Wife Or Nanny?

Wife Or Nanny?
50



Setelah dua minggu belajar bersama Arjun, Jihan sudah cukup memahami pekerjaannya. Selama sesi belajar itu, Chris membiarkannya dan benar-benar tidak mempersulitnya. Yang paling menderita tentu saja asisten sungguhannya. Arjun harus menjadi supir pribadi Jihan dan Chris sekaligus. Bahkan itu sudah menjadi buah bibir di kalangan karyawan.


Karyawan lama tentu saja mengenali Jihan. Dari mereka semua, tentu saja ada yang mendukung dan ada yang tidak. Seperti kesekian kalinya ketika Jihan sendirian ke kantin atau ke dapur sekedar membuat kopi, akan ada satu dua orang yang membicarakannya dibelakang.


Menuduh banyak hal padanya. Mengatakan bahwa dia memanfaatkan status mantan istri, atau tuduhan lebih hina dengan mengatakan bahwa Jihan bekerja disini karena ingin merayu Chris kembali. Tidak ada satupun karyawan yang ingin dekat dengannya sebagai teman. Dia dihindari oleh setiap orang. Selain karena tidak suka, kebanyakan mereka menjauhi Jihan karena tidak ingin terlibat masalah. Mengganggu atau berteman dengannya hanya akan merugikan mereka. Itulah yang ada dipikiran orang-orang disana.


Jihan hanya menghela napas, dia tidak mau memikirkan perkataan orang-orang yang tidak menyukainya. Dia lebih memilih berkosentrasi pada pekerjaannya.


"Jihan?"


Jihan berhenti ketika dia akan masuk ke dalam lift. Dari arah kanan, ruang rapat. Raya keluar dari sana bersama Jordi. Tentu saja hal itu membuat Jihan mengerutkan kening.


"Raya?"


Jihan menghampirinya, memberi sapaan hormat pada Jordi karena dia adalah atasannya sekarang. Tersenyum pada Raya kemudian.


"Kamu bekerja disini? Maaf saat itu aku belum bisa membantu..."


"Tidak-tidak! Akulah yang minta maaf. Aku menyusahkanmu dengan sisa gaji karyawan. Aku akan segera membayar ketika aku gajian nanti." sela Jihan dengan wajah tidak enak.


Raya tersenyum, "Jangan pikirkan itu..."


"Kamu... karena kerja sama dengan perusahaan ini atau...?"


"Kami akan mengunjungi suatu tempat, dia mewakili ayahnya untuk menandatangani kerja sama." jawab Jordi yang sejak tadi hanya jadi pendengar.


"Ooh, aku ingat Arjun mengatakan perusahaan ayahmu menjalin kerja sama. Aku pikir itu kakakmu, aku senang akhirnya kamu serius."


Raya memutar bola matanya dengan malas, membuat Jihan melepaskan tawa. "Jangan tertawa, kamu tahu ini pemaksaan. Nah, sampai jumpa Jihan." ujar Raya dan segera pergi.


"Ya ampun, dia benar-benar bar-bar. Hei, kamu harus bersikap baik padaku..." protes Jordi, dia melambai sekilas pada Jihan dan segera menyusul Raya.


'Mereka tampak dekat,' pikir Jihan.


Chris sedang kedatangan tamu ketika Jihan kembali. Arjun menyuruhnya duduk dan menunggu rapat selanjutnya. Terdengar suara tangisan bayi dari dalam dan pintu terbuka dengan keras.


"Jangan keterlaluan, Chris. Aku selalu berusaha bersikap baik padamu. Kenapa kamu selalu seperti ini? Bagaimanapun kita harus membesarkan anak kita bersama!"


Kereta dorong bayi terdorong keluar pintu ketika Adora kembali berbalik dan menghadap pada Chris yang tampaknya mengusir mereka. Bayi berumur genap enam bulan itu menangis keras. Tapi tampaknya sang ibu malah memilih berdebat dengan ayah sang bayi.


Jihan yang kasihan reflek bangun dan mengambil bayi itu. Menggendongnya dan menenangkannya. Anehnya, bayi itu langsung diam ketika dipegang oleh Jihan. Hal itu membuat dua orang yang sedang beradu argumen menoleh padanya.


"Kamu? Kenapa kamu disini? Letakkan anakku!" bentak Adora kasar.


"Kamu seorang dokter, bukan? Harusnya kamu tahu resikonya jika bayi terlalu lama menangis. Ini hanya kemanusiaan jadi jangan salah paham!" balas Jihan ikut kesal. Dia bahkan lupa posisinya disana.


Serta merta Adora merubah raut wajahnya. Dia seperti menyesali perkataannya dan segera menghampiri Jihan dan mengulurkan tangannya.


"Maaf, aku hanya terbawa perasaan karena kekecewaan. Aku salah, maafkan aku ya Jihan. Kamu benar, harusnya aku segera menenangkannya." Adora mengambil bayinya dan menimangnya dengan penuh kasih. "Maaf baby..." ujarnya, lalu beberapa detik dia meletakkan bayinya di kereta dorong dan tersenyum pada Jihan.


