Wife Or Nanny?

Wife Or Nanny?
45



Chris mengunjungi rumah seperti yang diperintahkan sang ibu keesokan harinya. Bersama Arjun dan Jordi, dia disambut oleh semua pelayan dan tentu saja, Adora dan ibu Chris sendiri. Seolah mereka telah selesai dari perjalanan jauh. Nyatanya Chris hanya datang untuk mampir.


"Masuklah, kita makan siang bersama. Adora, bawa cucuku untuk bertemu ayahnya."


"Baik Ma." jawab Adora dengan senyum manis yang terlihat menyebalkan dimata Chris.


Mereka makan siang bersama di ruang makan. Hal yang paling dibenci Chris saat ini. Makan disana hanya memunculkan perasaan asing baginya. Dia merindukan Jihan, tak terkecuali bagaimana Catrin selalu mengganggu mereka. Chris membenci suasana yang ada saat ini. Terasa asing dihatinya yang selama ini beku dan dingin.


"Bagaimana dengan perkembangan pabrik baru kita, Jordi? Aku pikir kamu kehilangan banyak waktu."


Jordi menegang ditempatnya, dia berusaha tersenyum. "Maafkan saya karena membuat kesalahan." ujarnya.


"Bukankah harusnya presiden direktur yang menerima maafmu? Aku bukan siapa-siapa lagi di dalam perusahaan."


"Mama... Jangan berkata begitu." jawab Jordi dengan perasaan was-was.


Arjun bahkan berkeringat dingin, dia menyesal memilih ikut dengan Chris hanya untuk menyaksikan perang dingin ini. Adora datang sebagai pengalih perhatian bersama bayinya. Dia meletakkan anak itu pada kursi duduk khusus bayi. Karena belum lima bulan, dia hanya minum susu. Seorang perawat dibayar untuk mengawasinya.


"Lihat, dia semakin mirip denganmu bukan? Matanya, bahkan bibirnya." kata Adora pada Chris.


Chris tidak menanggapi, dia hanya mengabaikan perkataan Adora seolah dia hanya tunggul disana. Membuat Adora merasa sangat malu dan marah. Namun dia menyembunyikannya dengan cara tersenyum sebaik mungkin. Seolah tidak ada yang terjadi.


"Dia memang mirip Chris, tapi semoga sifatnya tidak. Cucuku harus lebih banyak tertawa untuk membuat neneknya bahagia."


Chris tersenyum sinis. "Jangan terlalu banyak berharap, Ma. Mama lupa apa yang terjadi sebelumnya? Mengabulkan semua permintaan cucumu dan tidak membiarkannya menangis, lalu kecewa karena dia bukan cucumu dan berakhir mengorbankan pernikahan anakmu. Berapa lama lagi Mama akan bertindak seperti ini?" serang Chris. Dia meletakkan alat makannya. Menatap ibunya dengan sengit.


"Ck, itulah hidup. Kamu tidak harus selalu mendapatkan apa yang kamu mau, bukan? Jadi berusahalah pada apa yang ada saat ini." balas ibunya seolah sindiran Chris hanya angin lalu.


Atmosfir disana lebih gelap lagi. Chris tersenyum, lalu kembali melanjutkan makannya. Seolah tidak ada yang terjadi.


Tiba-tiba saja ponselnya berbunyi, itu adalah dari orang suruhannya yang mengawasi Jihan. Chris bangkit dan langsung menjauhi semua orang.


"Ada apa?"


Chris menutup panggilan dan segera kembali ke ruang makan. "Arjun, ayo pergi sekarang." katanya dari pintu masuk.


"Apa yang terjadi? Selesaikan makanmu dan biarkan Arjun mengurusnya." perintah ibunya.


"Aku sudah kenyang, kami pergi." sahut Chris datar.


Adora mengenggam sendok dan garpunya dengan erat. Dia menatap makanannya dengan wajah marah. Hal itu tentu saja tertangkap oleh mata elang ibu Chris. Jordi yang masih melanjutkan makannya hanya menyeringai dalam diam.


"Kamu tampak tidak senang, apa yang kamu harapkan?" tanya ibu Chris, Adora tiba-tiba mengubah raut wajahnya, tersenyum canggung sebelum menjawab pertanyaan yang ia tahu sangat menusuk itu.


"Tidak ada, hanya... Makanannya terlalu pedas di lidah saya."


"Benarkah? Kalau begitu minta siapkan pelayan menu lain untukmu."


"Tidak apa Ma, ini sudah cukup." sahut Adora.


Jordi berusaha menahan tawanya, namun itu tertangkap oleh ibunya tentu saja. "Yah, tampaknya banyak orang mengharapkan nyonya lama kembali disini. Sayangnya itu hanya harapan sia-sia saat semua telah berubah."


Jordi merubah raut wajahnya seketika. Dia meletakkan sendok dan garpunya. Minum air putih dan tersenyum pada sang ibu.


"Ma, Saya akan kembali ke kantor. Terima kasih makan siangnya." ujarnya.


"Jordi."


