
Jihan menarik napasnya dalam-dalam ketika ia memasuki sebuah restoran mewah yang telah dipesan oleh Haris dan keluarganya. Haris mengundangnya dalam acara perayaan kelulusan adiknya dari sekolah tinggi kedokteran. Azam akan hadir disana, karena itulah ia tidak bisa menolaknya lebih jauh.
Restorannya tidak terlalu ramai. Ini hanya acara makan bersama, sehingga Jihan tidak perlu terlalu kawatir. Ketika sampai di meja mereka, Azam segera menyambut dan memeluk ibunya. Anak itu terlihat rindu sekaligus kawatir.
"Selamat datang sayang, duduklah. Kami sudah memesankan makanan untukmu." kata Ibu Chris.
Keluarga ini cukup baik dihadapannya. Tapi ketika Haris menikahi wanita lain saat itu, mereka tidak melarangnya sama sekali. Jihan masih ingat dengan jelas saat hari pertama perceraian terjadi. Mereka hanya melihat Jihan dengan wajah tenang dan senyum penyesalan yang palsu.
"Aku dengar dari Haris kamu berencana membuka kafe di sebelah toko pakaian milikmu. Kamu ternyata sangat berbakat dalam bisnis. Ayah sama sekali tidak tahu selama ini."
Jihan melirik Haris yang tersenyum padanya. Tidak begitu suka Haris menceritakan tentang dirinya pada orang tuanya seolah mereka dekat kembali.
"Masih rencana, Jihan masih tidak terlalu yakin."
"Kenapa... Kalau kamu takut kamu bisa belajar dari Rendi. Dia baru saja lulus manajemen bisnis. Kalian bisa bekerja sama." ujar ibu Chris.
Rendi adalah adik kedua Haris, anak terakhir dari keluarga ini.
"Ibu, nanti biar Azam yang jadi kokinya." sambung Azam dengan polos.
Semua tertawa, Jihan hanya tersenyum canggung sambil mengelus kepala anaknya dengan lembut.
"Jihan masih kosentrasi dengan tokonya, jangan mendorongnya terlalu jauh." ujar Haris.
"Tidak apa-apa niat dulu. Benar kan, Sayang!" Jihan menganguk singkat pada ibu Chris, lalu beralih pada adik Chris untuk mengalihkan pembicaraan.
"Ngomong-ngomong selamat atas kelulusanmu, kamu akan langsung bekerja?" tanya Jihan basa basi pada Tuti, adik Chris.
"Hmm, bersama kak Haris." jawab Tuti dengan ramah. Namun Jihan tahu ada kepalsuan disana. Tuti adalah adik Haris yang menunjukkan ketidak sukaannya pada Jihan sejak mereka masih pacaran.
"Dia baru saja menikah, aku akan menempatkannya dibagian yang mudah dulu untuk mencari pengalaman." sambung Haris. Tuti mendelik padanya, jelas dia tidak setuju.
"Oh... Maaf juga saat itu tidak datang. Jadi, dimana suamimu?"
"Oh, dia sibuk tentu saja. Pebisnis!" jawab Tuti dengan nada sedikit angkuh.
Jihan tidak peduli. Dia bertanya hanya untuk basa basi. Namun atmosfer restoran tiba-tiba menjadi sedikit aneh. Keheningan tiba-tiba melanda dan itu sangat tidak nyaman.
Mereka semua menoleh ke arah yang sama. Melihat apa yang membuat orang-orang juga terdiam. Ketika Jihan menoleh, dia dengan reflek menjatuhkan sendok di tangannya. Dia bisa melihat sorot mata tajam milik Chris yang menembus kedalam bola matanya. Tubuhnya menjadi tegang dan berkeringat dingin.
Bunyi sepatu Chris membuat Jihan semakin tegang. Ketika langkahnya sampai tepat di samping meja. Jihan mengalihkan pandangannya lurus ke meja. Tidak ingin menatap mata itu.
"Ini baru delapan hari... Bahkan kamu baru kemarin menandatangani surat sialan itu. Apa menyenangkan kembali pada mantan suamimu?"
Jihan melirik kiri kanan. Dia memilih bangkit berdiri. Sangat tidak nyaman menjadi pusat perhatian seperti ini. Haris ikut berdiri, menggeser bangkunya dan berdiri di sisi kanan Jihan. Memberi jarak antara Jihan dan Chris.
