Wife Or Nanny?

Wife Or Nanny?
79



Jihan berjalan dengan perasaan senang karena bisa bertemu dengan Meri. Ketika dia membuka pintu, Jihan disambut suasana hening yang sedikit aneh. Ruangan khusus tim perencanaan tiga sedikit berubah dari terakhir kali Jihan masuk. Dia berjalan mendekat pada tiga orang yang sedang memunggunginya.


“Kalian sedang apa?”


Ketiga orang karyawan itu menoleh dan berbalik dengan terkejut. Begitu juga Meri, dia berhadapan dengan seorang pria yang kini juga menoleh pada Jihan. Ketika Jihan mengenalinya, pria itu langsung tersenyum. Senyum bisnis yang cukup menyebalkan karena Jihan mengenalnya dengan sangar baik.


“Jadi, kamu kepala tim yang baru? Wah... Dunia ini memang sempit.” Kata Jihan.


Dia berdiri di depan Meri, menghalangi sahabatnya dari pria di hadapannya.


Tiga orang yang lain tampak bingung dengan hubungan ketiganya. Apalagi Meri baru saja masuk hari ini, kepala tim mereka juga masih dua hari disana.


“Lama tidak bertemu, Jihan. Aku mendengar cukup banyak tentangmu.” Kata pria itu.


Jihan menggerakkan jari-jarinya yang gatal. Lalu dengan segala rasa kesal yang ia miliki, dia mengambil sebuah berkas yang cukup tebal di meja, lalu memukul bagian mana saja yang bisa ia kenai dari tubuh pria itu.


“Pria tidak tahu malu! Berani-beraninya kamu kembali dan masuk ke sini! Kamu mau mati ya! Aku akan memperingatkanmu! Jangan menunjukkan wajahmu lagi di depan kami!” Jihan berhenti sesaat. Sorot matanya menunjukkan bahwa dia ingin memakan orang. “Ajukan pengunduran dirimu dan jangan datang lagi kesini!”


“Ji... Tenanglah... kamu sedang di kantor dan di depan pegawai lain.” Lirih Meri.


Jihan menatap tiga orang lainnya. “Kalian mau tutup mulut kan?” tanyanya dengan polos.


Tentu saja semuanya memberikan anggukan dengan cepat. Mana berani mereka mengatakan tidak. “Kalau begitu bisakah aku meminta ruang sebentar?” pinta Jihan lagi dengan lembut.


“Terima kasih.” Kata Jihan dengan senyum tulus ketika mereka berjalan keluar.


Tapi ketika dia menghadap pada kepala tim yang baru, rautnya berubah menjadi horor lagi. Tangannya ia lipat ke dada dan menatap pria dihadapannya dengan tajam.


“Kenapa kamu bisa disini?” tanya Jihan.


“Apa maksudmu, perusahaan ini yang memintaku, aku hanya menerima tawaran yang bagus ini.”


“Tawaran bagus, katamu? Kamu sengaja kan?” tuduh Jihan.


“Mana mungkin!” dia melirik Meri yang terus menatap kearah lain. “Aku hanya rindu negaraku sendiri. Jadi aku pulang.”


“Apa tujuanmu kembali?” sinis Jihan.


“Jadi istriku dan kepala tim yang baru saling kenal?”


Jihan menoleh, Meri dan pria itu segera memberi sapaan dengan menundukkan kepala sekali.


“Apa dulu kalian dekat?” tanya Chris, dia datang bersama Arjun yang sedang memegang berkas.


“Aku lupa soal rapatnya, maafkan aku!” kata


Jihan ketika ingat tugasnya pagi ini. Menatap Arjun dengan pandangan bersalah.


Arjun memberikan tersenyum terpaksa, dia sudah kawatir dengan aura Chris sejak Jihan tidak kembali. Padahal belum ada setengah jam dia pergi. Arjun memberi kode agar Jihan melihat ke arah Chris.


“Ah maaf Presdir,” kata Jihan dengan formal.


Chris menarik sang istri dengan cepat ke sisinya. Lalu menariknya pergi dengan merengkuh pingangganya. Arjun menoleh pada pria itu.


“Rapat pagi ini, jangan sampai terlambat kepala tim Bastian.”


“Tentu, terima kasih atas kebaikan anda.” Jawabnya.


.


Karena kekesalannya pada kepala tim baru yang bernama Bastian itu, Jihan lupa memperhatikan ekspresi Chris di sampingnya selama rapat berlangsung. Sehingga ketika Chris merasa tidak tahan lagi, dia menggebrak meja dengan keras.


Tentu saja semua mata mengarah padanya, terutama Jihan yang kebingungan. Dia memperhatikan pena yang telah patah menjadi dua di tangan Chris.


“Ada apa, Presdir?” tanyanya dengan polos.


Arjun memijit kepalanya yang tiba-tiba terasa sakit. Sementara seorang sekretaris direktur Jordi yang sedang di depan bergetar ketakutan.


