
Chris sedang merokok di depan balkon sebuah kamar hotel di meksiko. Tepat setelah kabar dia keluar dari rumah sakit menyebar, dia langsung terbang menuju meksiko untuk menjalankan rencananya.
Dia tidak bersam Arjun kali ini, Arjun ditugaskan untuk memantau perkembangan perusahaan. Alex lah yang mendampinginya kesana. Bersama beberapa anggota mereka dan beberapa orang bayaran dari sekelompok mata-mata international.
"Ijab kabul akan dilaksanakan bersamaan dengan resepsi. Semua anggota sudah di dalam posisi mereka," lapor Alex yang muncul dari balkon kamar sebelah.
"Kamu ingin aku membunuhnya? Untuk mengakhiri semua kekacauan, dia harus mati bukan?" tanya Alex lagi.
"Kita tidak boleh melibatkan diri. Kelompok mereka bukan kelompok kecil. Aku hanya ingin istriku. Seperti rencana sebelumnya, biarkan mata-mata kita membuat mereka saling serang."
"Dia sangat setia pada ayah angkatnya, bagaimana bisa membuatnya berhianat. Kita sudah mengawasinya cukup lama. Tidak ada cela baginya untuk berhianat."
"Kalau begitu buat itu seolah terjadi. Di hari pernikahannya, buat Ebel membunuh anaknya sendiri." sahut Chris.
"Hmm... Membuat Ebel membunuh anaknya sendiri. Aku rasa itu bisa dilakukan. Aku dengar, Ebel tidak begitu menyukai Jihan. Dia terus saja membuat mentalnya jatuh. Kita bisa membuat seolah Jihan menghasutnya meninggalkan kelompok. Kita perlu kerja sama dengannya dan bukti kejahatan mereka."
"Mungkinkah dalam satu hari?" tanya Chris.
"Entahlah, itu cukup sulit. Kecuali kita punya penghianat memihak pada kita."
"Bukankah kamu bilang wanita Ebel adalah korban perdagangan wanita? Buat dia memihak kita dan janjikan kebebasan."
Alex tertawa, dia menawarkan botol wine pada Chris, namun dibalas dengan delikan tajam oleh Chris. Alex tertawa lebar. Dia hanya bercanda, tentu saja dia tahu bahwa Chris tidak lagi menyentuh minuman haram itu sejak menikah lagi dengan Jihan.
.
Malam sebelum hari pernikahan, Ebel mendapat laporan dari anak tangan kanannya. Menunjukkan bukti akan hal-hal yang dilakukan oleh Marcell dibelakangnya.
Beberapa bukti ditunjukkan padanya. Foto Marcell dengan disebuah villa luar negeri. Surat pembelian rumah dan villa. Bukti pemesanan tiket, pembicaraan Marcell dan Jihan adalah satu bukti paling kuat. Dimana Jihan meminta Marcell untuk keluar dari dunia kotornya dan meninggalkan Meksiko setelah menikah. Bukan hanya itu, beberapa berkas yang bisa menjadi bukti kejahatan Ebel hilang dari brangkasnya.
"Sial! Apa yang dilakukan anak ini? Apa dia sudah gila demi wanita itu?" geramnya.
"Jika Anda ingin membunuh wanita itu, saya akan lakukan malam ini." kata tangan kanannya.
"Tidak, bukan hanya wanita itu. Anak yang sudah aku besarkan, harapanku setelah aku tidak bisa memiliki keturunan, berhianat padaku demi wanita milik orang lain." geramnya.
Pria tua itu lalu tertawa hambar. Seolah sedang menertawakan kebodohannya sendiri. Dia meremas foto ditangannya dengan kuat. Matanya memancarkan kemarahan sekaligus kekecewaan.
Seorang wanita, berambut ikal dan bermata bulat yang duduk di sudut kasurnya, menatap kosong pada lembaran foto yang terjatuh ke lantai. Meski dia terlihat sangat tenang, jantungnya kini sedang berdetak dengan kencang.
"Bunuh mereka berdua besok pagi di depan semua orang. Gunakan pembunuh bayaran, aku tidak mungkin membunuh penerusku dan menunjukkan ada masalah internal. Segera dapatkan kembali berkas yang sudah ia berikan pada detektif itu."
"Baik, Ketua."
