
Chris termenung di kantornya. Hari sudah malam dan baru saja ia mendapat laporan dari kepala pelayan rumah bahwa Jihan belum kembali.
Tentu saja ia tahu kemana Jihan pergi, Bayu memantau pergerakannya. Jihan tidak mematikan ponselnya, itu artinya dia tidak sedang kabur lagi.
"Pak, ini sudah larut ... "
Arjun sang asisten pribadi sekaligus tangan kanannya, memecah keheningan. Chris tidak menjawab. Ia masih diam di tempatnya.
"Ini pertama kalinya seseorang yang lemah berani melawanku. Menurutmu ... apa yang harus aku lakukan?"
Arjun tentu saja tahu siapa yang di maksud atasannya. Dia dan Bayu adalah teman dekat sejak bekerja di sana. Baik masalah perusahaan maupun masalah keluarga Mc adalah tanggung jawab mereka untuk menjaganya.
"Anda tidak harus terpengaruh, Pak. Kadang ... tidak semua yang lemah itu tidak berbahaya. Bahkan kancil yang kecil bisa mengalahkan buaya agar tidak memakannya. Meski begitu ... saya lebih suka menyebut Ibu Jihan sebagai tupai."
"Tupai?"
"Ya, karena dia pandai melompat. Tidak tahu kapan datangnya tahu-tahu semua buah yang manis sudah habis di makan."
Chris menarik sudut bibirnya. Menyetujui perkataan Arjun.
"Dia jenis yang baru."
"Ya, jenis yang baru." dalam kehidupan anda
Lanjut Arjun dalam hati.
Arjun menatap Atasannya penuh arti. Sebagai tangan kanan hampir separuh hidup tuannya, Sejak Chris masih menginjak usia belasan tahun. ini pertama kalinya ia melihat Chris memikirkan seorang wanita.
.
Arjun menjadi sopirnya malam ini. Mereka berhenti di sebuah gedung apartement. Gedungnya tidak terlalu mewah bahkan tergolong biasa.
"Dia ada di dalam?"
"Menurut Bayu di lantai 6 unit 60."
Mereka berdua turun. Memasuki gedung yang bahkan sistem keamanannya sangat buruk. Sesampainya di depan pintu unit yang di maksud. Arjun menekan bel dua kali.
Seseorang muncul, menatap keduanya dengan kening berkerut. Jelas tidak mengenal mereka. Namun tidak merasa asing dengan salah satunya. Setelah lama berpikir, barulah ia menyadari siapa yang ada di hadapannya saat ini.
"Siapa, Mer? kamu bilang tidak ada teman yang ... "
Jihan muncul di sebelah Meri. Memandang datar dua orang di depan pintu.
"Si ... silahkan masuk ... "
"Tidak perlu!" kata Jihan cepat.
Ia berjalan kembali ke dalam untuk mengambil tas dan ponselnya. Malas berdebat dan tahu ia akan kalah.
"Aku akan berkunjung lagi besok, terima kasih sudah mau mendengarku."
Jihan memeluk sahabatnya itu sebelum keluar.
"Hati-hati di jalan, ok!"
Meri tidak berani menyapa suami sahabatnya. Merasakan hawa kehadirannya saja membuat wanita yang masih melajang itu bergidik.
Tampa kata, ketiganya turun kembali kebawah. Sayangnya ada pemadaman listrik mendadak dan mereka masih di dalam lift.
Jihan takut tentu saja, dia pernah ada di situasi ini sebelumnya dan hampir mati. Nafasnya juga sudah terasa sesak.
"Sial! berapa lama lagi tim keamanan gedung ini menyadari kita ada di sini?!" rutuk Chris.
Arjun cukup tenang. Beberapa kali ia menekan alarm namun tidak ada sahutan.
"Hubungi bayu!"
Maka dengan cepat Arjun meraih ponselnya. Bagusnya jaringan ponselnya masih ada walau lemah. Maka ia menelfon Bayu dan menjelaskan situasinya.
