
Jihan merasa was-was ketika mereka memasuki gedung perusahaan yang dipimpin oleh Marcell. Perasaannya sama sekali tidak nyaman. Dia tidak tahu mengapa dia merasa seperti itu. Karyawannya terlihat seperti pada umumnya, namun yang membuat suasana berbeda adalah, beberapa orang berpakain gelap berdiri di salah satu sisi.
Kedatangannya kesana karena mengikuti Chris. Hal itu terjadi karena persoalan tanah yang berhasil direbut Marcell beberapa hari yang lalu. Setelah negosiasi yang tidak berjalan mulus. Marcell menantangnya untuk bertemu secara langsung.
Kini, mereka ada di dalam sebuah ruangan kedap suara. Ruang rapat pada umumnya yang terdiri dari meja panjang yang dikelilingi bangku. Marcell dan Chris duduk saling berhadapan. Sementara asisten dan sekretaris mereka berdiri dibelakang atasan mereka masing-masing.
Marcell menatap Chris dengan senyum tipis. Seolah memberi penghargaan atas sebuah keberanian. Marcell adalah anggota gengster. Chris sudah pasti mengetahuinya, tapi dia berani datang tampa pengawalan. Ini membuat Marcell amat sangat tertarik dengannya. Membuat jiwanya seperti tertarik untuk mengetahui sosok sebenarnya dari pria yang dijuluki raja dalam dunia bisnis ini.
Chris menatap datar kearah Marcell. Cenderung lebih santai dan sama sekali tidak menunjukkan kewaspadaan. Hal itu tentu saja karena dia memang tidak takut apapun. Belum lagi, dia adalah sosok petarung tangguh meskipun tak banyak yang tahu.
"Apa yang anda inginkan agar anda mau menjual lahan itu? Saya tidak mengerti kenapa anda membuatnya menjadi sulit. Kita sama-sama tahu bahwa perusahaan ini tidak memiliki kepentingan membelinya." kata Chris memulai.
"Anda terlalu buru-buru menilai kami. Kepentingan bukan hanya apa yang bisa dilihat dengan mata bukan? Aku menginginkan sesuatu. Jadi bukankah akan jadi alat pertukaran yang bagus?" jawab Marcell.
Matanya beralih pada Jihan yang kini melihat mereka dengan wajah kawatir. Dia tersenyum pada Jihan sebelum menatap Chris lagi. Chris mengeraskan rahangnya ketika melihat interaksi kecil itu.
"Apa yang sebenarnya kamu inginkan?" tanya Chris, sudah tidak ingin berbasa basi lagi.
"Pulaunya, tentu saja. Kita pernah membicarakan hal ini."
"Itu tidak bisa dijadikan pertukaran yang sepadan."
"Tentu saja, kami akan membayarnya dengan harga sepadan."
Chris tidak menjawab. Bagaimanapun dia tidak mungkin melepaskan pulau itu. Pembangunan disana hampir selesai. Hal itu akan mendatangkan banyak keuntungan bagi MC group. Mana mungkin dia melepaskannya begitu saja hanya karena mereka organisasi mafia.
"Aku sungguh tidak mengerti apa yang kamu kejar dari pulau kecil itu. Jika itu proyek yang kami buat, bukankah hal itu terlalu mengada-ada." pancing Chris. Tentu saja dia bisa menduga dengan benar untuk apa mereka membelinya. "Bahkan kalian tidak pernah menangani proyek seperti ini. Kalian akan mengalami kerugian besar jika tidak bisa menjalankannya dengan baik." lanjutnya.
"Apakah aku terlihat mudah bagimu, Presdir?" tanya Marcell, dia terlihat mulai terganggu, bahasanya juga mulai tidak formal.
"Aku tidak meragukan orang-orang dibelakangmu. Tapi kamu, bukanlah lawan yang pantas untukku dalam bisnis ini. Mengingat latar belakangmu, kita sama-sama tahu kamu akan segera berakhir jika aku mengangkat tanganku padamu."
Marcell tertawa, jenis tawa yang membuat orang seperti Jihan bingung. Namun bagi orang-orang seperti Chris dan Arjun, itu hanya sebuah reaksi kemarahan yang berusaha diredam.
"Baiklah, mari kita jangan berdebat lagi. Aku sungguh tidak suka melihat Jihan ketakutan," dia menatap pada Jihan sesaat sebelum melanjutkan, "Mari lakukan kerja sama. Aku akan menjual lahan itu jika kamu mengizinkan kapal dan orangku singgah dipulaumu untuk sementara."
Chris tidak langsung menjawab. Dengan memberi mereka izin, artinya dia bisa saja ikut terkena masalah suatu hari nanti.
