
Pihak kerajaan benar-benar mencari Jihan secara diam-diam. Pangeran bahkan sanpai meminta izin khusus pada sang raja. Walaupun tidak ada permintaan resmi dari pemerintah Indonesia, mereka tetap melakukan pencarian besar-besaran dengan dalih razia untuk mencari buronan yang kabur.
Seminggu berlalu sejak pencarian, Jihan belum juga ditemukan. Bahkan ibu penjaga rumah lebih waspada karena pihak berwenang sudah dua kali meminta keterangan padanya.
"Sebenarnya apa yang terjadi di luar?" tanya Jihan ketika mereka sedang masak di dapur.
"Mereka curiga buronan penjahat itu lari ke daerah sini. Jadi kamu harus hati-hati. Kamu bisa dituduh menjadi imigran gelap dan akan di introgasi. Itu akan menyulitkan Tuan."
Mendengar perkataan ibu itu, Jihan menghentikan pekerjaannya yang sedang mengaduk kuah sup. Menyadari lirikan darinya, Jihan kembali melanjutkan pekerjaannya. Memasukkan wortel dan kentang yang telah dicuci.
"Tuan akan tiba dirumah sekitar pukul lima sore. Tolong kerja sama Anda." ujar si ibu. Lalu mengambil alih pekerjaan Jihan dan menyuruhnya kembali ke kamar saja.
Jihan berjalan ke kamarnya dengan perasaan cemas. Selama seminggu ini, Marcell juga tinggal disana meski dia cukup sibuk dengan pekerjaannya. Sekretarisnya sudah kembali ke Indonesia. Saat ini, malah ada dua pria yang selalu berada di luar area rumah.
Marcell menempatkan mereka untuk mengawasinya. Walaupun Marcell berdalih sebagai pengawal, tapi Jihan masih menaruh kecurigaan yang besar pada Marcell.
Beberapa kali Jihan mencoba berjalan ke arah pantai dipagi hari. Namun dua pria itu akan langsung menghampirinya dan menyuruhnya kembali. Jihan bahkan sudah bicara pada Marcell, tapi pria itu selalu bisa mematahkan usahanya dengan kata-katanya. Jihan sama sekali tidak bisa menang darinya. Dia akan selalu berpura-pura sangat takut dan sedih.
Jihan menggigit kuku jarinya, berpikir bagaimana caranya agar dia bertemu polisi. Apapun resikonya, Jihan yakin imigran gelap hanya akan dikembalikan. Tentang Chris yang mungkin memang punya niat jahat seperti yang dikatakan Marcell, Jihan terus meragukan itu di dalam hati kecilnya. Sebanyak apapun bukti yang ditunjukkan Marcell, Jihan sadar itu tidak cukup untuk mencurigai Chris sepenuhnya.
"Tidak ada yang bisa aku percaya saat ini. Aku hanya harus pergi dari sini." gumamnya.
Jihan duduk dan menatap tumpukan baju-baju yang baru saja dibeli oleh Marcell. Lemari dikamar itu bahkan sudah penuh karena dia membelinya setiap pulang.
"Kenapa jadi begini, sebenarnya apa yang terjadi?"
Lagi-lagi pertanyaan itu ia ucapkan, setiap hari pertanyaan itu terus muncul dikepalanya. Dia juga tidak habis pikir bagaimana bisa Bayu melakukan hal ini. Bagaimana dia ada di negara lain, Jihan tidak percaya Bayu membuangnya kesana.
"Marcell mungkin saja terlibat kan? Mana ada yang namanya kebetulan seperti ini. Dia bahkan membatasi pergerakanku. Tidak membiarkanku menghubungi orang tuaku." gumamnya lagi.
Jihan tersentak ketika ia mendengar ada keributan di luar. Namun ketika ia turun dari kasurnya, ibu itu juga muncul dan memberi peringatan agar jangan keluar.
Jihan hanya mengangguk dengan patuh. Namun ketika ibu itu keluar dari pintu depan, Jihan ikut keluar. Mengintip keributan yang terjadi dari jendela. Ternyata ada polisi lagi yang memaksa masuk dan menggeledah rumah. Dia hanya sendirian, sementara anak buah Marcell ada dua.