"Jangan menggnggunya lagi, kalian sudah selesai." ujar Haris.
Chris menyeringai, mengangkat sebelah tangannya dan memberi isyarat pada Arjun untuk menyingkirkan orang-orang.
Arjun segera berbisik pada penanggung jawab hotel yang baru saja datang. Dengan bantuan pihak keamanan hotel dan anak buah Chris, seluruh pengunjung restoran dikeluarkan dan siapapun yang tadi mengambil foto atau rekaman melalui ponsel, segera di sita dan dibawa ke ruang keamanan.
"Kamu tahu, pernyataan tadi juga berlaku untukmu, bukan?" sinis Chris.
Haris mengepalkan tangannya. Menatap Chris dengan kesal, namun jelas dia memiliki kemampuan mengendalikan diri yang baik. Maka dengan santai dia hanya tertawa kecil.
"Masa lalu kami tidak ada hubungannya denganmu. Pergilah, jangan mengganggu acara orang lain."
"Nah, karena kamu mengatakan hal itu, akulah yang berhak menyuruh kalian pergi karena aku perlu bicara dengan istriku."
"Apa hakmu! Lagi pula kami sudah memesan meja ini!" bentak Tuti dengan arogan.
"Maaf menyela Nona kecil, Tuan Chris bisa melakukannya. Hotel ini milik pribadi Tuan Chris. Anda tidak tahu?" sela Arjun dengan senyum lebarnya.
"Apa?" sahut semua keluarga Haris dengan wajah terkejut.
Haris menghela napas melihat kelakuan keluarganya. Dia beralih pada Chris yang saat ini menatap Jihan yang terus menunduk.
"Ji, ayo pergi dari sini. Azam, bawa ibumu keluar dulu. Kita akan cari tempat lain."
"Siapa yang mengizinkan kalian membawa istriku?" kata Chris datar, bahkan kini menatap Azam yang mendongak melihatnya.
"Sialan! Kalian sudah bercerai!" kesal Haris.
"Satu surat bodoh itu tidak akan membuat perceraian kami sah. Aku tidak menyetujuinya dan belum mengucapkan apapun. Aku juga belum menandatangani apapun."
Jihan mengangkat kepalanya. Menatap Chris yang sudah kembali menatapnya. Jantung Jihan terasa akan melompat. Entah kenapa, mendengar informasi itu membuatnya berdebar kencang sekaligus dilanda kebingungan.
"Tapi Bayu orangmu." gumam Jihan.
"Tahu apa kamu tentang aku? Bahkan kamu tidak tahu siapa yang ada di pihakku, bukan?" Dingin, sangat dingin sehingga Jihan merasa dia melihat orang asing yang sama seperti saat Chris memperlihatkan sifat aslinya setelah menikah.
Setelah berkata demikian, Chris melangkah maju dan menarik Jihan untuk pergi. Namun tentu saja, Haris jelas menahan mereka. Mana mungkin dia akan membiarkan Jihan dibawa.
"Kamu ingin karirmu selesai hari ini? Maka lakukanlah. Aku bahkan bisa membuat kedua adikmu tidak bisa bekerja." ancam Chris.
Mendengar itu, Jihan tentu saja marah. Walaupun dia tidak menyukai keluarga Haris, dia tidak ingin mereka terlibat dan menjadi korban permasalahan mereka berdua.
"Jangan libatkan mereka!"
Jihan menyentak tangannya hingga terlepas dan beralih pada Azam. Memintanya ikut bersamanya pulang. Mereka berdua keluar dan Chris hanya membiarkannya begitu saja. Dia hanya memberi isyarat pada Arjun. Sementara dirinya berbicara pada Haris.
"Berhentilah sekarang, aku bukan orang yang sabar untuk orang sepertimu."
Haris mengepalkan tangannya namun masih mempertahankan sikap tenangnya. "Jangan terlalu bangga dengan kekuasaanmu, Jihan tidak akan kembali pada orang sepertimu. Jihan adalah wanita baik yang suka kebersihan. Dia tidak suka yang kotor-kotor." sarkas Haris.
Kedua pria dewasa ini saling melempar tatapan penuh intimidasi. Chris menarik sudut bibirnya. Raut datarnya tidak berubah sama sekali.
