
Pagi ini suasana meja makan dipenuhi aroma cinta yang sedang bermekaran. Sikap Chris yang terlihat jelas dari semua perubahan yang ada. Dia menjadi mudah tersenyum dan menunjukkan perhatian pada Jihan.
Catrin sendiri masih menunjukkan wajah merajuknya. Pasalnya, dia tidak jadi tidur bersama orang tuanya karena Jihan yang malu dan tidak ingin keluar kamar setelah dia meminta pelayan mengganti sprei kasur. Chris juga membuat alasan bahwa Jihan sudah tertidur dan tidak boleh dibangunkan. Akibatnya ayah dan anak itu telibat perdebatan singkat yang menyebabkan Catrin merajuk pada mereka, terlebih Chris yang tidak memberinya izin masuk ke dalam kamar.
"Cat, ayo makan dulu." bujuk Jihan.
"Cat tidak lapar!" balas bocah itu dengan pipi menggembung lucu.
Jihan dan Chris bertukar pandang. Chris tersenyum lalu bersikap seolah-olah tidak mendengar. Dia melanjutkan sarapannya sendiri. Jihan yang masih malu merasa bingung sendiri, biasanya Chris akan sangat tegas dan Catrin tidak bisa melawan jika dalam keadaan seperti saat ini.
"Sayang, maafkan mama. Sepertinya mama kelelahan, jadi ketiduran." bujuk Jihan.
"Cat... jangan begitu sayang. Cat anak pintar jadi harus mengerti..." Sang nenek ikut membujuk. Namun Catrin bukannya luluh malah semakin merajuk. Dia melipat tangannya di dada lalu berlalu menuju mobil yang terparkir diluar.
"Biarkan saja, bawakan saja bekal lebih. Ji, ayo berangkat." ujar Chris.
Di dalam mobil, Catrin masih merajuk. Dia sengaja duduk di samping kemudi dimana Arjun yang menyetir.
"Anak manis kenapa, Hm? Kenapa wajahmu jelek begitu?" goda Arjun.
"Paman yang Jelek, Cat cantik." sahutnya tidak terima.
Jihan menahan tawa, merasa lucu dengan wajah dan nada bicara Catrin. Dia tersentak begitu Chris tiba-tiba merangkul pundaknya dan menariknya masuk kedalam pelukannya.
"Apa sih, kamu tidak malu ada Arjun?" bisik Jihan.
"Kenapa harus malu?" jawab Chris pelan. Lalu mencium kening Jihan posesif.
"Woow..." celetuk Arjun tampa sadar saat matanya tidak sengaja melihat kaca spion.
"Jadi karena apa Catrin merajuk, hmm?" tanya Arjun, berpura-pura tidak melihat sikap Chris yang saat ini diluar ekspektasinya.
"Daddy tidak memberi izin masuk padahal sudah janji tidur bersama. Mama meninggalkan Cat tidur duluan."
"Eeii... biarkan saja daddy dan mamamu sayang, Cat mau punya adik tidak?"
"Mau! Cat mau adik perempuan biar ada teman main boneka!"
"Kalau begitu jangan mengganggu Daddy dan mama malam hari."
"Huh? Apa benar begitu? Kalau Cat tidak ganggu nanti bisa punya adik?" tanya Catrin polos pada Jihan. Tubuhnya memutar kebelakang, sepertinya sudah lupa dengan marahnya.
"Itu... ya... kalau dikasih sama Allah sayang." jawab Jihan ragu-ragu, wajahnya juga sudah merah padam. Sebisa mungkin menarik diri namun lengan Chris lebih kokoh dari tenaganya.
Catrin beralih pada ayahnya, namun Chris hanya menatapnya datar. Chris malah mengalihkan pandangannya pada Arjun dengan tajam. Arjun yang menyadarinya hanya ternsenyum.
.
