
Kerutan muncul diperempatan kening Chris ketika dia melihat layar ponselnya. Beberapa saat lalu, dia baru saja mendapatkan kiriman dari tim IT perusahaan.
"Dia bisa sangat ramah pada bajingan ini tapi kenapa sangat menjaga jarak dariku?" kesalnya.
Dia meletakkan ponselnya dengan kasar setelah membaca semuanya. Tidak ada hal yang spesial selain perhatian intens yang dikirimkan Marcell. Marcell memperlakukan Jihan dengan sangat sopan. Dia benar-benar tahu cara mengambil hati sesesorang.
Jihan mengetuk pintu dua kali dan masuk untuk mengantarkan hasil pekerjaannya. Chris tidak mengatakan apapun. Dia hanya mengambil berkas itu dan membacanya tampa mengidahkan kehadiran Jihan disana.
Ketika Jihan telah keluar, dia menghembuskan napas dengan berat. Lalu mengusap wajahnya dengan kasar, seolah hal itu akan menjernihkan pikirannya. Sayangnya, dia sendiri tahu apa yang hatinya inginkan saat ini.
Rencana mereka sampai saat ini berjalan dengan baik meski ada perubahan besar dari rencana awal. Sore tadi, Arjun sudah membuat janji dengan Jihan. Berbohong padanya bahwa mereka memiliki seseorang yang harus ditemui disana. Meskipun Jihan tampak curiga, namun dia menyetujui untuk lembur menemui rekan bisnis mereka disana.
Pintu terbuka, Chris menatap Arjun yang baru saja masuk. "Saya sudah menempatkan alat pelacak padanya. Sesuai dugaan, Jihan merubah tempat pertemuan. Jika Marcell pintar, dia pasti akan mencurigai sesuatu."
"Aku tahu, dia bukan orang biasa yang gampang dimanipulasi."
"Kalau begitu sampai jumpa disana, Tuan." Arjun segera pergi.
Chris sendiri juga ikut pergi dari sana. Rencana kalau dia sendiri yang akan membuat kekacauan kecil disana, berubah ketika Chris menyadari hal itu hanya akan membuat Marcell semakin menjadikan Jihan target.
.
Jihan melihat jam tangannya berulang kali. Dia terlihat kawatir ketika orang yang mereka tunggu tidak kunjung datang.
"Apa yang terjadi? Kenapa beliau belum datang juga?" tanya Jihan.
"Aku tidak tahu, Asistennya bilang mereka sedang dalam perjalanan beberapa menit yang lalu." jawab Arjun.
Menit demi menit berlalu sampai melewati satu jam, Jihan terlihat kawatir. Arjun tentu saja tahu, bahwa Jihan tidak ingin dirinya bertemu Marcell. Entah apa yang akan mereka bicarakan, tapi melihat laporan chat yang juga dibaca Arjun, sepertinya Jihan menyetujui ajakan Marcell karena sesuatu hal dijanjikan pria tersebut.
"Aku akan menghubunginya kembali." ujar Arjun. Lalu dia bangkit dari sana dan pergi ke area yang sedikit pengunjung. Karena restoran itu cukup besar, ada beberapa area yang masih sepi karena bangku yang terisi lebih banyak di dekat pintu masuk.
"Bagaimana?" tanya Jihan.
Arjun menghela napas dan tampak lesu. "Asistennya memberi kabar buruk. Mereka mengalami kecelakaan kecil ketika kesini. Mereka sedang berada di kantor polisi karena orang yang mereka tabrak melapor."
"Apa? Kenapa mereka tidak langsung menghubungi kita dan malah membiarkan kita menunggu satu jam lebih!"
"Aku tidak tahu, kita akan melaporkan ini. Tuan harus memutus hubungan kerja dengan orang seperti ini. Ayo pulang!" ajak Arjun. Dia pura-pura menunjukkan kekecewaan yang sama.
"Itu... Kamu duluan saja. Aku akan pulang naik taksi."
Arjun menoleh, berpura-pura heran. "Kenapa? Kamu ada janji lain?"
"Hmm, aku akan bertemu teman di dekat sini."
"Teman?"
"Ini urusan pribadi, jadi pergilah duluan." kata Jihan dengan tegas.
"Hati-hati saat pulang dan beri kabar kalau butuh bantuan." ujar Arjun sebelum meninggalkan Jihan disana.
Sepuluh menit setelah Arjun pergi. Marcell masuk ke dalam restoran sendirian. Jihan mungkin tidak tahu, tapi Arjun yang masih disana untuk mengawasinya, bisa melihat ada dua mobil yang datang bersamaan dengan Marcell. Arjun bisa melihat orang yang ditugaskan mengawasi Jihan juga sudah masuk kedalam.
