
Jihan akhirnya mengikuti Chris kekantornya setelah mendapat telepon dari mertuanya bahwa Catrin ingin bertemu sekarang. Anak itu ingin menemui Chris dan Jihan yang diketahui sedang bersama. Akhirnya mereka memutuskan akan bertemu di kantor saja karena Chris akan menjamu rekan bisnis mereka dari Malaysia.
Sesampainya disana, Chris langsung meninggalkan keduanya di dalam ruangannya. Mertua Jihan juga pulang duluan karena ada keperluan lain. Jadilah Jihan tinggal dengan Catrin dan menemaninya bermain dan bercerita mengenai sekolahnya.
Lewat beberapa saat, Chris dan Arjun masuk dengan wajah lelah. Arjun melirik jam ditangannya dan ternyata sudah sore. Mereka terlalu lama meninggalkan keduanya. Baik Jihan maupun Catrin, keduanya tertidur di sofa yang berbeda. Alat warna dan buku gambar berserakan di atas meja.
"Biarkan mereka, kerjakan apa yang diminta pak Ramli tadi."
Pintu diketuk dan Bayu masuk ke dalam. Dia melirik Jihan dan Catrin, cukup terkejut namun ia memelankan suaranya saat berbicara.
"Beberapa wartawan berkumpul di depan pintu lobi utama. Mereka sepertinya menunggu anda melakukan konfirmasi Tuan. Petugas kita sedang mengusir beberapa namun ada wartawan dari pihak lawan yang terus bertahan. Kita tidak bisa melakukan kekerasan sementara mereka merekam," lapor Bayu.
Chris memijit kepalanya. Dia sedang fokus dengan masalah kerja sama dengan rekan bisnisnya, namun masalah yang dibuat pamannya membuat amarahnya naik.
"Aku membayarmu untuk mengatasi hal-hal seperti itu, jika kamu tidak bisa menyingkirkan mereka kamu bisa angkat kaki sekarang juga."
Arjun menoleh dengan cepat, dia juga sedang stres. Tambah stres saat mendapati tuannya marah saat ini.
"Saya akan mencobanya lagi. Apakah anda mengizinkan saya menjawab pertanyaan mereka Tuan?"
"Lakukan apapun!" bentak Chris.
Karena suaranya yang cukup keras, Jihan tersentak dan bangun dari sofa. Menatap Chris dan Bayu bergantian. Bayu menunduk dan memohon izin sebelum keluar.
"Bagaimana tanggapan netizen di sosial media?" tanya Chris.
"Akan saya periksa Tuan."
Chris menoleh saat menyadari tatapan Jihan padanya. Ketika Chris membalas tatapannya, Jihan tertunduk dalam diam. Wanita itu cukup terintimidasi sehingga terlihat gugup. Perlahan dia bergerak merapikan pewarna dan buku Catrin. Mencoba mengabaikan tatapan Chris yang masih mengarah padanya.
"Mereka merespon dengan cukup baik. Namun wartawan gosip tampaknya terbagi menjadi dua kubu. Beberapa membela mantan istri anda dan mencurigai anda. Sebagian lain meragukan pernyataan itu karena kejiwaannya yang terganggu."
Jihan mendongak, menatap Arjun agar lebih fokus. Dia mengeluarkan ponselnya dan mencoba membuka sosial media. Namun baru saja dia akan mendengarkan rekaman itu, Chris merebut ponselnya.
"Jangan dengarkan," larangnya.
"Kenapa? Aku juga ingin tahu."
"Ayo pulang, Arjun!"
"Ya Tuan!" sahut Arjun dengan cepat.
"Bawa seluruh pekerjaan kita kerumah."
Chris memasukkan ponsel Jihan kedalam sakunya dan menggendong Catrin yang seketika terbangun. Dia merengek dan memanggil Jihan. Dengan lembut Jihan menenangkannya dan menepuk-nepuk punggung kecilnya sambil mengikuti langkah Chris.
Di dalam perjalanan, Jihan hanya berbicara ketika Catrin bertanya. Sementara Chris sibuk dengan pikirannya sendiri.
Sesampainya dirumah, Jihan membawa Catrin masuk dan menemaninya membersihkan diri. Sementara Chris masuk ke ruang perpustakaan dimana ada meja kerjanya disana jika lembur dirumah. Dia dan Arjun kembali melanjutkan pekerjaan yang tertunda.
"Bayu memberi kabar bahwa wartawan sudah berhasil diatasi Tuan."
