Wife Or Nanny?

Wife Or Nanny?
84



Chris menangis, benar-benar menangis. Dia bahkan tidak sadar ketika air matanya keluar ketika menatap foto Jihan yang tak berdaya. Ketakutan merasukinya, dia berdiri kaku dalam posisi tidak berubah sampai Jordi menyentuh pundaknya.


"Kak...?"


"Kamu baik-baik saja?" Alex ikut bertanya. Dia tidak pernah melihat sosok Chris yang seperti itu, membuat ia merasa bersalah karena membiarkan Bayu berhasil lolos.


"Aku harus mencarinya lagi." gumamnya pelan.


"A-Ayah! Ayah mau pergi cari Ibu? A-Azam mau ikut."


Chris seperti kembali pada kesadarannya. Dia menoleh pada anak sambungnya yang entah sejak kapan berada di sana. Merengek padanya dengan air mata yang kembali turun. Chris segera menghampirinya, memeluknya erat sambil mengucapkan kalimat perintah yang halus.


"Kamu harus tetao tinggal untuk menjaga nenek, oke. Azam anak baik, diluar berbahaya. Ayah janji akan menemukan ibumu dengan cepat."


Chris melepaskan pelukannya, kepala pelayan yang ditugaskan menjaga Azam menghampiri mereka ketika mendapatkan anggukan dari Chris. Memegang pundak Azam ketika Chris bangun.


Mereka semua akhirnya pergi lagi, berpencar untuk mencari keberadaan Jihan. Chris pergi bersama Arjun, sementara Jordi pergi bersama Alex.


Chris jauh lebih tenang, keberadaan Azam membantunya. Anak itu seperti memiliki kekuatan magis untuk membuatnya berubah menjadi orang yang lebih lembut dan tenang.


"Dendamnya hanya pada ibuku, kenapa dia membawa Jihan kedalam masalah ini?" desis Chris ketika mereka mulai menelusuri berbagai tempat.


Ponsel Chris kembali berdering, orang tua Jihan menghubunginya. Ini adalah panggilan kedua setelah mereka juga berkeliling bersama Meri sepanjang sore sampai malam. Meri membawa mereka kembali kerumah setelah mereka kelelahan. Mematuhi permintaan Chris untuk istirahat dan mempercayakan pencarian Jihan padanya.


"Halo," jawabnya dengan pelan.


"Maafkan saya Ibu, Saya masih mencari. Saya masih ada di luar." Chris terdiam mendengar kata-kata ibu Jihan. "Baik, terima kasih Ibu."


Chris menghembuskan napasnya dengan berat. Dia mencoba menghubungi nomor yang digunakan Bayu untuk mengirim pesan, tapi tidak bisa dihubungi.


"Tuan, ponselnya berhasil dilacak. Ponsel itu ditemukan di bawah tempat duduk sebuah halte." kata Arjun setelah mendapatkan laporan.


Chris dan Arjun duduk di belakang, sementara dua orang pengawal duduk di kursi depan.


"Dia ingin mempermainkan emosiku, bajingan itu... Aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri." desisnya tajam.


Arjun dan dua yang lain sampai bergidik mendengar kemarahannya itu.


Pelacakan terus dilakukan oleh pihak kepolisian dari cctv yang menangkap mobil yang digunakan oleh Bayu. Sehingga menghantarkan Chris dan Arjun ke sebuah rumah. Polisi juga sudah sampai disana. Mereka sedang memeriksa cctv disekitar sana.


Seorang komandan polisi menghampirinya. Memberitahukan keadaan disekitar mereka. "cctv sebelah rumah kosong itu menangkap mobil yang dibawa Bayu lewat dan masuk ke sana. Tapi keluar lagi dalam beberapa menit."


"Kami sudah menggeledah seisi rumah ketika Anda dalam perjalanan. Rumah itu kosong. Tapi kami menemukan beberapa muntahan di depan rumah dan di atas kasur sebuah kamar. Kami sedang memeriksa DNA dan menyesuaikannya dengan istri Anda."


"Dia membawanya lagi?"


"Saya tidak yakin apakah orang yang sama, karena ada bekas pintu yang di dobrak dari luar. Seseorang membawa istri Anda, tapi saya tidak yakin kalau itu Bayu. Dia harusnya memiliki kunci kamar."


Komandan itu mendapat laporan dari bawahannya, lalu dia bergegas menyampaikannya kembali pada Chris.


"Bayu terlihat memasuki sebuah kapal di dermaga."


