Wife Or Nanny?

Wife Or Nanny?
30



Ibu Chris diliputi kemarahan. Bukan hanya pada anaknya melainkan seluruh keluarga besarnya. Kejadian saat konfrensi pers membuat nama Chris menjadi lebih buruk. Netizen yang melihat pemberitaan banyak yang menyerukan untuk memboikot produk dari perusahaan mereka.


Posisi Chris sebagai presiden direktur terancam karena sang paman yang mengambil kesempatan. Sementara Jihan masih tinggal di rumah Meri sejak kejadian itu. Dia bahkan tidak keluar rumah karena wartawan selalu menunggunya di depan tokonya.


Keadaan rumah Chris terasa sangat panas. Catrin sering menangis mencari ibunya dan berakhir tertidur bersama pengasuhnya. Tiga hari ini Chris dihadapkan pada banyak masalah yang disebabkan paman dan sepupunya. Mereka sengaja memanasi netizen dengan menyuruh orang untuk membuat pemberitaaan semakin gaduh. Pamannya juga diam-diam menemui pemegang saham lainnya untuk mempengaruhi kesetiaan mereka.


"Tidak ada cara lain, Chris. Temui Jihan dan bujuk dia. Lakukan apapun agar perusahaan yang sudah dibangun kakek dan ayahmu tidak sia-sia!" kat ibunya dengan tegas, mereka sedang ada di ruang kerja Chris.


"Saya rasa itu ide yang tepat Tuan. Anda hanya harus jujur dan memberitahu fakta yang sebenarnya." ujar Arjun ikut meyakinkan.


"Fakta apa? Bahwa benar aku menyebabkan wanita itu menjadi gila? Atau fakta bahwa aku memang memperlakukannya seperti sampah? Fakta yang mana? Nyatanya itu memang benar."


"Tapi anda tidak pernah melakukan tindakan kriminal, tuduhan pemukulan..."


"Tidak ada bedanya, faktanya aku memang membenci wanita itu. Bahkan saat dia sudah menjadi gila, aku tetap membencinya."


Ibu Chris tertunduk, dia tampak merasa bersalah. Arjun menggosok tengkuknya dengan canggung. Bagaimanapun yang dikatakan Chris ada benarnya.


"Meskipun aku membujuknya, tidak akan berpengaruh besar pada keputusan pemegang saham. Harga saham kita jatuh begitu parah. Satu-satunya cara hanya membongkar kebohongan wanita itu. Tapi kita tidak memiliki bukti apapun."


"Kebohongan apa?" bingung ibunya.


"Mom, aku tidak pernah memukulnya. Rekaman itu diambil oleh dia dengan sengaja bersama seseorang. Dan hal itu didapatkan oleh Jouji."


"Setidaknya jika orang-orang tahu dia melukai dirinya sendiri, penilaian pada Tuan akan sedikit membaik."


"Kalau begitu cari buktinya." seru ibunya dengan nada tidak sabar.


.


Jihan baru saja akan memasuki gedung pengadilan agama ketika Meri menariknya bersembunyi. Ternyata ada beberapa wartawan yang sedang berkeliaran disana.


"Kamu yakin ini yang terbaik? Mereka mungkin akan mengejarmu untuk meminta penjelasan, jika wartawan mencium kabar perceraian, ini akan semakin buruk. Orang tuamu akan tahu kamu bohong tentang keadaanmu." kata Meri.


"Ayo pergi dulu, kita kesini setelah tidak ada wartawan, oke?" bujuk Meri saat Jihan hanya diam dengan ekspresi ragu.


Mereka akhirnya pergi ke kafe tempat Meri dulu bekerja. Setelah bekerja dengan Jihan, Meri hanya sesekali kesana sebagai pelanggan setia.


"Nyonya?"


Keduanya menoleh, Arjun berdiri tepat di samping mejanya. Reflek Jihan mengedarkan pandangannya. Menyadari hal itu, Arjun berdehem kecil.


"Tuan hanya menyuruh saya masuk membeli kopi. Dia menunggu di dalam mobil saat ini." kata Arjun. "Tuan mengalami hal sulit Nyonya, pukul 10 pagi ini, akan ada rapat pemegang saham. Posisi tuan terancam karena gosip yang beredar."


"Itu bukan urusanku lagi." sambar Jihan dengan dingin.


"Saya mengerti, hanya mungkin anda ingin membantu. Boleh saya duduk sebentar sambil menunggu pesanan?" Karena Jihan tidak menjawab, Arjun akhirnya memilih menarik bangku di samping Meri.


