
Sebulan berlalu, Jihan akhirnya memilih pindah dari rumah Haris ketika Catrin akhirnya bisa dibujuk untuk ikut dengan nenek dan kakeknya. Nenek dan kakek dari orang tua Nana yang rutin mengajaknya bermain bersama. Jouji sendiri belum akrab dengan Catrin. Anak itu terlihat enggan ketika Jouji mulai mengajaknya bicara.
Jihan sudah menjauhkan Catrin dari TV atau sosial media. Tapi tidak ada yang tahu ketika dia disekolah. Anak itu, nyatanya tahu apa yang terjadi pada orang tuanya. Kenyataan bahwa Chris bukan ayah kandungnya dan ayahnya adalah seorang artis yang selama ini menjadi teman pamannya. Catrin terpukul dan mengalami gangguan mental. Anak itu menjadi depresi dan gampang menangis tampa sebab. Jihan adalah wanita yang selalu berperan sebagai ibu baginya. Bahkan ketika Catrin dibawa, Jihan selalu menunjunginya setiap pergi dan pulang kerja.
Kasus menjadi besar karena Jouji seorang aktor dan model. Dia bahkan kehilangan dua film karena perkara ini. Dia juga kehilangan banyak proyek iklan dan publik yang kecewa membuat manajemen yang menaunginya melakukan konfrensi pers. Jouji sendiri yang menjelaskan situasinya. Meski begitu, publik tidak serta merta mempercayainya. Nama Jouji memburuk dan dia kehilangan sejumlah fans garis kerasnya.
Tentu saja banyak spekulasi bermunculan dan melebar kemana-mana, lagi-lagi nama Chris menjadi rumor yang lebih empuk bagi media. Belum lagi kabar perceraian Chris dan dibawanya seorang balita berumur 5 bulan kedalam rumahnya.
Banyak spekulasi bahwa Chris menikahi seorang dokter yang merupakan mantannya setelah baru saja bercerai. Mengingat pernikahan Chris masih hitungan bulan, tidak ada dugaan perselingkuhan yang muncul. Publik hanya menyayangkan perceraian yang terjadi.
Banyak yang kasihan pada Jihan dan ada juga yang mendukung perceraian karena merasa Jihan hanya akan tersakiti. Netizen dan segala drama yang dibuat media menjadi topik yang selalu nikmat untuk disimak dimedia sosial bagi siapapun penikmat gosip.
Semua berita itu tentu saja berimbas pada mereka semua. Tapi Chris adalah jenius yang licik. Dia bisa membersihkan namanya dan membuat publik menyudutkan Jouji, Adora, bahkan Nana yang masih berada di rumah sakit jiwa. Perselingkuhan yang dilakukan mantan istrinya dan kedatangan Adora yang tiba-tiba memunculkan banyak dugaan buruk mengarah pada mereka. Tentu saja, sedikit banyak opini digiring oleh orang-orang bayaran Chris.
Lalu bagaimana dengan Jihan? Hebatnya, dengan sendirinya netizen yang tadinya menganggap dia tidak cocok dengan Chris, kini berbalik mendukungnya. Merasa Jihan lebih pantas dari pada kedua wanita lainya. Netizen seolah lupa akan penghinaan sebelumnya yang mereka lakukan, kini setelah Jihan berpisah dengan Chris, mereka seolah mendukung dan merasa sedih untuknya.
Sementara itu di dalam rumah Chris, kedatangan anak kandungnya tidak membuat Chris senang, apalagi adanya Adora yang terus bertindak seolah dia adalah nyonya rumah dengan adanya sang anak. Chris jarang pulang, dia lebih memilih tinggal dihotelnya dan pulang pergi dari sana.
Jihan juga mulai melebarkan bisnis kecilnya. Dia membuka kafe dan hari ini adalah hari peresmiannya. Jihan mengajak teman lamanya, bukan adik Haris. Dia tidak ingin terlibat dengan keluarga mantan suaminya. Karena letak kafe bersebelahan dengan toko pakaiannya, Jihan dengan mudah bisa mengurusnya.
Karena masih baru, Jihan bertindak menjadi kasir. Dia belum mendapatkan karyawan untuk mengisi tempat itu. Anggotanya juga baru empat orang dengannya sendiri. Dua di bagian dapur dan satu barista. Barista inilah yang merupakan teman sekolah Jihan dulu. Seorang wanita yang pendiam dan sedikit maskulin dalam penampilan. Dia hanya akan bicara ketika ada hal yang penting-penting saja. Seorang wanita yang selalu memakai topi, bernama Raya.
