
Jihan disambut mertuanya setibanya ia dirumah. Jordi meminta izin untuk segera membersihkan diri ketika sang ibu memanggil Jihan untuk bicara berdua.
Mereka duduk di ruang santai keluarga. Jihan bahkan belum meletakkan kopernya kedalam kamar. Mertua Jihan menyalakan televisi dan memutar acara gosip dimana pemeran utamanya adalah Jouji, beberapa kali foto dirinya muncul saat presenter membahas keterkaitan dirinya dengan sang aktor. Narasi membawa pendengar pada asumsi bahwa saat ini Jouji dan Jihan berteman dekat.
"Ini tidak bagus," mertuanya kembali mengganti siaran yang menunjukkan berita lain yang juga membahas mereka.
"Arjun sepertinya sudah membayar wartawan untuk memunculkan skandal artis lain, namun efekny ternyata tidak jauh lebih besar dari Jouji dan kamu. Itu karena Jouji sangat diminati oleh banyak kalangan saat ini. Daya tariknya cukup besar."
"Tapi saya tidak berteman apalagi dekat dengannya. Kami hanya saling mengenal seperti yang mama tahu."
Mertuanya tersenyum padanya. Seperti biasa, Jihan tahu itu bukan senyum untuk mendukungnya, itu lebih seperti banyak orang mengatakannya dengan senyum bisnis.
"Ibu tahu, Ibu mempercayaimu. Tapi Jihan, ibu tidak mempercayai Jouji."
Jihan tidak memiliki sanggahan apapun. Dia tidak tahu harus berkata apa. Dia merasa sudah cukup memberi menjelaskan mengenai dirinya dan Jouji. Dia bahkan merasa terganggu juga.
"Jihan, ibu tidak tahu apakah kamu sudah pernah mendengarnya dari Jordi atau Jouji sendiri. Jouji punya dendam yang besar pada Chris, dia akan terus mempengaruhimu sampai kamu meninggalkan Chris. Karena itu ibu bicara padamu. Ibu memohon untuk tidak mempercayainya. Jangan dengarkan apa yang ia katakan. Seperti apapun masa lalu mereka, tetaplah disisi suamimu. Ini juga untuk Catrin, Azam, kamu sendiri dan orang tuamu. Kamu mengerti bukan?"
Jihan mengerti, sangat tahu kemana arah pembicaraan mertuanya. Karena itu dia ikut tersenyum dengan palsu. Memilih mengangguk dua kali sebagai jawaban.
Setelah kepergian Jihan, ibu Chris menelepon seseorang.
"Kirimkan beberapa hadiah untuk orang tua menantuku. Pastikan mereka senang dengan itu."
'Jihan tidak boleh pergi, aku akan melakukan apapun untuk membuatnya bertahan. Ini pertama kalinya Chris memberi perhatian lebih pada seorang wanita'
.
Hari itu Jihan tidak pergi kemanpun. Dia sungguh merasa sangat lelah. Dia juga stres setelah spekulasi netizen meningkat pada dugaan bahwa dia memiliki hubungan khusus dengan Jouji. Banyak fans fanatik Jouji menghujatnya. Netizen yang netral juga melawan para fans itu dan menunjukkan beberapa analisa mereka.
"Netizen memang selalu merasa paling tahu." gumam Jihan, matanya masih menatap layar ponselnya.
"Menikmati gosip dirimu sendiri?"
Jihan tersentak dan bangun dari kasur. Dia tidak menyadari Chris masuk. Merapikan rambut panjangnya yang berantakan, dia bangun dan berdiri di sisi kasur.
"Kamu ... sudah pulang?" tanyanya, melirik jam di dinding yang masih menunjukkan pukul 2 siang.
"Bersiaplah, ikut denganku menghadiri pertemuan dengan keluarga ayahku."
Chris keluar setelah melemparkan satu paper bag diatas kasurnya. Jihan buru-buru menutup pintu dan menguncinya. Mengambil paper bag dan mengeluarkan isinya.
"Apa ini buatan perancang? Indah sekali."
Gaun dengan model sederhana namun terlihat elegan dan berkelas. Dengan bahan yang sangat halus dan lembut, juga sama sekali tidak membentuk badan. Dengan lapisan dalam bewarna biru lembut dan putih transparan diluar.