“Ap-apa ada yang salah, Presdir? Apa ada yang perlu saya perbaiki?” tanyanya dengan gugup.


“Lanjutkan!”


Mendengar itu, semua orang kembali fokus. Jihan juga kembali fokus pada pembahasan di depan. Bastian yang sepertinya bisa menebak akar permasalahan, tersenyum kecil. Hal itu tidak luput dari perhatian Chris yang sejak tadi memperhatikan dirinya dan sang istri. Presdir kita benar-benar terlalu pecemburu sekarang.


Selesai rapat, Jihan hendak menghampiri Bastian untuk memberinya peringatan. Namun hal itu tampaknya lagi-lagi disalah artikan oleh sang suami. Chris langsung menarik tangannya untuk pergi, lalu memberi pesan pada Bastian untuk menghadap ke ruangannya.


“Kamu kenapa tiba-tiba begini?”


Jihan menarik tangannya ketika mereka telah berada di dalam lif. Namun Chris tidak bicara sama sekali sampai mereka tiba di dalam ruangan kerjanya.


“Apa kamu sadar kamu terlihat sedang selingkuh terang-terangan?”


Jihan menatapnya dengan aneh namun juga sedikit galak.


Tentu saja tidak terima dengan tuduhan itu.


“Kamu bicara apa sih? Aku selingkuh terang-terangan? Memangnya dengan siapa?”


“Kamu masih bertanya? Tentu saja dengan karyawan baru itu!”


Jihan melotot, setelah dia tahu penyebab sikap Chris yang aneh sejak tadi, dia tertawa keras. Apalagi wajah Chris seperti sedang merajuk dari pada marah dengan cara mengerikan seperti biasa.


Pintu diketuk dua kali, suara Arjun terdengar dari luar. “Tuan, Bastian sudah diluar.”


“Masuk!” perintah Chris.


Bastian menoleh pada Jihan dan tersenyum ramah padanya. Jihan menyipitkan mata dan mengerutkan perempatan keningnya.


“Aku sudah mendengar tentang kemampuanmu, aku cukup senang kamu bergabung dengan kami. Tapi... Jika kamu punya masalah dengan Istriku, aku tidak bisa membiarkannya bergitu saja.”


Jihan yang berdiri di samping Chris langsung menghembuskan napasnya dengan kesal.


“Presdir, bisakah aku bicara secara pribadi dengannya?” tanya Jihan, namun ketika ia melihat respon Chris, dia langsung menambahkan. “Disini! Di depanmu.” Bastian hampir tertawa melihat interaksi mereka. Dia bukannya tidak mendengar tentang sosok Chris.


“Bicaralah!”


Suaranya datar, tapi tentu saja dia tidaj tenang sama sekali. Dia berpura-pura membaca berkas di hadapannya, tapi telinganya sangat waspada untuk mendengarkan pembicaraan sang istri.


Jihan mengajak Bastian duduk di sofa, tempat dimana mereka biasa mengadakan diskusi.


“Jadi, katakan alasanmu pergi saat itu? Karena kamu, dia menderita rasa sakit yan lama.”


“Maaf Jihan, tapi aku tidak bisa mengatakan hal ini padamu. Aku akan meminta maaf secara langsung padanya. Selain itu, aku juga ingin memperbaiki kesalahanku dimasa lalu padanya.”


“Dan kamu pikir aku akan membiarkan kamu menyakitinya lagi?”


“Tidak akan, beri aku kesempatan. Kalau aku menyakitinya lagi, kamu bisa melakukan apapun padaku. Kamu bisa melakukan apapun dengan Presdir di sampingmu, bukan?” Bastian tersenyum, seolah membawa nama Chris tidak masalah sama sekali.


Padahal orang yang ia bicarakan bisa saja memecatnya secara langsung.


"Dengan syarat, Meri tidak boleg berada di dalam timmu."


"Tapi... Itu tidak profeaional, bukan? Jangan campur adukkan pekerjaan dengan pribadi, Bu Jihan." jawabnya.


Jihan menggeram dalam hati, dia tahu Bastian benar. Karena itu Jihan tidak bisa menjawabnya.


.


Setelah Bastian kembali, Jihan menghadapi Chris yang meminta penjelasan dari sikapnya sejak tadi.


“Dia itu_ bajingan yang menghancurkan hati sahabatku. Mereka menjalin hubungan sejak SMA. Tapi dia menghianati Meri dengan pergi keluar negeri setelah lulus. Tampa penjelasan, tampa kata perpisahan dan tidak menghubunginya sama sekali sampai sekarang. Ketika Meri akhirnya bisa bangkit, dia malah jatuh pada orang yang salah. Ini membuatku sangat bersedih untuknya.” Kata Jihan panjang lebar.


Sejak peristiwa penculikan, Meri memang menjadi lebih diam dari sebelumnya.


Chris membawanya ke dalam pelukan, mengelus kepalanya dengan sorot mata yang dingin. Di dalam hatinya, dia tidak suka Jihan memikirkan hal lain. Tiba-tiba perasaan seperti itu membuat kepalanya pusing. Ini tidak terjadi sebelumnya, namun ketika Jihan lebih terfokus pada orang lain dan mengabaikannya, Chris menjadi sangat terganggu.


