
Ketika Jihan kembali. Semua orang sudah selesai memainkan arisan itu. Mereka sudah mulai makan dan bercengkrama satu sama lain.
Bianka yang melihat kedatangannya, tersenyum dengan licik. Berjalan dengan cepat dengan gelas berisi minuman ditangannya. Dia tersenyum seolah menyambut musim semi yang menyenangkan.
Begitu dia sampai dihadapan Jihan, kakinya menekuk dan terlihat tergelincir oleh sepatunya. Tangan yang memegang gelas terarah pada Jihan, sayangnya bukannya mengenai Jihan, gelas itu ditepis seseorang sehingga mengenai dirinya sendiri.
Bianka menjerit dan menatap pelaku yang kini berdiri di hadapan Jihan. Seorang pria berwajah datar dengan pakaian serba hitam. Dia terlihat masih remaja. Pria yang menutupi rambutnya dengan topi. Anting-anting menghiasi kedua telinganya. Laki-laki itu mwnyeringai lalu maju untuk berhadapan dengan Bianka.
"Maaf, sepertinya jalan didepanku licin." katanya, pahal jelas-jelas lantai dilapisi karpet.
"Siapa kamu beraninya masuk ke sini!" bentak Bianka.
Beberapa orang mendekati mereka untuk melihat kejadiannya dari dekat.
"Ada apa Bi?" tanya salah satu dari mereka.
"Anak ini mendorongku," jawab Bianka, dia sedang sibuk mengelap baju mahalnya yang basah menggunakan tisu yang diberikan wanita lain.
"Siapa kamu? saudara Jihan?" tanya wanita itu.
" Sepertinya begitu, mereka terlihat sama. Lihatlah penampilannya yang seperti preman, dari mana dia masuk?" tanya wanita lain.
"Wah, para idiot dan jelek ini tidak sadar diri. tuan Chris akan membalas perbuatan kalian karena menghinanya istrinya seperti ini?" kata anak itu.
Semua wanita disana tertawa remeh, seolah perkataan yang terlontar itu hanyalah bualan tidak masuk akal.
"Adik kecil, kami tidak menghina ibu Jihan. Kami hanya mengatakan kebenaran. Benar kan bu Jihan?" kata wanita lain lagi.
Jihan tidak menjawab, dia sama sekali tidak ingin membuka mulutnya lagi. Baginya tidak ada gunanya meladeni wanita seperti mereka. Tapi anak dihadapannya ini tampaknya tidak berpikir yang sama.
"Wah wah wah ... sebagian kalian berasal dari kalangan atas tapi otak kalian berada dikelas rendahan. Kita pergi dari sini kak Jihan?" ajak anak itu.
"Tidak punya sopan santun! Kalian memang tidak layak ada disini. Bagaimana bisa ibu Diana menerima menantu seperti ini? Walaupun hanya untuk pengganti ibu untuk cucunya, setidaknya dia harus memilih wanita yang berkelas. Aku bahkan merasa terganggu dengan melihatnya saja. Lihatlah pakaiannya, jenis baju seperti ini hanya dipakai orang terbelakang dan memiliki pemikiran kuno."
"Benar, aku yakin Chris bahkan tidak pernah menyentuhnya dibelakang kamera, Chris memiliki selera yang tinggi, tidak sembarangan wanita diizinkan mendekatinya. Bagaimana bisa dia bermimpi seolah dia bisa marah saat aku bersama Chris?" ujar Bianka dengan nada sombong.
"Tentu saja dia bisa marah, dia adalah istriku."
Seluruh orang menatap kearah pintu masuk. Mereka yang memunggungi pintu segera memutar tubuh mereka. Beberapa orang segera menyingkir saat Chris masuk.
Jihan sendiri hanya terpaku pada tempatnya. Kakinya terasa kaku. Rasa malu merasukinya, bukan karena penghinaan seluruh wanita yang ada disana, melainkam karena Chris mengetahui hinaan yang dilontarkan padanya. Dia merasa lemah dan bodoh karena tidak bisa membela diri.
Jihan merasakan rengkuhan tangan Chris dipinggangnya. Lalu tubuhnya ditarik begitu saja sehingga dia berada didalam pelukan pria itu.
Seluruh wanita disana, terutama Bianka terkejut bukan main. Tidak menyangka bahwa Chris akan melakukan hal itu. Dibenak mereka, Chris memperlakukan Jihan sama seperti dia memperlakukan Nana dimasa lalu. Dimana dia hanya akan baik jika di depan wartawan atau kamera. Di hadapan orang lain, Chris akan acuh tak acuh bahkan cenderung dingin. Chris tidak akan segan-segan menunjukkan kebenciannya.
