
Saat harimau mengetahui betina yang sudah ditandainya di dekati jantan lain, sudah pasti dia akan menunjukkan kekuasannya bukan?
Seminggu ini, Chris memberi jihan banyak tugas. Bahkan dia harus lembur setiap hari sampai malam. Arjun akan pulang tepat waktu dengan alasan istrinya masih sakit.
Setiap hari juga, selama seminggu ini, Jihan menerima kiriman-kiriman kecil dari Marcell. Bunga mawar dengan cemilan mahal. Bunga lili dengan coklat dan barang sejenisnya yang terus ditemukan di atas mejanya setiap pagi.
"Perbaiki lagi, ini belum sempurna. Masih ada kesalahan pada perhitungannya." suruh Chris, melempar berkas yang ditunjukkan Jihan padanya.
Jihan mengambilnya lagi, lalu keluar dengan wajah cemberut. "Ini sudah ke empat kalinya! Biasanya Arjun mengerjakannya dengan cara yang sama. Kenapa kali ini dia tidak puas-puas!" gerutu Jihan sambil mengulang lagi pekerjaannya.
Dia melirik jam di komputer, sudah jam delapan lewat dua puluh menit. Dia lapar dan tadi tidak sempat membeli cemilan. Makanan yang dikirim oleh Marcell jug telah habis.
Ponselnya berdering, nama Marcell tertera disana. Bertepatan dengan itu, Chris keluar. Dengan ragu dian mengangkatnya meski dihadiahi tatapan super tajam oleh Chris. Dengan sengaja, Chris yang tadinya ingin mengajaknya makan malam berdiri disampingnya dengan bersandar pada meja kerjanya.
"Aku... Masih di kantor."
Jihan terlihat gugup dan tidak nyaman. Dia hendak bangun untuk berbicara di tempat lain, tapi Chris menghalanginya.
"Aku tidak bisa, masih ada pekerjaan. Maaf Marcell, akan aku tutup. Terima kasih atas tawarannya." ujar Jihan. Buru-buru memutus sambungan telepon. Lalu menatap Chris dengan datar. "Ada yang perlu saya kerjakan lagi, Presdir?" tanyanya.
"Kalian semakin dekat?" tanya Chris.
"Saya rasa itu bukan urusan anda. Jika tidak ada lagi saya akan melanjutkan pekerjaan yang anda minta."
Jihan sudah akan duduk, namun tangannya segera ditarik pergi oleh Chris. "Presdir, tolong lepaskan. Anda mau apa?"
"Aku lapar." jawab Chris, lalu melepaskan tangan Jihan ketika mereka sudah di depan lift. "Biasanya Arjun yang menemaniku makan, tapi karena dia tidak ada kamu harus menggantikannya." lanjutnya dengan wajah tampa dosa.
Jihan dan Chris sampai di sebuah restoran yang tidak jauh dari gedung kantor. Memesan menu ringan namun mengenyangkan. Sepanjang waktu itu, Chris tidak bicara sama sekali. Dia hanya fokus pada makanannya. Suasana hatinya lebih buruk setelah mendengar baigaimana cara Jihan berbicara dengan pria lain. Meskipun dia tahu Marcell hanya ingin memanfaatkan Jihan. Tetap saja dia tidak bisa menghilangkan kecemburuannya.
"Aku akan mengantarmu pulang setelah ini. Lanjutkan pekerjaanmu besok pagi." kata Chris, kembali diam dan memainkan ponselnya.
"Tapi tas saya masih dikantor."
"Seseorang sudah meletakkannya di dalam mobilku." jawab Chris.
Chris merasakan tubuhnya semakin tidak baik. Matanya mulai tidak fokus. Dia juga merasa kepalanya mulai berat. Namun dia memilih abai dan tetap berkutat dengan ponselnya sambil menunggu Jihan selesai.
"Saya selesai."
Chris melirik piring Jihan, lalu memanggil pelayan untuk meminta tagihan. Setelah membayar dia pergi begitu saja. Jihan hanya menghela napas pasrah melihat kelakuannya.
Sepanjang jalan, Chris juga tidak mengatakan apapun. Kepalanya terasa semakin berat dan napasnya mulai mengeluarkan suhu panas. Dia tahu Jihan terlihat bingung akan sikapnya, namun Chris tidak ingin menunjukkan kalau dia sedang tidak baik-baik saja. Dia tidak suka terlihat lemah, apalagi di depan Jihan.
Sesampainya di depan rumah Jihan, mereka melihat Meri sedang berbicara dengan seorang pria. Ketika keduanya menoleh, barulah mereka tahu siapa pria itu.
"Sepertinya dia menunggumu." kata Chris tampa emosi.
