
Perusahaan menjadi sedikit heboh ketika Jordi datang membawa tiga orang dari MC pusat.
"Kedatangannya saja sudah membuat wanita berteriak," gumam Meri.
Jordi masuk ke dalam ruangan direktur bersama asisten pribadinya, meninggalkan setiap pandangan yang mengarah padanya. Tiga orang tadi langsung dibawa oleh sekretaris direktur untuk mengantar mereka menuju tempat mereka yang baru.
Tak lama berselang, Jihan mendapatkan telepon dari ruangan direktur langsung. Menyuruhnya datang keruangan tersebut. Seluruh anggota timnya terutama Yasmin tampak penasaran dengan pemanggilan itu. Segera setelah Jihan pergi, bisik-bisik terjadi. Menduga alasan Jihan di panggil.
"Permisi... Anda memanggil saya Direktur?" sapa Jihan ketika pintu dibukakan oleh sekretaris Jordi.
"Duduklah Jihan."
Jihan merasa aneh dengan senyum cerah diwajah kedua orang yang duduk disana. Terutama sambutan terlalu ramah direktur itu.
"Jadi, kamu dipanggil kesini karena ada hal yang perlu aku sampaikan." ujar direktur itu. Jihan melirik Jordi yang hanya tersenyum simpul. "Mulai pagi ini, kamu akan dipindahkan ke perusahaan pusat." lanjutnya.
"Apa? Tapi kenapa? Maaf, maksud saya... Saya hanya orang baru." sahut Jihan dengan ragu-ragu.
"Itu karena Kakak lebih cocok berada di pusat, Kak Jihan. Lagi pula ini pengaturan dari Presiden direktur langsung."
Jihan meliriknya kesal. Meski begitu dia tahu posisinya. Sehingga akhirnya dia hanya diam saja. Menerima keputusan tersebut karena tidak mudah mencari pekerjaan. Selagi dia bisa mengatasinya nanti, dia hanya perlu menahan diri. Itulah yang bisa ia pikirkan saat ini.
"Jihan, selamat ya. Kamu pasti akan lebih maju disana." ujar direktur dengan senyum cerah.
Sejak Jihan masuk, direktur memang bersikap sedikit hati-hati terhadapnya. Meskipun jarang bertemu, namun jika berpapasan di jalan, Direktur itu akan langsung melihatnya dan tersenyum ramah. Menyapanya dan memberinya semangat.
Sekembalinya Jihan ke ruangan timnya. Keadaan sudah berubah. Meri bergabung disana menggantikannya dan kepala tim mereka sudah berganti dengan orang baru. Semua tampak mulai bekerja.
Meri segera menghampiri Jihan ketika dia mengemasi barangnya. "Ada apa? Kenapa kamu mengemasi barangmu?" tanya Meri dengan cemas.
Yasmin yang duduk di dekatnya berbisik pelan. "Kamu tidak dipecat kan?" tanyanya ikut panik.
"Tidak, aku dipindahkan." jawab Jihan pelan. Namun suaranya cukup bisa di dengar setiap orang.
"Apa?"
Respon mereka tentu saja sangat terkejut. Ketua tim mereka yang baru menghela napas, hanya melirik Jihan sekilas dan memerintahkan semua orang fokus pada pekerjaan kembali.
"Kak Jihan? Ayo! Berangkat bersamaku."
Jordi masuk dengan senyum ramahnya. Kepala tim segera bangun dari duduknya, begitu juga semua anggotanya.
"Sampai jumpa, Direktur." ujar ketua tim dengan hormat.
"Tentu, selamat akan kenaikan jabatanmu juga." balas Jordi.
Masih dengan senyum ramah, dia mengambil kardus kecil berisi barang Jihan dan membawanya.
"Tu-tunggu! Aku akan membawa sendiri," cegah Jihan.
"Biar saya yang membawanya, Direktur." sela sekretaris Jordi.
"Hmm... Oh, baiklah. Tolong ya, Irma." ujarnya.