"Hmm! Perintahkan dia menemui Jouji dan cari tahu apa penyebab bajingan itu membantu pamanku."
"Baik Tuan."
.
Sementara itu Jouji sedang duduk di depan seorang wanita yang sedang mencoret-coret buku secara acak. Wanita itu tampak kurus dan lebih buruk dari terakhir Jouji lihat. Pintu terbuka dan seorang perawat masuk membawa pria lain. Jouji menoleh, melihat Jordi yang berdiri di sisi lain.
"Ini kunjungan pertamamu sejak kamu pulang bukan?" tanya Jouji.
"Ya, tidak menyangka bertemu denganmu disini. Apa kamu cukup sering kesini? Aku pikir kamu sibuk akhir-akhir ini."
Wanita itu berhenti mencoret-coret. Dia mengangkat kepalanya dan menatap Jouji dan Jordi berhantian. Wajahnya tampa ekspresi, hanya ada raut kosong. Dia menunduk kembali dan melanjutkan mencoret-coret buku.
"Apa yang membuatmu bekerja sama dengan paman?" tanya Jordi.
"Bukan urusanmu, jangan terlalu ingin tahu."
"Dia memiliki rahasiamu bukan? Jika kamu ingin aku bisa mengambilnya."
Jouji menoleh, tersenyum sinis karena tidak mempercayai Jordi.
"Apa yang bisa kamu lakukan? Kamu bahkan bukan apa-apa di keluarga itu."
Jordi mengangguk untuk membenarkan. Dia menoleh ke pintu keluar dan melihat sosok yang tak asing berdiri di balik pintu. Karena pintu itu transparan bagian atasnya, jadi Jordi bisa melihat siapa yang berdiri di sana.
Jordi membuka pintu. Menatap Bayu yang berdiri disana dalam diam. Jordi hanya diam dan membiarkan Bayu melewatinya untuk masuk ke dalam ruangan.
"Bisakah kita bicara?"
Jouji berdiri, menatap Bayu dengan wajah datarnya. Bayu memberi gekstur untuk menyuruhnya keluar dan mengikuti mereka. Jouji yang juga sudah mengenal Bayu sejak lama sebagai orang Chris tentu saja tidak akan mengambil resiko membuat kekacauan disana.
Mereka sedang di dalam sebuah mobil. Bayu mengendarainya dan diikuti oleh beberapa orang. Jouji duduk dengan tenang seolah mereka hanya teman yang akan pergi bersama.
"Anda bisa mengatakan penyebab anda bersekutu dengan tuan Bastian sekarang." Mereka berbelok menuju jalan yang lebih kecil.
"Lalu apa? Chris akan menyelesaikannya untukku?" sarkas Jouji.
"Brengsek seperti biasa, kalian selalu mengatur siapapun sesuka kalian. Tapi aku tidak akan mau diam saja!"
"Jadi anda lebih suka menyebabkan masalah bagi nyonya Jihan? Bukankah anda tertarik dengannya?"
Jouji tertawa kecil mendengar pernyataan itu.
"Kamu menggunakan Jihan untuk mempengaruhiku?"
"Tidak juga, hanya memberitahu bahwa dia akan semakin membenci anda. Jika anda ingin mengambilnya, anda harusnya bisa terlihat lebih baik."
"Aku mengatakan kejujuran pada media. Tidak akan ada yang membuatnya membenciku."
"Kalau begitu pembicaraan kita sampai disini." kata Bayu dan memberhentikan mobilnya tepat di samping taksi yang sedang berhenti.
Jouji memaki masker dan menurunkan topinya sebelum keluar. Setelah mobil Bayu pergi, dia masuk ke dalam taksi.
.
Di malam hari, ketika seluruh orang sudah masuk ke kamar masing-masing. Chris masih berkutat dengan pekerjaannya. Arjun sudah pulang setelah makan malam. Namun Chris masih mengerjakan sesuatu pada laptopnya.
Jihan yang berada di kamar mencoba menyalakan televisi. Dia ingin mencari tahu mengenai rekaman suara itu. Namun tampaknya Chris sudah membayar seluruh stasiun televisi agar tidak memuat berita mengenai hal itu. Satu-satunya cara hanyalah lewat akun dari sosial media yang mengirim ulang rekaman itu.
Jihan turun kebawah. Mencari keberadaan Chris. Ketika melihat lampu perpustakaan masih menyala, Jihan mengintip dari celah pintu.
"Ada apa?"
Jihan tersentak ketika pintu tiba-tiba terbuka dan Chris berdiri di hadapannya dengan sebelah tangan memegang gagang pintu. Menatap Jihan datar.