"Lalu aku harus menurutinya? Dia hanya harus berlutut dibawah kakiku." Lalu Chris maju selangkah lagi, mempersempit jarak antara mereka dengan tatapan tajamnya. Memegang pundak Haris dan memberikan cengkraman kuat. Lalu dia memajukan kepalanya mendekati sisi telinga Haris. "Cobalah, kamu tidak akan bisa membawanya dariku." kata Chris dengan suara rendahnya.
Haris menepis kasar tangan Chris dan mencengkram kedua kerahnya. Beberapa pengawal Chris mencoba maju tapi Chris mengangkat tangannya.
"Jangan berpikir kamu bisa melakukan apapun karena punya kekuasaan. Aku akan menghancurkanmu kalau kamu menyakiti Jihan!" kata Haris dengan emosi.
Haris terjerembab kelantai, terbatuk dan langsung ditolong oleh ayah dan adik laki-lakinya.
"Kirim biaya pengobatanmu pada asistenku, kedepannya kamu akan memerlukan beberapa waktu istirahat jika kamu masih keras kepala." ujar Chris sebelum melangkah pergi. Meninggalkan Haris yang masih memegang perutnya. Tendangan Chris tidak main-main dan itu sangat menyakitkan.
Sementara itu, diluar Jihan menatap Arjun dengan tajam. Sejak tadi Arjun menghalanginya dengan senyum tampa dosanya. Beberapa pengawal juga menghalanginya pergi.
"Maafkan saya sekali lagi, Bu Jihan... Anda tahu Tuan mengerikan. Saya tidak bisa... Ah, beliau sudah tiba." ujar Arjun, lalu mundur beberapa langkah untuk memberikan jarak.
"Apa lagi yang kamu inginkan?" ketus Jihan.
Chris tidak menjawab, dia menatap Azam yang hampir menangis menatapnya. Jelas anak itu marah dan ketakutan. Chris menghela napas, dia berjongkok dan memegang kedua pundak Azam.
"Maaf membuatmu melihat semua ini, Nak. Ayo masuk kemobil. Ayah akan mengantarmu pulang." ujarnya dengan nada yang lebih bersahabat.
Dia menggenggam tangam Azam lalu membawanya begitu saja. Jihan yang melihat Azam yang patuh menghembuskan napas gusar. Chris punya karisma untuk membuat siapapun patuh padanya.
"Tunggu! Pulang kemana maksudmu? Kami punya rumah kami sendiri sekarang." tegas Jihan.
"Tentu saja," sahut Chris sambil lalu.
Jihan tidak mengerti, namun dia memilih masuk karena Azam sudah masuk. Mereka duduk dengan posisi Azam di samping kursi kemudi dan Jihan duduk di samping Chris.
Sepanjang perjalanan hanya ada keheningan. Azam yang melihat ibu dan ayah tirinya hanya diam saja, akhirnya mengajukan pertanyaan.
"Kalian akan kembali bersama?"
Jihan cukup terkejut, namun dia sebisa mungkin terlihat tenang. Sementara Chris menarik senyum tipis.
"Bagaimana menurutmu?" tanya Chris balik.
"Azam... terserah pada ibu. Meskipun demikian, akan lebih suka saat ibu dengan ayah Azam."
Ayah yang dimaksud Azam tentu saja adalah Haris. Arjun melirik Azam sekilas, harap-harap cemas akan reapon Chris. Sementara itu, Chris sendiri melebarkan senyumnya. Namun hal itu sama sekali tidak membuatnya terlihat ramah, itu sedikit menyeramkan.
"Azam, istirahat saja." sela Jihan. Dia jelas tidak ingin membahas hal ini.
Sesampainya di depan rumah Jihan. Ya, rumh yang dibelikan oleh Haris, Jihan mencoba membuka pintu, tapi tidak bisa karena Arjun masih menguncinya.
"Azam, keberatan masuk duluan? Arjun akan mengantarmu kedepan rumah. Aku perlu bicara dengan ibumu." pinta Chris dengan lembut.
"Baiklah, tolong jangan bertengkar." sahut Azam.
"Tentu saja."
Setelah tinggal mereka berdua, atmosfir di dalam mobil terasa sedikit mencekik bagi Jihan. Dia bahkan kesulitan hanya untuk menggerakkan jarinya. Jantungnya berdetak dengan cepat.
"Kamu bersembunyi dengan cukup baik." mulai Chris.
"Aku tidak bersembunyi."
"Benarkah? Lalu mantanmu itu yang menyembunyikanmu?"
