'
Ada jeda beberapa detik, terdengar ringisan seolah lukanya mengenai sesuatu. Jihan menduga dia sedang diobati.
Kenapa dia membenciku? Dia juga tidak pernah menyentuhku. Dia selalu berkata kasar padaku. Dia tidak pernah sadar aku sagat mencintainya. Aku hanya ingin dia, tapi dia tidak mau melihatku.'
Suara Nana terdengar sangat pilu. Dia mencurahkan isi hatinya pada seseorang namun Jihan tidak tahu siapa dia. Hanya suara wanita namun tidak terlalu jelas.
'Chris memang kasar, tapi sejauh ini dia tidak memukulku. Apa dia memang sejahat itu?'
Jihan bertanya dalam hati. Tapi dia mengingat bagaimana Chris hampir membunuh Jouji saat di hotel. Hal itu membuatnya sedikit ragu pada pemikirannya sendiri.
"Dia kejam, tidak menutup kemungkinan dia memang menyiksa mantan istrinya." gumam Jihan.
"Apa yang kamu lamunkan?"
Jihan tersentak, dia meluruskan posisi duduknya dan mendapati Jouji sudah berdiri di hadapannya. Memberinya senyum ramah penuh cinta seperti biasa.
"Kenapa kamu disini?"
"Ini memang jadwalku kemari, kamu lupa ya? Aku membawa beberapa barang untuk anak panti juga. Kata salah satu karyawan kalian akan mengunjungi panti milik yayasan sore nanti."
"Ya, terima kasih untuk donasinya."
Jouji melirim ponsel Jihan.
"Kamu sudah mendengarkan rekamannya? Bagaimana menurutmu?" tanyanya, matanya bergulir menatap Jihan. "Suamimu benar-benar jahat bukan?" lanjutnya.
"Aku tidak tahu."
Jouji menarik sudut bibirnya. "Kamu tahu dengan baik. Iblis itu tidak punya cinta Jihan, dia hanya punya api ditangannya."
"Aku pikir kamu berlebihan, Chris tidak sejahat itu. Dia ... juga sudah jauh berubah dari pertama kami menikah. Aku pikir Chris tidak sejahat yang kamu pikirkan."
"Berubah? Apa dia pernah meunjukkan kasih sayang padamu? Aku yakin kalian belum pernah tidur bersama." Kata Jouji dengan nada sedikit sinis. "Aku benar kan? Apa dia menujukkan sekali saja kalau dia seorang suami? Aku yakin tidak pernah. Itulah yang dia lakukan pada Nana. Chris menyiksa batinnya sampai kedasar, terus mengikisnya sampai tidak tersisa sedikitpun. Kamu hanya belum melihat bentuk iblis dalam dirinya karena kamu terlalu baik Ji, kamu tidak pernah mempermasalahkan perlakuannya. Karena itu kamu jadi salah menilainya. Dia kejam Jihan! Suatu saat dia bisa melukaimu seperti yang dia lakukan pada sahabatku."
Jihan terdiam mendengar penuturan berapi-api Jouji. Emosi pria dihadapannya ini meningkat drastis seperti dirinyalah yang tersakiti.
Jihan menunduk, beberapa dari pernyataan Jouji dibenarkan olehnya, namun sebagian lain disangkal oleh hatinya.
"Apa kamu tahu kenapa dia menikahimu, dia tidak tertarik padamu, dia menikahimu dengan alasan tertentu bukan?"
Jihan mengangkat kepalanya, menatap Jouji. Ingin menjawabnya namun hatinya menyuruhnya diam saja.
"Dia menikahimu karena__"
"Aku tahu," potong Jihan.
"Lalu kamu akan terus bertahan?"
"Aku ... aku ... " Melihat keraguan Jihan, dia mengambil kesempatan.
"Mau mengunjungi Nana? Kamu bisa melihat seperti apa akhir dirimu jika kamu memilih terus bertahan."
Jouji menyodorkan sebuah kertas lalu bangkit berbalik. "Aku bisa menemanimu jika kamu ingin kesana." katanya sebelum pergi.
.
Jihan memutuskan untuk menemui Chris. Meskipun ragu, tapi dia harus tetap mencari kebenaran dari sumbernya langsung dari pada mendengar dari orang lain. Lagi pula dia diperintahkan Chris untuk menemuinya setelah mendengar rekaman itu, jadi ini akan menjadi alasan bagi Jihan.
Jihan melewati lobi utama menuju lift. Bayu yang sedang lewat tidak sengaja melihatnya dari kejauhan. Dia mengirim pesan pada Arjun untuk memberitahukan kedatangan Jihan.
Sayangnya Arjun tidak mendengar notifikasi pesan di ponselnya karena sedang di kamar mandi. Begitu Jihan sampai disana, Jihan bingung tidak ada orang di depan ruangan Chris. Pintunya juga terbuka setengah.
Jihan melangkah dan mendorong pintu hingga terbuka lebar. Dia hendak mengetuk pintu namun tangannya mengambang di udara ketika menyaksikan pemandangan di depan matanya.
