Wife Or Nanny?

Wife Or Nanny?
80



Flasback_


Bayu menatap ibunya dengan sendu, mereka harus pindah dari kota ke sebuah desa yang baru saja berkembang. Ibunya berkata mereka akan hidup lebih baik disana. Ibunya akan bekerja disebuah pabrik.


Awalnya Bayu menolak, karena dia tidak suka meninggalkan teman-teman sekolahnya. Dia sudah kelas dua SMA dan itu waktu yang sulit.


Tapi, bujukan ibunya membuatnya akhirnya luluh. Bayu tidak punya pilihan. Setelah mengurus surat pindah sekolah, mereka pindah seperti orang yang terburu-buru.


"Kenapa ibu seperti dikejar sesuatu? Ibu terlihat cemas setiap waktu." tanya Bayu, mereka sedang berada di dalam kereta api yang sedang melaju.


"Kamu bicara apa? Ibu baik-baik saja."


Bayu memilih diam. Mereka memang jarang berkomunikasi. Ibunya sangat pendiam. Meski begitu, Bayu sangat menyayanginya. Baginya, ibunya adalah pahlawannya, satu-satunya orang di dunia ini yang membesarknnya. Satu-satunya harta berharga baginya.


Ibunya tidak pernah mau mengatakan identitas ayahnya. Bayu juga tidak berani bertanya banyak hal, karena setiap ia menyinggung perihal ayahnya, ibunya akan berakhir dengan menangis sendirian.


Sampai pada akhirnya, Bayu mendapat kabar buruk yang selalu ia takutkan selama ini. Tepat dihari kelulusannya, ibunya dibawa keluar dari bangunan runtuh akibat ledakan di dalam pabrik.


Ada banyak korban saat itu, Bayu masih ingat ketika orang-orang membawa ibunya yang telah meninggal keluar. Menyaksikan tubuh ibunya yang kurus dan lemah dipenuhi darah.


Setelah kepergian ibunya, Bayu kembali ke ibu kota. Dia memasuki sebuah perguruan tinggi dengan uang peninggalan sang ibu. Sambil bekerja disebuah sanggar seni bela diri, Bayu juga belajar bela diri disana.


"Kamu sangat berbakat, bagaimana kalau kamu ikut kejuaraan?" usul pelatihnya saat itu.


Bayu memang berbakat dalam seni bela diri sejak usia sekolah dasar, namun dia tidak serius dalam latihan. Guru besar disana, yang melihat potensinya, menawarkan untuk melatihnya secara pribadi. Karena itu, dalam setahun Bayu telah menjadi sangat hebat.


Bayu akhirnya ikut berbagai kejuaraan dari tahun ketahun. Sampai pihak kampus memberikan ia beasiswa. Bakatnya juga sangat bagus dalam olahraga, tapi dia tidak melihat adanya masa depan jika dia meneruskan sebagai atlit. Maka, ketika Bayu semester enam, dia berhenti mengikuti kejuaraan seni bela diri maupun olahraga. Fokus menyelesaikan kuliahnya yang hampir selesai.


"Permisi... Apakah kamu yang bernam Bayu?"


Bayu menoleh, dia baru saja keluar dari gerbang kampusnya. Menenteng sebuah kantung berisi perkakas proyek penelitiannya. Dia mengangguk pada pria yang memakai setelan rapi itu.


"Bisakah kita bicara?"


"Siapa Anda?" tanya Bayu.


Pria paruh baya itu mengeluarkan sebuah kartu nama dari dompetnya, lalu memberikannya pada Bayu.


"Kepala pusat keamanan MC?"


Bayu menatap pria itu dari atas ke bawah. Di umurnya yang sudah kepala empat, pria tua di hadapannya masih terlihat gagah dan kuat. Bayu bisa menebak dia memiliki kemampuan bela diri yang bagus.


"Jadi, anda ingin saya bergabung dengan bagian keamanan perusahaan itu? Dari mana anda yakin saya bisa?"