Mau tidak mau Jihan mengikuti keduanya dengan kepala tertunduk. Bagaimana tidak, semua orang yang mereka lewati menoleh hanya untuk melihat bagaimana baiknya Jordi pada karyawan biasa. Memperlakukannya selayaknya keluarga, bukan bawahan. Tentu saja mereka bisa memaklumi hal tersebut karena mereka memang pernah menjadi keluarga. Namun tetap saja semua mata memperhatikan interaksi itu.
Tepat di tengah aula, Jordi berhenti. Berbalik dan menatap Jihan yang ikut berhenti. "Kak Jihan, Kakak tidak boleh menundukkan kepala." ujarnya.
"Huh?" Jihan melirik kiri dan kanan dengan bingung. "Memangnya kenapa Direktur?"
Jordi menggaruk keningnya yang tidak gatal. "Tidak, ayo." sahutnya.
Jihan yang bingung hanya mengikutinya, melirik Irma yang tampak kaku dan tegang disebelahnya. "Biar aku yang bawa..." kata Jihan dengan tidak enak hati. Tangannya terjulur sambil berjalan namun segera dihindari oleh Irma yang tampak ketakutan.
"Ti-tidak apa-apa. Ini ringan kok." ujarnya, tersenyum kaku kemudian.
Jihan tentu saja bingung, namun memilih tidak menyela lagi, takut Irma malah akan membencinya. Dia tidak ingin memiliki musuh.
.
Chris sedang memeriksa laporan-laporan terkait perusahaan sebelum rapat nanti ketika pintu di ketuk dari luar. Jordi masuk bersama dengan Jihan yang terus menurunkan pandangannya. Berdiri di depan meja kerja Chris yang langsung menghentikan pekerjaannya.
"Kalian kembali? Kamu bisa kembali bekerja, Jordi." kata Chris, namun matanya tidak lepas dari Jihan.
"Baik Presdir," sahut Jordi lalu keluar dari ruangan. Dia menatap meja dan kursi baru yang diletakkan di sebelah meja kerja Arjun dengan ekspresi datar.
"Jadi dia menempatkan kak Jihan disana? Idenya boleh juga." tuturnya dengan senyum remeh.
Sementara itu, di dalam ruangan, Jihan terus menunduk dalam ketika Chris tidak mengatakan apapun kecuali hanya menatapnya. Jantungnya bahkan tidak mau berkompromi, antara marah dan gugup, dia hampir tidak bisa mengatasinya lagi.
Ketika Jihan seperti akan bereaksi, Chris menarik sudut bibirnya dan mulai berbicara. Bahkan Arjun yang memilih pindah ke sofa berdecak malas melihat kelakuan atasannya itu.
"Selamat datang ditempat barumu. Asisten Jihan."
Chris menunjukkan seringaian penuh kemenangan ketika mata Jihan akhirnya menatapnya. Chris bisa melihat bahwa ada penolakan akan posisi itu diwajah Jihan, namun dia tidak bisa mengatakan apapun.
"Kamu bisa belajar dari Arjun, dia akan mengajarimu dengan baik. Ada pertanyaan?"
"A-Asisten? Tapi aku tidak punya pengalaman apapun tentang posisi itu. Bisakah aku diletakkan ditim lain?" pinta Jihan dengan nada ragu-ragu.
"Kamu akan belajar dengan cepat, Kamu cukup pintar dan poin tambahannya adalah..." Chris bangun dari duduknya, lalu berjalan kesamping Jihan. "Kamu adalah mantan istriku." lanjutnya.
Chris berdiri dengan tangan dilipat didada dan duduk di pinggir mejanya, tepat dihadapan Jihan yang menatapnya dengan amarah tertahan.
"Kamu masih ingat apa yang disukai dan tidak disukai mantan suamimu ini bukan?" lanjut Chris, tersenyum tipis kemudian yang sialnya membuat jantung Jihan tidak siap. Meskipun marah, jelas wajahnya memerah. Chris jarang tersenyum, dan saat tersenyum ketampanannya bersinar berkali lipat.
"Aku tidak ingat!" jawab Jihan, dia segera menurunkan pandangannya.
"Bersikaplah formal, kamu sepertinya masih berada dalam bayang masa lalu. Aku atasanmu bukan?"
Chris melihat kedua tangan Jihan mengepal, menyudutkan dan memprofokasi seperti ini membuatnya sangat terhibur.