Seorang wanita berpakaian cukup ketat dan terbuka duduk di pangkuan Chris dengan tangan yang melingkari bahunya. Tentu saja pemandangan itu membuat hatinya sakit. Bagaimanapun juga yang duduk disana adalah suaminya, Jihan juga sudah terlanjur menaruh hatinya meski mereka selalu terlihat bermusuhan.
"Apa aku mengganggu?" tanya Jihan datar.
Keduanya menoleh, Chris terlihat terkejut beberapa detik dan segera menyingkirkan wanita itu. Dia merapikan kerah kemejanya sebelum bersikap biasa lagi. Seolah tidak ada yang salah sama sekali.
"Siapa dia Chris? Kamu punya janji dengannya? Kenapa kamu bisa mengenal wanita seperti dia?" tanya wanita itu sambil menatap penampilan Jihan dengan sorot menghina.
"Pergilah, dimana asistenmu Chris?" suruhnya pada Jihan, lalu ia berbalik lagi dan hendak memeluk Chris dari belakang kursinya, sayangnya Chris dengan cepat bangkit dan menarik tangannya kearah pintu keluar.
Chris dengan santai melewati Jihan yang masih mematung. Chris mendorong wanita itu keluar dengan kasar. Arjun yang baru saja datang terkejut ketika melihat kejadian didepan matanya. Bukan terkejut karena wanita yang diusir Chris, melainkan kehadiran Jihan disana.
"Sa-saya dari kamar mandi Tuan."
"Chris! Kamu apa-apaan!" bentak wanita itu.
Chris tidak menanggapinya, dia berbalik dan menarik Jihan masuk. Menutup pintu dan menguncinya dari dalam.
"Chris! Kamu tidak bisa memperlakukan aku seperti ini! Kenapa kamu mengunci pintu? Siapa wanita kampungan itu?" teriaknya sambil menggedor pintu dengan brutal.
"Nona Anggel, silahkan pulang. Ngomong-ngomong dia adalah istri Tuan Chris, jadi saya minta maaf untuk mengatakan bahwa anda harus menjaga sikap anda lain waktu." kata Arjun dengan nada yang terdengar mengancam.
Sementara itu, Chris menatap Jihan yang masih berdiri kaku ditempatnya. Ada rasa ingin menjelaskan apa yang terjadi namun gengsi dan ego lebih mendominasi. Chris memilih duduk di kursinya kembali.
"Kamu sudah mendengar rekaman itu? Untuk itu kamu datang bukan?"
Perlahan Jihan berjalan mendekat dan berdiri di depan meja Chris. Menatap suaminya datar. Ada kemarahan dalam dirinya dan Chris bisa melihat itu dari sorot mata Jihan.
"Aku sudah dengar, kamu meminta penilaianku bukan? Maka aku akan mengatakannya."
Kedua bola mata itu menatap lekat Jihan dengan pandangan yang sulit di artikan. Jihan sendiri merasa tercekik dengan gejolak yang ia rasakan. Dia marah tapi juga gugup. Membenci dan menyukai Chris secara bersamaan adalah siksaan baginya.
"Wanita bernama Nana itu ... aku merasa kasihan padanya. Dia mencintaimu, tapi kamu memperlakukannya dengan buruk. Kenapa kamu menikahinya jika kamu tidak mau mencintainya?"
"Kemari!" perintah Chris, matanya tidak lepas dari Jihan sedetikpun.
Jihan maju dan perahan mendekat, berdiri tepat di samping kursi Chris dengan kebingungan. Dengan cepat Chris menarik tangannya dan meraih pinggang Jihan sehingga dia terduduk diatas pangkuannya.
"Hapus jejak wanita itu dariku." perintahnya dengan pandangan yang tak berubah sama sekali.
Jihan menatapnya dengan tubuh kaku serta ekspresi tegang dan bingung. Dia mengerjap beberapa kali sebagai usaha untuk mencerna situasi mereka saat ini.
"Kamu tidak mendengar perintah suamimu?" kata Chris lagi. Kalimat perintah suamimu adalah kata yang sudah menjadi andalannya sebagai senjata untuk membuat Jihan menurutinya.
"Ak-aku tidak mengerti."
"Tidak mengerti?" Ulang Chris. "Wanita tadi memelukku dan mencium pipiku. Jadi sebagai istri kamu harus menghapus jejaknya. Itu menggangguku dengan bekasnya." lanjutnya.
Mendengar itu hal itu, Jihan mengerutkan keningnya dengan kesal. Dia ingin bangkit namun Chris menahannya.
"Itu urusanmu! Kamu yang mengizinkan dia menyentuhmu!" ketusnya.
"Jangan menaikkan nada bicaramu padaku. Lagi pula setelah menikah aku tidak membiarkan wanita manapun menyentuhku lagi. Jadi hapus itu agar jejaknya tidak ada dalam ingatanku."
"Ke-kenapa?"
Chris tidak menjawab meskipun dia mengerti arah pertanyaan Jihan.
"Lakukan sekarang." perintahnya lagi.