Jihan keluar setelah berganti dan lagi-lagi terkejut karena ternyata Chris menunggu di depan pintu kamarnya. Ketika ia keluar, Chris menatapnya dari atas kebawah dengan intens. Menciptakan rasa tidak nyaman pada Jihan.
"Ini adalah pertemuan bisnis meskipun masih keluarga. Dia adalah paman tertua dan orang yang sangat manipulatif. Cukup berada disekitarku dan berhati-hatilah ketika menjawab pertanyaan mereka." intruksi Chris.
"Apa aku harus ikut? Tidak bisakah..."
"Tidak bisa! Paman juga mengundangmu." potong Chris. Dia maju selangkah dan berbisik. "Bersandiwaralah sedikit disana. Jangan sampai dia memojokkanmu. Kalau tidak kamu akan menjadi bulan-bulanan mereka." Chris menarik diri dan melangkah dengan senyum sinis dibibirnya.
Jihan menggigit bibirnya dengan perasaan was-was setelah mendengar perkataan Chris. Dengan malas dia mengikuti Chris turun kebawah. Dimana mertuanya dan Catrin sudah menunggu mereka.
"Kalian terlihat sangat serasi. Rancangan Gunawan memang tidak pernah gagal." komentar ibunya.
"Hmm, Mama cantik dan Daddy tampan! Tapi paman Jordi lebih tampan!" teriak Catrin dan berlari kearah Jordi yang baru saja turun dari tangga lantai dua dengan setelan resmi dan terlihat sangat tampan. Dia segera menggendong Catrin dan tersenyum pada semua orang.
"Ayo berangkat." kata Chris.
Chris dan Jiham satu mobil sementar Jordi dan ibunya dimobil lain. Catrin duduk dipangkuan Jihan dan tertidur begitu saja ketika mobil baru saja mulai keluar dari pekarangan.
"Gosip mengenai dirimu akan mempengaruhi penilaian mereka. Jadi berhati-hatilah."
Jihan menoleh sedikit dan menghela napas. Sebenarnya sedari tadi dia cukup kawatir akan respon semua keluarga paman Chris ini.
"Terima kasih atas kekawatiranmu." sahut Jihan dengan malas.
"Jangan bermimpi, aku lebih mengkawatirkan namaku yang bisa rusak karenamu."
Jihan tergelak dengan nada mencemooh. "Tentu saja, apa yang bisa diharapkan dari manusia berhati iblis." sahut Jihan tidak kalah sadis.
"Mulutmu tidak sesuai dengan pakaianmu, inikah wanita solehahnya idaman Jouji?" sindir Chris dengan nada yang sangat merendahkan.
Jihan menoleh dan melemparkan tatapan penuh kekesalan. Dia bahkan kehabisan kata-kata menanggapi sindiran Chris itu. Sehingga dia hanya bisa membuang pandangannya kearah luar dan menahan kemarahannya.
"Membuat suamimu marah apakah diperbolehkan? Kamu tidak takut durhaka padaku? Kamu bahkan tidak minta maaf setelah berlibur dengan pria lain." tambah Chris dengan seenaknya mengarang indah.
Jihan mengepalkan tangannya. Dia sungguh ingin memaki kali ini, namun lagi-lagi hanya bisa menahan. Dia menutup matanya dan berusaha mengatur napasnya.
"Maafkan aku karena membuatmu kesal, suamiku." kata Jihan dengan nada yang dibuat sehalus mungkin, meski begitu masih terdengat sangat kaku.
Chris tidak menjawab, dia malah menoleh dan menatap wajah kesal Jihan yang kini menatap keluar jendela mobil. Ada gelenyar aneh dihatinya saat mendengar kata suamiku keluar dari mulut Jihan.
Chris berdehem pelan dan membuang pandangannya kearah lain. Tampa dia sadari, kedua ujung telinganya memerah. Keheningan melanda sepanjang sisa perjalanan itu. Hanya terdengar deru mesin dan sesekali suara Catrin yang merengek dalam tidurnya.
.
Mereka sampai disebuah villa. Jihan memperhatikan sekelilingnya dan sedikit dibuat takjub dengan banyaknya ukiran pada setiap dinding bangunan. Siapapun yang memiliki ide membangun villa ini pastilah memiliki selera seni yang sangat baik.
"Kalian sudah sampai?"
Jihan mengalihkan perhatiannya pada suara. Karena sibuk memperhatikan setiap ornamen yang indah, dia tidak sadar kalau mereka sudah memasuki sebuah ruangan yang mirip dengan aula. Meja-meja disusun memanjang dan berisi banyak makanan. Beberapa pelayan lalu lalang membawa piring atau gelas kosong.
