Wife Or Nanny?

Wife Or Nanny?
47



Bayu berdiri di depan ibu Chris yang sedang menikmati tehnya. Pagi ini dia mendapatkan kabar kurang menyenangkan terkait Adora. Namun hal itu sama tampaknya tidak mengusiknya sama sekali, dia terlihat sangat tenang.


"Apakah sudah ada tindakan dari kepolisian?" tanya nya.


"Belum,"


"Jihan bukan orang yang ingin keributan. Sebagai manusia, dia terlalu naif dan baik hati." Bayu tidak menanggapi. Dia hanya mendengarkan dengan baik.


"Chris tampaknya sangat ingin Adora pergi, Ini tidak seperti dia yang dulu menerima wanita manapun yang datang padanya. Bagaimana menurutmu?"


Bayu melirik ke kiri, dimana Adora baru saja lewat bersama bayinya. Setelah memastikan wanita itu tidak mendekat, Bayu baru menjawab.


"Itu dimulai sejak dia menikah lagi dan saya rasa_ itu adalah dirinya sekarang. Bukankah tidak menguntungkan anda juga meletakkannya disisi anda?"


Ibu Chris tersenyum. "Yah, terkadang aku berpikir begitu. Tapi aku ingin cucuku mendapatkan haknya sebagai anak."


Bayu memperhatikan ibu Chris dengan baik selama ini. Dia sangat mengenalnya bahkan lebih baik dari anaknya sendiri. Sehinga terkadang saat seperti ini Bayu akan dengan berani mengemukakan pikirannya secara pribadi.


"Apakah anda merindukan keadaan rumah saat nyonya Jihan dan Catrin ada disini?" tanya Bayu. Tapi dia tidak mendapatkan jawaban kecuali hanya pandangan lurus ibu Chris pada gelas tehnya. Wajah tuanya tampak lelah dan banyak pikiran. "Anda terbiasa memecahkan masalah dengan logika bisnis. Maafkan saya mengatakan ini, Nyonya. Tapi saya lebih suka keadaan yang lama. Anda terihat lebih manusiawi dan bahagia." ujar bayu.


Ibu Chris tersenyum kecil lagi setelah beberapa saat hanya berpikir. "Memurutmu begitu?" Dia mendongak dan menatap langsung pada mata Bayu. Menyadari bahwa tuannya terlihat tidak nyaman, Bayu segeraenunduk kecil dan mengucapkan permintaan maaf.


"Maafkan saya, Nyonya. Lain kali saya akan lebih berhati-hati." ujarnya.


"Tidak apa, terkadang aku perlu orang sepertimu." sahutnya lalu segera berdiri. "Biarkan beritanya bergulir. Soal hutang Jihan pada Alex, apa yang dilakukan Chris?"


"Sampai saat ini Tuan Chris hanya diam."


"Dia hanya menunggu waktu yang tepat, aku ingin lihat bagaimana dia berusaha membawa lagi wanitanya." kekeh ibu Chris, dia bahkan setengah tertawa.


Bayu mengerutkan keningnya sesaat, "Anda merencanakan ini hanya untuk mengetes mereka?" tanya Bayu.


"Apa maksudmu? Anakku tidak boleh memiliki wanita lemah disisinya. Kalaupun caraku salah, maka Chris akan membenarkannya dengan baik. Kamu lihat bukan? aku hanya melempar umpan dan Chris menangkapnya dengan baik." jawabnya, lalu melangkah pergi meninggalkan Bayu disana.


Bayu menghela napas, dia sudah mengerti bagaimana ini akan berakhir. Bagi keluarga ini segala hal adalah permainan dan bisnis. Kalaupun ada kasih sayang, itu hanya sebagian kecil yang tak terlihat. Pada dasarnya, mereka hanya melakukan apa yang ingin mereka lakukan tampa memikirkan perasaan orang lain. Tapi berbeda pada kasus Chris saat ini, Bayu bisa melihat Chris telah memiliki cinta dihatinya dan itu membuatnya sedikit manusiawi ditengah sikapnya yang dingin. Lalu, apakah akan ada perubahan dalam keluarga ini?


.


Jihan terkejut ketika ditengah malam rumahnya digedor sengan cara yang sangat brutal. Dia membuka pintu setelah mengintip siapa yang ada di depan rumahnya. Mendongak menatap Alex yang terlihat tidak seperti biasanya. Dia datang dengan banyak orang dan masuk begitu saja.


Alex duduk di ruang tamu, melirik orang tua Jihan yang terbangun dan berdiri di dekat Jihan duduk. Terlihat ketakutan dan kawatir.


"Ada apa? Kenapa kamu datang malam-malam?"


Alex tidak menjawab, dia memberikan beberapa berkas dan melempar pena ke atas meja. "Tanda tangan disana," ujarnya dengan nada memerintah yang dingin.


Jihan meraih beberapa berkas itu dan melihat apa isinya. Sejenak dia berpikir dengan keras, menggenggam berkas itu dengan emosi tertahan. Jihan menyadari bahwa keadaan tidak lagi sama sekarang.


"Bukankah kita memiliki kesepakatan?" tanyanya hati-hati.