Chris menatap Jihan di hadapannya sesaat. Ia tahu ada yang tidak beres dengan istrinya itu. Namun ia memilih abai karena Jihan masih bisa berdiri.
"Anda baik-baik saja, bu Jihan?"
Jihan tidak menjawab pertanyaan Arjun. Ia memilih berjongkok untuk mengatasi pernapasannya.
Arjun yang kawatir ikut berjongkok. Melihat dari dekat melalui sinar dari ponselnya. Dapat ia lihat wajah Jihan yang pucat dan keringat di dahinya.
Ia menengadah, menatap ke dalam mata atasannya. Memberi tahu dalam diam bahwa Jihan tidak baik-baik saja.
"Berapa lama kira-kira bantuan datang?"
"Paling cepat dalam 30 menit." jawab Arjun.
Chris berdecak jengkel. Mata keduanya membola terkejut saat Jihan dengan tidak sadar berpegangan pada bahu Arjun. Mencoba mencari penopang sat dirinya merasa limbung.
Arjun dengan cepat meraih kedua bahu Jihan agar tidak jatuh. Melihat hal itu, Chris berdiri terpaku di tempatnya. Ada keinginan kecil untuk menyingkirkan kedua tangan itu. Namun saat ia tersadar, ia membuang jauh-jauh pikirannya. Memilih abai memenangkan ego.
"Anda bisa bersandar pada saya, Bu."
Jihan antara sadar dan tidak, namun ia menggeleng pelan. Melepaskan kedua tangan Arjun dan memilih duduk dan bersandar pada dinding lift.
Arjun melihat air mata itu, sedikit kasihan namun tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hapal seperti apa atasannya. Bahkan jika Jihan kehilangan nyawanya saat ini, atasannya hanya akan tetap diam di tempatnya. Sehari-hari ia sudah melihat kekejian hati Chris. Bukan hal yang aneh melihat responnya saat ini.
.
36 menit, lampu lift menyala dan pintu terbuka. Banyak orang sudah berkumpul di depan lift. Bayu tentu saja ada di sana. Mereka semua adalah tim keamanan milik Chris.
"Angkat dia ke mobil," ucapnya dingin.
Berjalan duluan keluar. Arjun bertukar pandang dengan Bayu. Terlihat keduanya ragu-ragu. Menarik nafas, Bayu akhirnya berjongkok dan hendak menggendong Jihan.
"Singkirkan tanganmu." kata Jihan lemah.
Bayu kembali menarik tangannya. Jihan berusaha mengatur nafasnya. Air mata jelas masih terpeta di sana meskipun ia tidak menagis lagi.
Dengan lemah Jihan bangkit dan berjalan keluar. Sayangnya, baru beberapa langkah Jihan limbung. Bayu dengan sigap menangkapnya. Jihan pingsan, maka ia menggendongnya dan melarikannya ke mobil dengan cepat.
"Ibu Jihan pingsan, Pak!" lapor Arjun.
Chris sudah ada di dalam mobil. Ia melihat ke belakang di mana Bayu masih menggendongnya.
Maka ia tertegun sesaat. Lalu keluar dari mobil dan mengambil alih tubuh Jihan dari Bayu. Menatap wajah pucat itu datar.
"Kerumah sakit."
Bayu dan Arjun bertukar pandang sekilas sebelum mengikuti Chris yang sudah masuk kembli ke dalam mobil.
Arjun masih menjadi supir dengan Bayu di sampingnya. Keduanya beberapa kali melirik kaca spion. Memastikan apa yang mereka lihat di belakang bukan hanya halusinasi.
Chris yang terkenal berhati batu dan tidak memiliki belas kasih sedang memangku istri yang tidak di cintainya.
.
Sesampainya di rumah sakit, Chris merubah total seluruh ekspresinya. Wajah kawatir dan panik jelas terlihat. Bahkan ia berteriak pada dokter yang menurutnya lamban.
