Wife Or Nanny?

Wife Or Nanny?
91



Jihan hanya menegang ditempat kala seseorang baru saja di tembak di hadapannya. Marcell menutup matanya dan menatap ayah angkatnya dengan ekspresi tidak suka.


"Maafkan aku, penghianat ini berusaha lari melewati tempat calon menantuku bersantai. Akhir-akhir ini kita punya banyak penghianat. Kamu pasti tahu penyebabnya bukan? Bisnis kita juga sedikit terganggu setelah tiga orang itu dihukum mati."


Ebel duduk di kursi yang biasa Jihan duduki. Dia juga meminum teh yang baru saja disajikan. Melirik kecil pada tangan Jihan yang gemetar. Lalu menatap Marcell yang masih menutup mata Jihan.


"Sebaiknya pindahkan dia. Rumah ini tidak aman jika kamu memikirkan mentalnya." nasehat Ebel, selanjutnya dia pergi dari sana. Meninggalkan Marcell dan semua orang yang kini sibuk mengangkat tubuh yang tergeletak di tanah.


Marcell membalikkan tubuh Jihan dan langsung menggendongnya. Membawa Jihan yang kini meneteskan air mata dalam diam, menuju kamar yang biasa ia tempati.


Marcell mengusap wajahnya. "Tenangkan dirimu, aku akan menemuimu setelah mengurus beberapa hal. Dalam waktu dekat, kita akan menikah dan akan pindah dari sini."


Jihan tidak menjawab, bahkan menatapnyapun tidak. Dia yang tadi dibaringkan di atas kasur, kini duduk setelah Marcell telah pergi. Menekuk kedua kakinya dan menenggelamkan wajahnya disana.


Ketakutan semakin merayapinya. Melihat orang dibunuh di depan matanya bukan sekaki dua kali Jihan saksikan selama berminggu-minggu disana. Banyak orang yang dibunuh di depannya dengan alasan berhianat. Jihan tahu, dia mendengar Marcell sedikit berdebat dengan ayah angkatnya tentang pihak musuh yang selalu di eksekusi di dalam rumah ini. Seolah disengaja oleh Ebel, agar Jihan melihat dan terbiasa dengan hal itu.


Jihan juga diliputi kekawatiran setiap saat. Dia tahu Marcell menyewa pembunuh untuk membunuh Chris. Mendengar perkataannya tadi, itu artinya Marcell memiliki rencana yang matang saat ini. Jihan takut, tapi dia tidak bisa melakukan apapun untuk membantu sementara keraguan terus membayanginya.


.


Sementara itu, Chris akhirnya mengundang wartawan dari berbagai media. Mengatakan akan menjawab pertanyaan khalayak selama ini tentang hilangnya sang istri yang telah dinyatakan meninggal.


Alex sudah mengatur sedemikian rupa untuk keamanannya. Begitu juga Arjun yang setia mendampinginya. Mata semua orang mengarah padanya ketika dia memasuki area pertemuan. Chris sengaja mengadakannya di ruangan terbuka.


Dia mulai menjelaskan tentang rumor gangguan mental yang dialamatkan kepadanya. Tentang tuduhan tidak masuk akal yang beredar di internet. Namun ketika dia mulai menyebut nama istrinya, satu tembakan menembus dadanya. Lalu tembakan berikutnya hampir mengenai kepalanya kalau saja dia tidak melempar tubuhnya ke samping. Jatuh ke lantai sambil memegang dadanya yang sudah bersimbah darah.


Peluru kedua yang melewatinya lurus kebelakang mengenai pengawalnya. Karena posisinya berdiri, peluru itu menembus perut sang pengwal.


Seketika keadaan menjadi tidak terkendali. Seluruh wartawan tiarap dan merayap ke tepi. Beberapa kameramen yang pemberani merekam kejadian itu sampai Chris dibawa pergi. Pengawal Chris segera mengejar si penembak yang langsung pergi setelah melepaskan dua tembankan ke udara sebagai ancaman.


Kabar bahwa Chris tertembak dan dilarikan kerumah sakit menjadi pemberitaan utama disetiap lini media massa. Seluruh media langsung meminta keterangan Arjun yang menjelaskan bahwa keadaan Chris sedang kritis.


Semua tampak panik, bahkan orang tua Jihan mendatangi rumah sakit. Begitupun seluruh keluarga besar dari Chris. Mereka bergantian datang. Arjun yang tahu tujuan mereka, tentu saja tidak membiarkan mereka masuk begitu saja. Dia membuat alasan dengan menjual nama dokter dan keadaan Chris yang koma.


"Bagaimana ini bisa terjadi? Apa mereka orang Marcell yang kita bahas sebelumnya?" Jordi menatap Alex dan Arjun bergantian.


"Apa maksudmu?"


Jordi menoleh ketika sang paman yang baru saja tiba mendengar perkataannya.


"Bukan apa-apa paman."


"Bukan apa-apa? Keponakanku kritis ditembak kamu bilang bukan apa-apa? Apa kamu tahu banyak pihak menuduh kami yang merencanakan ini untuk merebut kepemimpinan perusahaan? Rumor itu membuat namaku buruk!" pamannya tampak sangat berang, sehingga Jordi dengan enggan meminta Arjun untuk membantunya.


"Saya rasa rumor yang beredar bukan kesalahan siapapun. Anda bisa menampiknya jika ingin. Ini akan selesai..."


Perkataan Arjun terhenti ketika pintu ICU terbuka. Seorang dokter keluar dengan peluh dikeningnya menghampiri mereka.