"Tuan, Anda harus menghadiri rapatnya sekarang." sela Arjun.
Chris segera berdiri tegak. "Baiklah, bawa semua yang diperlukan." jawab Chris, lalu berjalan keluar terlebih dahulu.
"Anda bisa menunggu disini untuk sementara, meja Anda ada di sebelah meja saya diluar." ujar Arjun sebelum buru-buru menyusul Chris.
Setelah keduanya kembali dari ruang rapat, Jihan langsung berdiri ketika Chris melewatinya. Arjun memberinya kode untuk menunggu, sehingga Jihan kembali duduk di kursinya.
"Dia biasanya tidak berada di jalan yang sama dengan kita. Kenapa dia tiba-tiba ingin terjun ke industri ini?"
"Tampaknya ada sesuatu yang membuatnya tertarik, Tuan. Tapi... bukankah ini jadi menarik? Selama ini anda tidak terkalahkan dalam industri ini, ada lawan baru jadi lebih bersemangat bukan?" sahut Arjun dengan enteng.
Chris berdecak sebal, ingin sekali melempar wajah tangan kanannya itu. "Ayolah Tuan, menurut anda mengapa Marcell yang berkecimpung di dunia bawah mulai merangkak keluar? Kita hanya perlu memutus akarnya."
"Akar katamu? Dia cukup memiliki pengaruh besar dalam dunia kotor mereka. Mengajaknya perang terbuka sudah pasti akan menimbulkan masalah. Tapi diam juga akan membuatku rugi."
Kehadiran pesaing baru membuat Chris cukup pusing. Dia mungkin kejam dan dingin dalam bisnis, tapi Chris suka main bersih. Meskipun beberapa kali harus menggunakan trik licik, namun dia tidak suka membuat tangannya kotor dengan darah. Berbeda dengan kalangan lawannya yang merupakan sindikat dunia bawah.
"Hubungi Alex, aku perlu beberapa informasi darinya." perintahnya.
"Kesini, Tuan?"
Chris menatap Arjun yang memberikan pandangan yang seolah mengatakan 'apakah dia yakin?'
Ketika mengingat ada seseorang yang mungkin akan lebih salah paham, Chris tertawa tampa suara.
"Ya, disini." jawabnya.
.
Jam pulang hampir tiba. Sejak selesai jam makan siang sampai sekarang, Arjun sibuk dengan pekerjaan barunya sebagai pengajar. Sambil bekerja, dia juga mengajari Jihan dan membimbingnya. Sementara Chris sibuk di dalam ruangannya sendiri.
"Anda belajar dengan cepat, IQ jenius memang berbeda." puji Arjun.
"Itu karena kamu pengajar yang baik. Tapi... bisakah panggil aku dengan nama, aku lihat di profil karyawan kamu lebih tua setahun dariku." pinta Jihan. Sejak tadi sebenarnya dia sudah kurang nyaman.
"Itu... Mungkin bisa. Asisten Jihan, bagaimana?"
"Kedengarannya lebih baik." sahut Jihan.
"Jangan terlalu tegang, santai saja. Lupakan masa lalu dan fokus bekerja. Tuan Chris cukup profesional sebenarnya. Tapi dia akan berbeda ketika anda menunjukkan reaksi lain. Jadi berusahalah menahan diri juga."
Mendengar Arjun yang membahas hubungan masa lalu mereka dan keadaan saat ini, Jihan terdiam cukup lama. Seolah banyak hal yang ingin ia tanyakan namun ragu apakah Arjun bisa dipercaya atau tidak. Mengingat Arjun adalah orang terpercaya dari Chris.
"Apa yang kamu pikirkan?"
"Huh? Tidak ada. Terima kasih atas saran..."
Perkataan Jihan terhenti ketika seorang pria dengan tato dan anting di telinga kanannya berdiri di depan meja Arjun.
"Apa bajingan itu di dalam?" tanyanya.
"Ya, anda bisa masuk." jawab Arjun.
Alex melirik Jihan yang tampak tegang ketika melihatnya. Membuat Alex tersenyum dan membungkuk.
"Woow, kamu cukup tidak punya harga diri untuk berada disini. Aku dengar kamu mantan istri bajingan itu. Apa kamu mengemis pekerjaan setelah semua hartamu hilang? Apa aku harusnya tidak berbaik hati melupakan sisa hutangmu?" ujarnya dengan wajah penuh ejekan.
