
Bayu dimasukkan kedalam tahanan khusus narapidana berbahaya selama pengusutan kasus penculikan yang dilakukannya berjalan. Seorang penyidik yang bertugas mengintrogasinya tidak berhasil mendapatkan informasi apapun. Tidak peduli menggunakan kekerasan atau kelembutan, Bayu tidak membuka mulutnya sedikitpun.
Chris sudah tidak datang ke perusahaan selama seminggu ini, orang tua Jihan juga terus mendesaknya, begitu juga Azam dan semua orang yang menyayangi Jihan.
Segala upaya sudah ia lakukan, namun Jihan tidak juga ditemukan. Chris nyaris gila, dia bahkan sampai harus meminum obat penenang karena depresi. Beban mentalnya terus bertambah, kegelisahannya kian menjadi. Setiap malam, dia dihantui oleh mimpi buruk yang sama. Jihan yang berada dalam kegelapan, memanggilnya sambil mengulurkan tangan. Seakan menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi. Ketakutan melandanya setiap kali mimpi itu datang, terasa membunuhnya perlahan-lahan. Dia takut Jihan sudah tidak bernyawa disuatu tempat.
Seperti pada malam ini, lagi-lagi Chris bangun ditengah malam. Kepalanya sakit dan dia berjalan sempoyongan menuju kamar ibunya. Dia merasa dejavu. Seakan ia kembali kepada masa lalu.
Seperti saat dia remaja, diawal tahap penyakitnya mulai parah. Dia akan mencari ibunya. Melampiaskan amarahnya dengan berteriak dan mencoba menyakiti ibunya. Tempat ia menumpahkan segala amarah.
Ketika ia remaja, ketika kakek dan ayahnya masih hidup, mereka sangat jarang berada di rumah. Sehingga mereka terlibat permusuhan dan perang dingin setiap saat. Tampa kasih sayang, tampa perhatian siapapun, Chris tumbuh dengan sangat menyedihkan meskipun dikelilingi kemewahan.
Hidupnya terasa hancur sejak ia kecil karena orang-orang disekelilingnya. Bahkan kakak kandung yang ia miliki, bersikap seperti mayat hidup yang melakukan setiap perintah ayah dan ibu mereka. Membuat pembangkangan yang ia lakukan, terasa kotor dihadapan semua orang. Seakan dia adalah aib ditengah keluarga yang dinilai sempurna oleh semua orang. Sampai sebuah tragedi memaksa Chris hidup menggantikan peran kakaknya. Membuat ia tidak bisa mengendalikan emosi karena tekanan, pemaksaan dan semua tekanan mental itu, membuatnya berakhir dirumah sakit jiwa.
Pintu kamar ibunya ia buka dengan hempasan keras. Bunyi pintu yang menabrak dinding membangunkan sang ibu dan seorang perawat yang menjaganya.
Dengan piyama tidurnya, Chris berdiri disana dengan wajah tampa ekspresi. Menatap ibunya dengan kepala miring ke kanan. Seakan sedang berpikir apa yang akan ia lakukan selanjutnya pada sang ibu yang kini dilanda ketakutan.
Nyatanya, dia tidak sedang berpikir. Di dalam kepalanya, hanya ada satu kata. Bunuh penyebab dirinya menjadi gila. Bunuh orang yang menghancurkan hidupnya. Sakiti dia sampai mati.
Chris berjalan mendekat, tangannya terulur keleher ibunya. Dia mulai menekan jari-jarinya pada leher ibunya. Tidak peduli perawat dipojok sana memohon padanya dengan tubuh bergetar, ia tidak bergeming. Napas ibunya sudah putus-putus ketika sebuah suara menyadarkannya.
"Ayah?"
Sebuah tangan kecil menarik tangannya. Membuat cekikan pada leher ibunya melonggar dan terlepas. Chris menatap Azam dengan bola mata membesar. Dirinya tampak terkejut dengan apa yang harus Azam saksikan. Penyesalan merasukinya ketika mata jernih anak itu mulai berkaca-kaca.
"Apa yang ayah lakukan? Nenek kesakitan!"