"Arjun, beritahu ibuku untuk berhenti dari perkumpulan sampah ini. Pastikan mereka dan seluruh kelurga mereka masuk daftar hitam perusahaan. Aku akan menarik investasi dan memutus kontrak kerja sama."
Chris melepaskan rangkulannya dan menggenggam tangan Jihan. Mereka segera pergi dari sana. Meninggalkan seluruh orang yang terpaku pada tempatnya. Seluruh orang menunduk dan tampak ketakutan. Beberapa dari mereka buru-buru keluar untuk pulang. Melakukan apapun untuk mencegah kerugian yang ditimbulkan dari kemarahan Chris.
.
Jihan menoleh kemobil yang ada di belakang mereka. Mobil yang dikendarai oleh anak tadi. Itu adalah mobil miliknya dan dia sama sekali tidak mengenal anak itu.
"Dia dipanggil Lion oleh kawanannya, orang yang aku bayar untuk mengikutimu." kata Chris melihat kebingungan diwajah Jihan.
"Mengikutiku? Kamu menyuruh orang untuk memata-mataiku? Apa aku terlihat akan menusukmu dari belakang?" marah Jihan.
Chris tidak menjawabnya, dia terlihat malas untuk menjelaskan tuduhan itu.
"Tuan melakukan itu untuk melindungi anda. Sejak berakhirnya perang dingin menuju perang menggunakan senjata, hal-hal seperti ini diperlukan."
Jihan mengernyit mendengar penjelasan Arjun. Dia belum menangkap maksud dari kalimat itu.
"Kenapa kamu bisa ada disana menggantikan mama, dimana dia?" tanya Chris mengalihkan pembicaraan.
"Mama tidak enak badan, dia bilang ini pertemuan yang bisa membuatku mengenal banyak orang baru dari kalangan kalian." Jihan menjeda dan menunduk, rasa malunya muncul lagi. "Tapi aku tidak bisa berbaur dengan mereka, dunia kalian sangat jauh berbeda." lanjutnya.
Chris tidak memberikan respon. Jihan mencoba mengangkat kepalanya dan menoleh sedikit untuk mengintip ekspresi Chris. Tapi dia segera berpaling begitu menemukan Chris yang ternyata tengah menatapnya.
"Apa perlakuanmu pada mantan istrimu begitu buruk? Dia pasti sangat menderita. Berada dilingkungan seperti itu, direndahkan seperti itu."
"Kamu kasihan padanya?"
Chris tergelak, dia kembali menatap lurus kedepan. "Benar, aku pria yang buruk. Aku dibesarkan dalam lingkungan seperti itu. Kamu yang terlalu naif dan merasa paling suci tentu saja akan berpikir ini dunia yang hina. Meskipun aku mengakui memang begitu. Tapi bagiku, bagi orang-orang seperti kami, dunia dinilai dari uang, kebahagian dinilai dari berapa tebal dompetmu. Cinta? Itu hanya ada di atas kasur."
Deg!
Jihan terdiam dengan wajah muram. Mendengar kalimat demi kalimat yang diucapkan Chris, dia merasa semakin buruk. Harapannya terasa melayang seperti asap tertiup angin. Bagaimana caranya dia bisa mencintai seseorang yang tidak menghargai apapun selain materi? Jihan tidak bisa mempercayai dirinya lagi. Dia hanya bisa diam dan memohon kepada Tuhan agar dia punya cukup kekuatan untuk bertahan.
.
Dua orang sedang menunggu Chris di depan ruang tamu ketika ia kembali. Jihan yang tidak pernah melihat dua orang itu hanya diam saja sampai Catrin berlari menghampirinya.
Catrin menarik Jihan menuju lantai dua dimana kamarnya berada. Setelah keduanya tidak terlihat lagi, barulah Chris duduk dengan tenang di hadapan dua orang itu.
"Untuk apa kalian kemari?"
"Kita keluarga, bagaimana kamu bisa bertanya seperti itu?"
Mereka adalah dua sepupu Chris. Dua adik kakak yang memiliki otak licik yang sama seperti ayahnya. Chris jelas sangat tahu tujuan mereka datang.
"Pergilah, sampaikan pesanku pada paman bahwa dia harus belajar untuk berjalan terlebih dahulu sebelum mencoba berlari menyerangku." Chris bangkit berdiri, menatap keduanya dengan dingin. "Lain kali jangan pernah menginjakkan kaki disini lagi, aku tidak pernah menerima pengemis dirumahku."
