Wife Or Nanny?

Wife Or Nanny?
17



Jihan menerima banyak perhatian dari warga maupun wartawan berita yang sedang meliput terkait para pengungsi dan banjir susulan yang baru saja terjadi. Hal itu terjadi karena statusnya sebagai istri dari konglomerat dan dia datang bersama Jordi dan Jouji yang memang sudah dikenal banyak orang. Apalagi Jouji yang karirnya mulai menanjak.


Intensitas hujan yang cukup sering dihari itu membuat beberapa kegiatan tertunda. Saat ini Jihan sedang beristirahat pada salah satu tenda penyediaan barang bantuan di area itu. Jouji datang membawakan segelas teh hangat padanya dan Jordi memberikannya selimut.


"Semua sembako sudah dibagi rata kepada kepala keluarga, begitu juga dengan obat-obatan dan barang sandang lain bu Jihan." lapor ketua regu.


"Terima kasih pak. Kita akan kembali selepas magrib sebentar lagi."


"Tapi bu, penerbangan ditunda karena cuaca ekstrim. Kita baru diberi kabar sepuluh menit yang lalu."


"Sampai kapan?"


"Sampai cuaca membaik. Pihak maskapai akan mengabari jika keadaan memungkinkan."


Jihan menghela napas. Dia meminum teh hangat itu lalu melirik Jordi yang sedang serius dengan ponselnya. Begitu juga Jouji yang sedang menerima telepon dari ibunya.


"Kamu baik-baik saja?"


Jihan mengangguk tampa menoleh ketika Jouji mengambil tempat duduk di sampingnya. Karena terlalu dekat, Jihan bangun dan menggeser bangkunya untuk menciptakan jarak. Jordi yang selesai dengan ponselnya mendongak dan tersenyum remeh pada Jouji yang tampak sedikit kesal.


"Kak Jihan, sebaiknya kita kembali kekota terlebih dahulu untuk menemukan tempat menginap." usul Jordi.


"Butuh 20 menit perjalanan memakai bus, kita akan pergi setelah sholat magrib." kata Jihan memutuskan.


"Wanita idamanku." celetuk Jouji yang membuat semua orang disana menoleh dengan heran padanya. Apalagi dia mengatakannya sambil menatap Jihan dengan wajah penuh cinta.


"Mungkin maksudnya kamu menyukai wanita dengan tipe seperti kak Jihan, begitu kan maksudmu?" kata Jordi dengan senyum yang dibuat senatural mungkin.


"Hahaha! Apakah orang jadi salah paham? Yah, itu maksudku." sahut Jouji tidak kalah palsu.


Jihan bernapas lega ketika semua orang tampak kembali santai. Tampa ia ketahui sebuah kamera telah merekam moment itu.


Ketika mereka dalam perjalanan menuju kota, saat itulah rekaman mulai tersebar dari satu akun ke akun lain. Dari satu media sosial ke media sosial lain. Sehingga ketika mereka sampai di sebuah restoran untuk makan malam, manager memberi tahu Jouji bahwa mereka tidak boleh ada ditempat yang sama sekarang. Sayangnya, Jouji bukanlah artis yang patuh pada management yang menaunginya. Terlebih dia punya power latar belakang sehingga dia tidak takut akan menyebabkan kerugian.


"Jouji tolong sekali ini saja, ada orang yang mengambil vidiomu dan kini gosip kembali menyebar!" bujuk Juna.


Mereka berbicara di samping taksi ketika semua orang sudah masuk ke dalam hotel yang berada di kota kecil itu. Biaya sewanya seluruhnya dibayarkan oleh Jihan karena itu adalah kelebihan biaya operasional dari dana yang bisa digunakan dari donasi mereka. Pihak maskapai sudah mengabarkan mereka bahwa penerbangan hanya bisa dilakukan besok pagi.


"Kenapa kamu tidak mendengarkan manajermu? Jangan membuat kesulitan lain untuk kak Jihan. Selagi gosipnya belum membesar, kamu bisa menjauh dan tidak membumbuinya kan?"


Keduanya menoleh pada Jordi yang sudah berdiri tidak jauh dari mereka. Tepat dibelakang taksi.


"Ini kesempatanku kenapa harus aku lewatkan?" jawab Jouji dengan seringaian diwajahnya.


Jouji meninggalkan keduanya masuk kedalam hotel dan memesan kamarnya sendiri. Managernya buru-buru mengikuti sambil mengutuk sikap Jouji yang selalu seenaknya. Jordi menghela napas. Dia tahu Jouji akan mendengarkan namun tetap memberinya peringatan. Dia sangat hapal sifat Jouji sejak dulu, masalah sekarang adalah, Jihan tidak sama dengan Nana. Tampaknya Jouji tidak mengerti hal itu.