Setelah tangan kanannya keluar, Ebel berbalik. Menatap wanita yang sudah ia nikahi tiga tahun yang lalu. Berjalan cepat dan menciumnya dengan brutal.
"Aku akan menghancurkan siapapun yang berhianat padaku. Bahkan jika dia orang terdekatku sekalipun." bisiknya ditelinga wanita itu.
"Aku mengerti, jangan kasar padaku. Aku suka kamu lebih lembut." ujar wanita itu. Berusaha membujuk Ebel agar tidak melampiaskan kemarahan padanya.
Sayangnya, permintaan itu tidak terealisasi seperti keinginannya. Ebel adalah sosok kejam dan tampa belas kasih. Dia menyentuh istrinya dengan kasar. Membuat wanita itu menangis dalam diam. Sorot matanya hampa dan seolah dia hanya seorang boneka *** yang tidak memiliki jiwa.
.
Kabar yang disampaikan mata-mata Chris membuat dia dilanda rasa cemas yang luar biasa. Chris tidak menduga bahwa rencananya bisa membahayakan Jihan pada akhirnya.
"Aku tidak terkejut, tapi ini diluar perhitungan kita." kata Alex yang kini berada di dalam kamar Chris.
"Kita harus mendapatkannya dalam perjalanan." usul Chris.
"Itu akan lebih sulit. Kita kalah jumlah." jawab Alex dengan cepat.
"Jadi maksudmu, satu-satunya harapan hanyalah bergabung dalan kekacauan pesta?"
"Kita tidak punya pilihan. Ini bukan wilayah kita, Chris." ujar Alex.
Chris tahu Alex benar. Hukum disini tidak sama dengan hukum negaranya. Dia tidak bisa menyebabkan lebih banyak masalah di negara orang lain.
.
Paginya, Chris sudah bersiap dengan segala penyamarannya. Dengan penampilan pelayan, bersama Alex mereka bergabung dintengah pesta.
Entah bagaimana Marcell bisa mendatangkan penghulu dan wali hakim. Kabarnya, mereka didatangkan langsung dari negara Bruney, tempat dimana dia sebelumnya membawa Jihan meski mereka masih berkewarganegaraan Indonesia. Semua berkas Jihan juga palsu karena yang asli ada dirumah mereka.
Ketika Jihan keluar dari satu ruangan dimana ia tadi dirias, Chris mengepalkan tangannya. Wajah Jihan yang tirus. Lengannya yang semakin kurus. Meski ia memakai gaun tertutup, Marcell benar-benar membuang identitas seorang muslimah darinya. Hal itu membuat Chris benar-benar diliputi kemarahan dan penyesalan. Dia sangat tahu bagaimana Jihan menjaga dirinya selama ini.
Chris merapalkan kata maaf di dalam hatinya berulang kali. Penyesalan yang tiada tara ia rasakan ketika dia tidak bisa menjaga orang yang dicintainya.
Alex yang berpura-pura menjadi petugas keamanan mendapatkan kode dari anak buanya yang lain ketika melewatinya. Bahwa Marcell memasuki aula. Alex berjalan melewati Chris dan berbisik sambil lalu bahwa Ebel juga telah tiba.
Chris berjalan perlahan, berpura-pura ikut melihat acara prosesi ijab kabul. Dia yang penampilannya kini tersamarkan oleh rambut panjang, kaca mata bulat dan sedikit jambang tipis. Berdiri tepat di belakang Marcell.
Jihan duduk di antara penghulu dan Marcell. Tepat disebelah wali hakim. Ketika penghulu mulai berbicara, Ebel memerintahkan anak buahnya untuk membubarkan orang-orang yang mengelilingi mereka. Sehingga mau tidaj mau, Chris juga ikut menjauh.
Chris tahu mengapa Ebel melakukan hal itu, tentu saja untuk memberi ruang bagi penembak untuk mencapai sasarannya. Wajah Ebel bahkan tidak menunjukkan ekspresi apapun. Sangat berbeda dengan Marcell yang terlihat sangat antusias dan bahagia.
Jantung Chris berdetak dengan cepat, ketika Alex memberi aba-aba bahwa Chris harus melompat pada Jihan. Dengan cepat, Chris berlari dan menabrak tubuh Jihan hingga menabrak pria tua disampingnya. Mereka bertiga berguling dilantai ketika dua buah peluru dilepaskan.