Jihan menggigit bibirnya. Dia menunduk dan perlahan memeluk suaminya. Melingkarkan tangannya untuk memeluk leher Chris.
Chris tersenyum penuh arti ketika dia merasakan degup jantung Jihan yang sangat cepat.
"Sekarang cium aku."
Jihan menarik dirinya dan mencium pipi Chris dengan cepat. Wajahnya sudah memerah dan tangannya sudah bergetar karena gugup luar biasa. Dia tidak mengerti akan perubahan sikap Chris yang menurutnya sangat aneh.
"Sekarang katakan, apa pendapatmu tentang aku di rekaman itu."
Jihan sedikit menjauh dan melempar pandangannya ke arah lain. Tidak tahan karena Chris terus menatapnya dari jarak sedekat itu.
"Aku sudah mengatakannya padamu. Kamu terdengar sangat jahat. Kamu menikahinya tapi kamu tidak memperlakukannya dengan baik. Apa alasanmu menikahinya saat itu?"
"Dia berhasil meyakinkan kakek dan ayahku. Orang tuanya rekan bisnis perusahaan kami. Dia teman Jordi yang tergila-gila padaku. Aku tidak mengenal siapa dia sebelum kakek dan ayah memaksaku untuk menikahinya."
Jihan tertegun, jadi pernikahan itu terjadi karena paksaan?
"Bagaimanapun juga, kamu seharusnya memperlakukan istrimu dengan baik. Kalian terikat dalam pernikahan dan dalam agama islam suami dan istri memiliki tanggung jawab yang apabila dilanggar akan menjadi dosa. Walaupun aku yakin kamu tidak mengerti tentang aturan itu, tapi setidaknya kamu punya sisi sosial yang__"
"Aku tidak peduli hal itu. Tidak suka bagiku artinya dia tidak bisa mendapatkan perhatianku. Dia itu hanya pengganggu yang sangat gila."
"Kamu tidak harus memukulnya kan? Dia terluka didalam rekaman itu. Apa yang kamu lakukan padanya?"
"Tidak ada, dia melukai dirinya sendiri."
Chris melepaskan tangannya dan dengan cepat Jihan berdiri dan menjauh darinya. Namun mata mereka masih saling bertemu untuk meyakinkan satu sama lain.
"Apa ... apa yang sebenarnya terjadi padanya? Dia tidak mungkin depresi berujung gila tampa alasan."
"Apa kamu mempercayaiku?"
"Ap-apa maksudmu? Kenapa kamu tidak menjawab saja dan..."
"Itulah kenapa aku bertanya, jika kamu tidak mempercayaiku tidak ada alasan untukku memberitahumu."
"Kamu ...!"
"Mulai malam ini kita akan tidur dikamar yang sama." kata Chris tampa melihat, dia kembali berkutat pada pekerjaannya.
"Apa maksudmu? Bukankah kamu membenciku?"
Chris mengangkat kepalanya, menatap Jihan sesaat sebelum kembali fokus bekerja.
"Turuti saja perintahku. Sekarang pulang, Bayu akan mengantarmu."
"Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri." jawab Jihan dengan cepat.
Jihan keluar dengan perasaan campur aduk. Dia merasa bingung dan curiga akan sikap Chris yang sangat aneh dari kemarin. Dia juga kesal akan fakta bahwa tidak bisa menolak perintah Chris meskipun sedang sakit hati. Namun, Jihan menyadari satu hal. Perlakuan Chris padanya tadi membuat rasa sakit karena melihat adegan intim suaminya dengan wanita tadi perlahan surut.
'Apa dia terbiasa hidup dikelilingi wanita genit seperti itu? Dia sudah menikah apa dia tidak sadar itu! Ah ... dia terpaksa menikahiku karena anaknya. Kenapa aku bisa lupa.'
Sepanjang jalan ketika turun dari kantor Chris, Jihan terus memikirkan sikap Chris yang mulai berubah. Dia juga tidak ingin menaruh harapan lebih akan diperlakukan lebih baik, apalagi berharap suaminya akan mencintainya. Jihan merasa itu seperti mimpi di siang bolong mengingat betapa keterlaluannya sikap Chris selama ini.
Jihan tidak sadar, bahwa banyak pasang mata memperhatikannya dan berbisik dibelakangnya sepanjang jalan menuju pintu keluar. Tentu saja gosip mengenai dia, gosip mengenai Chris sendiri mempengaruhi penilaian banyak orang mengenai pernikahan mereka. Di dunia maya juga banyak bermunculan artikel gosip yang menebak-nebak keadaan pernikahan mereka. Menciptakan spekulasi-spekulasi bagi siapapun yang membacanya.
Presdir muda dengan karisma dan digosipkan dengan banyak aktris sebelum menikah, tentu saja banyak yang ingin tahu perjalanan cintanya. Banyak yang yakin juga melihat moment mesranya dengan Jihan bahwa pernikahan mereka sangat harmonis. Tapi banyak juga yang meragukan karena melihat gekstur Jihan yang terlihat kaku. Tentu saja, netizen akan selalu merasa paling tahu sehingga menimbulkan perdebatan yang tidak berguna.