Langkah Jordi terhenti ketika dia di ambang pintu. Dia berbalik dan menatap ibunya.


"Apakah menurutmu kelinci dari hutan tidak akan merubah hariamu menjadi anak kucing?" tanyanya.


Jordi tersenyum, "Mom... Seperti yang Mama tahu, kelinci adalah makanan harimau. Dia tidak akan membahayakan harimau, dia hanya bisa berlari jika dia merasa takut. Tapi harimau adalah hewan yang tidak akan pernah membiarkan makanannya lepas setelah tertangkap." jawab Jordi.


"Kamu benar, tapi kelinci terkadang merubah niat pemburu menjadi pemelihara karena cinta."


"Benar, tapi tidak akan merubah sifat dasarnya. Seorang pemburu tak akan memburu hewan lain hanya karena kelinci yang dipeliharanya. Dia bisa mencintai satu hewan tapi tetap akan jadi buas pada hewan lain."


Ibu Chris tampak berpikir beberapa detik, lalu dia menarik senyum tipis. "Mungkin benar, kembalilah bekerja." ujarnya kemudian.


"Saya permisi."


Jordi berpapasan dengan Bayu ketika ia keluar dari pintu utama. Sudah sangat jelas dia memiliki hal yang harus dilaporkan. Namun Jordi tidak akan bertanya karena tahu dia tidak akan mendapatkan jawaban. Setelah menjawab sapaan singkat Bayu, dia hanya masuk ke dalam mobilnya.


.


Chris sampai di depan parkiran toko milik Jihan. Dia berlari masuk ke dalam kafe. Seluruh karyawan berdiri di balik meja kecuali Raya yang berada di belakang Jihan. Jihan sendiri berdiri dengan kaki bergetar menghadapi seorang pria berbadan besar bersama lima anak buahnya. Semua kursi terbanting dan banyak gelas pecah dilantai. Tempat ini jadi sangat kacau. Karyawan laki-laki mereka babak belur dan beberapa wanita tampak habis menangis.


"Aku sudah bilang padamu disini ada uang keamanan! Kamu sudah lama buka tapi tidak menyetor. Sekarang berikan uangnya kalau tidak aku akan menghancurkan tempat ini lebih parah!"


"Aku sudah bilang kami memakai jasa sec_"


"Woi! Bisa dengar bos tidak sih!" hardik anak buah pria besar itu. Dia maju dan hampir menarik Jihan kalau saja Chris tidak menahan tangannya.


"Siapa ini? Mau jadi jagoan?" hina salah satu dari mereka. Tapi sang pemimpin tidak bereaksi, matanya bahkan membola dengan keterkejutan.


"Sial! Ayo pergi!" ujarnya, lalu berbalik untuk pergi.


Begitu semua orang itu keluar, Chris memberi isyarat pada Arjun. Arjun mengangguk dan terlihat berjalan keluar untuk menghubungi seseorang. Chris menatap Jihan yang mencengkram pakaiannya dengan kuat.


Dia hendak berbalik sebelum pintu terbuka. Dua orang masuk kesana dengan ekpresi heran melihat keadaan kafe, semua karyawan Jihan mulai membersihkan tempat itu kembali. Begitu matanya menangkap keberadaan Jihan dan Chris, salah satu dari mereka mengangkat sebelah alisnya, lalu menyeringai senang.


Dia adalah Alex bersama seorang bawahannya. Jihan yang melihatnya semakin terlihat frustasi. Seluruh karyawan, termasuk Raya menatap mereka dengan bingung.


"Aku tidak tahu apa yang terjadi disini. Kamu menjadi pahlawan atau penyebab kekacauan kali ini, Chris?" tanya Alex.


Jihan yang mendengar itu tentu saja terkejut. Bagaimana mereka saling mengenal satu sama lain. Kecurigaan dan tuduhan liar mulai bersarang dikepalanya.


"Kalian saling mengenal?" tanya Jihan.


Chris tidak menjawab, dari ekspresi Jihan, dia bisa menyimpulkan apa yang akan terjadi. Dia hanya memilih diam dan menonton kekacauan baru yang akan dibuat oleh teman satu sekolahnya itu.


"Ah, kamu tidak tahu? Kami teman lama yang sedang berbisnis sekarang."


Chris memeriksa jam ditangannya. Dia hanya memiliki waktu beberapa menit untuk jadwal selanjutnya. Arjun berlari masuk dan segera menghampiri mereka lagi. Dia cukup berantakan, seperti habis berkelahi. Sambil merapikan penampilannya, dia memberi tahu Chris bahwa mereka harus pergi.


"Apa orang ini suruhanmu?" tuduh Jihan, menatap Chris dengan tajam namun dibalik itu tersimpan harapan bahwa itu tidak benar.


"Berlarilah padaku jika kakimu tidak bisa melangkah lagi, aku akan dengan baik hati menolongmu." jawabnya, lalu menatap Alex dengan tajam. "Terkadang seseorang perlu satu pukulan untuk membuat dia sadar akan kekeliruannya." lanjut Chris.


