Wife Or Nanny?

Wife Or Nanny?
64



Alis itu menukik kebawah. Wajahnya sangat terganggu. Kalau bukan karena wajah lucu anak-anak milik Jihan, mungkin dia sudah akan memuntahkan sarapannya pagi ini.


'Saat itu, kamu lebih bersinar dari bintang. Ji'an'


Nah!


Kalimat itulah yang tertulis dibelakang foto jihan dengan rambut kucir duanya. Chris jadi sangat ingin tahu siapa yang bisa menulis kalimat menggelikan seperti itu. Tentu saja, bagi pria dengan kepribadian seperti dirinya. Kalimat klise seperti itu akan terdengar menggelikan alih-alih puitis.


"Ji'an? Kenapa brengsek ini memanggilnya dengan panggilan seperti itu?" gerutunya.


Dia memasukkan foto itu ke dalam laci meja dan membuang kotaknya ke tong sampah. Lalu, dia teringat dengan kopi panas yang ada di meja Jihan.


"Arjun, bawakan aku kopi yang ada di atas meja Jihan." suruhnya lewat telepon.


Arjun yang bingung, menatap bergantian telepon yang sudah ditutup dan kopi yang kini berada di tangan Jihan. Wanita itu sudah akan meneguknya. Arjun cepat-cepat menahannya dengan berteriak.


"Tunggu!"


"Huh? Ada apa denganmu?"


Arjun mengulurkan tangannya. "Berikan padaku kopi itu, ini untuk kebaikan kita berdua, oke!"


Jihan yang tidak mengerti lalu meletakkan kopi itu ke atas meja Arjun. Arjun segera berdiri dan membawa kopi itu masuk.


Sesampainya di dalam, Arjun menghembuskan napasnya dengan berat. "Tuan, sebenarnya apa yang sedang anda coba lakukan? Kemarin anda yang menghindarinya. Lalu sekarang apa? Mulai lagi?"


"Mungkin, secepatnya aku harus menikah lagi dengannya."


"Kenapa? Bukankah jelas-jelas dia menolak anda."


"Jadi, tugasmu menjelaskan apa yang terjadi mengenai masalah hutang."


Arjun mengerutkan keningnya. "Kenapa tiba-tiba? Apa karena paket itu, apa isinya?"


"Jangan banyak tanya dan lakukan saja." perintah Chris.


.


Arjun berpikir akan mudah dengan hanya mengatakannya saja. Tapi nyatanya itu tidak seperti yang ia harapkan. Setelah mencari celah untuk membahas masalah itu, lalu menceritakannya ketika mereka makan siang di kantin. Jihan terlihat sama sekali tidak percaya.


"Aku tidak mengada-ada. Itulah yang sebenarnya terjadi. Kamu bisa menemui Alex dan bertanya padanya."


"Lalu kenapa baru menjelaskan sekarang? Saat aku bertanya dia diam saja. Kamu mengatakan ini, atas perintah dia kan? Apa tujuannya kali ini?"


Arjun mengambil tisu dan mengelap mulutnya. Dia bangkit, namun belum pergi. "Lanjutkan makan siangmu, aku duluan. "


Jihan menatap makanannya yang tinggal setengah tampa minat. Tiba-tiba selera makannya jadi hilang. Dia sudah hampir melupakan masalah itu karena berusaha tidak memiliki dendam. Tapi karena Arjun menjelaskan kejadian sebenarnya. Dia menjadi merasa campur aduk sekarang.


'Jika itu perbuatan ibunya, bukankah sama saja karena pada akhirnya dia memerintahkan rentenir itu menyita semua harta kami?'


Meski mengetahui fakta itu, namun entah mengapa dia tidak bisa menyalahkan Chris. Karena perkataan Arjun sebelumnya yang mengatakan alasan Chris melakukan hal itu.


"Tuan melakukannya agar kamu bergantung padanya, tapi rencananya tidak berjalan lancar. Dia hanya ingin kamu kembali. Tapi sepertinya kamu sangat membencinya."


Kata-kata itu jadi terasa membebaninya.


.


Setelah makan siang, Chris tidak kembali ke kantor. Bahkan rapat di pimpin oleh Jordi. Chris bahkan tidak kembali menjelang jam kerja usai.


Jihan melirik Arjun yang kini sudah merapikan barangnya. Dengan ragu dia akhirnya menanyakan kemana Chris pergi. Kenapa mereka tidak ikut bersama jika kepergiannya untuk sebuah pekerjaan.


"Sebenarnya... Presdir bukan pergi karena urusan perusahaan, kan? Apa yang sebenarnya terjadi? Apa ada sesuatu yang buruk?"


Arjun menyunggingkan seringaian kecil. Lalu menoleh dengan kilat aneh diwajahnya.


"Kalau kamu kawatir, kenapa tidak tanyakan sendiri? Ponselnya tidak dimatikan tuh."