Chris tidak menjawab. Dia memijit kepalanya. Pikirannya mulai kacau lagi. Seolah pemikiran yang tidak wajar hinggap dan menempel dikepalanya. Dia mulai kehilangan kontrol lagi. Chris tersenyum lebar. Senyum mengerikan yang membuat perawat yang berdiri dipojok semakin bergetar ketakutan. Kepala pelayan tiba-tiba berlari masuk, tampaknya ia baru saja terbangun. Menarik Azam keluar, meminta maaf pada Chris dengan wajah takut dan kawatir. Pelayan itu segera membawa Azam keluar dari sana.
Chris mengedipkan matanya beberapa kali. Seolah kesadaran kembali padanya. Dia menatap ibunya dengan dingin. "Aku nyaris kembali menjadi gila. Apa sampai akhir, Mama akan terus menghancurkan hidupku? Dosamu, kenapa aku dan Jihan yang harus menanggungnya?" katanya dengan suara dingin.
Chris mengambil gelas di atas meja, melemparnya ke dinding. Hal itu untuk menekan keinginan gila di dalam kepalanya. Dia keluar dengan cepat, berjalan dengan langkah lebar menuju kamar anak sambungnya. Dia masuk ke dalam kamar Azam setelah menarik napas pelan, menenangkan dirinya sebelum menghadapi anaknya.
"Tu-tuan... A-Anda... Tu-Tuan jangan kesini. Sa-Saya mohon...."
Kepala pelayan itu menggigil ketakutan. Dia memeluk Azam dengan erat. Tangan Chris terulur, mengelus kepala Azam dengan lembut.
"Jangan takut, aku masih waras. Anak ini... Dia seperti obat." kata Chris, suaranya sudah kembali tenang.
Chris berjongkok dan mengambil alih Azam yang juga terlihat ketakutan. "Maafkan Ayah, Ayah tidak akan membuat Azam takut lagi." katanya, memeluk Azam dengan lembut dan mengelus kepala anak sambungnya itu penuh sayang. Perlahan Azam juga tenang, dia mengangkat kepalanya dan menatap Chris.
"Jangan marah, saat Ayah marah, Ayah jadi sangat menyeramkan."
"Hmm, Ayah tahu. Maafkan Ayah, ayo kembali tidur. Besok kita harus mencari ibu lagi."
Akhirnya malam itu Chris tidur disana. Menemani Azam sampai terlelap. Dia sendiri tidak bisa tidur lagi. Akhirnya hanya menatap hampa dinding kamar Azam sambil membayangkan wajah Jihan. Dia meneteskan air mata untuk kesekian kalinya. Chris menangis lagi, dia sungguh kawatir dan ketakutan.
.
Paginya, suasana tenang seperti biasa. Jordi datang pagi-pagi sekali setelah mendapatkan cerita dari kepala pelayan yang ketakutan. Dia meminta Jordi untuk tinggal disana dan mengawasi tuannya. Dia takut Chris tidak sengaja membunuh ibunya sendiri saat sedang tidak sadar.
"Kak, aku mendengar kejadian tadi malam." kata Jordi ketika mereka selesai sarapan. Keduanya kini sedang berjalan menuju area garasi rumah itu.
"Lalu?" tanya Chris acuh.
Chris berhenti, mereka sudah berdiri di sebelah mobil yang sudah disiapkan oleh supirnya.
"Ya, bawa saja. Aku membawanya karena istriku. Tapi aku kehilangan istriku karena dia. Orang itu, tampaknya sampai akhir akan terus menghancurkanku."
Jordi tersentak, Chris sangat jarang membicarakan hal yang bersifat pribadi. Mereka hanya akan berbicara seperti atasan dan bawahan. Suara Chris tidak pernah ramah atau hangat padanya. Seolah Jordi hanya bagian pekerja di dalam rumahnya. Kali ini, Jordi merasa Chris lebih menganggapnya seperti saudara jauh yang sedang membicarakan kisah sedihnya.