"Saya sudah bekerja dengan Tuan sebelum dia menikah dengan Nana. Selama yang saya tahu, Tuan tidak pernah main tangan Nyonya. Anda bisa tidak percaya tapi itu faktanya. Nana bukanlah wanita polos seperti yang dikatakan Jouji. Saya harap anda mau menolong Tuan, setidaknya demi Catrin. Rapat pagi ini... Tuan akan diserang dari berbagai pihak. Jika Anda ingin menolong... datanglah pada rapat dan yakinkan para pemegang saham bahwa anda mempercayai tuan."


Jihan manatap Arjun dengan sinis. Arjun menarik senyum simpul dengan tenang. Dia ingin bisa meyakinkan Jihan. Karena kesempatan ini tidak akan datang dua kali untuknya.


"Katakan padaku alasan apa yang membutku harus menolongnya?"


"Anda..."


"Jangan jadikan Catrin sebagai alasan, itu tidak akan membuat keputusanku berubah!" potong Jihan.


"Pesanan anda Tuan." panggil kasir pada Arjun.


Arjun mengangguk dan mengangkat tangannya sebagai isyarat untuk menunggu.


"Saya tidak tahu apa yang bisa saya jadikan alasan. Tapi... jika tuan Chris lengser, bukan hanya Tuan yang akan hancur, seluruh orang yang setia pada Tuan akan ditendang. Selain itu, perusahaan akan bangkrut dengan cepat ditangan paman Tuan yang sama sekali tidak memiliki kemampuan. Belum lagi anak-anaknya yang suka korupsi. Nyonya, ribuan kariawan bisa terancam. Bukankah anda pernah bertemu keluarga Tuan? Saya yakin anda sangat tahu orang tamak seperti apa mereka. Tuan adalah penerus yang dipercaya setelah ayahnya oleh pendiri perusahaan, kakek Tuan Chris tidak pernah mempercayai anak kedua dan ketiganya sejak lama."


Jihan diam saja. Meri memegang tangannya untuk memberikan dukungan.


"Saya harap anda memikirkannya Nyonya. Kalau begitu saya permisi." ujar Arjun.


.


Arjun menyerahkan kopi panas ditangannya pada Chris, setelah itu dia memutari mobil dan masuk melui pintu lain untuk duduk di bangku kemudi.


"Menurutmu dia akan datang?" tanya Chris.


"Untuk saat ini Nyonya adalah harapan terbaik kita, Tuan." jawab Arjun.


Keduanya bertukar pandang melalui kaca spion. Chris mengangguk dan menoleh kearah kafe. Dia bisa melihat istrinya masih duduk di dalam sana bersama temannya. Lagi-lagi jantungnya berdetak anomali. Ada desiran aneh yang membuat hatinya ingin berlari kedalam sana. Namun otaknya memerintahkan untuk segera pergi.


"Jalan." ujarnya singkat.


Arjun menyalakan mobil dan mereka akhirnya meninggalkan area itu.


Jadi, bagaimana Arjun bisa kebetulan bertemu Jihan disana bukanlah suatu kebetulan. Bahkan arah kafe itu berbeda dari kantor Chris.


Pertemuan mereka sudah direncanakan oleh Arjun bersama Meri. Meri mau membantu pihak Chris setelah Arjun menemuinya. Menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya dan membujuk sahabat Jihan itu untuk mengatur tempat pertemuan. Bahkan wartawan di depan gedung pengadilan adalah orang bayaran Chris. Dia tidak akan membiarkan Jihan membuat gugatan begitu saja.


Lalu, bagaimana Meri bisa setuju? Tentu saja karena fakta yang beritahukan oleh Arjun. Pria itu sangat lihai berbicara. Sehingga Meri mempercayainya dan yakin bahwa Jihan harus mempertahankan orang yang dicintainya.


.


Jihan berkali-kali melirik jam ditangannya. Dia menggigit bibirnya dengan gusar. Beberapa pengunjung yang mengenalinya melihatnya berkali-kali. Lalu, salah satu dari mereka menghampirinya dengan berani. Seorang gadis muda berdiri di samping mejanya, menatapnya dengan wajah galak.


"Kamu wanita yang digosipkan dengan kak Jouji, kan? Kamu sudah istri orang tapi tidak malu dekat dengan pria lain!" katanya dengan lantang.


"Aku tidak dekat." jawab Jihan sekenanya, dia juga seperti kebingungan di serang seperti itu.


