
Langit mendung bukan hanya bisa memberikan kekawatiran, dia juga memberikan harapan bagi setiap yang bernyawa. Dalam kasus ini, Chris adalah langit mendung itu. Dia bisa mendatangkan petir dan badai, tapi dia juga memberikan orang harapan.
Pertanyaannya, kapan harapan itu datang? Harapan seperti apa yang bisa diberikan oleh manusia berhati dingin sepertinya?
.
Pagi ini ada yang menarik pandangan Chris dari meja kerja Jihan. Tidak seperti biasanya, diasa ada dua benda yang berada di samping komputernya. Sebuah paket berukuran kecil, dan sebuah susu segar dalam kemasan botol. Meski ada kecemburuan yang besar dalam hatinya, ekspresi datar seperti biasa menutupinya dengan baik.
Matanya melirik kecil ketika langkah kaki terdengar dibelakangnya. Jihan baru saja datang, melihat punggung Chris dihadapannya, membuat dia tidak berani melanjutkan langkahnya. Arjun yang tadi ketempat lain juga berhenti di samping Jihan. Terlihat bingung sebelum matanya menangkap sesuatu yang mungkin menjadi alasan Chris berdiri disana.
Chris melanjutkan langkahnya, punggung tegap itu seolah mengatakan bahwa dia menyimpan beban berat yang menyiksa. Membuat siapapun ikut menjadi muram.
Arjun meletakkan tasnya dan segera duduk. Jihan juga melakukan hal yang sama. Dia menepikan susu segar dan menatap kotak kecil yang hanya tertulis nama penerimanya.
Susu itu tentu saja dari Marcell, dia selalu melakukannya setiap pagi. Biasanya orangnya menitipkannya pada petugas kebersihan disana. Sementara kotak itu, berasal dari orang yang tidak diketahui.
Jihan penasaran, namun dia ingin membukanya dirumah saja sebelum komentar Arjun menghentikannya.
"Bukankah itu sedikit mencurigakan? Mengirim paket tampa keterangan apapun dari pengirim? Apa itu dari Marcell juga?" tanya Arjun. Karena Jihan diam saja, Arjun melepaskan tawa sarkas. "Aku lupa kamu tidak suka membicarakan masalah pribadi sekarang. Maafkan aku."
Jihan tersentak dan buru - buru menggeleng.
"Bu-bukan begitu, Ini... ini kedua kalinya aku menerima paket tampa pengirim." Jadi aku sedikit bingung.
Arjun langsung menoleh dengan terkejut. "Apa? Kapan yang pertama? Apa itu?" tanyanya bertubi-tubi.
"Sepertinya hanya teman yang iseng, jangan terlalu kawatir." Jihan tidak enak hati melihat reaksi Arjun, seperti seorang kakak yang sedang menghawatirkan adiknya.
"Tidak tidak! Buka itu dan beritahu aku apa itu. Bagaimana kalau itu sebuah ancaman?"
"Memangnya siapa yang ingin mengancam orang sepertiku. Aku bukan orang penting." kata Jihan. Lalu menyimpan kotak itu di dalam laci.
Arjun tidak mungkin memaksanya, jadi kali ini dia memilih diam. "Aku akan ke dalam, kamu tolong kerjakan laporan ini. Lalu periksa e-mail, harusnya seluruh direktur sudah mengirim laporan keuangan dari setiap cabang perusahaan."
"Ya." jawab Jihan.
Arjun masuk dan langsung menghampiri Chris yang sibuk di depan komputernya. Ada dua tumpukan berkas dimejanya yang harus ia selesaikan hari ini.
"Tuan, seseorang mengirimi Jihan paket. Apa anda ingin memeriksanya?" tanya Arjun.
"Siapa?"
"Orang tidak dikenal, dan ini kedua kalinya."
Chris berhenti sejenak, "Perintahkan seseorang untuk menyelidikinya." katanya, lalu melanjutkan pekerjaannya.
"Bagaimana dengan undangan ulang tahun pernikahan tuan Tanaka, Tuan? Apa anda akan menghadirinya?" tanya Arjun.
"Ya,"
"Apa saya perlu memesan pakaian khusus? Selain itu apakah anda sudah menetapkan pasangan? Saya bisa mencarikannya untuk Anda jika belum ada."
"Kenapa aku perlu pasangan? Aku bisa pergi denganmu seperti biasa."
"Apa saya belum memberitahu anda? Tema pestanya adalah pasangan. Jadi setiap tamu diwajibkan membawa pasangan, Tuan. Temanya adalah pesta dansa."