"Bisakah aku bicara denganmu?" tanyanya.


"Tidak ada waktu untukmu lagi disini. Segera pergi sebelum aku memanggil keamanan." sela Chris dengan dingin. Sejak tadi dia bersandar di ambang pintu dengan tangan bersedekap.


"Lima menit, hanya lima menit. Aku ingin minta maaf dengan benar." pinta Adora.


Jihan menatap Chris dengan ragu-ragu. Dari raut wajahnya jelas dia tidak mengizinkan. Namun ketika mata mereka bertemu, Chris akhirnya tidak bisa menolak. Seakan ketegasannya luntur ketika mata penuh permintaan Jihan terarah padanya.


"Lima menit dan segera menghadap padaku setelah itu!"


Pintu terbanting tertutup ketika Chris masuk ke dalam ruangannya. Arjun melirik genggaman tangan Adora yang mengeras pada pegangan kereta bayinya, serta otot rahang yang mengeras sesaat. Menarik senyum sudut ketika mereka berdua keluar dari pintu utama menuju lorong ke arah lift.


"Aku merasa malu padamu, Aku membayar preman dan membuatmu kesulitan. Aku hanya kehilangan akal saat itu. Aku berharap bisa membesarkan anak kami dengan hubungan yang pebih baik. Tapi seperti yang terlihat. Chris adalah manusia yang tidak memiliki hati. Kamu juga pasti tahu, dia orang yang seperti apa. Baginya, bahkan anak ini tidak berharga. Tapi aku bersyukur neneknya menyayanginya."


Jihan terlihat tidak tahu harus mengatakan apa. Bagaimanapun, jelas Jihan tidak mempercayai perkataan Adora seratus persen. Meski begitu, dia tetap memberikan maaf.


"Tidak apa-apa. Lupakan masa lalu. Kalau begitu aku akan kembali." jawabnya.


"Hati-hatilah!" kata Adora sedikit mengeraskan suaranya karena jarak mereka.


Jihan berhenti melangkah ketika tepat di depan pintu, menoleh pada Adora yang menatapnya. "Dia membuatmu bangkrut dengan bekerja sama dengan temannya, lalu tiba-tiba memberimu pekerjaan. Chris punya cara sendiri untuk balas dendam jika merasa harga dirinya terluka." laniutnya, tersenyum tipis sebelum masuk ke dalam lift yang terbuka.


Jihan terdiam sesaat sebelum membuka pintu. Berjalan lurus ke depan pintu ruangan Chris dengan wajah ragu-ragu.


"Masuk saja dan jawab pertanyaannya dengan jujur. Dia akan tahu kalau kamu berbohong." kata Arjun tampa melihat. Mata dan tangan pria itu fokus pada komputernya.


Jihan mengetuk dua kali dan langsung membuka pintu. Chris meletakkan penanya dan memeriksa jam ditangannya.


"Enam menit empat puluh detik." katanya, lalu menatap lurus kedalam mata Jihan.


"Maaf Presdir," ujar Jihan dan segera menurunkan pandangannya.


Chris memperhatikan gekstur Jihan yang tampak sangat gugup itu. Setiap kali melihat sikap itu, Chris selalu merasakan ada letupan-letupan hangat dihatinya. Seolah hal itu membuatnya selalu ingin dan ingin terus melihatnya. Memperhatikan ekpresi Jihan yang terus berubah-ubah membuatnya senang tampa alasan.


"Apa yang wanita itu katakan padamu?"


"Hanya minta maaf."


Jihan meneguk ludahnya dan terlihat tidak ingin menjawab.


"Hanya itu, Presdir." jawab Jihan.


Chris bangun dari duduknya dengan gerakan tiba-tiba dan berjalan kesamping Jihan. Meraih dagu Jihan dan mengangkatnya dengan ibu jarinya.


"Tatap aku dan jawab, apa yang dikatakan ****** itu."


Jihan mwngerutkan keningnya, dia menepis tangan Chris dan bergeser satu langkah.


"Itu pembicaraan pribadi, saya pikir itu bukan urusan anda, Presdir." kata Jihan dengan nada dibuat seberani mungkin.


Chris tersenyum sesaat, namun tentu saja Jihan tidak melihatnya karena dia melihat kearah lain.


"Jadi, aku harus memiliki hubungan pribadi denganmu untuk tahu apa pembicaraan itu?" tanyanya.


Sontak saja mata Jihan melebar, namun dia masih melihat kearah lain selain arah Chris berada.


"Bukan itu maksud saya. Tolong jangan salah paham. Saya pikir anda mengerti dengan apa yang saya maksud."


"Sayangnya aku tidak mengerti. Wanita itu tinggal dirumahku, ibu dari anakku, dan ibuku ingin aku bersamanya. Menurutmu alasan itu tidak cukup untukku ingin tahu apa yang ia katakan padamu?"