Usai mengantar Catrin, Chris mengantar Jihan. Namun baru saja hendak pergi, Chris melihat sebuah mobil masuk. Pemiliknya keluar dan berlari menghampiri Jihan yang hendak masuk.
"Sepertinya dokter itu tidak mudah menyerah." ujar Arjun.
"Kamu tidak melakukan perintahku?" tanya Chris.
"Saat ini dia digantikan dokter lain sebagai kepala tim. Pihak rumah sakit sedang mencari celah. Mereka tentu saja tidak ingin rugi Tuan, kasusnya haruslah kecil namun berdampak untuk dirinya pribadi ketimbang rumah sakit."
"Ck! Aku ingin dia pergi dari kota ini. Atur itu untuknya." perintah Chris, lalu kaki panjangnya melangkah menghampiri mereka berdua.
Jihan yang melihat suaminya kembali, segera menurunkan sesuatu yang ia pegang. Dengan wajah menahan marah, Chris mengambilnya dan melempar bungkusan itu ke lantai.
"Chris!" tegur Jihan, menatap suaminya yang juga menatapnya tak kalah tajam.
"Aku memerintahkanmu untuk tidak menerima apapun darinya." kata Chris marah.
"Kamu benar-benar sangat mengesankan. Apa kamu tahu benda yang kamu lempar ini apa maknanya bagi Jihan?" ujar Haris sambil memungut kembali benda itu. Dia mengeluarkannya dan menunjukkan sebuah bola kaca yang sudah terbelah menjadi dua.
"Itu bukan urusanmu. Aku tidak tahu kenapa kamu kembali datang, tapi aku ingatkan bahwa dia milikku sekarang."
Haris tertawa hambar. "Milikmu? Sebelumnya dia dan hatinya adalah milikku. Selamanya akan begitu. Dia tidak pernah bisa mencintai pria lain."
"Berhenti!" bentak Jihan.
Dia mengambil paksa benda di tangan Haris dan mengambil bungkusan yang masih ditanah. Bungkusan berisi undangan pernikahan adik Haris. Haris datang untuk mengantarkannya, namun itu hanya alasan dibalik tujuan utamanya. Dia datang membawa benda penuh kenangan milik Jihan yang sempat lupa ia bawa. Saat mereka berpisah, Jihan memendam kemarahan yang besar dan memilih pergi begitu saja. Barang miliknya memang masih banyak tertinggal saat itu.
"Pergilah, Haris. Terima kasih undangannya." ujar Jihan. Lalu dia mundur dan bergeser kebelakang tubuh Chris yang menjulang.
Haris terlihat kecewa, namun tentu saja dia tidak akan menyerah. Dia tersenyum menutupi kekecewaanya, apalagi Chris menatapnya dengan pandangan mengejek.
"Aku menunggumu besok. Ada satu hal yang harus kamu tahu, alasan aku saat itu mengambil keputusan yang menyakitimu. Alasan kenapa aku baru menjelaskannya sekarang setelah sekian lama. Aku menunggumu, Ji." ujar Haris.
Setelah Haris pergi, Chris berbalik. Menatap Jihan yang masih menunduk menatap bola kaca ditangannya. Chris mengambilnya dan menarik tangan Jihan untuk masuk kembali kedalam mobil.
"Pergi ke tempat dimana kita bisa memperbaiki benda ini." perintahnya pada Arjun.
Arjun menggaruk keningnya yang tidak gatal. "Tuan, itu sepertinya mustahil. Kecuali dibuat baru yang sama persis."
"Tidak perlu, lagi pula ini sudah sangat lama. Setiap makhluk Allah termasuk benda mati memiliki ajalnya. Tidak apa-apa, hanya aku minta_ lain kali jangan mengutamakan emosimu. Setidaknya dengarkan dulu penjelasanku."
Chris memeluk Jihan dengan erat. Lalu memberikan pandangan memerintah pada Arjun untuk mengambil bola kaca itu dari tangannya. Itu artinya dia tetap akan memperbaiki benda itu walaupun Jihan mengatakan tidak apa-apa.