Seluruh anak buah yanf berpihak pada Marcell dan yang tidak mengetahui rencana Ebel, berusaha melindunginya. Marcell sendiri terkena tembakan di dadanya. Tidak seperti kasus Chris, dia tidak memakai rompi anti peluru. Sehingga peluru itu menembus dadanya.
"Kejar bajingan yang membawa lari menantuku! Dia pasti pelaku dari penembakan ini!" teriaknya.
Alex yang masih berada disana, mendorong meja kearah anak buah Ebel. Menghalanginya hingga Chris menghilang dari pandangan bersama anggota mereka yang lain.
Beberapa pembunuh bayaran dan mata-mata yang dibayar oleh Chris mengacaukan pergerakan anak buah Ebel. Membuat pri tua itu melepaskan tembakan membabi buta. Sayangnya dia bukanlah penembao jitu, Alex berhasil menghindar. Lalu menarik tangan seorang wanita yang merupakan istri Ebel ikut keluar dari sana dengannya.
Mereka berlari kearah yang berbeda dengan Chris. Sehingga kelompok terbagi menjadi dua. Ketika bantuan datang dari pihao Ebel, Chris dan Alex dikejar dengan cara yang cukup brutal.
"Sial! Mereka sangat gigih!" umpat Chris yang menyetir mobilnya sendiri.
"Sebaiknya ambil jalur kanan. Aku akan menunjukkan jalan cepat menuju lokasi tujuan." ucap salah satu pria yang ikut masuk ke dalam mobil.
Chris melirik Jihan yang dijaga oleh dua orang di bangku penumpang. Sampai saat ini, Jihan masih diam saja meski terlihat sangat ketakutan. Kebingungan juga terpancar dari ekspresinya. Di terus menatap Chris yang tadi membawanya berlari hingga kini mereka berhasil membuat jarak dari anak buah Ebel yang mengejar.
Jihan sangat yakin bahwa orang yang membawanya adalah suaminya, namun karena Chris masih dalam mode penyamaran dan tidak berbicara apapun padanya, membuat ia jadi ragu.
"Mereka berhasil mengejar," ujar pria disebelah kanan Jihan.
"Kita tidak bisa hanya diam saja, buka jendelanya. Kamu! Merunduklah!" ujar pria di sebelah kiri Jihan, tampa aba-aba mendorong pelan kepala Jihan untuk menunduk.
"Jihan, berjongkoklah dibawah." pinta Chris.
Mobil memasuki gang sempit. Ada tiga motor dan satu mobil yang mengejar mereka. Ketika ada kesempatan, dua pria di kanan kiri Jihan menembak mereka.
Jihan mendongak, lagi-lagi menatap Chris dari belakang. Setelah mendengar suara dan nada bicara Chris padanya, Jihan sangat yakin dia tidak salah kali ini. Kelegaan merayapinya perlahan meski ditengah suasana genting seperti ini. Jihan merasa sangat bahagia dan penuh harapan. Berita kematian Chris yang ia dengar dari Marcell sudah dikonfirmasi ketidak benarannya oleh mata-mata Chris sebelum Jihan diminta melakukan rencana mereka.
"Sial, itu meleset."
Bunyi kaca pecah dari kaca belakang membuat Jihan kembali dari pikirannya. Ia menutup kedua telinganya karena sudah sangat trauma dengan suara tembakan.
Suara tembakan sahut menyahut. Ketika Chris berbelok ke jalan besar yang cukup ramai, tembakan akhirnya berhenti.
Para pengejar itu juga menyimpan senjata mereka. Memilih tidak mengundang keributan dijalan yang menyebabkan polisi akan mengganggu mereka.
Dua motor berhasil mengejar dan berada di kedua sisi mobil mereka. Sayangnya, sebelum berhasil menembak kearah mobil Chris, mereka ditabrak dari belakang oleh dua buah mobil.
Alex muncul di sisi kanannya dengan mobil lain, dan anak buah Chris yang lain di sisi kirinya.
"Sepertinya satu motor dan satu mobil lainnya berhasil diatasi mereka." ujar pria di kanan Jihan.
"Jihan, duduklah kembali. Kamu baik-baik saja?" tanya Chris.