Pria dihadapannya tersenyum puas, dia tampak senang dengan pikiran kritis yang dimiliki oleh Bayu.


"Presdir yang mengusulkanmu, dia melihat bakatmu ketika hadir sebagai undangan pada pembukaan olimpiade tahun lalu. Sangat disayangkan kamu tidak melanjutkan bakatmu, karena itu... Presdir yang tertarik padamu memintaku untuk merekrutmu." Bayu ingat, MC memang satu-satunya dari swasta yang menjadi sponsor pertandingan saat itu.


Sejak saat itulah, Bayu memasuki rumah itu. Rumah yang menjadi awal ia mengetahui banyak rahasia keluarga itu. Termasuk, rahasia hubungan ibunya dan anak tertua dari keluarga MC. Saat ia tahu hal itu, Bayu sudah menjadi kepala pasukan keamanan menggantikan pria paruh bay yang mengundurkan diri.


Bayu ingat, saat penerus MC yang baru saja lulus dari luar negeri pulang. Ia sudah mendengar banyak bagaimana sifat dan rumor yang mengikuti nama itu, Bayu berusaha untuk bersikap baik padanya. Tapi saat itu, Chris yang masih sangat labil begitu sulit dikendalikan. Dia seperti pisau bermata dua, kebaikan yang kamu tunjukkan akan menusukmu pada akhirnya. Chris tidak pernah mempercayai siapapun.


Bayu berusaha menghindarinya sebisa mungkin. Saat itu dia masih berada di bawah perintah dan otoritas penuh Presdir saat itu, yang tak lain ayah Chris sendiri. Dia tidak terlalu sering berinteraksi dengan Chris saat itu.


Seiring berjalannya waktu, Bayu yang bekerja sangat setia dan selalu loyal, menemukan sebuah foto diantara tumpukan berkas lama yang tersimpan di ruangan kerja tuannya. Sebuah foto yang menghancurkan kepercayaan dan loyalitas yang sudah terbagun dengan sangat erat. Bukti pertama yang membuat Bayu mulai menyelidiki sebuah kebenarannya.


Flasback end_


Bayu terbaring dengan sisa air mata yang mengenang di pelupuk matanya. Dia masih mengingat bagaimana saat itu, ketika kemarahan menguasainya, namun dia harus mengendalikan dirinya. Bertingkah seperti anjing setia terhadap iblis yang membelenggunya.


Flasback


Bayu berdiri di depan pintu, mendengar dua orang dalam keluarga itu sedang bersitegang. Mencuri dengar seperti penguntit.


"Aku sudah cukup bersabar dengan anak haram yang kamu jaga selama ini. Aku masih berbaik hati menerimanya saat kamu membawanya kerumah ini. Tapi, bagaimana bisa kamu mengabaikan hari pernikahan kita dan malah pergi mengunjungi makam pelacur itu? Bagaimana bisa kamu memilih bersama orang yang telah mati dari pada istrimu sendiri!"


Plak!


Bayu mendengar sebuah tamparan keras. Dia masih tetap berdiri disana, bertahan untuk mendengar lebih banyak lagi.


"Kamu pikir aku tidak tahu kamulah yang membunuhnya? Memanfaatkan kelemahan orang lain, itu adalah keahlianmu bukan?Jangan bertingkah kamu satu-satunya korban disini! Pelacur? Kamulah pelacur sesungguhnya. Kamulah yang mengemis pada ayahku untuk menikahiku! Aku sudah memberikan satu anak, maka jangan mengusik apa yang aku lakukan! Jangan pernah melewati garismu!"


Bayu yakin bukan hanya tamparan yang diterima nyonya rumah ini. Dia bisa mendengar sayup-sayup suara napas terputus-putus dari dalam.


Ketika sebuah langkah kaki terdengar mendekati pintu, Bayu segera menyingkir dari sana. Menyembunyikan dirinya disebalik lemari besar yang berisi koleksi guci antik milik kakek Chris.