"Kesepakatannya adalah apa yang keluar dari mulutku. Waktumu sudah habis. Aku bahkan sudah berbaik hati menukar seluruh asetmu dengan seluruh hutang yang tersisa. Kamu tidak perlu memikirkan hutang lagi, bukankah aku sangat baik?"


Jihan meraih pena dengan tangan yang bergetar. Antara takut dan marah. Alex membuatnya takut. Berbeda dari dia sebelumnya, kali ini dia terlihat seperti Chris ketika menghadapi orang yang tak disukainya. Tapi Alex bukanlah Chris, dia pasti akan dengan mudah menyakiti orang tuanya jika Jihan menolak, Jihan menandatangani surat pernyataan dan pengalihan kepemilikan aset miliknya dengan penuh keterpaksaan. Lalu meletakkan lagi di atas meja. Satu orang anak buahnya mengambil semua berkas dan menyimpannya.


"Aku memberi waktu sampai pagi ini." ujar Alex sembari bangun dari duduknya. Dia pergi dengan seringaian lebar dibibirnya.


Ketika memasuki mobilnya dia mengirim pesan pada Chris. Mengatakan bahwa pekerjaannya selesai. Mengusulkan Chris datang jika ingin menjadi pahlawan.


Ditempatnya, Chris sedang menikmati rokok ditangannya ketika pesan itu masuk. Dia berdiri di pinggir balkon kamarnya menikmati udara malam karena tidak bisa tidur. Hal yang selalu terjadi padanya sejak Jihan meninggalkannya.


Tampa membalas, Chris menyimpan ponselnya kembali pada kantong piyamanya. Dia menghabiskan rokoknya sebelum masuk ke dalam kamar. Sekedar berbaring menunggu kantuk yang sulit ia dapatkan.


Jihan meremat kuat kain kerudung yang menjuntai ke pangkuannya. Meneteskan air mata dengan segala hal yang terjadi. Namun dengan hati yang berusaha ia kuatkan, dia berdiri dan menatap kedua orang tuanya.


"Ayo berkemas, Ibu... Ayah. Jangan sampai mereka kembali dan kita masih disini." ujar Jihan.


Dia masuk kedalam kamarnya tampa memberi kesempatan sang ayah untuk meminta maaf. Dia tidak marah, Jihan hanya terlalu kecewa dan dia tidak ingin emosinya mengalahkan rasa hormatnya. Setelah sekian lama dia merintis usahanya dari kecil, Jihan akhirnya kehilangan semuanya karena sebuah kebodohan. Jihan tahu dia tidak pantas mengeluh. Semua yang terjadi, dia telah menyerahkan semuanya pada Tuhannya. Dia tidak akan terpuruk hanya karena kehilangan harta. Tapi hal itu berbeda ketika dia melihat orang tuanya yang mengalami guncangan kuat. Terutama sang ayah yang begitu mencintai uang.


Ditengah udara dingin, mereka bertiga berjalan menuju jalan raya. Sulit mendapatkan taksi karena nyaris dini hari. Dengan rasa letih dan perasaan yang berkecamuk, Jihan akhirnya menghubungi sahabatnya.


Meri tiba dengan wajah bangun tidur dan langsung berlari memeluknya. "Jangan kawatir, tinggal denganku dan kita mulai lagi."


Jihan tersenyum dengan wajah sendu. Berterima kasih atas kebaikan Meri selama ini. Begitu juga orang tua Jihan yang terus-terusan minta maaf padanya.


Ditempat lain, Chris yang belum tidur juga menerima pesan tentang kedatangan teman yang menjemput Jihan dari orang bayarannya.


Chris menatap lurus layar ponselnya. Menatap wajah tidur Jihan yang entah kapan ia ambil. Mengelus layar ponselnya dengan sorot mata penuh keinginan dan kerinduan yang amat besar.


.


Dua hari berlalu, Chris menghampiri Meri yang sedang berbelanja di supermarket yang berada didekat gedung apartermennya.


Meri tentu saja terkejut, sejujurnya dia tetap takut pada Chris meskipun pria itu tidak melakukan apapun padanya. Chris menemuinya begitu dia keluar dari pintu keluar. Arjun menuntunnya masuk ke dalam mobil dimana Chris sudah menunggunya.


"Ap-apa yang mau kamu sampaikan?" tanya Meri.


"Aku dengar Jihan bersamamu." kata Chris memulai.


"Ya, tapi orang tuanya baru saja pergi ke rumah paman Jihan. Mereka memilih tinggal disana dan bekerja pada pamannya."


"Begitu?" sahut Chris, dia bertingkah seolah baru tahu.


"Kalian sedang mencari pekerjaan?"


"Soal itu... Hari ini Raya akan membantu kami."


Chris memberikan alamat sebuah perusahaan, Raya membacanya dan mengernyit bingung.


"Datanglah kesana jika temanmu tidak berhasil membantu. Perusahaan itu sedang mencari karyawan baru. Latar belakang pendidikan kalian cukup bagus, itu tidak akan sulit. Aku sudah menghubungi pihak mereka untuk membantu kalian."