"Ji, pesanan meja nomor 8 apa?" tanya Raya.
"Hm? Oh, latte dan beberapa kue manis. Tinggal kopinya saja yang belum dihidangkan."
Jihan memberikan pada pelayan pria bernama Wawan, remaja yang baru saja lulus SMA. Dia dibagian dapur tapi terkadang bertindak sebagai pelayan juga. Pengunjung cukup ramai. Kebanyakan karena ingin mencoba dan beberapa adalah pelanggan toko yang ingin bersantai sejenak.
Suasana kafe mendadak hening ketika pintu kafe terbuka. Chris berdiri disana dengan pakaian formal. Seperti biasa, Arjun mengikutinya. Di belakang Arjun, Jordi berdiri dan tersenyum ramah pada Jihan.
"Lama tidak berjumpa, apa kabar kak Ji?" tanya Jordi, dia yang memesan untuk mereka.
"Anda bisa menyebutkan pesanan anda sekarang?" pinta Jihan, mengabaikan sapaan Jordi.
"Oh, tentu saja."
Jordi sedikit terkejut, namun dia berusaha bersikap santai. Agaknya mengerti alasan Jihan bersikap seolah tak mengenalnya.
"Pesanan anda sedang disiapkan, anda bisa menunggu disana."
"Oh, tentu saja. Terima kasih, kak Jihan."
Jihan tidak menjawab, dia hanya fokus pada pengunjung lain.
Chris sibuk dengan ponselnya. Kedatangan mereka tepat ketika jam makan siang. Jadi mereka kesana memang untuk makan siang. Jihan bahkan merasa heran kenapa orang-orang seperti mereka tidak datang ke restoran mahal alih-alih ke kafe kecil dengan menu biasa seperti miliknya.
Jihan sendiri yang mengantarkan pesanan mereka. Banyak mata yang melihat momen itu. Terutama mereka yang mengenali Chris. Semua tampak penasaran dan ingin tahu apa yang akan terjadi mengingat mereka adalah mantan pasangan. Tidak terkecuali teman Jihan, Raya. Dia yang biasanya acuh tak acuh kini menatap keduanya bergantian.
"Silahkan dinikmati," kata Jihan sebagai bentuk kesopanan.
Chris tidak bereaksi apapun dan tampaknya Jihan juga tidak peduli akan reaksinya. Wajah datarnya hanya fokus pada ponselnya. Arjun tersenyum ramah, begitu juga Jordi yang menjawab dengan ramah meski hanya mendapat anggukan singkat.
Setelah Jihan kembali ke belakang meja kasir, Chris menarik senyum tipis. Nyaris tak terlihat, namun dua orang di samping dan di depannya tentu saja menyadarinya.
"Anda merindukan dia kan, Tuan?" ujar Arjun.
"Karena itu kakak membawa kami kesini?" tanya Jordi.
Hubungan Jordi secara pribadi sebenarnya tidaklah baik dengan Chris. Namun karena Jordi berguna, Chris menempatkannya mengisi kursi yang sebelumnya ditempati pamannya setelah ia menendang pamannya itu keluar dari perusahaan. Bagaimanapun, Jordilah yang memberikan informasi pada Adora dan membantu ibunya. Tentu saja, Chris tahu tujuannya untuk balas dendam bagi perlakuannya selama ini. Jordi ini sedikit kekanakan dan memiliki cara yang aneh dalam melihat sesuatu, dia akan menciptakan masalah pada kelurga tidak peduli menimbulkan efek besar pada hidup orang lain. Lalu setelahnya, dia akan bertindak seolah tidak melakukan apapun.
"Habiskan makanan kalian, kita akan sibuk setelah ini." sahut Chris.
Ponsel Chris bergetar di atas meja. Dia meletakkan sendoknya lalu memeriksa pesan yang masuk. Menarik seringaian yang membuat siapapun terpana. Wajahnya mungkin tidak ramah, tapi tidak ada yang menampik bagaimana wajah itu bersinar dengan ketampanan yang luar biasa. Garis rahang yang tajam dan sorot mata dingin dengan tubuh yang tinggi kekar, membuat Chris seolah tak tersentuh dan berasal dari dunia berbeda.
"Menyesal?" ujar Raya kalem, nadanya rendah dan nyaris berbisik. Tapi Jihan masih bisa mendengarnya karena jarak mereka yang dekat.
"Apa?"
"Berpisah dengannya." sahut Raya akan kebingungan Jihan akan maksudnya.