Jihan membelalakkan matanya ketika mereka terlibat perkelahian dan polisi itu ditembak di dadanya. Bukan oleh dua pria itu, Jihan bahkan sangat syok luar biasa. Dia sampai terjatuh ke lantai dengan tubuh yang gemetar.
Disana, di depan rumah, Jihan melihat polisi itu ditembak oleh Marcell yang baru saja datang bersama anak buahnya yang lain. Jihan bahkan melihat betapa mengerikannya wajah itu.
Dengan tertatih, Jihan bangkit dari lantai. Berlari sempoyongan ke arah pintu dapur. Sayangnya pintu terkunci. Jihan melihat jendela yang terbuka, dengan cepat ia menarik bangku dan naik keatasnya. Tapi pingganya terlebih dahulu direngkuh dan punggungnya menabrak dada Marcell dengan keras. Dia berakhir dalam dekapan Marcell.
"Apa kamu baik-baik saja, Jihan? Kenapa naik bangku? Kamu bisa jatuh dan terluka."
Jihan tidak bisa menjawabnya. Tubuhnya menggigil ketakutan. Bahkan untuk sekedar memberontak tidak bisa ia lakukan saat ini.
Marcell semakin mempererat dekapannya, seakan ia meluapkan emosi yang teredam akibat rencananya yang sedikit berantakan. Jihan bahkan sampai sesak akibat lengan Marcell yang menekan leher dan perutnya.
"Kenapa kamu tidak menjawabku, Hmm? Kenapa tubuhmu bergetar begini? Apa kamu takut padaku?" Marcell berbisik ditelinganya. Menikmati rasa takut Jihan dengan kesenangan tersendiri.
Dengan kasar Marcell membalikkan badannya dan mencengkram kedua lengannya dengan kuat. Menatap mata Jihan yang basah oleh air mata. Sorot mata dan ekspresi yang tidak pernah Jihan lihat diwajahnya, menunjukkan siapa Marcell sebenarnya. Orang yang ia anggap teman yang cukup baik, ternyata menyembunyikan sosok aslinya.
"Ka-kamu siapa... Siapa sebenarnya?"
Bahkan dalam kondisi ketakutan, Jihan masih bisa mengucapkan pertanyaan itu. Menunjukkan bahwa dia masih menolak fakta yang ada dihadapannya.
Marcell menyeringai, lalu menggendong Jihan bridal, berjalan menuju pintu keluar. Seorang anak buahnya membukakan pintu mobil. Marcell mendudukkan Jihan disampingnya.
Pintu mobil terkunci secara otomatis ketika anak buah Marcell ikut masuk. Menyalakan mesin mobil dan menurunkan kaca disebelah Marcell duduk.
"Biarkan mayat itu disana. Kemasi seluruh barang Jihan dan buat rumah ini berantakan."
Setelah dia memberikan perintah, Marcell menoleh pada Jihan. "Ayo pergi." katanya. Meski dia menatap Jihan yang menunduk, perintah itu ditujukan pada anak buahnya.
"Sayang sekali, padahal aku ingin membahagiakanmu dirumah sederhana itu. Aku sangat menyukai pemandangan disini. Apalagi dari sisi kamarmu." katanya, nadanya kembali seperti dia biasa, namun bukannya tenang, Jihan malah semakin ketakutan. Yah, siapa juga yang tidak takut dengan orang yang baru saja membunuh malah bersikap santai seperti itu.
"Ketua, sebaiknya kita meninggalkan negara ini terlebih dahulu. Pasukan militer ikut diturunkan beberapa menit yang lalu."
"Ah... Ini benar-benar menyebalkan. Bagaimana pihak kerajaan bisa ikut campur?" keluhnya. "Padahal keadaan disana sangat sunyi."
Marcell mengatakan tentang pihak pemerintah Indonesia yang sama sekali tidak terlihat pergerakannya selain di dalam negeri. Tidak ada mata-matanya yang menangkap adanya kerja sama kepolisian Indonesia dan kerajaan Bruney.