Meri menatap kertas kecil itu sambil berpikir. Setahunya, perusahaan ini bukan milik Chris. Meski begitu mengapa Chris ingin mereka kesana menjadi pertanyaan besar dikepalanya.


"Gaji disana cukup besar. Jika kalian ingin pertimbangan yang jauh lebih baik dari tawaran bekerja di pusat perbelanjaan."


"Saat ini dia mengira kamu bekerja sama dengan rentenir itu. Jadi aku pikir aku tidak akan bisa membujuknya kesana."


"Lalu, bukankah lebih baik keterlibatanku menjadi sebuah rahasia?"


Meri mengangkat kepalanya, menoleh dengan rasa ingin tahu yang kuat.


"Kamu ingin aku membantumu dekat lagi dengan Jihan?"


Chris menoleh, menatap Meri dengan datar. "Aku hanya membantu." jawaban yang membuat Meri tidak mengerti.


"Membantu? Tapi bukankah kamu yang menyebabkan keadaan Jihan seperti saat ini?"


Chris menarik senyum tipis yang membuat bulu kuduk siapapun merinding. Dia kembali melihat lurus kedepan. "Apa buktinya? Aku tidak pernah membuat mantan ayah mertuaku terlibat rentenir walaupun kami saling kenal. Itu hanya kebetulan akibat kecerobohan dan keserakahan ayah Jihan."


Meri menoleh ke kanan dimana pintu mobil terbuka untuknya. Arjun berdiri disamping pintu intuk memberi isyarat bahwa pembicaraan telah usai.


Meri keluar dengan banyak pertanyaan bersarang di kepalanya. Dia hanya menatap bingung mobil Chris yang berlalu dihadapannya, lalu beralih pada kertas ditangan kanannya.


Meri sampai apartemennya dan menemukan Jihan yang baru saja selesai berbicara dengan seseorang melalui telepon. Dia tampak kecewa namun tetap tersenyum ketika melihat Meri datang.


"Ada apa? Ekspresimu tidak enak begitu." tanya Meri, meletakkan barang belanjaannya begitu saja dan duduk di hadapan Jihan.


"Raya memberitahukan bahwa dia mendapat informasi dari bagian bagian HRD bahwa belum ada lowongan untuk saat ini. Kalaupun ada hanya SPG. Kamu tahu itu tidak mungkin untukku. Dia juga meminta ibunya membantu tapi ibunya juga mengalami masalah. Kita harus mencoba tempat lain." jawab Jihan.


Meri menghela napas dan diam sesaat. Larut dalam pikiran dan dugaan-dugaan pribadinya. Namun dia tidak ingin mengungkapkannya. Hal itu hanya akan menambah beban pikiran Jihan dan kemungkinan terburuk adalah penolakan.


Walaupun Meri tidak yakin apakah musibah yang menimpa Jihan dan keluarganya adalah ulah Chris. Mengingat pandangan Jihan yang tampa bukti dan tidak adanya pengakuan dari Chris. Meri tidak tahu apakah saat ini Chris membantu atau ingin balas dendam karena kemarahannya akan pilihan Jihan.


"Aku akan mencoba bertanya pada teman-teman kita yang bekerja di perusahaan atau mungkin restoran. Dari sekian banyak, mungkin saja ada satu yang punya informasi lowongan kerja." ujar Meri.


Begitulah awal Meri merencanakan apa yang diusulkan oleh Chris. Setelah makan siang, mereka datang ke perusahaan mengantar lamaran. Jihan bahkan takjub saat mereka langsung diwawancara. Mereka pulang dengan penuh harap, kecuali Meri karena dia sudah tahu mereka akan diterima di sana.


"Perusahaan ini cukup besar, semoga mereka memberi kesempatan." ujar Jihan. Mereka sedang berada di dalam taksi. "Aku harus membayar gajimu bulan terakhir dan semua karyawan juga." lanjutnya dengan suara pelan.


"Jangan pikirkan tentang gaji kami, anak-anak tidak masalah jika kamu tidak membayar. Itu hanya dua minggu kerja." sahut Meri.


"Dua minggu tetap bekerja namanya, dan aku akan berdosa jika mengabaikan hal itu."


Meri tersenyum, menepuk pundak Jihan sekali sebagai bentuk dukungan dan rasa bangganya. "Yes Mom, ayo pulang dan berdoa." ujarnya kemudian. Keduanya tertawa bersama. Dibalik rasa kawatir dan kesedihan. Mereka tetap bersyukur.


Jihan merasa sangat berterima kasih pada sahabatnya itu. Mereka sudah bersahabat sejak SMA dan sangat memahami satu sama lain. Bahkan, mereka sudah selayaknya saudara kandung dan melalui masa-masa sulit dan senang bersama.


Meri sendiri adalah yatim piyatu yang disekolahkan oleh panti asuhan tempatnya dibesarkan. Jihan adalah satu-satunya sahabat dekat yang dia miliki ketika SMA. Setelah lulus dan keluar dari panti, Meri terus kuliah sambil bekerja. Orang tua Jihan yang banyak membantunya ketika itu. Karena itu, Meri tidak akan membiarkan Jihan dalam kesulitan sendirian.