Malamnya, di dalam kamarnya Chris mendapat banyak kiriman gambar dari Arjun. Beberapa artikel media online juga memberitakan keberadaan sang aktor bersama seluruh tim yayasan. Bahkan gambar yang di ambil oleh wartawan yang menguntit Jouji di ambil dari sudut yang sangat pas. Sehingga Jihan tertangkap kamera tampa menyertakan staf lain. Padahal mereka sedang bersama satu tim dan bukan hanya berdua saja. Jika Arjun tidak memberi tahu keadaan sebenarnya, bisa saja Chris akan salah paham seperti netizen lain saat ini.


"Arjun, kendalikan media." perintah Chris melalui telepon.


'Saya pikir ibu anda sudah melakukannya Tuan, sayangnya wartawan itu bekerja pada media yang dikendalikan lawan kita. Kita tidak bisa menghapus seluruhnya."


"Lakukan apapun untuk menutupinya, jangan membuatku kesal!" bentak Chris.


Sejak siang tadi hatinya sudah panas ditambah gosip yang beredar. Membuat Chris seperti terbakar saat ini. Namun nyatanya, pria kaku ini tetap tidak mengerti mengapa dia bisa sangat terganggu dan marah. Yang ia tahu dia benci pada istrinya yang dianggap selalu mendatangkan masalah untuknya.


"Ck sial sekali! Jouji ini perlu kuberi pelajaran sedikit sepertinya!" keluh Arjun yang saat ini masih berada dikamarnya. Dia baru saja akan mandi ketika mendapat laporan dari orang suruhannya.


"Kamu tahu kan apa yang harus kamu lakukan? Keluarkan skandal artis lain yang lebih besar efeknya. Terserah siapa saja yang kamu pegang rahasianya, aku akan membayarmu dengan besar." kata Arjun pada seseorang yang diteleponnya.


.


Chris tidak bisa tidur. Dia bahkan menghubungi Jordi hanya untuk memarahinya karena membiarkan wartawan berhasil mengambil gambar mereka.


Jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari namun matanya tidak bisa tertutup. Pikirannya terus saja melayang kedalam pikiran-pikiran buruk yang terus bermunculan. Hal itu hanya karena isi berita yang membuat dadanya panas seketika. Dia kesal dan ingin melampiaskannya pada seseorang namun siapapun yang telah ia marahi tidak membuat hatinya lebih lega.


Dengan kesal dia menyambar kembali ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Mencari kontak Jihan dan meneleponnya.


Suara Jihan terdengar serak karena dia sudah terlelap sejak tadi.


"Kamu bisa tidur nyenyak dengan semua masalah yang kamu timbulkan?" mulainya dengan nada dingin.


'Apa maksudmu? Masalah apa?' Suara Jihan terdengar lebih jernih setelah beberapa detik dia terdiam untuk menemukan kesadarannya.


"Jelaskan padaku kenapa dia bisa bersamamu? Kalian janjian atau apa? Apa sekarang kalian terang-terangan bersekongkol?"


Terdengar helaan napas Jihan disana. Chris sangat tahu apa yang terjadi, sayangnya dia menutupi egonya yang sedang mencari cara untuk menenangkan hatinya yang sejak tadi tidak tenang.


'Aku bersama tim dan sama sekali tidak pernah berduaan dengan Jouji. Lagi pula dia datang karena suruhan manajemennya. Harusnya kamu memeriksanya dulu sebelum menuduhku!'


"Benarkah? jelaskan foto yang ada di seluruh media online yang memberitakan kalian berdua, Aktor Jouji menyebutkan tipe idamannya seperti istri presdir MC group? Terdengar sangat lucu ditelingaku."


Chris menarik senyum puas saat Jihan meminta waktu untuk memeriksa gosip yang beredar. Sementara panggilan masih aktif dan Chris kini berbaring dengan sebelah tangan menopang kepalanya.


'Kamu tahu itu bukan salahku, jangan menyalahkanku seenaknya. Lagi pula itu hanya kesalahpahaman yang dibesar-besarkan!"


"Aku tidak peduli! Spekulasi terus berkembang dari kedekatan kalian. Selesaikan masalah yang kamu timbulkan! jangan menyeret perusahaan dalam kerugian karena skandalmu."