Sekali lagi, Bayu bekerja keras untuk membuktikan hal itu. Sampai pada akhirnya ketika Chris menikah. Bayu menemukan bukti-bukti kejahatan ibu Chris. Tentang rencana jahatnya yang memanipulasi kecelakaan kerja, hanya untuk membunuh satu orang yang dibencinya. Peristiwa yang menimbulkan banyak korban jiwa


Kakek Chris yang tahu kelakuan sang menantu kesayangan, memilih melindunginya. Membayar seluruh orang-orang yang terlibat dan menyuap lembaga hukum untuk menutup kasus itu sebagai kasus murni kecelakaan kerja. Dia bergerak dalam diam agar nama baik keluarga tetap terjaga. Bahkan ayah Chris baru tahu setelah beberapa bulan kemudian.


Flasback end_


"Kalian semua pantas mati, kalian yang telah membunuh ibuku, membuatnya hidup dalam ketakutan. Nyonya... Anda hanya menunggu waktu anda."


Bayu terkekeh, matanya merah karena terus mengeluarkan air mata. Tapi dia terus saja tertawa. Semakin lama di tertawa seperti orang gila.


Pintu terbuka, Alex masuk dan duduk satu-satunya di kursi yang ada disana. Menatap Bayu dengan raut penuh tanya. Bayu sudah berhenti tertawa. Perlahan dia duduk, lalu bersandar lada tembok di belakangnya.


"Sampai kapan kalian akan mengurungku disini? Memangnya apa yang di dapatkan Chris jika terus mengurungku?"


Alex mengetuk-ngetukkan jarinya ke meja. Seolah sedang berpikir, apa yang hendak ia katakan. Hal yang tidak biasanya ia lakukan. Karena Alex dikenal dengan orang yang spontan.


"Aku benar-benar kagum dengan kesabaranmu, kalau aku jadi kamu. Aku pasti langsung menembak orang itu tepat dikepala mereka." ujarnya.


Bayu menarik sudut bibirnya, menatap Alex dengan tatapan meremehkan pendapat yang diutarakannya.


"Lalu, apa yang mereka dapatkan selain mati?"


Alex diam sejenak, sedang menganalisa isi kepala manusia dihadapannya. Lalu, dia teringat pada wanita yang telah ia bunuh sebelumnya. Wanita yang membuatnya sakit hati dimasa lalu. Melihat apa yang dilakukan Bayu dan bagaimana cara dia bertindak, Alex menegerti perbedaan mereka.


"Rasa sakit, kamu ingin membuat mereka merasakan rasa sakit yang sama?"


Bayu tidak menjawab, dia hanya menatap Alex dengan tajam.


"Tapi... Justru perasaan sentimental itu yang membuat rencanamu gagal bukan? Kamu gagal membunuh pelaku utama pembunuhan ibumu."


Bayu tergelak, dia baru sadar bahwa Alex mencoba memprofokasinya. "Aku gagal? Ya, aku mungkin gagal karena Chris. Tapi justru disanalah poinnya, kan? Ibunya akan lumpuh selamanya. Apa dia tidak tahu efek racunnya sampai kesana?" Bayu tertawa lagi.


Tawa tampa suara yang terlihat menakutkan, tapi bagi Alex dia hanya salah satu bajingan lain sepertinya yang salah langkah.b


"Apapun racun yang kamu gunakan, itu tidak berpengaruh pada kekuasaan Chris. Kamu bahkan tidak melukainya sedikitpun. Jadi cukup sampai disini." Alex mengangkat tangannya, membuat dua jarinya tegak lurus.


"Pilihanmu ada dua," Alex melipat satu jarinya, "Penjara," lalu ia melipat sisanya, "Kematian."


Alex berdiri, menatap Bayu yang tertunduk menatap lantai. "Tenang saja, aku sangat ahli saat mengirim orang tampa rasa sakit." katanya, lalu keluar dari sana. Meninggalkan Bayu yang kembali terkunci.


"Penjara dan mati? Itu bukan sesuatu yany aku inginkan." katanya. Lalu tersenyum menatap pintu di depannya.