Chris merasakan anggukan Jihan sebelum istrinya itu menarik diri. "Pergilah, aku akan masuk ke dalam. Anak-anak pasti sudah menungguku."
"Masuk dulu, aku ingin bicara."
Chris terdengar serius dan tegas. Jihan segera masuk untuk mematuhinya. Arjun memberi jarak beberapa langkah dari mobil ketika Chris sudah masuk setelah ia memberitahu Chris akan menunda rapat mereka pagi ini.
"Kenapa?"
"Kamu akan pergi?"
"Kemana?"
"Ck, tentu saja undangan pria gila itu!"
"Oh..."
"Oh...?" ulang Chris, nadanya sedikit kesal.
"Kamu mengizinkanku pergi?"
"Tentu saja tidak!"
"Kenapa? Kalau diundang itu sebaiknya hadir kecuali ada uzur."
"Nah! Uzurnya adalah suamimu."
Jihan mengangguk sambil menghela nafas. "Baiklah, aku tidak akan datang. Nah, sekarang aku boleh masuk?"
"Belum. Ceritakan penyebab kalian berpisah. Apa benar kamu tidak bisa mencintai orang lain? Lalu kamu tidak memyukaiku?"
Jihan menatap Chris dengan pandangan yang dalam. Jihan akui, dia jatuh cinta pada Chris, namun mengingat latar belakang Chris menikahinya, kekecewaan yang hadir sedikit membuatnya ingin pergi saat itu. Setelah pengakuan Chris tadi malam, Jihan akui dia senang, namun dia juga menyadari dalam hati terdalamnya, Haris masih ada disana. Apalagi sejak kedatangannya kembali. Amat sulit baginya untuk melepas perasaan itu. Karena nyatanya, apa yang dikatakan Haris benar. Sebelum menikah dengan Chris, Jihan menutup hatinya untuk siapapun.
"Aku... pergi ketika dia mengatakan akan menikahi wanita lain. Setelah dia mengatakan itu, aku baru tahu kalau dia menjalin hubungan dengan rekan sesama dokternya saat pertama kali bekerja dirumah sakit. Aku benar-benar tidak bisa menerimanya sehingga aku mengajukan perceraian pada pengadilan. Kami bersama sejak SMA dan tidak pernah bermasalah dengan orang ketiga. Hari itu, pertama kalinya dia menyakitiku dengan sangat dalam."
Chris benar-benar harus dianugerahi penghargaan saat ini. Dia bisa menahan mati-matian kemarahannya saat melihat air mata Jihan jatuh karena pria lain. Rasa nyeri yang muncul didadanya ia abaikan begitu saja. Dia memilih mengelus kepala Jihan dan menariknya kedalam pelukannya.
'Sial! Apa mencintai seberat ini? Tapi aku tidak bisa menolaknya. Kenapa harus wanita ini?'
Meski menggerutu dalam hati, Chris terus mengelus kepala Jihan. "Apa kamu masih mencintainya?" tanya Chris dengan berat hati.
Jihan diam saja, dia sama sekali tidak menjawab. Karena itu Chris melepaskannya dan menatap kedua matanya dengan sorot mata yang serius. Dia bahkan menggenggam kedua wajah Jihan agar menatapnya juga.
"Dengar, aku tidak peduli walaupun saat ini kamu belum melupakannya. Faktanya kamu adalah milikku sekarang. Kita terikat pernikahan yang sah. Hal yang perlu kamu tahu, aku tidak akan pernah melepaskanmu." ujar Chris tajam.
"Aku juga tidak berniat kembali. Aku tidak akan menghianatimu dan melakukan dosa besar seperti penghianatan."
Mendengar hal itu, Chris tersenyum. Lalu mencium kening Jihan sebagai ucapan terima kasih sebelum memeluknya dengan erat.
.