"Tidak juga, bagaimanapun kami sudah selesai." jawab Jihan.
"Tapi matamu terus menatapnya, seolah kamu ingin melompat dalam pelukannya lagi." sindir Raya dengan wajah datarnya.
Jihan meliriknya dengan kesal. "Diam saja! Pesanan meja satu, nih!" ujar Jihan.
Raya tersenyum kecil, sepertinya dia senang bisa menggoda Jihan. Tampa dia sadari, ada sepasang mata yang memperhatikannya dari jauh. Seorang pria yang tak kalah tampan dari Chris.
"Apa yang kamu lihat? Siapa itu? Mantan kakak iparmu atau wanita yang memakai topi?" tanya Arjun melihat Jordi yang terus melihat kearah Raya.
Chris meliriknya sejenak, nama Jihan tentu saja alasan ia memberikan atensinya.
"Temannya tentu saja, Aku tidak suka mengusik milik orang lain." jawab Jordi, lalu fokus lagi pada makanannya.
"Aku selesai, pesankan kopi untuk dibawa ke kantor. Aku akan menunggu diluar." ujar Chris.
"Baik, Tuan!" sahut Arjun.
Chris tidak masuk ke dalam mobil, dia berdiri di luar untuk menelepon seseorang.
"Aku hanya menyuruhmu mengacaukannya, kenapa kamu malah membuat kesepakatan dengan orang tua itu?" tanya Chris.
"Hei bung! Aku hanya berbisnis sedikit. Jangan terlalu kawatir. Rencana akan tetap berjalan sesuai keinginanmu."
Chris berbalik, menatap area dalam kafe melalui dinding kaca yang transparan. Dia merasakan tatapan seseorang dibelakang punggungnya, karena itu dia langsung memeriksanya. Benar saja, dia memergoki Jihan yang menatapnya dari jauh sembari mendengarkan temannya bicara mengenai masalah lain.
"Kamu tahu sifat ibuku bukan? Dia tidak akan peduli asalkan tidak berhubungan dengan cucunya. Cukup lempar kotoran kewajahnya dan buat dia tidak memiliki kepercayaan diri untuk ditunjukkan padaku."
Chris bisa melihat ekspresi terkejut diwajah mantan istrinya itu. Lalu gerakan gugupnya yang terlihat lucu. Sayangnya Chris tidak tertawa, atau mungkin memilih menahan diri. Dia hanya pergi begitu saja menuju mobilnya yang terparkir.
Ketika Arjun dan Jordi kembali, Chris menutup panggilannya. Mereka kembali menuju kantor dan mulai lagi dengan kesibukan-kesibukan yang tak ada habisnya.
.
Seminggu berlalu, Chris terus datang ke kafe Jihan saat jam makan siang. Terkadang dia melakukan pertemuan dengan rekan bisnisnya disana. Jihan yang bingung dan canggung tentu saja hanya bisa melayani saja. Dia tidak punya keberanian untuk mencegah dan melarang. Bahkan, gara-gara Chris pernah membawa satu timnya kesana, kafe menjadi penuh dan Jihan terpaksa menarik Meri untuk membantu.
"Aku dengar Chris sering kesini? Apa dia mengganggumu?" tanya Haris.
"Dia sama seperti pengunjung lain." jawab Jihan.
Hubungan Jihan dan Haris sedikit membaik. Mereka selayaknya teman lama namun Jihan tetap menjaga jarak. Dia tidak akan membiarkam mereka terlibat dalam percakapan personal. Sejak dia menangis lama setelah berbicara dengan Chris malam itu, Jihan menyadari hatinya sudah menjadi milik Chris seluruhnya. Tidak ada yang tersisa untuk Haris seperti sebelumnya.
Meski begitu, ketidak percayaan diri dan trauma yang ia alami sebelumnya, membuat Jihan menyerah pada Chris. Belum lagi ada banyak hal yang bertentangan dengan hati dan prinsipnya akan tindakan dan keputusan yang diambil Chris. Sebagai contoh, Catrin yang dibuang begitu saja tampa memberi anak itu waktu apalagi penjelasan. Terkadang Jihan menyesalinya, namun terkadang dia juga bersyukur. Tapi yang pasti, saat ini Jihan tertekan oleh perasaannya sendiri.
"Kamu melamun lagi." tegur Haris, pria itu berdiri di sisi meja lasir alih-alih duduk di mejanya.
"Kembalilah ke mejamu, apa kakimu tidak lelah?"