Kerutan kesal muncul dikening Chris. "Sejak kapan pak tua itu melakukan hal konyol seperti itu? Dia bahkan punya dua istri!"
Arjun tertawa, "Saya dengar ini permintaan istrinya pertamanya, anda sangat tahu bagaimana dia sangat mencintai istrinya itu."
Tentu saja Chris tahu, kalau bukan karena kecelakaan dan ibu Jouji tidak menjebaknya, dia tidak akan pernah menghianati istrinya dan berakhir memiliki anak dari wanita lain.
"Bagaimana kalau anak dari rekan bisnis kita? Saya akan carikan yang sesuai tipe anda..."
"Kenapa kamu tidak menawarkan orang yang aku inginkan? Ini tidak seperti dirimu." potong Chris sambil menandatangani laporan ditangannya.
"Anda tahu dengan pasti dia tidak akan bersedia."
"Kalau begitu buat dia bersedia."
"Tuan... Apa anda menyuruh saya berbohong? Saya sudah taubat. Jihan bilang bohong itu perbuatan dosa besar."
Chris melemparkan tatapan kesal padanya. Seolah mengatakan jangan merengek dan lakukan saja perintahnya.
"Baiklah, saya akan melakukannya untuk anda. Tapi... Bukankah itu bisa menciptakan rumor buruk untuknya?"
"Sejak kapan dia peduli dengan rumor. Kalau dia peduli, sudah lama dia pergi dari kantor ini."
"Jadi anda juga tahu? Kenapa anda membiarkan orang-orang itu menghinanya?"
Chris terdiam sejenak, tampak berpikir. Selama ini dia bukannya tidak peduli. Tapi karena Jihan juga mengabaikan mereka dan terlihat tidak terpengaruh sama sekali, dia juga tidak memperdulikannya.
"Apa aku harus memberi mereka peringatan?"
Arjun terpaku melihat ekspresi polos tampa dosa diwajah tuannya. Chris terlihat sangat lugu sampai-sampai Arjun ingin melemparkan dirinya kedinding. Lalu dengan segenap kesabaran yang ia miliki, dia tersenyum dengan sangat lebar.
"Itu bisa membuat Jihan lebih nyaman, jadi saya rasa anda harus melakukannya," jawab Arjun.
Chris tersenyum tipis, lalu menyeringai dengan ekspresi yang terlihat menyeramkan. "Kenapa aku harus melakukannya? Dia yang tidak ingin aku mencampuri urusan pribadinya bukan?"
Arjun mengutuk dirinya saat itu juga, bagaimana dia bisa melupakan bahwa yang duduk di hadapannya ini adalah jelmaan iblis berhati dingin yang jatuh cinta pada manusia berhati baik namun keras kepala seperti Jihan. Kedua orang yang sulit disatukan namun saling mencintai tampa sadar. Dua orang yang memiliki ego yang sama-sama tinggi, membuat Arjun serba salah dan pusing sendiri. Apalagi isi pikiran tuannya yang suka berubah-ubah. Apa setiap orang jatuh cinta seperti itu?
.
Chris masih belum menerima hasil apapun dari penelitian sampel ibunya. Bukti cctv dirumah semua mengarah pada satu orang, yaitu Adora. Namun nalurinya terus mengatakan ada sesuatu yang salah disana. Sesuatu yang sedang berjalan diluar jalurnya.
Tidak terasa, hari ulang tahun pernikahan rekan bisnisnya Tanaka telah tiba. Mereka juga harus terbang ke Jepang untuk bisa menghadirinya.
Arjun berhasil membawa Jihan bersamanya dengan alasan urusan bisnis. Awalnya Jihan tidak yakin, karena Arjun tidak mengatakan jenis pekerjaan apa, apalagi biasanya hanya satu asisten yang akan mendampingi Chris. Namun dia tidak bisa menolak ketika Arjun menggunakan pengaruh Chris. Tentu saja, menyebut namanya menimbulkan pengaruh yang besar bagi siapapun.
Saat ini, mereka sedang ada di bandara. Mereka akan pergi dengan jet pribadi milik Chris. Disana, pakaian untuk Chris juga telah disiapkan. Jihan mau tidak mau membantu menyiapkannya bersama Arjun. Hal yang tidak ia sangka dan tentu saja membuatnya bingung, dia dan Arjun juga harus berganti pakaian yang lebih mewah.
"Apa kita akan menghadiri suatu acara? Kamu bilang hanya perjalanan bisnis biasa." bisik Jihan pada Arjun disebelahnya.