"Bahkan jika mereka melakukannya secara rahasia, pihak kita akan langsung tahu. Itu artinya... " Marcell menoleh pada Jihan lagi, dia meraih tangan Jihan dan menggenggamnya. Meremas tangan itu kuat ketika Jihan mencoba menariknya dengan keras. "Rivalku melakukannya secara diam-diam dengan pihak mereka. Wah... Aku memang tidak bisa meremehkannya."
Marcell sesungguhnya sangat marah dan frustasi. Rencananya terganggu dan terancam gagal. Kini, dia harus membawa Jihan keluar dari negara ini dulu jika tidak ingin tertangkap.
Dia tidak melepaskan tangan Jihan ketika mengambil ponsel di sakunya. Terus mengenggamnya dengan kuat ketika bunyi sambungan terdengar di telinganya.
"Siapkan kapal dan helikopter. Temukan titik keberadaan kami dan cari area mendarat terdekat."
"Kenapa kamu melakukan ini?" Jihan memberanikan diri untuk bertanya. Matanya memperhatikan setiap jengkal yang mereka lewati.
"Apa maksudmu? Memang apa yang aku lakukan?" sahut Marcell.
Jihan menatapnya, meski air matanya menetes karena takut, namun kemarahan dalam dirinya sedikit mengalahkan rasa takut tersebut.
"Apa alasanmu menculikku hingga kesini? Apa yang kamu inginkan!"
Marcell meletakkan ponselnya, dia menoleh, lalu mengulurkan tangannya untuk membelai pipi Jihan yang langsung ditepis dengan kasar. Marcell menggertakkan giginya. Dia tidak menerima penolakan lagi. Sehingga dengan kasar dia mencengkram kedua pipi Jihan yang memberontak dan menekannya dengan keras. Jihan merasa rahangnya akan remuk kalau saja dia tidak menghentikan perlawanannya.
Setelah Jihan tenang, Marcell juga ikut melunak. Tersenyum dan terkekeh pelan ketika dia merasa menang.
"Kamu, Jihan. Kamu adalah alasan aku melakukan semua ini." lalu dia membawa Jihan masuk ke dalam pelukannya.
Meski menolak, Jihan tidak bisa melawan lebih jauh. rahangnya masih sangat sakit begitu juga anggota tubuhnya yang lain akibat benturan. Belum lagi, Marcell memeluknya dengan sangat kasar, mendekapnya dengan kuat agar tidak memberontak lagi.
"Kenapa kamu memilih orang lain? Aku sudah mengorbankan seluruh hidupku untuk mencapai posisi ini demi dirimu. Tapi kamu malah bersama orang lain. Aku bahkan harus kecolongan dua kali karena aku terlalu lambat. Tapi sekarang... Sekarang tidak lagi, Jihan. Kamu akan selamanya menjadi milikku."
Jihan tidak menjawab, dia sangat syok mendengar pengakuan itu. Apa maksudnya?
Pertanyaan dikepala Jihan tidak terjawab ketika mobil berhenti disebuah halaman gedung perkantoran. Sebuah helikopter juga mendarat di atas gedung. Jihan diseret secara paksa oleh Marcell masuk kesana. Mereka naik melalui lift menuju atap gedung. Lalu naik helikoter bersama dua orang yang sudah menunggu di atas sana.
Dari posisinya, Jihan bisa melihat polisi sudah datang kesana. Jihan bisa melihatnya sesaat sebelum helikopter terbang menjauh.
"Mereka berhasil melacak kita, Ketua." ujar pria yang duduk di depan Jihan.
"Tak apa, mereka tidak akan bisa mengejar dengan mudah ketika kita melewati perbatasan. Langsung menuju kapal. Kita akan ke rumah utama. Siapa yang berani masuk kesana." jawabnya santai.
Kemana?
Pertanyaan itu terus muncul dikepala Jihan. Ketakutan terus merayapinya. Dalam beberapa menit, mereka mendarat di sebuah kapal pesiar yang sedang berlayar.
.