"Kakak akan kemana? Serahkan pencarian kak Jihan pada polisi dan orang-orang kita. Perusahaan mulai goyah, paman mencoba menyabotase sejumlah proyek. Selain itu, Bibi mulai menunjukkan taringnya. Lalu, Adora lagi-lagi membuat ulah."
Chris tahu hal itu, Arjun juga memberitahunya. Kabar bahwa Chris mengunjungi psikiater juga sudah terdengar oleh para pemegang saham. Apalagi, Adora membuat kekacauan di media sosial dengan membagikan foto saat mereka berada di rumah sakit jiwa. Membuat posisinya kini diragukan oleh banyak pihak.
Dia dipukul dari segala arah. Membuat kesehatan mentalnya memburuk. Jika bukan karena kehadiran Azam dan harapan besar akan ditemukannya sang istri, Chris mungkin sudah kembali kerumah sakit jiwa.
Saat ini, dia harus meminum obat penenangnya seperti meminum vitamin dengan rutin. Kalau tidak, Chris akan kehilangan kontrol dan sulit bersikap normal. Emosinya akan mudah tersulut kembali.
.
Chris mau tidak mau datang ke kantor setelah selesai dari kantor polisi. Seluruh karyawan langsung terkejut akan kedatangannya setelah peristiwa penculikan Jihan. Chris membuat rapat dadakan. Membuat semua para petinggi perusahaan kalang kabut menyiapkan diri dan laporan mereka.
"Tampaknya banyak masalah yang terjadi ketika aku absen seminggu ini. Apa kalian mulai menganggapku tidak berguna karena hanya diam saja ketika kekacauan terjadi satu persatu setiap hari?"
Suasana ruang rapat itu sangat tegang. Ketakutan merasuki diri setiap orang yang hadir. Tak terkecuali Jordi, Arjun dan Bastian yang termasuk memiliki mental yang kuat.
Karisma dan aura yang Chris keluarkan membuat siapapun tunduk. Tidak ada yang berani menatapnya secara langsung, bahkan hanya sekedar menaikkan pandangan mereka.
"Selesaikan setiap masalah sebelum rapat pemegang saham seminggu lagi. Laporkan kendala dilapangan padaku sekarang. Dimulai dari direktur eksekutif."
Jordi yang mulai memegang jabatan itu sejak beberapa waktu terakhir, mulai melaporkan rincian masalah. Meski rata-rata semua masalah telah ditemukan oleh Jordi solusinya, Chris masih terlihat sangat tidak puas.
"Kamu membuat biaya produksi bertambah," ketusnya.
"Maafkan saya, Presdir." jawab Jordi.
Rapat kembali dilanjutkan hingga beberapa jam kemudian. Chris benar-benar membahas semua masalah yang terjadi satu persatu. Menumpahkan banyak amarah pada Jordi dan Arjun.
Sampai ketika memasuki jam ketiga, Alex masuk begitu saja. Berjalan kearah Chris dengan wajah yang serius. Dia menunduk dan membisikkan sesuatu pada Chris. Membuat Chris lamgsung berdiri.
"Arjun, ikut aku. Jordi, lanjutkan rapatnya. Laporkan padaku sisanya." perintahnya sebelum keluar.
Mereka berjalan menuju lift. Alex menjelaskan rinciannya ketika mereka sudah sampai di parkiran mobil. Dengan satu mobil, mereka bertiga segera menuju kantor polisi.
Sesampainya disana, Chris disambut kepala penyidik sekaligus jendral kenalannya. Membawanya masuk ke sebuah ruangan. Disana, sudah ada dua orang wanita. Dia adalah Tsuzu, anak rekan bisnisnya, bersama seorang wanita muda yang berdiri sedikit menunduk di belakangnya.
"Kenapa kamu ada disini, Tsuzu?" tanya Chris.
"Aku hanya menemani seorang saksi yang sedang ketakutan." jawabnya tenang.
Chris melirik wanita yang berdiri dengan tangan bergetar dibelakangnya. Masih sangat muda, mungkin dia baru saja lulus kuliah.
"Katakan!" perintah Chris setelah mengambil tempat duduk.
Maka, dengan sedikit bujukan menenangkan, Tsuzu menyuruhnya bercerita.