"Tuan, anda harus memikirkan ini dengan matang." bisik Arjun.
Chris masih saling melempar tatapan penuh intimidasi dengan Marcell. Tawaran beresiko namun menguntungkan baginya.
"Sebutkan jangka waktu yang kalian inginkan." kata Chris.
"Hanya satu kali dalam sebulan. Kosongkan pulaunya."
"Kesepakatan tidak tertulis. Aku tidak ingin ada kontrak. Aku akan memberikan kalian jangka waktu dalam beberapa tahun." ujar Chris, tatapannya dingin dan mengancam. Seolah memberitahu bahwa Marcell tidak diizinkan untuk membuat permintaan lain.
"Setuju."
"Kalau begitu, apa kamu keberatan untuk memberikan pena di kantong sekretarismu? Itu terlihat sangat cantik."
Marcell tersenyum simpul, lalu mengulurkan tangannya pada sekretarisnya. Setelah pena itu berada di tangannya, Arjun berjalan kesana dan mengambilnya.
Pembicaraan selesai dengan kesepakatan seperti itu. Chris pergi dari sana dengan segala karisma dan kesombongan yang ia miliki. Marcell mengepalkan tangannya di atas meja. Terlihat menahan diri untuk tidak menghancurkan tempat itu.
"Kamu tidak punya cadangan?" tanyanya.
"Maafkan saya, Ketua."
Marcell bangkit dan langsung menampar sekretarisnya hingga jatuh tersungkur. Dia kesal rencananya memiliki cacat. Dia selalu membenci ada cacat dalam rencananya.
Sementara itu, di dalam mobil. Jihan terlihat tidak setegang tadi. Arjun membawa mobil dan mereka berdua duduk di depan. Chris menatap pena ditangannya dengan seringaian kecil.
"Apa anda akan menyimpan rekaman itu, Tuan?" tanya Arjun.
"Ini adalah bukti yang bisa menghancurkan kami berdua jika mereka jatuh. Pastikan mereka tidak memiliki salinannya." ujar Chris.
Jihan yang sama sekali tidak memahami pembicaraan tersebut membuka suaranya.
"Pembicaraan itu... kenapa jika ada pihak lain yang tahu? Bukankah itu hanya permintaan anehnya dan transaksi pembelian lahan?"
Chris tidak menjawab. Arjun hanya tersenyum masam. Dia juga tidak berani menjelaskan pada Jihan tentang identitas Marcell jika Chris tidak mengatakannya. Dia juga memahami, bahwa Jihan bisa saja tidak langsung percaya. Selain itu, akan berbahaya baginya jika dia tahu rahasia itu.
"Tidak perlu terlalu terlalu dipikirkan, hal itu bukan apa-apa." kata Arjun singkat.
Jihan menoleh padanya, dia terlihat curiga. Meski begitu tidak menanyakan hal lain. Dia jadi teringat dengan rumor yang dikatakan Meri. Kekawatiran tiba-tiba menyeruak jika rumor itu benar. Apalagi, dia belum pernah melihat ekspresi Marcell seperti tadi. Namun sekali lagi, pemikiran positif wanita satu ini membuatnya menghilangkan prasangka buruk seperti itu. Apalagi tampa bukti valid, Jihan sulit mempercayainya.
Chris menatap Jihan yang masih fokus berpikir. Karena posisi duduk mereka, Chris hanya bisa melihat sebelah wajahnya saja. Dia menghembuskan napasnya, merasa tersiksa akan perasaannya sendiri.
.
Malam kembali datang, Chris belum pulang dan masih berkutat dengan pekerjaannya. Arjun dan Jihan juga masih disana. Ikut lembur bersamanya.
"Aku akan membeli makanan untuk kita, kamu ingin sesuatu?" tanya Arjun, dia sedang memilih menu-menu di aplikasi ponselnya.
"Samakan saja denganmu." jawab Jihan.
"Presdir... dia tidak kamu tawarkan? Bagaimana kalau dia juga lapar?"
"Bisa kamu melakukannya untukku? Aku sedang memilih-milih." ujarnya.
"Itu... "
Arjun menoleh, lalu tersenyum. "Dia tidak akan memakanmu, lagi pula kamu tidak bisa menghindarinya terus."
Mau tidak mau Jihan berdiri. Dia mengetuk pintu dua kali sebelum membukanya. Berdiri di depan pintu dengan ragu. Jika hanya untuk menyerahkan pekerjaan, dia tidak akan segugup itu. Karena Chris juga bersikap profesionl sejauh ini.