Seorang pria tua menatap Jihan dari balik bahu Chris. Dengan lembut Chris menarik tangannya dan merangkul pinggangnya. Meskipun bukan pertama kali, Jihan tetap saja masih terkejut akan sentuhan Chris yang lembut seperti ini.
"Dia pamanku, kakak dari mendiang ayahku." kata Chris memperkenalkan.
"Selamat sore paman, saya Jihan. Maaf baru bisa menyapa." sapa Jihan dengan canggung.
Dia melirik ibu mertuanya yang tetap mengawasinya sambil berbincang dengan ibu-ibu lain. Catrin juga bermain bersama cucu dari paman Chris.
"Yah, seperti yang dikatakan banyak orang. Kamu terlihat jauh berbeda dengan mantan Chris yang gila itu."
"Paman Bastian, maaf saya terlambat."
Seluruh atensi berpaling pada seorang pria yang baru saja datang sendirian. Dia berdiri tepat disamping Jihan dan mengulurkan tangan pada paman Chris dengan senyum lebar.
"Tak apa nak, Aku yang secara tiba-tiba mengundangmu. Nah, karena semua orang sudah datang, ayo kita mulai pestanya."
Chris menarik pinggang Jihan lebih rapat dan kini saling berhadapan dengan pria yang baru saja datang.
"Aku tidak tahu orang luar bisa hadir di acara keluargaku. Kamu memang lintah yang menempel dimana-mana Jouji."
Ya, orang yang baru saja bergabung adalah Jouji. Jiham bahkan tidak mengerti mengapa dia bisa datang juga.
"Terima kasih sambutanmu, lama tidak bertemu kamu terlihat bertambah tua. Apa karena sering marah dan tidak bahagia? Kalau aku jadi kamu, aku akan bahagia setiap hari." kata Jouji. Dia beralih pada Jihan dan tersenyum cerah padanya.
"Kamu pasti lelah, jaga kesehatanmu Ji." lanjutnya, lalu meninggalkan mereka dan duduk di samping anak paman Chris.
Chris menatapnya dengan rahang mengeras, Jouji berhasil memancing amarahnya dengan cara menantangnya terang-terangan lagi. Jihan merasakan Chris mencengkram pinggangnya dengan kuat. Karena itu dia meringis dan menyentuh tangan Chris untuk memberinya peringatan.
"Jaga emosimu Chris," bisik ibunya sambil lalu.
Chris yang tersadar melepaskan cengkramannya dan kembali tenang dengan cepat. Dia ikut duduk bersama Jihan dibangku yang telah diatur khusus untuk mereka.
"Seperti biasa, ini acara rutin sebulan sekali untuk mempererat hubungan keluarga. Tapi kali ini kita kedatangan satu anggota keluarga baru dan juga tamu terhormat. Aku secara hormat menyambut keluarga baru kita." kata Bastian dan bertepuk tangan. Seluruh orang mengikutinya dan menatap Jihan yang kini menatap meja dengan kikuk.
"Sebagai istri dari presdir group MC saat ini, apakah ada yang ingin kamu sampaikan?"
Jihan membolakan matanya karena terkejut. Dia menoleh pada Chris.
"Sampaikan saja beberapa kata nak. Jangan gugup, santai saja." kata ibu Chris.
"Saya minta maaf karena masih belum terbiasa. Mohon bimbingan dari seluruh keluarga terutama yang dituakan disini, terima kasih atas sambutannya paman." kata Jihan dengan kikuk.
Bastian tertawa namun matanya jelas sedang mencemooh. Begitu juga senyum seluruh keluarga mereka. Hanya beberapa orang yang tampa bersikap santai dan acuh.
"Cukup basa basinya, sekarang jelaskan padaku apa yang keponakan istri paman lakukan pada pabrik yang ada di Riau? Membuat kekacauan sehingga bentrok dengan warga? Lalu Bibi Diah, apa yang dilakukan anakmu akhir-akhir ini? Sudah berapa banyak dia membuatku membuang uang perusahaan untuk membayar konpensasi atas tindakan sembrononya? Terakhir ... siapa yang mengizinkan orang luar berada satu meja dengan keluarga kita?"