"Tidak, aku betah disini berbicara denganmu. Aku tidak punya waktu banyak_"
Keduanya menoleh pada pintu utama, dimana Chris lagi-lagi datang. Kali ini dia hanya bersama Arjun. Tidak ada Jordi atau rekan bisnis lain. Keduanya duduk di meja yang sama seperti sebelumnya, seolah meja itu selalu tersedia untuk mereka.
Chris jelas merasa marah dalam hatinya. Namun dia tidak menampilkan ekspresi apapun. Dia hanya duduk dengan tenang sambil memainkan ponselnya, membaca dan membalas pesan beberapa bawahannya.
"Pesanan yang sama untuk kopi, tapi kali ini Tuan hanya ingin makanan manis." ujar Arjun, lalu dia melirik Haris yang menatapnya juga.
"Apakah rumah sakit sudah kekurangan pasien, dokter Haris? Anda tampak sangat santai hari ini."
Haris meluruskan berdirinya, tersenyum sinis setelah menyadari arti dari kalimat itu.
"Jadi kekacauan akhir-akhir ini di rumah sakit adalah pesanan tuanmu?"
Arjun mengerutkan meningnya seolah tidak mengerti. Membuat Haris mengepalkan tangannya dengan wajah menahan emosi.
"Apa maksud anda, saya sama sekali tidak mengerti."
"Teruslah bermain licik seperti ular, aku tidak akan semudah itu kalian jatuhkan."
"Tentu saja, anda cukup kuat dengan mantan mertua anda di belakang, tapi anda juga tahu bukan? Bahwa kami jauh lebih kuat." sahut Arjun dengan lebar, terlihat menyebalkan untuk dilihat ketika yang dia ucapkan adalah kalimat ancaman. Arjun kembali pada kursinya begitu saja. Meninggalkan Haris yang menatapnya dengan kesal.
Jihan melirik Haris sesaat, namun memilih tidak bertanya karena tidak ingin ikut campur. Masalah kedua orang dihadapannya bukan urusannya lagi. Jadi dia diam saja seolah tidak mendengar apapun. Haris segera memohon izin ketika ponselnya berbunyi, apalagi jika bukan ada pasien darurat. Dia segera pergi setelah pamit pada Jihan.
Chris menikmati makanannya seperti biasa. Dia bahkan sangat tahu saat Jihan selalu menatapnya dalam diam. Menikmati akan susana yang ia bangun. Menciptakan rasa frustasi pada Jihan dan dirinya sendiri. Juga memastikan bahwa Jihan tetaplah berada pada jarak yang aman dari pria manapun terutama Haris, Chris tidak akan pernah membiarkan Jihan memiliki banyak waktu [dengannya sehingga Haris bisa manariknya kembali. Chris membuat Haris bekerja lebih banyak dan menciptakan sedikit keributan kecil di dalam rumah sakit untuk membuat fokusnya terbagi.
"Sampai kapan anda akan melakukan langkah ini, Tuan? Menurut saya anda tidak perlu terlalu kawatir akan mantannya. Nyonya Jihan tampaknya memberikan jarak yang sama."
"Aku tahu, aku hanya menutup peluang."
"Bukan untuk kepuasan anda sendiri?"
Chris menatapnya tajam, Arjun tersenyum lebar sebagai tanda minta maaf.
"Tuan, pesanan anda."
Wawan meletakkan pesanan mereka di atas meja. Namun karena tatapan tajam Chris dan pandangan tak sukanya, membuat dia gugup dan menumpahkan kopi panas di depan Chris yang mengenai kemeja putih dan jas abu-abunya.
"Ma-Maaf! Maafkan saya Pak, saya tidak sengaja..."
Chris berdiri dengan cepat dan mendorong kasar tangan Wawan yang berusaha mengelap kemejanya dengan tisu. Jihan yang melihat kejadian itu segera berlari menghampiri mereka. Menyuruh Wawan membereskan meja dan membawa kopi yang baru.
"Maafkan dia, aku akan mengganti pesanannya dan kerugian yang anda terima." ujar Jihan dengan sangat formal.
"Tuan akan mengadakan rapat setelah ini, tidak ada waktu kembali ke kantor." ujar Arjun.
Jihan tampak cemas, tidak ingin masalah yang ditimbulakan karyawannya lebih besar lagi.
"Bisakah kamu ikut denganku ke sebelah? Aku akan mencarikan pakaian lain."