"Apa kamu akan tetap berdiri disana? Jika tidak ada yang penting kembali ke me_"
"Itu... Kami memesan makan malam. Apa anda ingin sesuatu?" tanya Jihan dengan cepat.
Chris mengangkat kepalanya, setelah beberapa waktu tidak ingin jatuh mata itu, dia akhirnya menatapnya lagi. Sesuatu bergejolak di dalam dadanya. Seolah ada uforia yang membuatnya bertahan untuk beberapa saat.
"Aku tidak lapar." jawabnya pelan. Lalu mengalihkan pandangannya pada berkas dimeja.
"Baiklah, saya permisi." sahut Jihan.
Keduanya sama-sama menghembuskan napas. Seolah ada kelegaan setelah interaksi singkat itu.
"Presdir bilang tidak lapar. Tapi tadi siang dia juga makan sedikit. Dia suka yang manis-manis bukan? Pesankan saja kue kecil untuknya. Lalu pesankan susu hangat." kata Jihan, dia mengatakannya masih sambil berpikir. "Tidak! Tunggu! Susu dengan makanan manis tidak cocok. Bagaimana dengan kopi panas? Latte... Sepertinya enak."
Jihan tidak tahu, bahwa Arjun melihatnya dengan senyum hangat. Seolah sedang melihat adiknya sedang jatuh cinta. Hal yang tidak Jihan tahu, bahwa Chris menyukai yang manis-manis karena dirinya. Sebelumnya Chris sama sekali tidak pernah memesan makanan seperti itu.
"Baiklah... Apa kamu juga mau makanan seperti itu?"
Pekerjaan mereka hampir selesai ketika makanan mereka tiba. Arjun mengetuk pintu dan mengantarkan makanan untuk Chris.
"Apa ini?" tanya Chris.
"Ini kue dan kopi untuk anda."
"Apa kamu pikir aku tidak bisa melihatnya?"
Arjun tersenyum, tentu saja dia tahu maksud tuannya dengan pertanyaan itu. "Anda tidak akan memakannya?"
"Aku tidak mau, bawa dan makanlah."
"Tapi Jihan memesankanny khusus untuk anda."
Arjun ingin tertawa untuk mengejek wajah tuannya saat ini, namun dia masih sayang pekerjaannya.
"Tinggalkan saja disana. Jika kalian sudah selesai, kalian bisa pulang. Aku akan pulang sendiri."
"Baik, Tuan."
Melihat Arjun yang keluar, Jihan segera menatapnya dengan pandangan ingin tahu.
"Apa dia menyukainya?"
"Jangan kawatir, dia akan menghabiskannya. Ayo makan, setelah menyelesaikan ini, kita bisa pulang."
"Oke!" jawab Jihan. Terlihat lebih bersemangat dari biasanya.
"Kamu senang karena tuan memakan kue itu?" tanya Arjun, menyuap makanannya.
"Huh? Biasa saja." jawab Jihan. Lalu fokus pada makanannya, gelagatnya menunjukkan bahwa dia tidak ingin melanjutkan pembicarakan itu. Karena dia juga tampaknya bingung dengan dirinya sendiri.
Jam menunjukkan pukul sembilan malam. Cukup malam untuk Jihan pulang sendirian. Namun ketika Arjun menawarkan diri untuk mengantrnya, dia menolaknya setelah membaca pesan di ponselnya.
"Aku akan duluan kalau begitu, Meri dan temanya sudah di depan, aku akan turun sekarang. Sampai jumpa besok pagi"
Jihan berlari kecil meninggalkan tempat itu. Arjun hanya menghela napas lega. Pintu ruangan Chris terbuka, Chris juga terlihat sudah akan pulang.
"Dimana dia?" tanyanya.
"Sudah pulang, Tuan. Anda juga sudah selesai?"
Kerutan muncul diperempatan keningnya. "Kamu membiarkannya pulang sendirian?"
"Tentu saja tidak. Temannya datang menjemput."
"Teman?"
"Teman serumahnya, bersama teman yang lain. Mungkin mereka punya janji atau sesuatu."
Chris kecewa, pekerjaannya tidak benar-benar selesai. Dia hanya ingin mengantar Jihan untuk mencoba memperbaiki hubungan mereka. Namun lagi-lagi dia hanya mengalami kekecewaan.
Sesuatu yang selama ini berusaha ia tekan, tampaknya mulai bergejolak dalam kepalanya. Dia mulai merasa tidak bisa untuk terus bersabar. Kata itu sama sekali tidak cocok dengan dirinya.
"Tu-tuan...?" tegur Arjun ketika menyadari ada yang tidak beres dengan ekspresi Chris.