"Ayo pergi, Ji." Ajak Meri yang mulai kawatir.


"Mau kemana! Takut ya?" seru yang lain, namun dia masih duduk di kursinya.


"Kamu menyebabkan skandal buat kak Jouji, tahu tidak! Harusnya kamu menjauhinya kalau sudah punya suami! Mana ada wanita bersuami berteman dengan pria lain!" serunya lagi.


"Hei! Jangan asal tuduh! Idola kamu sendiri yang ngaku-ngaku. Mbak itu tidak pernah tuh, mengakui dekat. Dilihat dari bukti yang ada, jelas-jelas idola kamu yang genit duluan ke istri orang!" sahut yang lain, sepertinya dia seorang pembenci atau bukan penggemar Jouji.


Oke, ini sama sekali tidak baik.Meri menarik tangan Jihan untuk segera berdiri. Namun gadis muda tadi langsung menghalangi jalan mereka bersama dua rekan lainnya. Tampaknya dia adalah fans fanatik dari Jouji. Beberapa orang juga mengambil gambar dan Vidio mereka.


"Katakan! Kamu akan menjauhi kak Jouji kami!" seru gadis tadi.


Jihan menghela napas. Dia berusaha tenang dan mengatur emosinya. "Dengar, aku tidak berteman dengan Jouji. Kami hanya sering kebetulan berada pada lokasi yang sama sehingga terlibat beberapa percakapan. Kedua..." Jihan melirik ponsel yang semakin banyak mengarah padanya. "Aku tidak akan menghianati suamiku apapun penyebabnya. Jadi aku dan Jouji tidak memiliki hubungan sedekat yang digosipkan. Aku... memiliki suami yang baik padaku, jadi tidak ada alasan untuk dekat dengan pria lain."


Setelah mengatakan hal itu, Jihan segera menarik Meri pergi dari sana. Mereka segera berlari menuju mobilnya dan meninggalkan lokasi itu.


"Lima belas menit lagi sebelum jam 10. Kamu akan kesana atau tidak?" tanya Meri, melirik sedikit sambil mengemudikan mobil Jihan.


"Apa aku harus membantunya?" tanya Jihan tampak ragu.


"Tapi bukankah orang-orang juga tidak menyukaiku? Mungkin gosipku dengan Jouji malah menambah masalah."


"Kamu tidak melihat sosial media lagi ya? Lihatlah baik-baik Ji... Netizen banyak yang mendikungmu. Karir Jouji bahkan hampir tamat sekarang."


"Huh? Apa maksudmu?"


Meri menghela napas, mereka berhenti di lampu merah sehingga ia bisa menatap Jihan.


"Gosip yang beredar adalah Jouji merusak hubunganmu dan Chris. Namun kubu terpecah jadi dua. Netizen memang ajaib sekali. Aku mengagumi hayalan tingkat tinggi mereka."


"Ck, katakan dengan jelas!" kesal Jihan. Lampu kembali hijau. Meri menginjak gas sehingga ada jeda dalam obrolan mereka.


"Sebagian orang menyetujui kamu berpisah dengan Chris, sebagian lagi mengutukmu karena dekat dengan Jouji. Yah, sebagian kecil itu hanyalah fans fanatik Jouji. Tapi yang lebih dewasa, aku pikir mereka mendukung kalian. Lucu bukan?" ujar Meri setengah geli.


Jihan tidak menjawab. Dia memandang jalanan dengan tatapan kosong. Meri meliriknya sesaat.


"Kamu tidak benar-benar dekat dengan aktor itu, kan?" Mendengar pertanyaan itu, Jihan menoleh dengan cepat.


"Mana mungkin! Dialah yang selalu mendatangiku, karena itu kami sering bertemu akhir-akhir ini. Dia terus bertindak seperti teman, tapi aku benar-benar tidak menganggapnya begitu."


"Itu bagus, jauhi dia, aku punya firasat tidak baik tentang dia."


Jihan mengernyit heran. "Kamu bicara apa? Kamu tahu sesuatu yang aku tidak tahu, ya?"


"Tidak!" jawab Meri cepat.


"Jouji sejauh ini sangat baik. Aku lihat dia membenci Chris karena Nana, sahabatnya. Mereka punya kisah masa lalu yang tidak baik. Apalagi dengan sifat Chris, aku sangat yakin Nana sangat menderita saat itu."


Mereka masuk ke dalam kawasan gedung megah yang sangat dikenali oleh Jihan. Ketika menyadari mereka ada dimana, dia menatap Meri dengan marah.