"Tentu saja, ini juga bagian dari bisnis Jihan. Menghadiri acara rekan bisnis akan memberikan pengaruh yang banyak." ucap Arjun, ikut berbisik karena Chris sedang tidur.
Jihan mengerutkan kening, sedikit kesal karena tidak diberi tahu kalau akan menghadiri acara seseorang. Entah apa yang akan ia lakukan ketika tahu akan ada acara dansa.
Matanya melirik ke samping. Dimana Chris sedang bersandar dengan nyaman dan menutup matanya. Gurat lelah terlihat diwajah itu, terlihat banyak pikiran dan juga kurang tidur. Sekali lagi, Jihan berperang dengan hatinya. Apakah dia rela pergi dari sisi orang yang katanya ia benci ini. Mengingat ayahnya yang sangat menyukai Marcell saat ini. Dia dihadapankan pada dilema yang mirip seperti dulu. Bedanya, tidak ada kata pernikahan dan Marcell menjanjikan sesuatu yang bearti untuk mereka.
Jihan mengingat ibunya, bahwa dia ingin anaknya bahagia. Ibunya sangat mengerti bahwa dia tidak menyukai Marcell. Tidak seperti ayahnya yang bersikap berlebihan seperti pada Chris dulu, ibunya tetap menginginkan Jihan tidak salah langkah lagi hanya karena keinginan ayahnya.
"Paket itu... Apa orang iseng itu masih mengirimimu?" tanya Arjun.
Tampa mereka sadari, mata Chris bergerak. Menandakan dia tidak tidur. Topik itu menarik perhatiannya.
"Dua hari ini tidak ada lagi, aku sudah bilang itu hanya orang iseng." jawab Jihan.
Arjun hanya mengangguk, tentu saja dia tidak percaya. Entah apa alasannya orang itu berhenti, tapi ketika orang-orang mereka mulai menyelidiki hal itu, mereka tidak menemukan apapun. Tidak ada jejak cctv, petugas bahkan tidak mengetahui identitas pengirim karena paket itu hanya ditemukan di tumpukan paket beserta uang di dalam amplop yang direkatkan disana. Mereka juga menyelidiki setiap teman dekat Jihan ketika SMP, tapi belum ada yang terlihat mencurigakan.
.
Ketika sampai, mereka disambut oleh orang-orang suruhan Tanaka. Mereka dijemput dan diantarkan langsung ke rumah Tanaka, tempat acara diadakan.
Kedatangan mereka disambut dengan baik. Terutama oleh orang-orang yang mengenal Chris. Seperti pada pesta lainnya, mereka menggunakan momen itu untuk saling mencari keuntungan masing-masing. Mencari relasi bisnis untuk melebarkan sayap.
Jihan tidak mengerti bahasa Jepang, bahasa inggrisnya juga tidak terlalu baik. Jadi dia bergantung pada Arjun untuk menerjemahkan perkataan mereka. Arjun ternyata menguasai kedua bahasa itu dengan sangat baik.
"Tidak menyangka anda datang lebih awal. Apa ini pasangan anda malam ini?" tanya seseorang dengan bahasa jepang, namun aksennya tidak terlalu bagus karena dia orang Thailand.
"Senang bertemu anda, Mr.Jerry. Mereka adalah karyawan saya," jawab Chris.
"Sungguh? Jadi dimana pasangan anda? Sebentar lagi acaran utama dimulai. Saya ingin bertukar pasangan dansa dengan anda." ujarnya dengan penuh semangat.
"Sepertinya saya ketinggalan obrolan," sela seseorang yang baru saja mendekat. Dia adalah Tanaka, dia tidak datang sendirian. Melainkan dengan anak pertamanya. Seorang wanita anggun yang terlihat sangat cantik.
"Selamat atas ulang tahun pernikahan anda, Tuan. Saya sangat cemburu anda memiliki istri yang cantik dan setia." ujar Jerry.
"Hahaha, anda juga harus segera menikah. Kalian juga terlihat serasi." puji Tanaka pada Jerry, pasangannya sedang mengobrol dengan kenalannya tidak jauh dari mereka.
Setelah kepergian Jerry, Tanaka menoleh pada Jihan. Bukan karena penampilannya yang tertutup. Tapi karena dia mengenali Jihan adalah mantan istri dari Chris. Tanaka juga sangat tahu bahwa Chris masih sangat mencintainya.