Chris memutus sambungan telepon begitu saja. Dia tersenyum puas lalu diam untuk beberapa saat menatap langit-langit kamarnya. Menyadari hal berat yang tadi ada dikepalanya terasa sangat ringan sekarang.


"Harusnya aku memang memarahinya sejak tadi karena dialah biang masalahnya." gumamnya. Lalu dia menutup matanya dan tertidur dengan mudah.


.


Tepat pukul sembilan pagi, Jihan dan rombongan mendarat kembali ke kota asal mereka. Sepanjang perjalanan Jihan menghindari Jouji sejauh mungkin. Bagusnya Jordi dan Juna membantunya agar Jouji tidak menimbulkan masalah baru.


Jihan dan Jordi keluar dari pintu sanping dimana supir yang ditugaskan untuk menjemput mereka sudah menunggu. Jihan menghela napas saat melihat kerumunan fans Jouji yang menyambutnya di bandara.


"Dia sudah seperti artis K-pop. Baru ini aku melihat aktor Indonesia dicintai berlebihan seperti itu." celetuk Jihan ketika mereka sudah melewati kerumunan.


"Wajar saja, Jouji lajang dan sangat bersih di mata publik. Dia membangun citranya dengan sangat baik, dia juga tidak mudah terlibat dengan artis rendahan yang besar dari sensasi. Dia juga punya wajah dan tubuh yang membuat banyak wanita menggilainya. Belum lagi latar belakang yang kaya raya, gadis mana yang tidak jatuh padanya." komentar Jordi.


"Kalian terlihat dekat dan bermusuhan secara bersamaan. Hubungan apa yang kamu miliki dengannya saat ini?"


"Kenapa? Kakak mulai terpesona padanya?" canda Jordi alih-alih menjawab pertanyaan Jihan.


"Yang benar saja, aku bersuami kalau kamu lupa!" balas Jihan dengan nada kesal.


"Bercanda kak, tentu saja kakak bersuami. Meskipun kita sama-sama tahu seperti apa kak Chris. Aku pikir ... karena masa lalu, Jouji ingin membawa kakak pergi tampa peduli kalau tidak seharusnya ia ikut campur dalam rumah tangga orang lain."


Hening beberapa saat. Keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing.


"Menurutmu ... apa aku harus mengajukan gugatan saja? Sebelumnya aku masih mempertimbangkannya karena Catrin dan orang tuaku. Tapi semakin kesini ... kenapa rasanya aku begitu bodoh? Menjalaninya saja setelah tahu tujuan Chris."


Jordi menoleh, tidak menyangka bahwa Jihan akan mengatakan hal sensitif seperti itu padanya. Dia bertanya-tanya apakah Jihan mulai menyerah? Atau karena kakak iparnya itu mulai mempercayainya. Yang mana diantara dua kemungkinan itu?


Jihan ikut menoleh, "Kenapa? Heran aku mengatakan hal itu?" tanya Jihan. Dia kembali meluruskan pandangannya.


"Kamu juga berasal dari masa lalu mereka bukan? Chris, mantan istrinya, keluarga itu dan Jouji. Kalian semua kini mulai masuk kehidupku satu persatu juga. Membuatku bingung dan kawatir. Aku tidak begitu mengerti tentang dunia orang seperti kalian. Kalian terlihat palsu disana sini. Aku tidak melihat rasa tulus satu sama lain kecuali dari Catrin. Karena kamu pasti mengerti apa yang terjadi, itu sebabnya aku mengatakannya padamu tampa sungkan."


Deg!


Jordi tertegun, hatinya seperti tercubit ketika mendengar penuturan jujur dari Jihan. Dia mengakui kebenarannya dalam hati. Namun tidak menemukan kata-kata yang pas untuk membuat tanggapan.


"Aku ... aku tidak membenci kak Jihan." Kata itulah yang meluncur tampa bisa ia cegah. Jihan meliriknya lalu terkekeh pelan.


"Siapa bilang kamu membenciku? Aku tidak mengatakannya. Diantara kalian, hanya suamiku yang jelas membenciku. Kamu, mama dan pelayan dirumah itu. Seluruhnya punya banyak topeng. Aku tidak bisa menebak wajah dibalik topeng kalian. Semua tindakan kalian memiliki maksud dan tujuan, Kasih sayang antar keluarga, teman dan sahabat? Aku tidak melihat itu, hanya ada keuntungan satu sama lain. Seperti itulah aku belajar beberapa bulan ini dilingkungan ini."


Jordi menarik sudut bibirnya.


'Wanita ini cerdas. Aku penasaran seperti apa akhir pernikahan mereka.'