Arjun bangkit dari duduknya, lalu berjalan kearah pintu ruangan Chris. Membukanya dan segera menyuruh Alex masuk.
"Ck, kamu benar-benar asisten yang kurang ajar." kesal Alex sambil melewatinya.
Arjun hanya tersenyum dan kembali duduk di dekat Jihan.
"Jangan dipikirkan, dia memang suka bicara seenaknya. Aku pikir lingkungan keras membuatnya tidak punya tatakrama." hibur Arjun.
"Tidak apa-apa. Aku hanya terkejut." jawab Jihan. "Terkejut karena keyakinanku benar bahwa Chris yang mengatur rentenir itu untuk membuat ayahku berhutang banyak." lanjutnya dalam hati.
Di dalam ruangan, Chris beralih ke sofa dimana Alex telah duduk disana. "Kamu membuat mantan istrimu bekerja disini atau dia yang mengemis padamu?" tanya Alex.
"Itu bukan urusanmu. Lakukan apa yang aku perintahkan saja." jawab Chris datar.
"Ck, kamu pikir aku bawahanmu!"
"Aku membayarmu dan kamu bekerja denganku, tentu saja aku atasanmu."
"Sialan!" kesal Alex.
"Marcell, carikan aku alasan dia memulai bisnis legal dan siapa yang membantunya. Kamu berada di dunia yang sama, jaringan gengmu cukup besar, kamu pasti tahu siapa dia bukan?"
"Oh, anak itu? Kenapa dengannya?"
"Dia menjadi pesaingku dalam sebuah proyek besar."
"Dia dikenal tidak suka berurusan dengan hal-hal seperti ini. Dia suka bisnis jual beli langsung dengan keuntungan besar. Bukan kerja keras yang melibatkan banyak orang sepertimu. Aku tidak tahu apakah dia punya keahlian dalam bisnis seperti ini."
"Aku akan menunggu dalam waktu 24 jam."
"Sialan! Kamu kira aku mesin google! Aku pergi!"
Alex berdecak penuh kekesalan sebelum bangkit dan keluar dari sana. Ketika melewati Arjun dan Jihan, dia lagi-lagi berhenti.
"Kita akan sering bertemu, apa aku harus membawakanmu hadiah lain kali?" ujarnya dengan senyum palsu yang kentara.
"Pergilah sebelum aku menendangmu." Tiba-tiba Chris sudah berdiri di ambang pintu dengan tangan di dalam saku celananya.
Alex lagi-lagi berdecak malas. "Aku hanya main-main sedikit dan kamu sudah protes." katanya tampa menoleh. Lalu melanjutkan langkahnya begitu saja.
"Kalian bisa pulang, aku harus mengerjakan beberapa hal." ujarnya pada Arjun dan Jihan.
"Oh, baik Tuan." sahut Arjun.
Chris kembali masuk dan menutup pintunya. Lalu dia mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada Arjun.
Ketika Arjun membacanya, dia tertawa lebar. "Apa ada kabar baik?" tanya Jihan.
"Tidak, hanya ada teman yang mengirimkan candaan receh, ayo! Aku akan memberikan tumpangan."
"Huh? Aku bisa pulang sendiri. Kamu tidak perlu melakukan itu." jawab Jihan.
'Mana mungkin aku tidak perlu melakukan itu, aku akan mendapat masalah jika tidak mengantarmu. Aku bahkan harus segera kembali dan lembur bersama bos tidak punya perasaan itu' gerutu Arjun dalam hati. Namun bibirnya menyunggingkan senyum aneh yang menggelikan.
Setelah memaksa, Jihan akhirnya berhasil dibujuk untuk mau di antar. Segera setelah Jihan sampai dengan selamat, Arjun segera memacu mobilnya kembali ke perusahaan.
'Dia bilang akan membuat Jihan merangkak padanya, ini seperti dia yang merangkak pada Jihan. Dasar payah!' monolog Arjun sambil menggeleng, geli sendiri dengan tingkah Chris yang menurutnya sudah menjadi budak cinta dari Jihan.