"Terima kasih telah mengantar, selamat malam." kata Jihan, dengan ragu dia menoleh pada Chris.
Seakan ingin menanyakan sesuatu, namun dia terlihat ragu-ragu. Chris hanya menatap lurus kearah Haris, pria yang kini menunggu pintu mobil terbuka.
Jihan keluar dan segera menemui keduanya. Tampak berbicara dengan keduanya. Chris masih disana, dengan mesin mobil yang masih menyala, dia menatap ketiga orang disana dengan dingin. Dia bisa mendengar suara keras Haris yang membawa-bawa namanya. Memberi penjelasan pada Jihan bahwa Chris membuatnya kehilangan posisinya dirumah sakit dan menyuruh Jihan untuk menjauhinya. Tampaknya dia marah ketika tahu bahwa Jihan bekerja pada Chris. Dia belum menyadari bahwa Chris ada disana. Jihan bahkan tampak gugup dengan berkali-kali berusaha menghentikan pembicaraan dan melirik kearah mobil.
Chris membuka pintu mobilnya. Memilih keluar ketika pikirannya berubah. Dalam keadaan ini, Chris memilih menunjukkan kelemahannya untuk melihat pilihan Jihan.
"Kamu?" bentak Haris, lalu menatap Jihan dengan kening mengerut penuh emosi.
"Jihan! Aku sudah bilang dia berbahaya! Dia bahkan membuat rumah sakit nyaris bangkrut. Membuat ayahmu terlibat dengan rentenir, bagaimana kamu bisa diantar pulang olehnya!" bentak Haris.
"Kamu tidak akan masuk?" tanya Chris pada Jihan, mengabaikan Haris yang menatapnya tajam. "Besok kamu harus melanjutkan pekerjaanmu." lanjutnya.
"Saya akan masuk, Presdir. Anda bisa pulang."
"Aku akan pulang setelah melihat asistenku beristirahat dengan benar." jawab Chris datar.
Jihan terlihat sangat frustasi. Akhirnya dia hanya memilih mematuhi Chris. Tidak ingin masalah semakin runyam karena Chris bukan orang yang mudah.
"Jihan, aku belum selesai bicara. Masih ada yang ingin aku sampaikan." cegah Haris. Menarik pergelangan tangan Jihan, persis seperti dugaan Chris.
Wajah Chris yang datar berubah menjadi lebih gelap. Meri bahkan sudah ketakutan melihat reaksinya. Chris mengulurkan tangannya dan mencengkram pergelangan tangan Haris dengan kuat.
"Lepaskan." katanya pelan.
"Jangan ikut campur, sebaiknya pulang dan perhatikan dirimu sendiri." balas Haris ketika merasakan tangan Chris yang panas.
Jihan menarik tangannya lepas dan hendak menarik Chris agar mereka saling menjauh. Namun ketika dia menyentuh kulit tangan Chris, saat itulah matanya membola karena terkejut.
"Presdir, anda demam?" tanya Jihan dengan panik.
Dia segera menarik Chris masuk ke dalam mobil. Mengambil alih kemudi dan memacu mobil itu pergi dari sana. Mengabaikan Haris yang memanggilnya. Ketika Jihan sibuk dengan kepaniknnya, Chris menyeringai dengan perasaan sangat senang.
"Saya akan mengantar anda kerumah sakit." kata Jihan.
"Rumah? Baiklah, saya akan memanggil dokter anda setelah itu."
"Jihan," panggil Chris.
"Rumah anda cukup memakan waktu dari sini, sebaiknya anda istirahat."
"Hotel di seberang gedung perusahaan."
"Kenapa dengan hotel itu?" tanya Jihan tidak mengerti.
"Aku tinggal disana."
Jihan memelankan laju mobil ketika dia menatap Chris sejenak. Dia memang belum tahu kalau sejak lama Chris keluar dari rumahnya.
"Hotel?"
"Ya, antar aku kesana."
Setibanya disana, Jihan menghubungi dokter keluarga Chris yang nomornya masih tersimpan di ponselnya. Dengan cekatan dia melepas sepatu Chris dan melepas jasnya. Membantu Chris berbaring dan menyelimutinya. Jihan juga menaikkan suhu AC. Lalu dia memeriksa lemari Chris dan mengambil handuk wajahnya. Mengambil mangkuk yang sudah ia pesan pada petugas hotel ketika baru sampai.
"Sejak kapan anda tinggal disini? Kamar ini sudah seperti rumah pribadi anda." tanya Jihan pelan sambil meletakkan kompres demam.
"Sejak kamu pergi dan wanita itu masuk kerumahku." jawab Chris, matanya tertutup, tapi dia tahu Jihan menatapnya saat ini.