Chris meliriknya tajam, lalu dengan langkah lebar, ia pergi dari sana. Namun baru saja lift terbuka, Bayu muncul disana. Dia segera memberi hormat pada Chris yang berjalan masuk.
"Tuan, Nyonya sudah sadar." lapor Bayu.
"Bagaimana keadaannya?"
"Beliau belum bisa bicara, dia hanya membuka matanya. Dokter bilang masih ada penyesuaian antara otak dan saraf motoriknya. Hanya saja, menurut saya itu tidak normal. Terlalu lama hanya untuk menyesuaikan keadaan setelah koma."
"Anda ingin saya menemani kerumah sakit, Tuan?" tawar Arjun.
"Tidak, pulanglah." jawab Chris, lalu melangkah keluar ketika lift terbuka.
.
Disinilah dia, Chris berdiri di hadapan ibunya yang hanya menatapnya dengan tatapan kosong. Chris menunduk untuk bisa memahami apa yang coba ibunya katakan. Bibirnya bergetar ketika ia ingin bicara, namun tidak satupun suara keluar dari sana.
"Jelaskan padaku, kenapa ibuku jadi seperti itu? Serangan jantungnya bahkan sudah tidak ada dan hasil pemeriksaan normal!" tuntut Chris ketika mereka sudah keluar dan berdiri di depan pintu. Menatap tiga dokter yang berdiri dihadapannya.
"Kami masih melakukan pemeriksaan pada syarafnya. Tapi menurut analisa kami, racun yang tidak dikenali ini melumpuhkan saraf ibu Anda. Kami mendapat laporan sementara dari para ilmuan. Jenis racun yang belum dikenali itu berasal dari tumbuhan yang hanya tumbuh di asia. Beberapa dari mereka mencoba mencari tumbuhan itu, namun efeknya pada hewan percobaan tidaklah sama dengan nyonya. Jadi kami pikir, racunnya berefek lebih parah karena bereaksi dengan makanan yang ibu anda makan dihari itu."
"Atau itu bukan racun yang sama?" tanya Chris.
"Sudah dipastikan struktur senyawa penyusunnya sama, mereka sangat yakin yang mereka uji sama. Mereka meminta sampel ulang, kami juga sudah mengirimkannya." jawab salah satu dari mereka.
"Aku mengerti, kalian bisa pergi." usir Chris.
Ketiga dokter itu segera undur diri. Begitu mereka sudah berada diluar ruang rawat intensif itu, mereka kompak menghela napas lega. Mereka bahkan sampai berkeringat dingin.
"Kita jauh lebih tua tapi kenapa aku selalu menggigil ketika berhadapan dengannya." kata salah satu diantara mereka.
"Pria sombong itu, dia bahkan tidak mengucapkan terima kasih." sahut yang kedua.
"Apa maksudmu? Dia tidak marah saja kita sudah untung. Jangan berharap hal-hal seperti itu. Uh! Tubuhku masih merinding." sahut yang ketiga.
Mereka berpisah di pertigaan lorong menuju tujuan masing-masing. Mereka terlihat lelah dan tertekan karena terus-menerus lembur dan diselimuti ketakutan ketika mereka menangani ibu Chris.
.
Jihan dan Meri baru saja sampai setelah pergi berbelanja beberapa kebutuhan sepulang dari kantor. Mereka sama-sama berbalik dan melambai pada sekretaris Marcel. Ya, dia adalah teman lain yang bersama Meri itu.
"Kalian semakin dekat. Jangan bilang kalau kalian pacaran!" tuduh Jihan ketika berada di depan pintu rumah.
"Mana ada, kami hanya teman." sangkal Meri, namun kedua telinga dan pipinya memerah.
"Ck! Masih berani bohong..."
Jihan tidak melanjutkan perkataannya ketika dia menyadari bahwa pintu rumah mereka tidak tertutup rapat. Ada sedikit celah disana. Sontak saja Jihan menoleh pada Meri.
"Kamu kembali kerumah sebelum menjemputku?"
"Tidak, aku langsung dari kantor. Apa kamu lupa menguncinya tadi pagi?"
Jihan menggeleng, dia sangat yakin sudah mengunci pintu. Ketakutan menyeruak pada keduanya. Dengan berani, Jihan mendorong pintu agar terbuka. Lalu masuk kedalam rumah.
"Lampu tengah bahkan menya..."
Lagi-lagi perkataan Jihan terpotong ketika matanya menangkap sebuah kotak abu-abu diatas meja. Mereka berdua merasakan terlihat lebih takut dari sebelumnya. Untuk beberapa detik, keduanya hanya berdiri disana. Memutar pandangan kesegala penjuru untuk memastikan bahwa tidak ada orang selain mereka.