‘Aku semakin gila karenamu.’


.


Sore hari, ketika Jihan sudah di antar pulang. Chris kembali pergi. Kali ini dia membawa mobilnya sendiri. Dia melajukan mobilnya dengan kencang agar sampai pada tujuan dengan cepat.


Chris masuk dalam kawasan rumah lamanya. Dia disambut oleh pengawal yang berjaga. Lalu segera membawanya menuju ruang paling belakang dari rumah itu. Sebuah ruangan kecil tampa jendela. Tempat dimana Bayu dikurung.


Alex dan Arjun sudah menunggunya di depan pintu, mereka bersama dua perngawal lainnya.


“Buka.”


Pintu dibuka, Bayu sudah terlihat sangat lusuh karena tidak diberikan baju ganti. Dibiarkan tampa mandi. Bau keringat menyeruak ketika Chris mulai melangkahkan kakinya masuk. Menatap Bayu yang terbaring di lantai. Ketika dia menyadari Chris yang masuk, dia segera duduk dan menatapnya dengan sorot penuh dendam dan kemarahan.


“Aku dengar kamu ingin menemuiku,” mulainya, dia duduk di satu-satunya kursi yang ada disana. “Bicaralah, aku akan mendengarkanmu dengan baik.”


Bayu mencoba berdiri, namun kedua pengawal tadi langsung menahan kedua bahunya. Memaksanya berlutut di hadapan Chris.


“Lepaskan aku, rahasia apapun yang ingin kamu ketahui, itu tidak ada gunanya sekarang untukmu.” Kata Bayu.


Dia tidak lagi memanggil Chris dengan panggilan bawahan pada atasan. Itu artinya, dia menyatakan diri tidak akan kembali.


“Bayu, kamu tahu sendiri aku bukanlah orang yang baik. Bahkan pada keluargaku sendiri. Aku tidak peduli mereka sehancur apa. Karena mereka juga menghancurkan aku sejak dulu. Dalam kasus ini, bukankah kita seharusnya menjadi rekan yang baik?”


Bayu tertawa, tawa yang terdengar sangat menyedihkan. Dia menatap lantai diantara mereka dengan mata yang berkaca-kaca.


“Keluarga kalian memang sarangnya iblis.” Desisnya tajam.


Chris menghela napas, dia memeriksa jam tangannya. “Jika kamu hanya akan mengatakan omong kosong, aku tidak punya waktu untuk itu.” Chris sudah akan bangkit ketika Bayu mendongak.


“Keluargamu... Keluargamu adalah yang terburuk Chris, bahkan untuk anaknya sendiri.”


Air mata Bayu menetes, dia terlihat seperti sangat menderita. Pertama kalinya Chris melihat kelemahan diwajah Bayu. Namun dia tidak mengatakan apapun, Chris hanya menunggu.


“Ibuku mati ditangan keluargamu. Ibuku... Dibuang oleh ayahmu. Kami dibuang hingga ibuku harus berusaha sendiri. Dia tidak menginginkan apapun, tapi kenapa keluargamu terus mengganggunya? Ibuku tidak bersalah! Ibuku hanya korban pria brengsek yang tidak bertanggung jawab!”


“Apa yang coba kamu katakan?” Nada rendah dari suara Chris terdengar sangat mengancam.


Tidak suka ketika kesadaran akan sebuah fakta menghampiri benaknya.


Bayu menyeringai. “Kamu terkejut? Kamu pasti menemukan bahwa orang tuaku adalah korban dari pekerja yang mati.”


Tampa sadar, Chris memegang jantungnya yang terasa berdetak dengan kuat dan menimbulkan rasa tidak nyaman.


"Jangan bilang kalau kamu... Adalah anak dari wanita itu."


"Aaah, kamu menemukannya? Wanita lain ayahmu? Ya, aku anaknya. Anak dari wanita yang dibunuh oleh ibumu."


Bayu tertawa, namun air matanya jatuh kembali. Mata mereka bertemu. Bayu dengan sorot menghina dan Chris yang masih terkejut.


...............


Ini udah mau mendekati ending. Aku akan mulai revisi novel ini. Jadi akan ada sedikit perubaham kalimat disana sini. Karena aku sadar banyak kekacauan disana sini.


Terima kasih kalian udah mau baca dan kasih dukungan untuk karya ini.


Jangan lupa dukungan untuk novel aku yang lain. Terutama novel terbaru, "who am i". Novelnya pencarian identitas yang dibumbui sedikit kisah romance . Hehehe... buat kalian yang suka dengan fantasi dengan tema mutasi DNA, please coba baca aja dulu. Mana tahu suka.


Komentarnya aku tunggu gays... Kritik saran kalian, karena tulisan aku masih mentahan banget. Aku butuh tevisi sana sini.


🤗🤗🤗🤗🤗