"C-Chris?"
Chris ingin sekali memeluk Jihan saat ini ketika ia melihat istrinya bersimbah air mata.
"Ya, Sayang. Maafkan aku karena membutuhkan waktu yang lama untuk menjemputmu."
Chris juga tidak bisa menahan perasaannya. Air matanya jatuh begitu saja. Namun dia mengusapnya dengan cepat. Dia harus fokus untuk cepat sampai ke tempat tujuan.
Sesampainya di sebuah sudut kota, dimana ada sebuah lahan kosong yang dijadikan tempat pembuangan rongsokan mobil. Mereka berhenti disana. Sebuah helikopter telah menunggu disana dalam keadaan siap terbang.
Chris dan Jihan segera naik. Begitu juga Alex dan seorang wanita yang ia bawa. Sementara orang-orang yang tadi bersama mereka, masuk kedalam mobil dan segera pergi dari sana. Misi telah berhasil dan mereka juga sudah menerima bayarannya.
.
"Anda baik-baik saja, Nyonya Jihan?"
Arjun duduk di samping pilot, menoleh kebelakang dan tersenyum pada Jihan yang kini masih dipeluk erat oleh Chris.
Jihan menoleh, meski begitu dia enggan untuk melepaskan diri. Ketika Arjun memberikan sebuau kain persegi empat yang mirip dengan selimut tipis. Jihan tahu maksud dari tangan kanan Chris tersebut.
Alex yang lebih dekat mengambilkan untuknya. Chris segera mengambil dari tangan Alex dan menutupi kepala Jihan hingga membalut tubuh bagian atasnya.
Mereka langsung turun di kawasan bandara dan langsung masuk ke dalam pesawat pribadi yang telah disiapkan. Meninggalkan negara itu secepat mungkin sebelum Ebel menyadari apa yang terjadi.
Chris dan Jihan saling melepas rindu begitu mereka masuk ke dalam ruangan pribadi yang telah disiapkan Arjun. Mereka juga telah mengganti baju dan Jihan memeluk Chris sambil berbaring di atas kasur. Dengan kepala yang berada di atas lengan sang suami, Jihan menatap kedua bola mata Chris dengan intens.
"Entah kenapa... Aku merasa sedikit kotor Chris."
Deg!
Jantung Chris terasa ditekan dan hatinya terasa tercubit. Tiba-tiba rasa sesak merambat kedalam dadanya ketika Jihan menurunkan pandangannya usai berkata demikian.
"Hei, kenapa berkata begitu?"
Chris mengusap pipi Jihan, membelainya dengan lembut lalu mencium keningnya dengan penuh perasaan. Berusaha meyakinkan Jihan dengan tindakannya, bahwa apapun yang terjadi, tidak akan ada yang berubah dari mereka.
"Kamu... Kamu tidak ji...hmm!"
Chris mencium bibirnya untuk menghentikan Jihan melanjutkan perkataannya. Chris tidak ingin Jihan mengingat hal-hal buruk selama penyekapan. Karena dia juga tahu, Marcell belum menyentuhnya lebih jauh. Marcell mungkin memeluk dan menciumnya dengan paksaan beberapa kali, tapi Chris tahu tidak ada lebij dari itu. Meski Chria juga tidak ikhlas dan sangat marah, toh pelakunya kemungkinan sudah mati. Baginya, tidak ada yang lebih membuatnya lega dan bahagia selain Jihan kembali kedalam pelukannya. Dia tidak akan mempermasalahkan hal yang bukan kesalahan Jihan.
"Aku mencintaimu, hanya itu yang perlu kamu ingat. Aku sangat-sangat mencintaimu, Jihan." bisiknya dengan lembut.
Chris kembali memeluk Jihan yang menangis. Dia tidak mengatakan apapun selain kata cinta yang tulus. Karena dirinya juga bersalah dalam hal ini. Dia merasa memiliki andil akan apa yang menimpa Jihan saat ini. Dia dan keluarganya, serta masa lalu ibunya dengan ibu Bayu adalah awal semua ini bermula. Chris ingin bahagia, dia telah menemukan tujuannya. Sehingga ia dengan penuh tekat dan keyakinan, akan memperbaiki semua kesalahan yang telah ia dan keluarganya buat dimasa lalu.