Jihan tahu kalimat itu ditujukan untuknya walaupun Chris mengalihkan pandangannya, namun dia tidak bisa membalas perkataan itu. Seolah itu adalah tamparan dan hinaan untuk pilihannya saat itu. Setelah berkata demikian, Chris pergi dari sana dengan ekspresi dingin.


Alex menarik kursi dan duduk dengan santai. Memperhatikan Jihan yang matanya sudah memerah. Antara kecewa dan marah. Alex menopang kepalanya dengan sebelah tangannya dan tersenyum.


"Sangat asik melihat bajingan itu frustasi. Bukankah ini akan semakin menarik kalau aku jadi sedikit lebih keras padamu?"


Mendengar itu, Jihan tentu saja terkejut. Dia bergerak menuju tasnya dan mengambil dompetnya. Mengeluarkan sejumlah uang dan memberikannya pada Alex.


"lima juta? Ini sangat kecil. Berapa lama kamu akan membuatku terus datang?" Alex menyerahkan uang itu pada bawahannya. Lalu bangkit dan menghampiri Jihan yang beringsut mundur.


"Apa yang membuat orang-orang itu tertarik untuk berurusan dengan serangga sepertimu? Selain cantik dan terlihat sok kuat, aku tidak bisa melihat hal lain."


Jihan menabrak meja kasir, Alex mengungkungnya dengan tubuhnya yang tinggi besar. Menakutinya dengan tatapan yang seolah akan memangsanya saat itu juga.


"Menjauhlah darinya, bodoh! Kamu menakutinya!" ujar remaja yang baru saja masuk.


"Aku pesan kopi susu dingin!" ujar anak itu dan berdiri di samping mereka.


"Aku akan membuatkannya segera." sahut Raya yang tadi berdiri kaku di tengah ruangan, dia berlari ke belakang meja dan mulai membuat pesanan.


"Pfff! Hahahahaha!"


Alex tertawa dengan keras. Menarik dirinya dua langkah dari Jihan.


"Kamu berbeda dari yang kemarin," ujarnya pada remaja itu, namun dia hanya mendapat jawaban dengan decakan malas.


Alex beralih pada Jihan lagi, "Aku akan memberi keringanan minggu ini. Mulai minggu depan, aku minta lima puluh juta setiap hari." ujarnya, lalu pergi dari sana sebelum Jihan bisa menjawabnya.


.


Usai rapat dan menemui beberapa rekan bisnisnya, Chris kembali menuju kantornya. Dia terlihat jauh lebih lelah. Siapapun yang bersamanya akan tahu Chris kehilangan banyak berat badannya.


"Kamu sudah mendapatkan hasilnya?" tanya Chris.


"Maaf, Tuan?"


"Orang yang mengacau siang tadi."


Arjun mengangguk, mereka memang belum sempat membahas masalah Jihan karena beberapa masalah perusahaan.


"Mereka hanya anggota preman sekitar sana. Tapi sepertinya bos mereka mengenali anda, karena itu mereka langsung pergi. Mereka dibayar oleh seseorang."


Chris sudah bisa menebaknya, namun ia tidak tahu siapa yang kali ini membayar mereka.


"Preman itu tidak tahu namanya, tapi dari ciri fisik dan nomor telepon yang ia berikan. Dipastikan itu adalah Adora."


"Jadi wanita itu mulai mengeluarkan bisanya?"


"Tuan, apa anda tahu mengapa Alex menemui nyonya Jihan?" tanya Arjun. "Itu... Bukan perintah anda bukan?" tanyanya lagi untuk memastikan.


"Tidak, kamu belum menyelidikinya?"


"Maafkan saya, karena jawaban anda kemarin... Saya pikir anda tahu... Maaf Tuan, saya akan kenyelidikinya." jawab Arjun.


"Untuk saat ini aku hanya membayarnya untuk mengacaukan rumah sakit dan membuat rencana pada Adora. Kalaupun dia bertindak atas suruhan seseorang, hanya satu orang yang memiliki kemungkinan besar."


"Ibu anda?"


"Aku memancingnya kemarin, tapi ibuku menyangkalnya seolah tak tahu apapun. Jadi kita harus menemukan bukti sendiri. Tapi... Aku pikir itu tidak perlu."


"Maksud anda... Saya tidak perlu menyelidikinya?"


"Untuk saat ini, bukti tidak penting." jawab Chris, dia menatap keluar jendela dengan wajah melamun. Lalu perlahan seringaian kecil muncul dibibirnya. Seolah dia sedang menikmati sesuatu yang menyenangkan. "Untuk hal ini... Kita akan menjadi penonton terlebih dahulu." ujarnya kemudian.


Arjun meliriknya dari kaca spion. Menghela napas kemudian. Benar-benar tidak mengerti pikiran tuannya. Terkadang mengingat sifat dan prinsip Jihan, Arjun bisa memaklumi tindakan Chris yang menjadi kejam. Namun dilain kesempatan, dia berpikir atasannya itu juga terlalu kejam, perfeksionis dan ambisius. Dia membuat segala sesuatu menjadi tidak mudah. Terutama bagi orang yang dicintainya.