"Oh, kamu ada pertemuan dengan seseorang sebelum aku?" tanya Marcell ketika duduk dikursi yang tadinya diduduki Arjun. Gelas kopi Arjun masih disana.
"Oh, tadi saya bersama asisten presdir yang lain. Kami memiliki pertemuan dengan seseorang namun dia tidak datang."
"Begitu? Dia cukup hebat mengabaikan pertemuan dengan kalian." komentar Marcell dengan ekspresi anehnya. Marcell tampaknya sedang membaca situasi.
"Bukan begitu, mereka mengalami kecelakaan."
"Oh, aku turut prihatin." sahut Marcell dengan cepat dan menunjukkan wajah penyesalan.
"Jadi... Mengenai rumah saya..."
"Bagaimana kalau kita pesan makan dulu? Aku lapar." potong Marcell.
"Oh, saya minta maaf. Saya tidak tahu kalau Anda belum makan malam."
Marcell tersenyum lebar, "Tidak, kamu jangan minta maaf. Aku yang salah karena terlalu sibuk."
Disana, hanya Marcell yang makan karena Jihan cukup kenyang dan menolak untuk makan lagi. Marcell selalu mencoba mengalihkan topik pembicaraan dengan banyak bertanya mengenai masa lalu Jihan. Hal itu tentu saja membuat Jihan tidak nyaman, namun Marcell terlihat tidak begitu peduli.
"Apa aku membuatmu tidak nyaman? Maafkan aku. Aku hanya penasaran pada wanita yang menarik sepertimu." ujarnya setelah Jihan tidak lagi memberikan jawaban, melainkan hanya tersenyum tipis dengan canggung.
Jihan menggelang, dengan tidak iklas dia menjawab, "Tidak apa-apa." Marcell tersenyum senang setelah mendengar jawababan itu. Seolah-olah dia memang tidak sengaja melakukannya.
"Jadi... Tentang rumahmu, aku minta maaf karena memyelidikimu sejauh itu. Aku sangat marah ketika tahu dari sekretarisku bahwa kamu terpaksa bekerja di MC group setelah kehilangan toko pakaian dan kafemu." Marcell menunjukkan ekpresi yang sangat tulus. "Jadi aku memerintahkan seseorang untuk mengurusnya. Aku beruntung karena kami mendapatkan persetujuan mereka sebelum kebakaran terjadi."
Jihan juga mendengar kabar kebakaran di ruko yang dimiliki oleh Alex itu. Seluruh berkas hilang dan mereka mengalami kerugian yang banyak. Kabar kebakaran di rumah Alex tidak terendus media. Karena orang-orang Marcell hanya membakar rumah bagian belakang dimana bunker berada. Setelah habis terbakar, mereka memadamkan api dengan cepat. Sehingga bagian depan tidak ikut terbakar dan menyebarkan rumor ke tetangga bahwa ada ledakan gas di dapur. Alex terkenal menakutkan disekitar tempat tinggalnya dan tidak ada yang berani berurusan dengannya. Justru mereka bersyukur ketika dia mengalami musibah seperti itu, terutama mereka yang berhutang padanya.
"Jadi, Anda membeli rumah dan toko itu?"
"Ya, aku membelinya. Karena aku ingin kamu mendapatkannya kembali. Aku pikir kamu pasti sedih kehilangan itu semua. Terutama rumah orang tuamu dan rumah yang kamu beli dengan hasil kerja kerasmu. Sangat tidak adil apa yang mereka ambil dengan apa yang mereka dapatkan."
Tangan Jihan yang terletak di atas lututnya mencengkram bajunya dengan erat. Dia mengingat bagaimana rumah penuh kenangan orang tuanya yang ikut diambil paksa. Lebih buruk dari itu, orang yang mengaku mencintainya ikut andil membuat mereka kehilangan rumah itu. Sampai detik ini, Jihan masih mempercayai bahwa Chris bekerja sama dengan Alex dan ingin balas dendam dengan membuat hidupnya sulit. Walau sebagian dugaannya benar, tentu saja. Tapi dia tidak tahu tujuan Chris sebenarnya. Bagaimanapun, pada akhirnya Chris menyesali apa yang ia lakukan.
"Aku akan memberikannya kembali padamu. Tapi kamu harus bekerja di perusahaanku."
Jihan melebarkan matanya. Bagaimanapun dia sudah nyaman bekerja dengan Arjun. Meski tidak nyaman karena Chris, Jihan menyukai pekerjaannya sebagai asisten. Apalagi gaji disana cukup tinggi. Selain itu, dia merasa akan menjadi penghianat jika pergi begitu saja setelah Arjun mengajarinya banyak hal.