"Keluarga tuan Chris?" tanyanya.


"Saya pamannya! Katakan apa yang terjadi!"


Alex yang sejak tadi bersandar di dinding, berjalan mendekti Arjun. Membisikkan sesuatu yang diberi anggukan oleh Arjun sebelum meninggalkan lokasi.


"Anda sebaiknya istirahat dirumah, Tuan. Saya akan mengbari Anda jika terjadi sesuatu pada Tuan Chris. Begitu juga dengan Anda tuan Jordi. Anda juga terlihat lelah." ujar Arjun pada keduanya.


Jordi menatapnya dengan curiga. Namun dia tidak berkomentar apapun dan menuruti perkataannya. Begitu juga paman Chris yang eksoresinya sangat tenang. Alih-alih cemas setelah mendengar penjelasan dokter tadi, dia terlihat lega dan ada kilat kepuasan dimatanya.


.


Sehari setelah Chris dirawat di ICU. Arjun membuat keputusan di dalam perusahaan yang menyiratkan bahwa Chris sudah meninggal. Namun ketika kelurga dan para kolega menayainya. Dia tidak menjawabnya.


Ketika para wartawan dan pihak paman Chris mendatangi rumah sakit. Mereka memberi keterangan bahwa Chris dibawa pulang oleh Arjun. Hal itu membuat Arjun dikejar untuk dimintai keterangan. Namun, Arjun ikut sulit dihubungi kecuali ketika jam kerja dan dia akan menjadikan pekerjaan sebagai alasan untuk mengabaikan semua orang.


Spekulasi berkembang selama dua hari setelah Chris dikabarkan dibawa dari rumah sakit. Meski tidak ada keterangan dari dokter dan dari pihak keluarga. Semua orang beranggapan Chris sudah meninggal. Tidak diumumkannya kematiannya karena melindungi kursi kepemimpinan tertinggi grup MC yang kini jadi abu-abu. Seolah menahan siapapun untuk menempatinya karena kematian Chris tidak dikonfirmasi.


.


Jihan menatap layar televisi yang menanyangkan channel berita dari stasiun televisi Indonesia. Marcell sengaja menunjukkannya agar Jihan bisa melihat, bahwa Chris sudah mati.


"Aku sudah mengatakannya padamu. Kita akan kenikah setelag dia mati, kan? Nah, dalam dua hari. Bersiaplah dengan pernikahan kita, Jihan." katanya dengan wajah penuh kemenangan.


Sejak dia mendapat konfirmasi dari pembunuh yang ia sewa tentang kematian Chris, dia sangat senang dan langsung menghubungi pihak Wedding organizer yang telah ia hubungi jauh-jauh hari. Persiapan akan selesai dalam dua hari. Karena itu dia memberi tahu Jihan sekarang.


"Jangan mencoba kabur, kamu tahu negara ini adalah wilayah kami. Kamu tidak akan bisa kemanapun bahkan hanya selangkah," bisiknya sebelum meninggalkan Jihan lagi di dalam kamarnya.


"Tidak, dia tidak mungkin meninggal. Chris, kamu akan menjemputku, kan? Seperti yang dikatakan mata-matamu? Jangan bohong padaku!" Dia meneriakkan kalimat terakhir.


Jihan menjambak rambutnya dan menggeleng dengan brutal sebelum melompat turun dari kasur. Dia mencoba berlari keluar kamarnya. Namun anak buah Marcell yang bertugas di depan kamar segera menangkapnya. Menyeretnya untuk kembali dengan susah payah. Dia tidak bisa melakukan kekerasan dan memaksa dengan kasar karena Marcell akan membunuhnya jika Jihan terluka.


Jihan meronta-ronta. Untuk pertama kalinya dia berteriak-teriak dan berada di luar kendali selama berada disana. Jihan yang biasanya tenang, kini seperti kehilangan arah dan pijakan. Dia menangis dan memberontak. Bahkan kukunya yang mulai memanjang mencakar tangan yang mencoba menariknya.


"Berikan ia obat tidur." perintah Marcell yang kembali setelah mendengar teriakannya.


Dia mengambil alih tubuh Jihan yang masih memberontak. Mengunci pergerakannya dengan paksa. Setelah beberapa menit, obat tidur disuntikkan ke dalam pembuluh darahnya. Membuat Jihan tertidur dengan cepat.


"Aku tidak mengerti apa yang kamu lihat dari wanita ini." ujar ayah angkat Marcell yang juga menyaksikan bagaimana Marcell menangani Jihan.


"Anda sudah tahu tujuan saya. Jadi kenapa Anda heran?" balasnya.


"Dasar anak gila." ejek ayahnya, terkekeh pelan setelah mengatakan hal itu.


"Ya, saya memang gila karena dia. Terima kasih telah mengerti selama ini." jawab Marcell acuh.


Sama sekali tidak tersinggung, dia terlihat sangat santai dan tenang sebelum masuk kembali ke kamar Jihan. Membaringkan Jihan yang tertidur dengan lembut di atas kasur. Mengusap peluh di kening Jihan sebelum menarik selimut untuknya.


"Dia sudah mati, kamu akhirnya menjadi milikku."


Marcell tersenyum, sorot penuh puja dimatanya terlihat lebih menakutkan dari sebelumnya. Sebuah hasrat besar untuk memiliki Jihan seutuhnya. Pria yang gila karena obsesinya. Tidak menyadari bahwa kegilaan bisa membunuh seseorang.