Melihat respon Jihan yang malah menurunkan pandangannya dengan wajah murung, Arjun terkekeh pelan.


"Aku juga tidak tahu. Dia tidak menjelaskan apapun. Dia tidak menerima panggilan telepon atau membalas pesanku. Hanya ada komunikasi satu arah."


Mereka akhirnya pulang masing-masing. Jihan diizinkan membawa mobil perusahaan lagi. Hal itu atas perintah Chris, namun tentu saja Jihan tidak tahu itu. Dia hanya tahu Arjun yang melakukannya.


.


Waktu berlalu begitu saja. Arjun terus saja berada disituasi sulit dan dia memiliki pekerjaan dua kali lipat dari biasanya. Jihan sampai takut melihat wajah seramnya ketika dia mulai marah ketika seseorang tidak bekerja dengan baik.


Terkadang Jordi datang membantunya. Mereka bekerja lebih sibuk dari biasanya. Arjun terus saja menggerutu karena kepergian Chris yang tiba-tiba. Dia sangat bingung kemana tuannya pergi. Hanya mengirimkan pesan dan perintah.


"Ini sudah seminggu, sebenarnya kemana kak Chris pergi? Dia harus hadir saat peresmian resort!" tanya Jordi. Mereka sedang di dalam ruang kerja Chris, lembur menyelesaikan pekerjaan yang ditinggalkan olehnya.


"Dia pergi tiba-tiba setelah... " Arjun melirik Jihan yang berada disudut sofa, melakukan pekerjaannya dengan wajah murung. Arjun menghembuskan napas dengan lelah. "Tidak peduli apa rencananya, dia tidak bisa meninggalkan kita seperti ini. Dia bahkan tidak mengajukan cuti!" keluhnya.


"Memang apa yang terjadi sebelumnya?" tanya Jordi.


"Tidak ada," bohongnya. "Tapi Jihan, apa kamu mendapatkan paket lagi dalam minggu ini?" tanya Arjun.


"Itu... Sebenarnya kemarin."


"Apa itu?"


"Bukan apa-apa. Hanya keisengan yang lain."


Tentu saja Arjun tidak percaya. Namun dia tidak bisa memaksanya untuk bercerita.


"Jika pekerjaan kakak sudah selesai kakak bisa pulang. Besok kita harus terbang pagi-pagi sekali." kata Jordi dengan baik hati.


"Ya, terimakasih." sahut Jihan. Dia segera merapikan berkasnya dan meletakkan di atas meja.


Setelah Jihan keluar, Jordi menatap Arjun dengan wajah serius.


"Jangan tanya apa-apa Tuan Jordi, kali ini saya benar-benar tidak tahu apapun." kata Arjun.


"Lalu, paket apa yang diterima oleh kak Jihan?"


Arjun mengangkat wajahnya yang sejak tadi fokus pada laptop Chris.


"Dia beberapa kali menerima paket dari orang tak dikenal. Dia tidak mengatakan spesifiknya. Dia hanya mengatalan itu ulah orang iseng."


"Orang iseng mana yang mengirim berulang-ulang. Orang itu pasti punya tujuan."


"Yah, mungkin saja. Tapi karena dia tidak mau mengatakannya, aku juga tidak bisa membantu." Dia merahasiakan fakta bahwa mereka telah menyelidiki pengirim.


"Kamu bisa tanyakan itu pada Bayu."


Jordi terlihat sedikit kesal, namun dia menyembunyikannya dengan baik. Dia sangat tahu dibalik posisi asisten yang disandangnya secara resmi, Arjun adalah tangan kanan paling terpercaya kakak angkatnya. Orang-orang cenderung menghindarinya. Bahkan sekelas direktur sepertinya sekalipun.


"Baiklah, aku akan pulang duluan. Sampai jumpa."


"Terima kasih atas bantuan anda, hati-hati dijalan direktur." sahut Arjun, dia berdiri untuk mengantar kepergian Jordi.


Setelah itu, dia menatap tumpukan berkas dan menghembuskan napas beratnya. "Sebenarnya kemana dia pergi dengan meninggalkan banyak mata-mata disini. Aku bahkan tidak bisa bersantai. Dia benar-benar tiran yang kejam!" Baru saja dia selesai menggerutu, ponselnya bergetar. Dia dihubungi oleh orang yang membuatnya kesal.


"Ya, Tuan?"


Wajahnya menahan kesal ketika dia mendengar perkataan Chris di seberang.


"Tapi semua investor dan semua tamu undangan pasti ingin bertemu dengan anda. Bagaimana bisa anda tidak datang? Sebenarnya anda ada dimana?"


Arjun terlihat pasrah, dia tidak mendapatkan jawaban apapun kecuali sekedar pemberitahuan bahwa Chris tidak akan hadir pada acara peresmian.


Arjun berulang kali bertanya pada pihak hotel jika melihat Chris pulang, karena dia perlu bicara panjang dengannya. Namun dia sama sekali tidak mendapatkan kabar apapun. Chris tidak terlihat dimanapun. Bayu bahkan tidak tahu apa-apa.