Seluruh atmosfir berubah drastis. Chris mengubahnya dengan cepat. Menyapu senyum diwajah semua orang dan menggantinya dengan ketegangan dan ketakutan.
"Kita baru mulai dan ini pertama kalinya istrimu hadir, tidakkah kamu bisa sedikit lebih ringan?" kata istri pamannya.
"Aku sudah cukup ringan dengan tidak membahas korupsi yang dilakukan anak-anak kalian." jawab Chris dengan tegas dan penuh wibawa.
"Korupsi apa? Jangan asal tuduh!" sahut bibinya dengan marah.
"Aku punya bukti dan data bibi, kenapa harus mengelak. Aku diam selama dua bulan ini bukan bearti aku memberi ampunan. Mereka bahkan berani tidak hadir disini sekarang!"
Pamannya mengeoalkan kedua tangannya dan menatap istrinya dengan nyalang. Menyuruhnya diam dan jangan memprovokasi Chris lebih jauh. Dengan berat hati istrinya patuh dan menunduk dengan diam.
"Kita sedang silaturrahmi. Kamu selalu membahas masalah perusahaan disini Chris, setidaknya hormati aku sebagai anggota tertua dalam keluarga." ucap pamannya.
"Silaturrahmi?" ulang Chris dengan dingin. "Jangan membuatku tertawa paman, tidak ada silaturrahmi dalam keluarga ini. Kakek memberikanku kekuasaannya dan aku mengikuti jalannya. Apa yang salah? Bukankah kakek juga selalu membahas kesalahan anak dan cucu-cucunya disini?"
"Jangan hanya menyebutkan kesalahan dari pihak kami, istrimu menimbulkan kerugian juga pada perusahaan karena skandalnya. Karena gosip itu mebuat kepercayaan konsumen turun." ucap Diah, adik dari ayahnya.
"Lalu untuk apa kalian mengundang sumber masalahnya kesini!" Bentak Chris pada akhirnya. Menatap Jouji yang tersenyum samar padanya.
"Tentu saja aku tidak ingin menjadi biang masalah. Karena itu aku akan melakukan klarifikasi dan menunjukkan bahwa hubunganku dengan keluargamu sangat dekat." kata Jouji.
Chris mengernyit, menyadari ada yang sedang direncanakan oleh Jouji dan pamannya. Dia melirik supirnya yang masuk dan berjalan mendekatinya. Membisikkan sesuatu yang membuat Chris menatap Jouji dengan wajah mengeras.
Banyak orang juga tampak bingung kecuali Bastian, Jouji dan sang bibi Diah. Chris terkekeh dan menatap tiga orang itu dengan pandangan mencemooh.
"Kalian mencoba menyerangku terang-terangan sekarang?"
"Kami berusaha memperbaiki masalah, Jangan sembarangan menuduh. Sekarang bawa istrimu keluar dan temui para wartawan itu. Jouji akan membantu, benar kan Jouji?"
"Tentu tante, karena itulah saya datang."
Jihan menatap Jouji dengan marah ketika menyadari apa yang terjadi. Dia melirik Chris yang tampak murka , namun dia tidak berani berkata apa-apa.
"Pilihan ada ditanganmu nak, jika kamu berjanji pada rapat besok kamu tidak akan membahas kasus anakku dan tetap menjadikannya direktur, aku akan dengan senang hati mengusir wartawan, tapi kalau tidak ... aku akan membuat skandal ini semakin panas dengan membongkar masa lalumu."
Jouji menatap Jihan dengan sorot wajah meminta maaf. Jordi yang memperhatikannya mengeryit, bagaimanapun juga Jouji punya pengaruh dan latar belakang keuarga yang cukup kuat. Tapi bagaimana bisa dia setuju untuk mengikuti permainan paman Chris dan ikut memojokkan Jihan? Wanita yang terang-terangan dikejarnya?
Ibu Chris juga menangkap kejanggalan dari sikap Jouji, namun dia tidak berkomentar apapun. Dia bahkan terlihat sangat tenang seperti biasa.
"Apa yang membuatmu sangat yakin, paman?" tanya Chris, ingin tahu senjata sesungguhnya selain Jouji yang entah bagaimana mau menurutinya.
Bastian mengambil ponselnya dan membuka file. Sebuah rekaman suara dan memberikannya pada Chris. Setelah mendengarnya sendirian, Chris meletakkan ponsel itu dan tersenyum dengan santai.
"Paman bisa mengusir wartawan itu sekarang." katanya.