Chris sedang berhadapan dengan sang paman saat ini. Setelah kelelahan panjang yang mendera usai rapat, pamannya memulai penuntutan yang berakhir pada perdebatan.
"Kamu akan mempermalukan keluargamu sendiri? Bagaimanapun mereka adalah sepupumu! Menempatkannya dalam jabatan rendah seperti itu apa kamu tidak malu!"
"Berhenti mengajakku berperang paman. Paman tahu tidak akan pernah menang bukan? Aku akan memaafkan apa yang paman lakukan terakhir kali sampai melibatkan wanita gil itu dan Jouji. Tapi jika paman berulah lagi, bukan hanya anak paman. Paman sendiri akan berakhir."
"Kamu mengancamku? Aku pemilik saham terbesar kedua. Kamu pikir kamu siapa bisa mengatakan hal itu?"
Chris menarik senyum tipis penuh misteri. Pamannya tampak murka. Dengan rahang mengeras dan tangan terkepal, dia bangun sampai kursi dibelakangnya terbanting kebelakang.
Chris hanya melibatnya dengan santai. Arjun meraih kursi itu dan mengembalikan ketempatnya semula. "Jerom sedang menumpuk hutang dalam perhudian dan Jeremy sudah berhasil dipengaruhi untuk ikut dalam perdagangan narkoba skala besar."
"Pastikan mafia-mafia itu tidak tahu kita terlibat dalam penangkapan mereka nanti."
"Tentu Tuan, cepat atau lambat tampa kita ikut campur. Dua anak bodoh ini akan terlibat masalah pada akhirnya. Kita hanya mempercepat prosesnya. Jadi tidak ada alasan anda akan dicurigai."
Chris tersenyum tipis, dia bangkit dari kursi kebesarannya. "Aku akan pulang sendiri, selesaikan sisa pekerjaan hari ini dan satu lagi, pastikan Bayu membuat si brengsek itu keluar dari kota ini." ujar Chris.
"Tentu, Tuan."
.
Jihan baru saja akan keluar menghampiri Chris yang datang menjemput ketika akhirnya berdiri diam beberapa meter dari mereka. Chris sedang berhadapan dengan seorang wanita yang sedang mendorong kereta bayi dan memegang beberapa pakaian bayi dari tokonya.
"Lama tidak bertemu, Chris? Bagaimana kabarmu?" tanya wanita itu.
"Aku baik, bagaimana denganmu? Sejak kapan kamu punya anak?"
Wanita itu tersenyum masam. Dia mengelus pipi anaknya lalu beralih pada Chris lagi. "Dari segi apapun, dia sangat mirip denganmu bukan? Umurnya baru lima bulan. Kamu tahu kenapa aku tidak mengganggumu selama satu tahun lebih?"
Chris mengernyit, dalam hati ia merasakan perasaan tak enak. Apalagi ketika melihat wajah anak wanita yang sangat dikenalnya ini. Ketakutan merasuki hatinya. Dia benar-benar tidak pernah merasakan ketakutan sebesar ini sebelumnya.
"Malam itu, aku sengaja datang saat subur dan tidak meminum obat. Aku ingin memiliki sesuatu dari pria yang aku cintai. Meski begitu, tentu saja aku tidak akan mengganggu pernikahanmu. Nah, sampai jumpa." kata wanita itu.
Dia pergi dan sengaja berhenti di samping Jihan yang menunduk menatap anaknya. Memberikan senyuman ringan pada Jihan ketika Jihan beralih menatapnya. Dia berlalu menuju kasir untuk membayar. Meninggalkan keadaan penuh ketegangan dibelakangnya. Dimana ketika mata Chris bertemu dengan mata Jihan, semua ketakutan Chris menjadi nyata. Jihan berjalan cepat tampa memperdulikannya. Chris sendiri, yang masih terkejut dengan keadaan yang tiba-tiba ini, pertama kalinya menyesali kehidupan masa lalunya yang tidur dengan sembarangan wanita.