
Chris menemui anak dan mertuanya sebelum berangkat ke kantor. Pilihan Azam untuk tinggal dengan neneknya membuat dia kecewa. Namun pilihan anak itu ia hormati karena memahami ketakutannya. Setelah kejadian malam itu, Azam memang terlihat sedikit menarik diri. Bahkan beberapa kali menghindarinya. Chris tahu, Azam takut padanya. Sampai keadaannya membaik, Chris juga harus menjaga jarak dari mereka.
"Saya masih mencari Jihan. Jangan terlalu cemas, kita pasti bisa menemukannya. Saya telah mendapatkan beberapa petunjuk. Saya mohon doa dan dukungan kalian."
"Kami percaya padamu. Tolong segera temukan anak kami." Ayah Jihan menjawab dengan lesu. Matanya terlihat sendu dan nyaris tampa harapan.
Chris melirik Azam yang hanya menatapnya dalam diam. Setiap kali Chris datang, dia akan selalu duduk di sebelah neneknya, diam dan hanya menatapnya.
Chris berdiri dari duduknya, pamit pada mereka sebelum beranjak dari ruang tamu. Pagi ini dia meminum obatnya dengan dosis yang dinaikkan lagi. Efeknya dia malah merasa mual sekarang.
"Nak," Chris berhenti, menoleh ke arah pintu ketika ia sudah hampir mencapai mobilnya. Ibu Jihan berdiri di sana dengan pandangan kawatir. "Ibu mendengar rumor tentang penyakitmu. Apa kamu baik-baik saja?"
Chris tersenyum, "Ya, Ibu. Saya baik-baik saja selama meminum obat. Maaf membuat Ibu kawatir." sahutnya dengan formal. Di dalam kepalanya, Chris memikirkan kata-kata makian yang ingin ia teriakkan. Otaknya mulai kacau ketika dia merasa terganggu ketika orang terdekatnya membahas penyakitnya. Bukan karena keinginannya, hal itu karena dorongan dari gangguan emosi yang ia miliki.
"Hati-hati dijalan. Kami selalu mendoakanmu."
Perkataan itu seperti air sejuk yang mengaliri dada hingga kepalanya. Keinginan memaki tadi hilang begitu saja. Chris menarik senyum tipis dan mengucapkan terima kasih sebelum pergi.
.
Sesampainya di dalam ruangan kantornya. Chris disambut oleh Arjun yang membawa berita baru.
"Kami menemukan mobil itu."
Chris tidak jadi duduk, dia langsung berdiri lagi. "Dimana?" tanyanya.
"Di tepi pantai, dari laporan polisi mobil itu sudah terparkir disana seminggu lebih."
"Isinya?"
Ketakutan merayapi kepala Chris, dia selalu diliputi rasa takut ketika mendengar kabar Jihan beberapa hari ini. Pikiran akan kematian Jihan menghantuinya sejak pengakuan Bayu. Bayu mengakui kalau dia membunuh Jihan. Meskipun belakangan Chris mengetahui fakta bahwa Jihan masih hidup dari saksi yang dibawa Tsuzu.
"Kosong, tidak ada apapun selain botol anggur yang masih penuh."
Chris memijit kepalanya. Dia seperti mengharapkan hal yang sia-sia.
"Tidak ada saksi yang melihat mereka?"
"Sejauh ini belum ada. Tampaknya mereka bergerak dini hari. Hanya pada jam itu wilayah disana sepi. Kami memeriksa seluruh kapal yang berlayar melalui dermaga. Juga pesawat yang terbang seminggu belakangan, tapi tidak ada jejak."
"Bisa saja mereka membuat identitas palsu untuk Jihan."
"Mungkin saja, jika begitu... Satu-satunya orang yang mungkin dengan mulus melakukan ini hanya dia. Maksud saya, seseorang yang punya motif untuk ikut campur dalam rencana Bayu, mungkin hanya Marcell, Tuan."
"Mungkin saja, tapi dia bukan satu-satunya tersangka. Aku juga punya banyak musuh. Terutama keluarga besar dari pihak ayahku." Chris duduk dengan lesu.