"Kenapa kita kesini?" tanya Jihan dengan nada marah.


Meri membalas tatapan Jihan sebelum meraih kedua tangan sahabatnya itu. Memberikan pandangan membujuk.


"Karena kamu ingin menolong suamimu, benar?"


"Siapa bilang! Ayo pergi dari sini." Jihan menarik tangannya dan membuang pandangannya keluar.


Meri menarik napas dalam-dalam. Bagaimanapun dia sangat tahu isi hati sahabatnya ini.


"Ji... kamu akan menyesal jika tidak melakukannya. Bagaimanapun kamu membenci Chris saat ini, kamu tidak bisa mengabaikan nasib orang banyak. Karyawannya yang bergantung pada perusahaan... Kamu harus membantunya agar perusahaan kembali stabil, juga tidak hancur seperti yang dikatakan asistennya itu."


"Siapa yang tahu, dia asisten Chris bisa saja dia berbohong!" jawab Jihan keras kepala.


"Lihatlah berita, ya ampun ji... saham perusahaan ini jatuh. Nama Chris menjadi sangat buruk dan kamu satu-satunya harapan. Kamu bisa membalas sakit hatimu nanti. Kamu bisa melakukan gugatan cerai, tapi tidak sekarang oke? Tunggu sampai keadaan membaik." Jihan tampak berpikir. Dia menunduk menatap kedua lututnya. "Mereka sudah mulai 15 menit yang lalu." tambah Meri.


Sementara itu, ditempat lain. Di dalam ruang rapat, Chris sedang tersudut. Bagaimanapun dia tidak bisa mengelak atas apa yang terjadi. Efek masalah pribadinya berdampak sangat besar pada perusahaan. Selain itu, banyaknya kasus yang terjadi, kerugian yang bertubi-tubi akibat anggota keluarganya sendiri membuat kreadibilitasnya diragukan.


"Kalian sudah tahu apa yang dilakukan sepupuku, korupsi dan membuat rugi perusahaan. Bagaimana bisa kalian ingin menggantikan posisiku dengan ayah pelaku?" sinis Chris.


Semua pemegang saham bertukar pandang, sebagian ada yang setuju sebagian lain ada yang tidak.


"Anak bisa saja salah, tapi dia adalah adik dari ayahmu. Dia jauh lebih berpengalaman!" ujar salah satu diantara mereka.


"Selain itu tidak ada kandidat lain, untuk saat ini itu adalah pilihan terbaik. Namamu sangat buruk dan merusak reputasi perusahaan." ujar yang lain lagi.


Chris menggertakkan giginya. Dia sudah gerah karena terus disudutkan oleh hal yang sama. Dia tidak punya pilihan kali ini. Tidak ada harapan ketika tidak ada satupun yang mendukungnya lagi. Dia menatap pamannya dengan tajam. Pamannya menyeringai padanya, jelas sedang mengejek keadaannya.


"Chris, Selama ini aku dan beberapa dari kami yang lain selalu percaya pada kemampuanmu. Bagaimanapun kamulah yang membuat perusahaan ini menjadi besar. Hanya saja saat ini kita perlu melakukan ini sebagai peralihan sementara. Apalagi aku dengar istrimu sudah pergi darimu. Kamu akan butuh waktu memulihakan namamu kembali. Karena itu, ini pilihan terbaik saat ini." ujar salah seoorang yang usianya seumuran dengan pamannya. Dia adalah teman dari ayahnya. Sehingga dia sangat menghargai Chris.


Arjun mendapatkan pesan dari Bayu dan menyuruhnya menyalakan layar. Dengan begitu dia bisa meretas dan menghubungkan layar besar disana dengan siaran berita yang sedang live saat ini.


Ketika Arjun menyalakan layar dan audio, semua orang dengan jelas bisa mendengar apa yang diucapkan seseorang disana. Dengan pengawalan ketat dari anggota Bayu, Jihan menjawab semua pertanyaan wartawan yang sedari tadi memang sengaja datang untuk mengetahui hasil rapat.


"Apa yang bisa aku katakan pada kalian? Sejauh ini, aku memang tidak menerima perlakuan buruk. Meskipun dingin, sifat dasarnya memang begitu. Tapi dia cukup baik sebagai suami. Dia juga tidak pernah memukulku seperti kabar yang beredar. Jika sifatnya dulu begitu, aku pikir aku akan mendapatkan satu atau dua pukulan bukan? Karena watak seseorang tidak akan semudah itu berubah." ujar Jihan.