"Saya..."
"Kamu bisa memikirkannya terlebih dahulu."
"Tapi... Kenapa anda ingin saya bekerja dengan anda?"
"Karena aku sedang mencari orang-orang yang akan loyal diperusahaanku. Selain itu, tentu saja karena aku ingin melihatmu setiap hari. Sulit menemuimu ketika kamu bekerja disana. Presdirmu membuat larangan khusus untukku. Aku bahkan tidak bisa sekedar parkir di depan gedung MC." jawab Marcell dan pura-pura menggerutu diakhir.
"Huh? Benarkah?" kaget Jihan, dia baru tahu kalau Chris melakukan hal itu.
"Dia membenciku, apa kamu tidak tahu?" kata Marcell dengan nada bercanda. Membuat Jihan tertawa kecil.
Marcell tiba-tiba terdiam ketika Jihan tersenyum dengan hangat seperti itu. Sebelumnya, dia tidak pernah melihat senyum tulus seperti itu. Yang mengelilinginya hanyalah senyum palsu para wanita yang haus akan uangnya.
"Berapa anda membelinya dari rentenir itu? Tidak bisakah saya membayarnya sedikit demi sedikit?" tanya Jihan.
Marcell menatap makanan yang hanya habis separuh di hadapannya. Terlihat agak kecewa dan Jihan melihatnya dengan jelas. Hal itu membuat Jihan merasa canggung sendiri.
"Apa rumor itu benar?" tanya Marcell, matanya melirik ke jendela restoran sebelum menatap Jihan lagi. "Rumor yang mengatakan bahwa kamu bekerja disana karena ingin kembali pada mantan suamimu?"
"Anda percaya rumor itu?" Jihan jelas merasa terganggu sekarang.
"Tidak, karena aku tahu kamu pasti membencinya karena membuat ayahmu terlibat dengan rentenir jahat itu."
"Anda tahu hal itu?" Jihan lagi-lagi terkejut.
Marcell tersenyum penuh arti. "Aku punya banyak sumber informasi, jadi aku juga menyelidiki hal itu. Dia sudah membuatmu kesulitan bahkan dari awal pernikahan kalian. Jadi, bukankah kamu tidak punya alasan yang kuat untuk setia disana?" Marcell meminum kopi pesanannya sambil mengintip keadaan diluar.
Dia tersenyum tipis begitu menyadari ada kekacauan diluar dan apa yang mungkin sedang terjadi. Dia menatap Jihan yang terlihat bimbang. Namun hal itu hanya sesaat sebelum tempat itu menjadi lebih bising ketika semua pengunjung bangkit dan berjalan ke dekat jendela dan pintu masuk. Mereka semua terlihat kawatir. Beberapa dari mereka bahkan menelpon polisi.
"Apa yang terjadi?" Jihan ikut bangkit.
"Sepertinya ada keributan diluar. Jangan jauh dariku. Sepertinya ada tawuran atau perkelahian antar kelompok." jawab Marcell.
Mereka berdua ikut mengintip dari jendela. Marcell melihat seluruh anak buahnya sedang berkelahi dengan sekelompok orang yang menggunakan jaket hitam dan menutupi wajah mereka dengan masker.
Marcell menyeringai, meski begitu kerutan kekesalan terlihat diwajahnya. Ponselnya bergetar, dia sangat tahu siapa yang mungkin menghubunginya saat ini.
"Aku akan mengangkat telepon sebentar, jangan keluar, oke!" ujar Marcell.
Dia segera berjalan menjauh dari kerumunan orang-orang.
"Siapa mereka?" tanyanya.
"Kami belum tahu, tapi rumah dimana bajingan itu disekap juga diserang. Mungkin ini anak buahnya yang berusaha membebaskannya, Ketua!"
"Dan kamu mengirim anggota yang berjaga disana kesini? Bagaimana kamu bisa sebodoh ini? Jika dia bebas, rencanaku bisa gagal bodoh!" ujar Marcell, dia melirik Jihan yang menatapnya dari jauh. Tersenyum padanya dan berusaha mengatur ekspresinya.
"Bunuh bajingan itu, lupakan kesepakatan dengan Christoper!" perintahnya.
Marcell kembali, suasana diluar masih sama. Setelah polisi datang, barulah mereka semua bubar dan kabur dari lokasi.
"Aku akan mengantarmu pulang."
Marcell mengeluarkan aura berbeda yang membuat Jihan takut. Karena itu dia tidak membantah atau menolak. Dia juga masih takut jika harus mencari taksi diluar sana setelah kejadian tersebut.