Ditempat lain, Chris memijit kepalanya dengan napas yang baru saja teratur kembali. Dia baru saja menerima kabar dari Pangeran langsung, bahwa Jihan baru saja dipindahkan dari rumah yang mereka curigai. Seperti yang para petugas polisi disana lihat, sebuah helikopter terbang setelah mobil yang mereka ikuti berhenti di depan sebuah gedung. Pangeran bisa mengonfirmasi dengan pasti, bahwa Jihan sudah dibawa keluar dari wilayah kekuasaan kerajaan mereka.
"Ebel membantunya, Dia menggunakan kekuasaan organisasinya." Chris bangkit dengan emosi yang tak terkendali.
Malam itu, Arjun terpaksa memanggil dokter dan melumpuhkan Chris dengan obat bius. Butuh banyak orang untuk menanganinya karena kemampuan bela diri Chris yang tidak main-main.
Setelah Chris dipindahkan ke rumah pribadinya, Arjun dan Alex ikut tinggal disana. Begitu juga psikiater dan seorang dokter umum. Mereka dibayar mahal untuk menangani Chris sampai ia pulih. Chris sudah mencapai batasnya. Dia butuh istirahat penuh seperti ketika dia masih remaja. Perbedaannya, kali ini dia akan dirawat dirumah. Arjun, Jordi dan Alex yang akhirnya menangani perusahaan dan masalah Jihan.
"Kita tidak akan bisa bertahan lama. Para pemegang saham dan saudaranya yang tamak akan mulai menyerangnya lagi. Berusaha merebut kursi kekuasaan MC." ujar Jordi.
Mereka sedang berdiri di sisi tempat tidur Chris. Menatap tubuh tegap itu dengan raut cemas.
"Obatnya hanya Jihan. Dia kambuh karena Jihan menghilang. Katanya, dulu pencetus dia menjadi seperti ini karena kehilangan sosok yang ia harapkan." ujar Arjun.
"Ya, sebelum aku masuk ke dalam keluarga ini, kak Chris sudah berada di rumah sakit jiwa. Aku dengar dari pelayan saat itu, bahwa Kak Chris tidak sengaja membunuh kakak kandungnya karena lepas kendali. Hal itu membuat penyakitnya makin parah karena orang tua dan kakeknya tidak mendukungnya." Jordi mengingat saat-saat ketika Chris kembali kerumah setelah dirawat.
"Aku dengar sebuah fakta ketika beberapa bulan kak Chris kembali. dia bisa kebali normal dalam dua minggu dan bisa kembali pulang saat itu, tapi orang tua kak Chris menahannya disana sebagai bentuk hukuman. Hal itu yang menimbulkan kebencian yang menumpuk dihatinya."
Arjun meliriknya, dengan ketus dia akhirnya menanyakan alasan semua tindakan Jordi selama menjadi anak angkat di dalam keluarga itu. Tindakan jahat yang ia lakukan pada kakak angkatnya.
"Lalu, kenapa kamu malah menyusahkannya? Bekerja sama dengan musuhnya dan menimbulkan banyak masalah untuknya? Dilihat dari caramu berbicara, kamu tidaklah membenci Chris."
"Ah... Itu?"
Jordi tidak langsung menjawab. Membuat Alex berdecak dengan kesal.
"Kak Chris pasti paham mengapa aku melakuknnya. Dia memang dingin dan sedikit kejam, tapi kadang kala dia bersikap layaknya seorang kakak." jawabnya.
Tampa melihat reaksi lawan bicaranya, dia keluar dari sana. Menuju lantai satu. Arjun duduk di kursi rias dan Alex berbaring di kursi panjang yang ada di sudut kamar.
"Semoga Tuan cepat pulih." gumam Arjun.
Dia teringat istri dan anaknya dirumah. Dia merindukan mereka, namun tidak punya pilihan selain mendampingi atasannya saat ini. Dia tidak akan membiarkan Chris mengamuk lagi.
"Aku lelah." sahut Alex.
Mereka akhirnya larut akan pikiran masing-masing. Memikirkan masalah masing-masing sampai akhirnya terhubung dengan masalah yang Chris hadapi. Memikirkan cara untuk mengatasi ini semua.
Hal yang menakjubkan adalah, mereka bertiga bukanlah keluarga yang memiliki hubungan darah dengan Chris. Tapi pada akhirnya mereka bertigalah yang berdiri disisinya saat ini.