Sayangnya, setelah sampai disana, Bayu berhasil lolos. Dia sudah pergi menaiki kapal. Chris langsung menyusulnya menggunakan speed boat. Helikopter juga diterbangkan untuk menyusul kapal yang dinaiki oleh Bayu.


Ketika mereka berhasil menemukan kapal yang dimaksud, Chris dan semua orang yang ikut bersamanya, kecuali Alex yang menggunakan helikopter, mencari keberadaan Bayu.


Seluruh kapal yang mengangkut banyak penumpang itu kebingungan ketika semua ruangan digeledah. Semua penumpang di identifikasi satu persatu. Bahkan oleh dua orang polisi yang ikut kesana. Namun nihil, Jihan tidak ditemukan.


Bayu sendiri, tertawa terbahak-bahak ketika berhasil dilumpuhkan oleh polisi dengan satu tembakan di paha kanannya. Mereka berada di lantai paling atas kapal tersebut. Bayu dipaksa berlutut, kapal polisi yang berpatroli disekitar segera menjemputnya. Namun sebelum benar-benar dibawa, Chris terlebih dahulu mengintrogasinya.


"Dimana Jihan?" tanyanya. Nafasnya tercekat ketika Bayu hanya menatapnya dengan senyum lebar yang terukir dibibirnya.


"Terlalu banyak orang disini, kita harus membawanya terlebih dahulu." ucap salah satu polisi.


"Bawa dia," suruh Arjun. Lalu dia memberi aba-aba pada Alex yang duduk di pinggir pintu helikopter. Dua orang segera menurunkan tangga tali karena helikopter tidak bisa mendarat. "Tuan, kita harus kembali terlebih dahulu."


Chris yang kalut tidak bisa berpikir jernih. Ketakutan merasukinya, dia tidak punya pilihan selain kengikuti saran Arjun. Kembali ke daratan dan membiarkan polisi mengintrogasi Bayu.


Sesampainya mereka di kantor polisi, Chris memperhatikan Bayu yang sedang di bawa keruang introgasi. Dia mengikuti mereka namun tidak ikut masuk, dia hanya mengawasi melalui ruangan pengawas. Para polisi itu bahkan belum mengobati kakinya. Namun Bayu tampak biasa saja. Tidak ada sedikitpun raut kesakitan diwajahnya.


"Dimana ibu Jihan kamu sembunyikan?" tanya polisi ketika ia memulai introgasi. Bayu diam saja.


"Kemana kamu akan pergi?" Bayu masih diam saja. Polisi di sebelah Chris bahkan sampai menghela napas dan berdecak.


"Dia tidak akan mau bicara, Chris! Sebaiknya kamu sendiri yang bicara padanya."


Chris menoleh ketika jendral bintang dua itu masuk. Jendral yang membantu Chris mengusut kasus hilangnya Jihan.


Mereka berdua masuk ke ruang introgasi. Arjun meminta semua polisi yang ada meninggalkan lokasi ruang pengwasan. Begitu juga petugas yang tadi mengintrogasi Bayu. Sehinga hanya pihak mereka yang mengetahui pembicaraan ini.


Chris duduk di depan Bayu. Menatapnya tajam, sementara Bayu menyeringai padanya.


"Kamu pasti ketakutan, bukan? Dari pada duduk disini... Bukankah lebih baik menemukan mayat istrimu?" ujar Bayu.


Chris mengepalkan tangannya, dia tahu Bayu hanya mencoba memancing kemarahannya.


"Dimana... Istriku?" desisnya tajam.


Bayu meletakkan kedua tangannya yang terborgol diatas meja. Memajukan wajahnya yang memiliki beberapa memar.


"Bahkan jika kamu menembak kepalaku, Istrimu tidak akan hidup lagi." jawabnya dengan suara rendah nyaris seperti sebuah bisikan.


Chris menggebrak meja dengan keras. Dia berdiri dan langsung menendang meja itu sehingga terdorong dan membuat Bayu terjungkal kebelakang.


Dari salah satu hidungnya keluar darah segar. Kepalanya membentur tembok dibelakangnya. Dia jatuh tersungkur tertimpa meja yang ikut terbalik.


"Tenanglah Chris, jangan memperburuk keadaan dengan emosimu." kata sang jendral. Menarik meja dan membantu Bayu kembali duduk di bangku setelahnya.


"Jihan masih hidup, bajingan ini tidak akan memberitahukan keberadaannya sampai aku benar-benar melubangi kepalanya."


Bayu nyaris kehilangan kesadarannya. Dia terhempas dengan keras, kepalanya terbentur dinding batu dan mengeluarkan darah. Tendangan Chris jelas bukan main-main.