"Marcell terbang menuju Bruney siang kemarin. Orang kita yang memata-matainya mengatakan dia pergi hanya dengan sekretarisnya. Dia tidak membawa anggota organisasinya satupun."
"Perusahaan mereka tidak menjalin kerja sama apapun dengan pihak kerajaan sana, juga perusahaan swasta disana. Apa ada yang luput dari pantauan kita?"
"Itu benar, tidak ada yang luput, Tuan. Perusahaannya masih baru, sangat aneh jika mereka mendapatkan relasi bagus dengan cepat tampa dukungan organisasi gelapnya. Hanya saja, setahu saya cakupan bisnis haram mereka tidak menargetkan negara itu karena sistem pemerintahannya yang ketat."
Chris menghela napas. "Jadi menurutmu dia kesana karena urusan pribadi?"
"Bagaimana menurut Anda?" Arjun balik bertanya.
Chris mengangguk, jika kecurigaan mereka benar, dia harus mengupayakan segala cara.
"Dapatkan nomor kontak pangeran kedua kerajaan Bruney. Aku ingin bicara dengannya." perintah Chris.
Arjun tentu saja terkejut. Dia memasang wajah kaget itu beberapa saat sampai Chris menatapnya tajam.
"Maafkan saya, Tapi... Pangeran, Tuan? Anda serius?"
"Dia teman seangkatanku saat kuliah. Walau kami tidak akrab, setidaknya secara sosial hubungan kami cukup baik."
"Akan saya lakukan!" jawab Arjun, dia segera keluar dari sana.
Tidak lama, Alex masuk dan membawakan hasil putusan sidang pidana Bayu yang baru saja selesai.
Arjun kembali dalam waktu 30 menit ketika Chris sedang menyandarkan kepalanya. Akhir-akhir ini dia kehilangan banyak kosentrasi. Pekerjaannya juga banyak yang terbengkalai sehingga Jordi beberapa kali turun tangan membantunya.
"Tuan, Anda baik-baik saja? Istirahat saja jika anda merasa tidak nyaman. Saya akan memeriksa semua laporan ini."
Chris menggeleng, membuat Arjun terlihat lebih kawatir padanya. Dia segera mengirim pesan pada Jordi untuk datang membantu. Chris tidak baik-baik saja. Dia tahu pengaruh obat itu sangat buruk untuknya. Namun akan lebih buruk jika dia tidak meminumnya.
'Dia pasti sedang berusaha untuk tetap waras kan? Ini hanya masalah waktu sampai penerus Mc jatuh. Dengan begitu, si tua bodoh itu akan naik tahta dan menghancurkan perusahaan itu.'
Arjun mengingat pertemuan terakhir sebelum putusan sidang Bayu. Ketika Arjun mengunjunginya ke penjara. Bayu terlihat sangat tenang dan juga senang. Meski begitu, Arjun tahu hanya kehampaan di dalam hatinya ketika Arjun melihat sorot matanya. Bayu sama sekali tidak terlihat bahagia meski dendamnya telah ia laksanakan. Kesenangan palsu yang ia tunjukkan, mungkin bisa menipu banyak orang. Namun Arjun sudah mengenalnya cukup lama. Dia mengenalnya dengan baik.
"Kamu mendapatkannya? Harusnya tidak sulit jika kamu memakai namaku."
Arjun kembali dari pikirannya. Dia segera memberikan ponselnya yang sudah menyimpan nomor sang pangeran.
"Saya juga sangat takjub bagaimana pihak kedutaan mendapatkan dengan mudah ketika mereka memintanya pada pihak kerajaan. Anda dekat dengannya kan? Kalau tidak mana mungkin dia dengan mudah memberi izin." Arjun menarik kursi dan duduk di hadapan Chris.
Chris membuka matanya, menyalin nomor itu dan langsung menghubungi teman lamanya itu. Mengabaikan perkataan Arjun yang menurutnya tidak penting untuk dijawab.
Terdengar kekehan dari seberang. "Cukup lama, Christoper. Mahasiswa nomor satu yang tidak bisa aku kalahkan. Kenapa kamu menghubungiku?" Sang pangeran bertanya dengan nada yang tidak ramah.