"Selamat datang juga untuk kalian berdua." katanya dengan senyum ramah. Lalu beralih pada Chris lagi. "Kamu tidak punya pasangan dansa? Kamu bisa dansa dengan putriku. Dia bilang dia juga ingin berdansa denganmu." katanya.
Deg!
Tanaka mengatakannya dengan menggunakan bahasa Indonesia. Tentu saja Jihan mengerti. Dia tertunduk ditempatnya, merasakan gejolak ketidak nyamanan yang luar biasa. Seakan ia ingin menarik Chris dari sana dan membawanya pergi.
"Tentu saja, ini pertemua kedua kita, bukan?" jawab Chris. Menunjukkan senyum kecil, sebuah senyum bisnis untuk menghargai lawan bicaranya.
"Dia akan memimpin cabang di Indonesia mulai bulan depan. Dia sudah mempelajari bahasa kalian dengan sangat baik." ujar Tanaka.
"Tentu saja, aku suka Indonesia dan semua makanannya. Aku juga ingin bertemu keponakanku." Mendengar kata keponakan membuat suasana diantara anak dan ayah itu sedikit menegang.
Chris tentu saja tahu, wanita dihadapannya ini bukan wanita yang polos. Semua kalimatnya dikatakan dengan penuh maksud. Dia menoleh pada ayahnya, lalu tersenyum kecil. Seolah menunjukkan bahwa dia sedang menunjukkan kuasanya sebagai anak pertama. Hubungan yang tidak baik antara keduanya tentu saja bisa Chris rasakan. Namun dia tidak menunjukkan reaksi apapun.
"Nah, aku akan meninggalkan kalian. Acaranya hampir dimulai."
"Aku akan menghampiri anda ketika dansa dimulai, Mr.Chris." sambung anaknya.
Setelah mereka kembali, acara resmi dimulai. Mereka duduk ditempat masing-masing. Tapi pikiran Jihan tidak ada disana. Dia terus saja memikirkan acara dansa yang sebentar lagi akan berlangsung. Ada kemarahan di dalam hatinya, bukan karena ketidakrelaan semata. Namun kenyataan yang membuatnya merasa ditampar dengan halus. Bahwa dia dipaksa ikut hanya untuk menyaksikan Chris memegang tangan wanita lain.
Meski kenyataannya tidak seperti itu, tapi anggapan yang muncul dikepala Jihan bekerja seperti itu. Chris meliriknya, wajah Jihan yang murung dan terus tertunduk tentu saja mengganggunya. Ini diluar rencananya juga. Tadinya, dia ingin Jihanlah yang dipaksa untuk menjadi pasangannya. Namun tampaknya Tuhan tidak berpihak padanya.
Ketika acara dansa dimulai, Arjun membawa Jihan menepi. Keluar dari area pesta menuju balkon lantai dua rumah itu. Menyaksikan dari jauh aula pesta dengan minuman ditangan masing-masing.
"Setelah ini kita akan kemana?" tanya Jihan.
"Kita akan ke hotel. Pagi-pagi sekali tuan Tanaka mengundang Tuan untuk sarapan bersama dirumahnya. Kita hanya perlu menunggu dihotel sebentar sebelum pergi kebandara."
"Jadi kita kesini hanya untuk pesta ini?" tanya Jihan, terdengar lemah dan tidak bersemangat.
"Benar, Tuan bertemu banyak relasinya disini. Ini menguntungkannya untuk memperluas pengaruh perusahaan."
"Aku mengerti."
Melihat Jihan yang murung, Arjun berusaha menghibur. "Mau berdansa? Kita juga bisa melakukannya." ajak Arjun meskipun tahu jawaban apa yang akan dia terima.
Lihat saja, lirikan tajam Jihan langsung ia dapatkan. Membuat ia terkekeh kecil. Tadinya ia ingin mengatakan sejujurnya bahwa Jihanlah yang akan jadi pasangan Chris, tapi setekah dipikir-pikir lagi, Arjun mengurungkan niatnya. Dia ingin melihat drama kedua orang ini lebih jauh. Melihat seberapa besar pengaruhnya bagi Jihan melihat Chris bersama wanita lain. Karena sejak berpisah, Chris menolak semua wanita yang datang, kali ini Chris tidak melakukannya karena hubungan bisnis mereka.
"Aku ingin segera kehotel dan tidur. Apa tidak bisa aku pergi duluan?" tanya Jihan.
"Kamu bisa tersesat, tunggulah sebentar lagi." ujar Arjun.
"Kalau dipikir-pikir, aku jadi kasihan dengan Jouji dan Catrin. Apa mereka tidak diizinkan datang?"