"Tapi kami dengar anda meninggalkan rumah Pak Chris, apa itu benar?"


"Wajar saja, aku terkejut melihat suamiku dipeluk wanita lain di depan umum. Aku marah dan... yah aku pergi untuk menenangkan diri. Aku berpikir berlebihan, setelah tahu keadaan sebenarnya, aku sudah kembali lagi. Aku menyesal pergi tampa mendengar penjelasannya."


Jihan tampak ditanyai mengenai gosip kedekatannya dengan Jouji. Layar sengaja dimatikan oleh Arjun dan tersenyum pada semua orang.


"Bisakah kita pertimbangkan setelah mendengar penjelasan langsung dari istri Tuan Chris? Anda lihat sendiri semua hanya kesalah pahaman. Tuduhan pada Tuan juga belum terbukti bukan? Polisi juga sedang menyelidiki setelah laporan dari pihak mereka masuk. Bukankah akan lebih baik kita tunda keputusan ini?" usul Arjun.


"Lancang! Apa hakmu bicara!" bentak paman Chris pada Arjun.


"Aku rasa ini benar, terlalu cepat bagi kita mengambil keputusan. Kita harus lihat bagaimana penilaian netizen dan juga pergerakan saham setelah ini. Selain itu, belum ada rekan bisnis perusahaan yang mengambil keputusan." ujar pria yang merupakan teman ayah Chris.


"Saya pikir pak Budi benar." sahut pria paruh baya di sebelahnya.


"Baiklah, saya pikir juga begitu. Selama ini tidak ada pemimpin sebaik Chris. Jika masalah ini bisa diatasi dalam seminggu ini, saya pikir kita tidak perlu mengganti pemimpin, bagaimanapun juga Chris adalah pemegang saham terbesar. Keputusan tetap ada padanya." ujar yang lain.


Pertemuan berakhir dengan ditundanya keputusan. Dengan begitu, Chris harus bekerja keras untuk memperbaiki nama baiknya.


Pamannya bangkit berdiri, begitu juga bibinya yang sejak tadi diam saja. Keduanya menatap Chris dengan penuh amarah sebelum keluar dari sana.


"Dimana dia?" tanya Chris.


"Bayu mengabarkan dia sudah menuju parkiran, Tuan." jawab Arjun.


Chris segera berlari keluar. Dia melewati tangga darurat karena ingin cepat. Beruntung ruang rapat ada di lantai dua, sehingga untuk sampai ke parkiran hanya perlu turun dua tangga.


Bayu yang melihat Chris segera menghalangi mobil Jihan dengan berdiri di depan mobil. Tentu saja Jihan menjadi bingung sekaligus kesal. Dia kembali keluar dan berdiri di depan pintu.


"Apa yang kamu la_" Ucapan Jihan terpotong ketika tubuhnya dibalik dengan cepat dan masuk kedalam pelukan seseorang.


Arjun dan Bayu segera memalingkan pandangan mereka. Sementara Meri malah menatap keduanya dengan penasaran.


"Terima kasih karena mempercayaiku." bisik Chris.


Meski jantungnya berdetak kencang, tapi Jihan mendorong pelan dada Chris untuk melepaskan diri. Mau tidak mau Chris melepaskannya.


"Aku membantu bukan bearti aku mempercayaimu. Aku melakukan itu untuk banyak orang yang mungkin akan jadi korban, jadi jangan terlalu percaya diri. Bagaimanapun aku tetap tidak akan mau kembali." ucap Jihan dengan tegas. Dia segera masuk kedalam mobil.


Meri segera menjalankan mobil begitu Bayu menyingkir. Chris menoleh pada Arjun setelah mobil Jihan menghilang dari pandangan.


"Saya menjadikan karyawan anda sebagai alasan Tuan, saya pikir Nyonya Jihan memiliki hati yang sangat lembut. Karena itu, membela Tuan dihadapannya hanya akan sia-sia."


Chris yang sudah berharap terpaksa menelan pil pahit. Dia sadar tidak akan semudah itu membuat Jihan berada disisinya lagi. Hal yang membutnya takjub adalah, bagaimana istrinya itu tetap membantunya meskipun dia marah dan membencinya.


Chris melangkah masuk dengan senyum simpul di bibirnya. Arjun dan Bayu bertukar pandang. Arjun mengangkat bahu sebelum mengikuti atasannya kembali masuk ke dalam gedung.