"Ini terkait penculikan istriku." Chris menjawabnya tampa basa basi.
"Aku kira rumor yang kini beredar itu benar. Kenapa kamu membiarkan rumor buruk tentangmu sementara faktanya kamu bahkan menghubungiku sebagai usaha terbaikmu?"
Pangeran mempertanyakan tindakan pihak Chris yang tidak memberi bantahan atau meredam media yang menulis berita palsu tentangnya. Bukannya tidak mau, Chris memang sengaja membiarkannya. Membuat Bayu dan sekutunya diatas angin adalah tindakan yang menurutnya benar saat ini. Termasuk membiarkan pemberitaan mengenai gangguan mental yang ia idap menyeruak seperti semburan air yang mengalir kesegala arah. Merembet kemana-mana sehingga menciptakan spekulasi tidak masuk akal dan jahat dari netizen.
Chris tidak menjawab, sehingga pangeran itu kembali melanjutkan perkataannya. "Kamu mencurigai istrimu dibawa ke negaraku?" tanyanya.
"Ya, seperti dugaan Anda." Chris menjawab dengan sopan.
"Apa yang bisa kamu berikan jika aku membantumu? Kamu tahu aku tidak membantu dengan gratis walau ini bersifat sosial. Kamulah yang mengajariku hal ini, ingat?" Seketika Chris memijit perempatan keningnya, dia sangat ingat tentu saja. Masa lalu mereka bukan hal yang nyaman untuk diingat.
"Katakan apa yang Anda inginkan."
Terdengar tawa yang cukup renyah dari sana. Membuat kerutan muncul dikening Chris. Kesal karena teman bicaranya itu seolah-olah sedang mempermainkannya.
"Santailah, kawan. Aku akan mengatakannya setelah berhasil menemukan istrimu. Tidak ada yang bisa luput dari pengawasanku disini. Kamu punya seseorang yang kamu curigai?"
"Orang dari organisasi gelap bernama Marcell."
"Dia?"
"Anda kengenalnya?"
"Beberapa minggu yang lalu kami menangkap antek-anteknya yang melewati perairan kami. Membawa banyak senjata ilegal yang sudah siap dijual."
Chris cukup terkejut, tidak menyangka negara itu sudah masuk dalam daftar perdagangan senjata mereka.
"Kita punya tujuan yang sama, kalau ada informasi aku akan langsung menghubungimu." Ucapan itu seperti sebuah janji yang dapat dipercaya oleh Chris, karena dia tahu ucapan pangeran dari negara itu tidak pernah ia langgar. Dia memang dikenal dengan kepribadian yang tegas dan sangat memegang perkataannya.
Chris berbalik, duduk dengan wajah cemas bercampur marah. Dia merasa kecewa pada dirinya sendiri yang justru lemah disaat musuh semakin kuat.
"Anda tidak ingin menemuinya dan membuat kesepakatan saja, Tuan? Jika perlu, Anda bisa menemui ayah angkatnya. Say rasa kesepakatan dengan pemimpin tertinggi mereka lebih berguna dari pada Marcell sendiri."
"Tidak," tolak Chris langsung, "Dilihat dari tindakannya sejauh ini. Dia pasti mendukung Marcell. Kesepakatan tidak akan berguna, mereka bahkan tidak akan mengakuinya."
"Jadi kita akan tetap bergerak diam-diam?"
"Itu lebih baik. Panggil Alex kesini. Dimana anak itu?"
Arjun berdecak dengan jengkel. Tampaknya ia sangat kesal ketika nama Alex disebutkan.
"Anda terlalu lunak padanya. Dia habis berpesta tadi malam dan pagi ini masih dalam pengaruh Alkohol. Preman itu benar-benar tidak berguna!"
"Suruh dia kesini."
"Kalian mencariku?"
Chris menatap lurus ke arah pintu masuk. Alex muncul disana dengan wajah yang cukup membuat Chris terganggu. Mata sayu menahan kantuk, rambut berantakan dan kulit pucat kurang tidur. Untungnya dia memakai pakaian yang cukup rapi, sehingga sedikit menolong penampilan buruknya pagi ini.