"Keadaan mereka sulit dijelaskan. Meskipun Mr.Tanaka sudah mengumumkan mereka adalah bagian dari keluarga. Semua orang tahu bahwa mereka hanyalah keluarga yang dikesampingkan. Lebih tepatnya, tidak diinginkan. Bahkan oleh Mr.Tanaka sendiri. Meski begitu mereka tetap harus menjaga nama baik kekuarga ini."
"Setiap anak tidak salah karena lahir dari orang tua yang berbuat salah. Ini sangat tidak adil bagi Jouji." ujar Jihan.
"Itukah alasanmu tetap menemui Catrin diwaktu luang? Karena kasihan?"
"Hmm, bagaimana kamu ta..."
"Menemui Catrin?"
Keduanya menoleh, Chris dan anak Tanaka berdiri di belakang mereka. Sepertinya acara dansa sudah selesai.
"Maaf menyela, aku mendengar nama adik tiriku dan keponakanku. Jadi aku ingin tahu seberapa dekat kamu dengannya. Apa kalian pacaran?" tanyanya pada Jihan.
"Ti-tidak. Kami hanya teman." Jihan bisa merasakan tatapan dingin Chris yang tertuju padanya. Membuat ia gugup luar biasa.
"Teman? Kamu temannya? Aku senang bisa mengenal teman adikku." ujarnya, namun terdengar seperti dia sedang mengatakan bahwa kamu adalah sumber informasiku.
"Kenalkan, Aku Tzuzu."
Wanita bernama Tzuzu itu mengulurkan tangannya. Jihan menyambutnya dengan canggung. "Jihan..." katanya pelan.
"Hmm? Jihan?" Dia melirik pada Chris yang hanya memasang wajah datarnya.
"Baiklah, sampai jumpa lagi, Jihan. Semoga kalian menikmati pestanya." ujarnya, lalu pergi dari sana untuk menyapa tamu lain.
"Ayo," ajak Chris.
Mereka melewati tamu undangan yang masih sibuk berbincang satu sama lain. Acara pesta sudah berakhir dengan selesainya dansa. Mereka yang tinggal adalah mereka yang masih memiliki kepentingan. Chris sendiri cukup lelah dan ingin segera instirahat.
Mereka menemui Tanaka sebentar untuk pamit lalu segera keluar tampa memperdulikan pandangan orang-orang yang tampak ingin menghampirinya.
Di hotel, Chris langsung mandi dan berbaring. Dia sungguh sangat lelah. Dia juga sedikit kecewa karena rencananya tidak berjalan baik. Meski begitu, dia cukup tertarik akan wajah murung Jihan. Chris penasaran apa yang membuatnya begitu. Karena tidak suka pestanya, atau karena tidak menyukai dia berdansa dengan Tzuzu. Chris berharap jawabannya adalah yang kedua.
Hal lain yang masuk ke pikirannya adalah, bahwa ternyata Jihan masih mengunjungi mantan anaknya. Dia tidak membenci hal itu. Dia hanya takut Jouji berubah pikiran dan berakhir menjadikan Jihan ibu dari anaknya. Ketakutan seperti itu tentu saja karena masa lakunya, dia melakukan hal itu karena anak itu sangat menyukai Jihan selayaknya ibu kandungnya sendiri.
"Apa yang anda pikirkan, Tuan? Anda bahkan tidak menyadari kedatangan saya." tanya Arjun, dia membawa nampan berisi ceret yang masih mengeluarkan uap panas dan sebuah gelas berukuran kecil. "Saya membawakan teh untuk anda atas saran Jihan. Dia bilang teh ini baik untuk menenangkan pikiran dan mengurangi lelah." lanjutnya. Meletakkan nampan di meja.
"Kenapa dia tidak mengantarnya sendiri?"
"Dia hanya tidak mau membuat anda tidak nyaman. Anda bahkan tidak pernah menatap matanyanya lagi."
Deg!
Chris sedikit tersentak. Dia baru menyadarinya, dua minggu ini dia memang menghindari kontak mata dengan Jihan. Kalaupun dia menatapnya, dia akan melakukannya ketika Jihan sedang menatap orang lain.
"Keluarlah," katanya dengan lelah.
"Baik, panggil saya jika anda memerlukan sesuatu. Kalau begitu selamat istirahat."
Arjun keluar dari sana. Meninggalkan Chris yang kini menatap nampan berisi teh itu.
"Aku merindukannya, bahkan ketika dia disampingku." bisiknya pada diri sendiri.