Wife Or Nanny?

Wife Or Nanny?
93



Jihan menggenggam tangan wanita yang merupakan istri Ebel itu dengan erat. Bagaimanapun, dia sangat berjasa dalam rencana untuk membebaskan Jihan dari tempat itu.


Arjun telah membuatkan identitas baru baginya, dia juga sudah di carikan tempat tinggal di sebuau negara di eropa sana. Sebelum Alex mengantarnya ke bandara dan menugaskan seseorang untuk memastikan dia sampai dengan selamat.


Kabar kematian Marcell sampai juga ke telinga mereka. Begitu juga kabar bahwa Ebel akhirnya mengetahui kebenarannya. Bahwa dia ditipu dan di adu domba oleh Chris.


Bayangkan bagaimana kesalnya Ebel saat ini. Belum lagi data rahasia organisasi mereka ada ditangan Chris setelah dicuri oleh istrinya sendiri. Data itu bisa langsung menjebloskannya ke penjara jika dia berani mengusik Chris saat ini.


"Hati-hati di jalan dan semoga kamu bahagia." ujar Jihan dengan tulus pada wanita yang bernama Emma itu.


Perpisahan singkat dengan wanita itu usai begitu saja. Kabar bahwa Jihan kembali merebak begitu cepat ketika beberpa orang melihat mereka dibandara.


Arjun sedang menangani media dan keluarga Chris yang meminta penjelasan. Membuatnya kualahan dan sakit kepala.


"Aku kasihan pada Arjun." kata Jihan. Mereka sedang duduk di taman belakang rumah. Memperhatikan Azak yang sedang bermain dengan anak kepala pelayan. Ibu dan ayah Jihan juga telah sampai disana ketika Jihan tiba di rumah. Arjun merencanakan penyambutan Jihan dengan baik. "Dia pasti akan lembur lagi, kamu harus memberikan bonus besar padanya dan hari libur setelah ini." lanjut Jihan.


Chris tersenyum dan mengusap puncak kepalanya. "Akan aku lakukan." katanya, lalu memutar duduknya menghadap Jihan, menggenggam kedua tangannya. "Sekarang katakan, apakah kamu akan baik-baik saja untuk menghadapi media dan penyidik? Mereka menunggu kesaksianmu. Meski keputusan sidang telah keluar, Bayu harus melihat bahwa apa yang ia lakukan sia-sia. Aku juga perlu minta maaf atas nama ibuku untuk menyelesaikan semua ini. Juga memberikan haknya sebagai anak dari ayahku."


Chris sudah berdamai dengan masa lalunya. Sehingga dia sudah menceritakan semua hal tentang dirinya termasuk keluarga dan penyakit mental yang sempat kembali ketika Jihan di culik.


"Itu bagus, Aku tidak apa-apa. Ketulusanmu, mungkin saja bisa membuatnya lebih baik."


"Bagaimanapun juga, dia harus dihukum karena membunuh dua orang. Juga atas percobaan pembunuhan pada Mama. Meski begitu, aku hanya menuntutnya dengan hukuman beberapa tahun penjara. Bagaimanapun, dia telah terpenjara akan dendamnya sejak remaja. Aku tidak ingin dia menjadi seperti aku dimasa lalu." kata Chris.


Jihan menyentuh pipinya, tersenyum tulus sebelum memeluknya dengan erat. "Aku sangat bangga padamu."


Ada jeda beberapa saat, sebelum Chris mulai membicarakan masalah lain.


"Ji... Tentang anakku yang lain... Apakah Kamu akan baik-baik saja jika aku mengambil hak asuhnya? Kalau tidak aku hanya akan membiarkannya dengan Adora."


Jihan melepaskan pelukannya. Dia terdiam sesaat. Membuat Chris diliputi kecemasan kalau-kalau Jihan akan marah padanya.


"Azam!" panggil Jihan, lalu melambaikan tangannya agar anaknya datang ke dekat mereka.


Jihan menarik tangan Azam dan menggenggam keduanya ketika Azam masih dalam keadaan berdiri. Menatap ibunya dengan bingung.


"Azam... Tahukan kalau punya adik tiri?" tanya Jihan pelan.


Azam mengangguk. "Adik bayi itu kan?" tanya Azam.


"Ya, apa tidak apa-apa kalau dia menjadi adikmu dan tinggal disini?"


Azam menoleh pada Chris yang sudah menegang ditempatnya. Wajah cemas menyelimutinya. Lalu, dia tertawa lebar. Azam tahu ibunya sedang menggoda sang ayah.


"Ibu usil! Tentu saja. Azam suka punya banyak adik."


Lalu dia kembali berlari menghampiri temannya. Jihan tertawa geli melihat ekspresi sang suami.


"Kenapa kamu takut begitu? Aku tidak masalah sama sekali kok." ujarnya.


"Terima kasih," Chris tersenyum dan merangkulnya. "Ngomong-ngomong, Azam ingin adik yang banyak. Bagaimana menurutmu?"


Jihan yang tahu maksud perkataan Chris, mencubit pelan perutnya.


"Ayolah..."


"Yang tadi malam kurang?" Jihan sebenarnya masih sangat lelah tapi mana mungkin ia berani menolak.


"Tidak, rapi aku ingin."


Jihan menoleh, melihat wajah dan tingkah suaminya yang menjadi sangat manja. Chris sudah akan menciumnya, namun Jihan menutup mulut Chris dengan telapak tangannya.


"Kamu gila ya? Di sana ada anak-anak!"


Chris menurunkan tangan Jihan dan langsung menariknya bangun. Membawanya masuk kedalam dengan langkah cepat. Bibirnya menyunggingkan senyum lebar seolah telah memenangkan hadiah besar. Jihan hanya menggeleng pelan, namun pipinya terasa panas dan jantungnya berdetak lebih cepat.