"Jangan membawa orang lain, aku sama sekali tidak bersembunyi." tegas Jihan, meski begitu tangannya malah bergetar.
"Melindunginya?"
"Aku tidak!" tegas Jihan lagi.
Chris menyeringai melihat kedua tangan Jihan yang saling menggenggam. "Kenapa? Kamu takut dengan suamimu sendiri?" tanyanya. Jihan menarik napas dalam dan berusaha tenang.
"Kita sudah bercerai, kamu mengirimkan surat perceraian yang telah disetujui pengadilan agama."
"Oh, itu? Itu bukan aku. Tapi jika kamu ingin menganggapnya begitu tidak masalah. Kamu ingin bercerai?"
Jihan mengernyit, tidak mengerti arah pembicaraam Chris dan apa keinginannya. Dia menoleh, mendapati Chris yang sejak tadi hanya terus menatapnya.
"Ingin pergi dariku?" tanya Chris lagi.
Jihan tidak tahu, tapi Chris terlihat sangat mendorongnya. Chris menatapnya dengan raut datar, tapi jelas ada harapan disana. Sayangnya Jihan tidak menyadarinya. Jihan tidak bisa melihatnya.
Jihan menunduk, lalu meluruskan kembali arah kepalanya. "Aku tidak diinginkan oleh ibumu dan kamu punya wanita lain di dalam rumahmu."
"Mengesampingkan hal itu, Ya atau tidak?"
Jihan masih kebingungan, Chris akhirnya menyodorkan selembar kertas padanya. Jihan melihatnya, mengangkat kepalanya lagi setelah tahu apa itu. Itu adalah surat cerai untuk Chris yang belum ditanda tangani.
"Kamu bisa merobek atau membuangnya, atau kamu bisa mengembalikannya padaku. Aku sedang memegang pena. Tetapkan pilihanmu."
Jihan tahu apa maksud Chris. Tapi dia masih kebingungan dengan perasaannya sendiri. Ketakutannya kembali, ingatan dimana hari perceraian pertamanya. Saat dimana Haris membawa wanita lain masuk kedalam kehidupan mereka. Lalu dia menatap Chris, kepalanya dipenuhi oleh ketakutan yang sama. Mengingat ada anak kandung Chris dan wanita yang dikabarkan telah dibawa masuk kedalam rumahnya. Tampa sadar dia meneteskan air matanya. Tangannya terulur, meletakkan kertas itu pada pangkuan Chris lalu dengan cepat dia membuka pintu mobil untuk berlari dari sana.
Chris meremas pena ditangannya, rahangnya mengeras dan dia diliputi kekecewaan. Satu-satunya harapan yang ada dihatinya lenyap. Satu titik sinar yang tadinya masih terang kini redup. Dia hanya butuh satu harapan untuk melawan keinginan ibunya dan melenyapkan penghalang. Tapi Jihan tidak memberikannya, wanita itu memilih menyerah. Pada akhirnya, dia sendiri yang harus melakukannya sendiri dengan caranya yang kejam.
Arjun masuk ke dalam mobil. Menunggu perintah untuk pergi. Namun Chris masih diam. Tubuh tegapnya ia sandarkan pada kursi dan dia menutup matanya. Jauh dalam lubuk hatinya, dia tidak ingin kehilangan hati nuraninya untuk Jihan. Satu-satunya orang dan wanita yang bisa membuatnya merasa menjadi manusia. Tapi rasa sakit hatinya membuat logika dan pikirannya mengalahkan perasaan itu. Dia membuka matanya, sorotnya kembali tajam dan tampa ekpresi wajah, Chris terlihat seperti dia biasanya. Tak tersentuh dan dingin.
"Kita kembali, serahkan surat perceraian itu pada Bayu dan selesaikan dipengadilan."
Arjun terdiam beberapa detik sebelum menjawab.
"Anda punya rencana bukan? Anda tidak sepenuhnya melepaskan Nyonya Jihan bukan?"
"Arjun," panggil Chris dengan nada rendah.
"Ya, Tuan?"
"Jalankan mobilnya."
"Oh... Baik. Maafkan saya." jawab Arjun cepat.
Sedikit terkejut dengan respon Chris yang terlihat jauh lebih tenang dari biasanya. Tidak ada kesan marah. Arjun tahu, ada rencana baru yang sudah tersusun di dalam kepala tuannya itu. Sehingga dia tidak perlu bertanya lagi.