"Jangan menatapku begitu. Pria lajang sepertiku butuh hiburan tahu!" katanya, berjalan ke sofa panjang dan berbaring disana.
Arjun melemparkan tatapan tajamnya. Mengalahkan tatapan Chris saat ini. Terlihat sangat terganggu dengan sikap liar dan kasarnya selama ini. Kepribadian dan dunia mereka memang sangat bertolak belakang.
"Jadi apa yang kamu dapatkan disana? Kamu tidak hanya bersenang-senang kan?" Chris meliriknya.
"Yah, tidak banyak. Paman dan bibimu tampaknya tenang-tenang saja. Mereka seperti sedang menunggu momen. Tapi Marcell dan orang-orangnya cukup banyak bergerak akhir-akhir ini. Mereka juga sudah dua kali mampir di pulaumu. Tampaknya bisnis mereka makin lancar. Marcell pergi ke Bruney kemarin dan dua orang kita kehilangan jejaknya disana. Dia tahu kalau sedang diikuti. Sial sekali, tapi aku yakin dia kesana karena masalah pribadi. Dia hanya pergi berdua."
Pembahasan itu telah Chris bicarakan dengab Arjun. Jadi dia tidak menanggapinya lagi.
"Tetap tangani keamanan pulau, jangan sampai media dan polisi mengetahui apa yang mereka lakukan dipulauku. Terutama jangan ada pengunjung yang tersasar kesana ketika mereka berhenti."
"Ya, aku mengerti." sahut Alex.
"Anda semakin pucat, Tuan. Sebaiknya Anda istirahat. Saya akan panggilkan dokter." kata Arjun.
"Tidak perlu, lanjutkan pekerjaan ini." tolaknya.
Baik Arjun dan Alex menatapnya dengan prihatin. Chris terlalu memaksakan diri ditengah keadaannya yang tidak baik-baik saja. Membuat keduanya, bahkan Alex dengan kepribadian buruk seperti itu, menghawatirkannya.
.
Jihan akhirnya bisa melihat pemberitaan mengenai dirinya ketika Marcell setuju untuk meminjamkan ponselnya setelah makan malam. Kini dia duduk termenung di dalam kamarnya. Memikirkan pemberitaan yang menyebutkan dirinya telah dianggap meninggal. Juga pemberitaan yang menggiring opini publik tentang konspirasi Chris dibalik semua kejadian ini. Menghubungkannya dengan mantan istri dan anak yang ia buang setelah ia besarkan. Catrin, bahkan dibahas diforum diskusi online. Sampai nama Adora juga masuk dalam banyak spekulasi netizen. Menuduh Chris membunuh Jihan karena ingin membawa mantan pacar dan anak kandungnya masuk ke rumah. Sungguh tuduhan yang keluar dari jari kini lebih jahat dari lidah yang tajam.
Doktrin dari Marcell menambah pikiran buruk yang merasukinya. Jihan menatap pantai dengan wajah sedih. Matanya berkaca-kaca dan kedua tangannya mencengkram selimut dengan kuat. Kedua kakinya ia naikkan, menopang kepalanya yang kini tenggelam. Dia menangis dan merasa tidak berdaya. Satu-satunya harapannya kini hanyalah Tuhannya.
'Tidak, mereka bisa saja salah. Tapi kenapa Chris tidak membuat bantahan? Kenapa dia diam saja? Ini bukan seperti dirinya ketika ada hal buruk keluar tentangnya.'
Jihan terus saja mengatakan hal yang meragukannya di dalam kepalanya. Sampai ia tidak menyadari bahwa ia sudah terisak-isak dalam tangisan yang terdengar menyedihkan.
Disebalik pintu, Marcell menurunkan tangannya yang akan mengetuk pintu. Dia tidak suka mendengar tangisan Jihan. Dia merasa hatinya ikut terkoyak.
"Jangan sedih, Jihan. Aku yang akan membahagiakanmu mulai sekarang." bisiknya pada diri sendiri. Lalu meninggalkan tempat itu, berjalan menuju pintu keluar.