Jihan akhirnya menunduk, Chris tahu dia terganggu dengan tiga fakta yang baru saja dikatakan olehnya.


"Dia hanya menyuruh saya berhati-hati pada anda," kata Jihan. Meski poin pentingnya bukan itu, tapi Jihan mengatakan hal yang sebenarnya walaupun menahan hal lain yang lebih serius.


Mendengar hal itu, Chris tertawa terbahak-bahak. Membuat Jihan menoleh dan melihatnya dengan kebingungan. Tidak ada yang lucu tapi Chris tertawa dengan keras.


"Lanjutkan pekerjanmu." kata Chris pada akhirnya.


Menyuruh Jihan keluar dengan kebingungan memenuhi kepalanya, jelas Jihan mengira Chris akan marah. Tapi mendapatinya malah tertawa tentu saja membuatnya bingung.


Arjun masuk dengan dua berkas ditangannya ketika Jihan membuka pintu. "Anda terlihat senang sampai suara tawa anda terdengar ke meja saya, Tuan." sindir Arjun.


"Diamlah," ketusnya sembari memeriksa berkas yang diberikan Arjun.


"Ini sudah cukup, kirimkan segera dan kabari aku tentang balasannya."


"Tentu, lalu tentang undangan lelang di kapal pesiar besok, apakah anda akan datang, Tuan?"


"Pelelangan? Aku sudah lama tidak pergi ketempat seperti itu tapi mereka mengirimkan undangan. Artinya ada sesuatu yang benar-benar mahal disana."


"Dari rumor yang beredar, ada sebuah kalung dengan ukiran bertuliskan bahasa suku maya dan terbuat dari emas murni, kalung itu dikatakan sangat unik dan indah. Dengar-dengar ditemukan oleh penyelam, namun kebenaranya simpang siur."


Chris jelas tertarik, dia merencanakan sesuatu di kepalanya. "Kita akan tahu itu asli atau tidak setelah melihatnya. Katakan pada mereka aku akan hadir. Siapkan kapal pendamping karena aku tidak akan ikut dalam pesta mereka. Kita akan pulang setelah acara lelang selesai."


"Baik, Tuan."


.


Ibu Chris memperhatikan cucunya dengan mata penuh minat. Cucu laki-laki yang sangat ia harapkan saat itu dari Jihan setelah mereka menikah. Namun karena kedatangan Adora, dia tidak memerlukan Jihan untuk hal itu. Karena apa yang ia inginkan ada di depan matanya. Bukan bearti cucu perempuan tidak dia inginkan, tapi baginya, cucu laki-laki akan menjadi penerus Chris kelak. Baginya, cucu perempuan tidak akan memiliki kekuatan mempertahankan kekuasaan mereka.


"Ma, aku membawakan anda teh hijau." ujar Adora. Duduk di sofa dan memperhatikan ibu Chris yang menggendong anaknya.


"Terima kasih, aku akan meminumnya nanti." ujar ibu Chris.


"Dia akan tumbuh seperti Chris, lihatlah matanya, mereka memiliki sorot yang sama." ujar sang nenek.


"Ya, mereka sangat mirip." sahut Adora, namun menunjukkan wajah sedih.


Tentu saja hal itu tidak luput dari penglihatan ibu Chris, dan sangat tahu apa penyebabnya.


"Kamu kecewa dia menempatkan mantan istrinya di dekatnya?"


"Saya tidak berani, Ma. Mana mungkin, itu haknya. Saya bukan siapa-siapa."


"Tentu saja, kamu memang bukan siapa-siapa baginya. Tapi kamu ibu dari cucuku. Jika kamu mau, aku bisa membuatmu menjadi istrinya."


Kilatan penuh harap jelas terlihat sesaat disana. Sebelum Adora menutupinya dengan sangat baik.


"Jangan memaksanya, saya tidak ingin berakhir seperti Jihan dan Nana."


Ibu Chris tersenyum, namun jenis senyum penuh arti.


"Mana mungkin, Jihan dan Nana berbeda denganmu. Mereka wanita naif dan tidak memiliki hasrat dengan kedudukan. Walau keduanya berbeda dalam hal kehormatan tentu saja. Aku lebih menyukai Jihan karena dia wanita baik-baik."


Mendengar perkataan itu, Adora hanya diam saja. Meskipun dengan sangat sadar maksud ibu Chris mengatakannya.


"Tapi aku justru lebih menyukai wanita sepertimu, kamu bisa menjadi kekuatan lain di sisi anakku." sambung ibu Chris.


"Lanjutkan peranmu sebagai ibu yang baik. Langkahmu meminta maaf pada Jihan sudah cukup baik. Itu bisa menjadi awal menciptakan hubungan baik dengan mereka."


Adora menatap lurus ibu Chris. Meski dia tidak bisa menduga apa yang sebenarnya diinginkan oleh wanita tua di hadapannya, tapi dia sangat yakin bahwa saat ini ibu Chris ada dipihaknya.