Bayu dan Arjun menghela nafas pelan. Tahu sekali itu hanya pencitraan. Keduanya bahkan mengutuk dalam hati.
Sial sekali melihat iblis setiap hari. Lama-lama sisi baikku benar-benar akan hilang.
Kata Arjun dalam hati.
.
Ibu dan anaknya Catrin sudah ada di rumah sakit. Meskipun sudah larut malam, keduanya tetap datang. Jihan sudah sadar dan di pindahkan ke ruang inap.
"Mama mau makan? lapar tidak?" tanya Catrin
"Tidurlah, Cat. Besok sekolah." lirih Jihan.
"Tapi ... tapi ... "
"Ayo pulang dengan nenek. Besok kesini lagi jemput Mama. Kata dokter Mama sudah boleh pulang sore besok."
Catrin menunduk dalam. Dia merindukan mamanya dan ingin tidur memeluknya. Jihan yang paham menghela nafas. Melirik jengkel pada Chris yang tampak acuh dan sibuk dengan ponselnya. Berusaha menekan emosi, Jihan meraih tangan Catrin lembut. Sedikit rasa bersalah dihatinya karena sudah bersikap dingin padanya tadi pagi.
"Pulang ya, sayang. Cat tidak akan nyaman tidur di rumah sakit. Mama janji besok sudah sembuh dan pulang."
Mendengar itu Catrin mengangkat kepalanya cepat. Bisa di lihat binar matanya yang tampak bahagia. Membuat Jihan mau tidak mau tersenyum.
"Mama cepat sembuh ya! Cat akan jadi anak baik mulai sekarang. Akan belajar jadi dewasa agar tidak merepotkan lagi. Mama tidak akan lelah. Cat janji akan jadi anak penurut. Mama janji tidak pergi lama-lama lagi, oke!"
Seluruh orang tertegun. Bahkan Chris berhenti dengan ponselnya dan menatap anaknya. Jihan adalah orang yang paling anaknya harapkan. Bahkan anaknya tidak pernah sesedih itu saat ia pergi lama saat perjalanan bisnis.
"Mama ... mama ..."
Jihan jelas ragu, karena ia sudah berniat keluar dari kehidupan mereka. Mengingat dirinya hanya di anggap pengasuh. Jihan tidak sanggup mengatakannya.
"Mama akan tetap bersama kita, sekarang Cat pulang bersama nenek."
Itu adalah Chris, matanya menatap Jihan dengan pandangan yang sulit di artikan. Menghadirkan gelenyar aneh dihati meski segera ditepis oleh Jihan. Dia sadar dirinya hanya dianggap pengasuh saja.
.
Kini tinggallah mereka berdua di dalam kamar rawat inap. Chris sedang duduk bersandar di sofa ruang tunggu. Sibuk dengan laptopnya yang tadi di antarkan Arjun.
"Pergilah, saya lebih tidak nyaman saat anda di sini, Tuan!"
Chris mengangkat kepalanya. Sedikit kesal lagi-lagi Jihan memanggilnya seperti itu. Jihan tidak melihat ke arahnya sehingga tidak menyadari kekesalannya.
"Jangan pedulikan aku dan tutup matamu. Pikirmu kenapa aku ada di sini?"
Kini Jihan menatapnya, pada awalnya ia tidak mengerti sebelum dengan mulut sadisnya Chris berkata yang semakin membuatnya kesal.
"Seorang suami meninggalkan istrinya yang tak berdaya ... kamu tahu? kadang-kadang pencitraan itu perlu."
Maka Jihan berbalik. Tidak ingin menatap wajah yang amat sangat ia benci saat ini. Meskipun wajah itu nyaris sempurna, tidak ada artinya jika terus-terusan menghancurkan hatinya. Jihan berusaha mengatur emosi. Ia memilih diam dan bermain ponsel.
Chris tersenyum sinis. Merasa puas melihat ekspresi kesal di wajah Jihan. Ia melanjutkan pekerjaannya tampa merasa terganggu sama sekali.