"Ponselku ... bisakah kamu mengembalikannya?"
Chris tidak menjawab, dia berbalik dan kembali masuk kedalam. Duduk di bangku dan kembali berkutat dengan pekerjaannya.
"Istirahatlah, jangan menggangguku." suruh Chris saat Jihan masuk dan berdiri di depan mejanya.
"Kembalikan ponselku, bagaimana kalau ada pesan dari pegawaiku? Atau dari orang tuaku?"
Chris lagi-lagi tidak menjawab. Dia membuka laci dan mengeluarkan ponsel Jihan. Memeriksa layar depan yang masih terkunci. Memang ada beberapa pemberitahuan chat.
"Sebutkan sandinya, aku akan memeriksanya."
"Ap apa maksudmu? Itu privasiku!"
"Patuhlah, kamu istriku bukan?" datar dan tegas. Jihan tidak bisa membantah tentu saja. Bagaimanapun itu perintah untuknya.
"JJ89," gumam Jihan dengan wajah kesal.
Chris menarik ujung bibirnya, dia membuka aplikasi chat dan memeriksa seluruh chat yang masuk.
"Tidak ada yang penting." katanya.
Dia mendongak dan menyodorkan ponsel Jihan seolah akan memberikannya. Namun ketika Jihan menjulurkan tangan dia tersenyum miring dan menariknya kembali. Membuat Jihan tampa sadar memberengut dengan wajah kesal. Bukan jelek atau menakutkan, jatuhnya malah lucu dimata Chris yang memang berniat mempermainkannya.
"Kembalikan itu!" pinta Jihan dengan ketus.
"Memohonlah."
"Apa maksudmu dengan memohon! Tidak mau!"
"Kalau begitu pergi saja."
Jihan diam sesaat, memutuskan apakah akan menurutiny atau tidak.
"Ck! Aku mo ... aku mohon berikan ponselku." Jihan seketika memerah, entah kenapa dia merasa malu karena sedang dipermainkan.
Chris menggeleng pelan. "Bukan seperti itu." katanya, lalu bangkit dan berjalan kebelakang Jihan. Berdiri tepat di belakangnya dan menunduk. "Katakan, Suamiku aku mohon berikan ponsel istrimu." lanjutnya dengan nada rendah.
Seketika telinga dan wajah Jihan memerah. Ada desir aneh di perutnya dan jantungnya berdetak dengan sangat kuat. Dia bukan anak kemari sore yang tidak mengetahui kalau Chris sedang menggodanya. Entah apa tujuannya, tapi Jihan yakin Chris hanya ingin mempermainkannya.
Jihan berbalik dengan cepat dan menyambar ponsel di tangan Chris, namun suaminya jauh lebih cepat. Chris mengangkat tangannya keatas. Jihan menatap Chria dengan kesal. Wajah memerah malu bercampur kesal seperti itu membuat Chris lebih bersemangat mengerjainya.
"Katakan maka aku akan memberikannya."
Jihan menunduk, dia sangat kesal tapi dia juga penasaran akan rekaman itu. Selain itu dia juga harus memeriksa pesan yang masuk kalau-kalau ada yang penting.
"Su suamiku ... tolong berikan pon_" Kalimatnya terputus karena Chris yang tiba-tiba mengangkat dagunya sehingga dia mendongak. Dengan jarak sedekat itu, jantung Jihan sudah akan meledak karena cepatnya dia berdetak.
Berbeda dengan Jihan yang terkejut dan gugup, Chris tampak tenang. Alih-alih menjauhkan diri, dia malah menarik pinggang Jihan dengan tangan lain. Menatap bola mata itu dengan dalam.
"Setelah kamu berhasil mendengarkan rekaman itu, datang padaku dan katakan pendapatmu mengenai aku."
Setelah mengatakan itu, Chris melepaskan Jihan dan memberikan ponselnya. Jihan yang masih syok dengan cepat mengambilnya dan berlari keluar.
Chris menatap pintu yang terbuka dengan wajah datar dan dingin. Dia sadar kalau jantungnya berdetak anomali. Cukup sadar ada yang tidak beres dengan dirinya. Chris yang tidak pernah jatuh cinta seumur hidupnya, pertama kalinya merasakan jantungnya berdetak seperti itu. Namun dengan kepala batu dan seluruh arogansi yang ia miliki, dia menolak apa yang ia rasakan.
"Aku tidak menyukainya, aku yakin itu. Tapi kenapa tubuhku selalu ingin menyentuhnya?"