Ketika pulang, Marcell masih menunjukkan wajah tidak senang. Membuat Jihan takut untuk menegurnya. Sepanjang jalan dia hanya diam, tampa tahu apa yang terjadi. Marcell melirik kaca spion. Melihat ada sebuah mobil yang terus mengikuti mereka sejak dari restoran. Dia menarik sudut bibirnya ketika menyadari bahwa seseorang mengikuti mereka. Meski dia tidak tahu dari pihak mana, tapi dia punya dugaan.
"Terima kasih dan sampai jumpa." kata Jihan setelah turun dari mobil.
"Jihan, aku menunggu keputusanmu." ujar Marcell dari bangku kemudi. Jihan hanya mengangguk, lalu masuk ke dalam rumah.
Marcell melirik kaca spion sekali lagi, orang yang mengikuti mereka tidak terlihat lagi. Lalu dia menghubungi bawahannya yang merupakan salah satu tangan kanannya. Orang yang bermasalah dengan Alex.
"Bagaimana?" tanyanya langsung.
Mendengar kabar dari anak buahnya, dia mengumpat dengan marah dan langsung memacu mobilnya untuk pergi dari sana.
.
Chris sedang berdiri di balkon kamar hotelnya dengan wine ditangan kirinya. Kebiasaan lamanya kembali setelah beberapa saat lalu dia berhenti minum minuman beralkohol. Dia baru saja mandi dan masih memakai baju handuk. Rambutnya masih basah sehingga mengalir ke lehernya. Ketika lampu menyinari kulit putihnya, seakan kulit itu bersinar untuk menambah pesona paras adonis itu.
Pintu kamarnya diketuk, dia menoleh dan berjalan santai ke arah pintu. Membukanya dan menatap Arjun dengan mata dinginnya. Dia melirik ke kiri, dimana Bayu juga datang bersamanya.
"Dia tertembak dibahunya, dia selamat dengan banyak bekas penyiksaan." lapor Arjun.
Arjun meneguk ludahnya dengan berat. Bisa ia lihat, Chris saat ini kembali seperti saat dia belum mengenal Jihan. Baik Arjun maupun Bayu, bisa merasakan tekanan kuat dan aura intimidasi yang besar darinya.
"Jihan?" tanya Chris.
"Dia sudah sampai dirumahnya. Marcell tampaknya belum ingin menunjukkan dirinya."
"Apa yang mereka bicarakan?"
"Hal itu... orang yang mengawasinya tidak bisa mendengar dengan jelas karena ramainya pengunjung. Sepertinya ada pembicaraan tentang rumah." jawab Bayu.
"Tetap laporkan jika ada chat yang mencurigakan padaku." perintah Chris, lalu menutup pintu.
Arjun dan Bayu saling bertujar pandang. Sama-sama melangkah pergi dan berjalan beriringan.
"Tuan kembali." komentar Bayu dengan ekspresi kawatir.
"Memang kapan dia pergi, kepribadiannya memang seperti itu." sahut Arjun.
"Jangan pura-pura bodoh. Kita tahu dia berubah setahun ini. Bahkan ibunya sampai melibatkan wanita ular itu untuk mengembalikan sifat Tuan yang tak tersentuh itu. Dia menganggap pada akhirnya cinta bisa membuat tuan lemah."
"Ck! Aku suka dia yang lebih manusiawi!"
"Kamu pikir aku tidak? Dia lebih bahagia juga."
"Dia hanya sedang marah dan kecewa karena ucapan Jihan." ujar Arjun.
"Aku harap begitu," sahut Bayu, mereka berpisah di depan lobi menuju mobil masing-masing.
.
Sementara itu, ditengah malam yang sunyi disebuah ruangan rumah sakit. Alex membuka matanya. Melirik kiri dan kanan. Setelah dia disiksa dan akhirnya dibawa pergi, dia menyadari saat ini dirinya berada dirumah sakit. Seluruh tubuhnya dihantam rasa sakit ketika dia berusaha menggerakkan jari-jarinya.
'Sial! Mereka menyiksaku dengan sangat parah!' ujarnya dalam hati.
Karena tidak bisa melakukan apapun dan harus menahan rasa sakit, Alex kembali menutup matanya. Memikirkan apa yang terjadi dan rencana selanjutnya. Dia tahu semua anak buahnya meninggalkannya. Alex sadar dia sendirian saat ini. Ketika penyiksaan itu, mantan anak buahnya ikut andil menyiksanya. Dia merasa sangat marah saat ini. Namun tidak bisa melakukan apapun. Satu-satunya yang belum ia tahu hanyalah uangnya yang hilang.