"Anda bisa membeli rumah lain atau sebuah apartemen. Kenapa memilih hotel?"
"Ini hotel milikku juga."
Jihan bertanya-tanya dalam hati seberapa banyak hotel dan gedung lain yang dimiliki oleh MC group. Tapi jika Chris mengatakan miliknya, jihan jadi ingat tentang pertemuan mereka dulu direstoran hotel milik Chris. Saat itu Arjun mengatakan hotel itu milik Chris secara pribadi. Apa hotel ini juga?
"Hotel pribadi anda lagi?" Akhirnya Jihan menanyakannya juga.
"Hmm..." Chris hanya bergumam, kepalanya terasa semakin sakit.
"Anda ingin minum air putih atau sesuatu?"
Chris membuka matanya, menatap Jihan dengan sorot lemah. Pintu kamarnya terbuka, seorang dokter dan seorang perawat masuk. Jihan mengenalnya, dokter itu meminta izin pada mereka sebelum memeriksa keadaan Chris.
Jihan memilih duduk di kursi. Memperhatikan Chris yang sedang diperiksa dan disuntikkan obat yang tidak ia ketahui.
"Demam anda akan segera turun. Sebaiknya anda istirahat. Obat anda akan diantarkan segera."
"Aku tahu," jawab Chris.
"Saya tidak yakin jika Tuan sendirian. Apa saya harus menelepon ibu anda?"
"Jangan pernah lakukan itu, aku bisa sendiri. Kalian pergilah." perintah Chris.
"Kalau begitu saya permisi, Tuan."
Setelah kepergian dokter dan perawat. Jihan melihat jam di dinding yang menunjukkan pukul sepuluh malam. Dia dengan ragu berdiri, namun rasa kawatir membuat langkahnya menjadi berat.
"Pulanglah, bawa saja mobilku." kata Chris, dia setengah mengantuk. Tampaknya obat mulai bereaksi padanya.
Jihan meliriknya, berjalan kesisi kasur dan memperhatikan wajah dan leher Chris yang mulai berkeringat. Dia meletakkan tasnya kembali dan mengambil tisu di atas meja. Mulai mengelap keringat itu dengan lembut.
"Kamu tidak akan pulang?"
"Saya akan pulang ketika anda sudah tidur." jawab Jihan.
"Maafkan aku." Entah kenapa Chris merasa perlu minta maaf. Bukan karena membuat Jihan mengurusnya yang sedang sakit, tapi maaf karena hal lain. Matanya nyaris tertutup. Tampa sadar, dia mengatakan isi hatinya. "Aku mencintaimu, Aku ingin kamu, Jihan."
Setelah itu, dia hanya mengucapkan nama Jihan seperti sebuah igauan sebelum tertidur karena obatnya yang telah bekerja.
Jihan yang tadinya mengelap keringat Chris, sejak ungkapan itu hanya terdiam kaku di tempat duduknya dengan jantung berdegup kencang. Cukup lama terdiam hingga tampa sadar air matanya jatuh begitu saja. Jihan bangkit berdiri dan berjalan menjauh. Duduk di sofa tamu dan menutup matanya dengan kedua tangannya.
"Dia hanya mengigau, itu karena pengaruh obat." bisiknya pada diri sendiri.
Jihan tidak ingin terpengaruh, Jihan mengucapkan berulang kali bahwa Chris jahat dan hanya ingin balas dendam padanya. Dia berusaha menutup hatinya, namun seberapapun dia menanamkan kebencian dengan segala kelakuan dan kelicikan yang dilakukan Chris, hati kecilnya tidak bisa menampik kalau dia mencintainya.
Malam semakin larut, Jihan memilih menunggui Chris disana. Dia masuk ke dalam kamar mandi dan mengambil air wudhu karena belum melakukan solat isya. Setelah solat, Jihan berbaring di sofa panjang dan terlelap setelah pikiran panjang terus berputar dikepalanya.
Ketika Chris terbangun dini hari karena tenggorokannya yang kering. Dia menatap Jihan yang terlelap di sofa. Tampak tidak nyaman sama sekali.
Akhirnya, dalam waktu yang lama dia hanya duduk disana dan menatap wajah tidur Jihan dalam diam.
"Aku tidak tahu aku bisa sabar sampai detik ini. Apa aku harus sabar sedikit lagi?" katanya pelan.
Chris bangkit dan berjalan kelemari. Mengambil bantal dan selimut baru untuk Jihan. Lalu dia mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada Arjun.
Tubuhnya semakin terasa lemah meski demamnya telah turun. Chris tahu dia hanya perlu tidur lebih banyak untuk memulihkan dirinya.