"Dasar sombong! Perusahaan itu juga perusahaan keluarga! Kamu tidak bisa seenaknya memerintah dan memutuskan sesuka hatimu!" teriak Jerom, sang kakak namun usia Chris lebih tua darinya.
"Kami punya hak berada dalam perusahaan, bajingan!" maki sang adik, Jeremy.
Keduanya hanya pria dewasa yang mentalnya tidak pernah dewasa. Sedari kecil dia dididik dengan manja oleh kedua orang tuanya. Chris sangat tahu apa yang mereka lakukan dibelakang ayahnya. Bermain dengan wanita dan suka berpesta dengan obat-obatan terlarang. Karena itulah mereka banyak menghabiskan uang.
Chris memberi kode pada tiga satpam rumahnya untuk mengusir dua sepupunya. Tentu saja Jerom dan Jeremy semakin murka. Bukan pengusiran yang mereka inginkan ketika datang kerumah itu.
"Bajingan! Aku akan membalas perlakuanmu ini! Lihat saja apa yang akan aku lakukan!" ancam Jerom, matanya menyala-nyala akan kemarahan.
Jeremy menatap ke arah tangga dimana Jihan berdiri memperhatikan mereka. Terdiam dengan wajah kebingungan dan juga takut. Jeremy menyeringai padanya sebelum dipaksa keluar dan menghilang dibalik pintu.
Chris menatap Jihan yang masih berdiri disana. Mengabaikannya untuk naik ke lantai tiga menuju kamar mereka. Ketika dia melewati Jihan, Chris berhenti sejenak untuk menatapnya.
"Layani suamimu, Siapkan pakaian ganti dan bawakan aku kopi panas." perintahnya.
"Ya!" jawab Jihan cepat dan segera lari menuju dapur.
Chris melihat ibunya yang berdiri di ambang pintu kamarnya. Chris berhenti sejenak menatap wanita yang telah melahirkannya itu.
"Mom, lain kali jangan biarkan Jihan menghadiri acara apapun tampa kita. Bagaimana bisa kelinci dilepaskan kesarang ular seperti itu?"
Ibunya mengangkat sebelah alisnya. Ketika Chris sudah naik ke tangga berikutnya, ibunya tersenyum penuh arti.
'Sepertinya rencanaku berjalan dengan baik.'
.
Dikamar, Chris berhenti sejenak sebelum masuk kedalam kamar mandi. Suasana kamar lamanya ini sudah sangat berbeda. Kepribadian Jihan terlihat dimana-mana.
Chris berendam di dalam bathtub, aroma kamar mandi sangat manis. Chris melirik sabun berwarna merah muda di atas rak. Mengambilnya dan mencium baunya. Dia tersenyum setelah menyadari asal dari bau manis itu. Menyudahi acara berendam singkatnya, dia segera mandi dengan memakai sabun milik Jihan.
Ketika keluar, wangi tubuh dan rambutnya menguar memenuhi kamar mereka. Jihan memerah begitu saja begitu menyadari Chris menggunakan sabun miliknya. Dia merasa malu karena sabun dan samponya beraroma buah seperti milik anak-anak.
"Keringkan rambutku." perintah Chris.
Jihan segera mengambil handuk kecil dan menggosokkannya ke rambut Chris dengan lembut. Jantungnya tidak berhenti berdetak dengan kencang. Jika dia tidak memakai kerudung, sudah dipastikan Chris bisa melihat telinganya yang memerah.
"Sudah, kamu ingin meminum kopimu sekarang?" tanya Jihan.
Chris melirik meja nakas dan menggeleng. "Mandilah, aku akan segera berpakaian."
"Oke."
Dengan cepat Jihan masuk ke dalam kamar mandi. Chris memakai kemeja lengan pendek dan celana berbahan kain yang disiapkan Jihan. Baru saja dia selesai ponsel Jihan yang berada di atas nakas bergetar.
Chris melihat layarnya. Sebuah notifikasi chat. Karena sudah tahu sandi ponsel Jihan, dengan santai dia membuka pesan itu. Chris mengeraskan rahangnya usai membaca pesan itu. Matanya menatap tajam kearah pintu kamar mandi.
"Aku ingin tahu sampai mana kamu akan bermain-main dengan kebodohanmu sendiri, Jouji." desisnya.
Dengan cepat Chris membalas pesan itu dan segera menghapusnya setelah terkirim. Dia meletakkan kembali ponsel Jihan dan naik keatas kasur. Meminum kopinya dengan santai sambil memeriksa pesan yang masuk keponselnya sendiri.