Chris tidak menjawab, sebuah fakta yang takndiketahui siapapun, dia senang Jihan tidak berbicara formal padanya. Chris melangkah keluar menuju toko Jihan. Jihan yang semakin gugup mengikutinya dengan cepat. Sementara Arjun kembali duduk dan memakan kuenya dengan santai.
Raya yang melihat kejadian itu meletakkan gelas yang sedang ia pegang dan berjalan ke dapur menghampiri Wawan yang kembali bekerja.
"Rika, keluarlah sebentar." ujar Raya pada pegawai lain yang ada disana. "Kamu sengaja bukan?" tanya Raya setelah hanya dia dan Wawan disana.
"Ma-Maaf kak, tapi... Tapi saya tidak bisa menolak. Orang yang menyuruh saya mengancam akan memukul dan melukai saya."
"Siapa yang menyuruhmu? Bukan salah satu diantara mereka?"
Wawan menggeleng cepat. "Tadi saat berangkat, dua orang menghadang saya dijalan dan menyuruh saya melakukan itu. Saya tidak kenal mereka tapi mereka sejak tadi mengawasi diluar."
Raya segera memeriksa area depan. Tapi tidak ada siapapun. Sedari tadi dia tidak memperhatikan, jadi Raya tidak tahu apakah ada dua orang disana sebelumnya atau tidak. Tapi yang pasti, dia sangat yakin dengan dugaannya. Namun dia memilih diam selama karena belum punya bukti. Lagi pula dia tidak ingin mencampuri urusan orang lain selama tidak menimbulkan masalah bagi kafe ini.
Sementara itu, Jihan membawa Chris masuk ke dalam ruangannya setelah memilih satu kemeja, satu dasi dan satu jas yang sesuai dengan celana Chris.
"Pakaikan ini untukku."
Itu adalah kalimat pertama yang keluar setelah selama ini Chris hanya datang dan pergi dari kafenya. Suara yang dalam dan tenang, membuat Jihan lebih gugup lagi. Dia sadar, dia merindukan suara ini. Tapi dia tidak ingin terpengaruh.
"Kamu bisa melakukannya sendiri." tolak Jihan.
"Tentu saja, tapi aku akan menuntut karyawanmu mengganti bajuku. Kamu pasti bisa menebak berapa harganya bukan? Bahkan pakaian yang kamu berikan tidak sampai seperempat dari harga pakaianku yang kotor."
Jihan mengutuk Chris di dalam hati. Dia tidak suka membuat orang lain dalam masalah hanya karena masalah kecil, jadi Chris memanfaatkan sifatnya itu dengan baik.
Dengan tangan bergetar dan mata tertutup, Jihan berusaha membuka dasi Chris terlebih dahulu. Chris yang melihatnya tersenyum, benar-benar menawan. Tapi dengan cepat dia kembali datar. Menahan tangan Jihan dan menurunkan keduanya perlahan.
"Berbaliklah, aku akan melakukannya sendiri." kata Chris pada akhirnya. Sejujurnya, dia hanya ingin menggoda Jihan. Dia sama sekali tidak memiliki keinginan menunjukkan tubuh atasnya ketika dia sudah tahu batasannya.
Tampa banyak berpikir, Jihan berbalik dengan perasaan lega. Setelah Chris rapi dengan pakaiannya, Jihan mengambil pakaian kotor Chris dan memasukkannya ke dalam sebuah kantung.
"Aku akan mencucinya dan mengembalikannya padamu nanti."
Jihan pergi terlebih dahulu ketika Chris tidak menanggapinya. Ketika Chris hanya menatapnya dan menciptakan suasana canggung lebih besar lagi.
Mereka kembali ke kafe, Jihan membungkus kue yang belum sempat dimakan oleh Chris dan meletakkannya kedalam sebuah kotak kecil. Chris menerimanya dengan kerutan di dahi, Arjun bahkan menahan tawa melihat reaksinya. Karena tidak ada waktu lagi, Chris keluar setelah melihat jam ditangannya.
"Mereka benar-benar orang sibuk." kata Raya.
"Ya, dia memang selalu sibuk." sahut Jihan pelan, menatap bungkusan berisi pakaian Chris yang ia letakkan dibawah meja.
Raya menatap temannya itu dengan pandangan tertarik. Seolah ia sedang menonton live drama di televisi. Sangat penasaran dengan alur cerita dan apa yang akan ia lihat di akhir cerita. Mengabaikan fakta yang ia ketahui, dia ingin melihat bagaimana rencana yang mantan suami Jihan buat berjalan. Dia bukan wanita naif yang tidak bisa melihat sorot mata Chris dan tujuan kedatangannya setiap hari.