Pintu terbuka, seseorang muncul disana dan masuk begitu saja. Dia adalah Alex yang baru saja keluar dari rumah sakit dua hari yang lalu. Dia membawa sebuah flasdist berisi rekaman vidio kepada Arjun.


"Apa ini? Apa tuan yang menyuruhmu kesini?" tanya Arjun.


"Dia menyuruhku menyelidiki hal ini bersamamu. Tampa campur tangan orang yang bernama Bayu."


Arjun mengambil flasdist itu dan memasangnya pada laptop. Alex duduk dengan santai sambil menunggu. Dia memperhatikan seluruh ruangan tampa minat.


Arjun meperhatikan vidio dengan saksama. Lokasinya tampak berada di ruangan VIP sebuah klab malam. Dua orang masuk ke sana. Lalu beberapa detik selanjutnya disusul satu orang. Arjun tidak begitu mengenali mereka. Yang jelas, mereka terlihat bukan orang sembarangan.


"Dia mulai membentuk aliansi sendiri." kata pria dalam vidio.


"Dia mulai membangkang dibelakang kita. Kita tidak bisa membiarkannya."


"Tapi dia mendapat kepercayaan penuh dari Ebel disini. Kita tidak bisa bergerak sembarangan."


"Dia hanya anak kemarin sore yang melompat dengan tepat. Kita hanya harus menemukan celah dan menunjukkannya pada Ebel."


Saut menyaut pembicaraan antara tiga pria paruh baya itu hanya sampai disitu. Arjun mencabut flasdist itu lalu mematikan laptopnya.


"Vidionya terpotong, perekam ketahuan atau apa?"


"Aku tidak tahu, tapi yang jelas, sesuatu terjadi di dalam kubu mereka."


"Siapa orang-orang yang kamu maksud ini?" tanya Arjun.


"Tentu saja orang disekitar Marcell, siapa lagi? Aku mendapatkan vidio itu dari mantan orangku yang sudah menjadi salah satu dari mereka."


"Orangmu? Masih loyal atau kamu membelinya?"


"Itu tidak penting, Chris mengatakan padaku agar kamu menemui Marcell diam-diam."


Arjun memijit kepalanya, dia memahami maksud dan rencana dari tuannya. Namun dia tidak mengerti kenapa Chris malah pergi entah kemana.


"Dia benar-benar. Kamu juga tidak tahu dimana dia berada?"


Alex tersenyum sinis. "Sejak kapan kami dekat?" jawabnya.


.


Jihan menatap makan malamnya dengan wajah tidak minat. Sejak pulang dari kantor, dia terus-terusan menatap ponselnya.


"Ada apa denganmu?" tanya Meri.


"Apa kamu sudah dengar kalau Chris pergi?"


Meri menggeleng, "Pergi kemana?"


"Tidak ada yang tahu. Arjun yang sudah lama dengannya saja tidak tahu kemana dia pergi."


"Dia tidak menghubungi kalian?"


"Sepertinya dia hanya menghubungi Arjun." jawab Jihan.


"Kenapa? Kamu kawatir padanya? Dia pria yang kuat omong-omong. Kamulah yang perlu do hawatirkan setelah menerima paket-paket aneh itu."


"Tidak, aku hanya teringat tentang fakta yang diceritakan Arjun."


Meri mengernyit, Jihan memang belum menceritakan hal itu. "Fakta apa?" tanyanya. Akhirnya Jihan menceritakannya sepanjang mereka makan malam.


"Apa kamu tidak ingin kembali padanya? Dari pada membuat posisimu sulit. Kamu juga tahu wanita itu sudah keluar dari rumahnya. Beritanya ada dimana-mana. Kenapa kamu tidak sekalian membenarkan rumor yang beredar?" Meri terkekeh kemudian. Rumor yang Meri maksud adalah rumor bahwa diperusahaan dan para tetangga yang mengatakan Chris mengusir Adora karena ingin kembali pada Jihan.


"Ck, berhenti membicarakan hal itu."


"Kenapa? Bukankah apa yang dilakukannya bentuk usaha untuk membawamu kembali. Walaupun caranya salah, tapi lihat saja tujuannya." kata Meri dengan sangat yakin.


"Itu dulu!"


Meri menghembuskan napas dengan kesal karena keras kepala yang dimiliki oleh Jihan.


"Dengar! Kamu masih menyukainya. Dia juga! Selain itu, kamu bisa menghindari Marcell itu. Rumor bahwa dia itu gengster bukan main-main. Kamu juga punya penguntit yang aneh! Jika kamu kembali, kamu akan aman."


Jihan menatap Meri dengan sendu. Perasaannya juga mengatakan lebih baik kembali jika Chris akan menawarkannya kembali. Namun egonya masih sangat besar. Karena pada awalnya dialah yang menyerah dan pergi. Sekarang, Chris menghilang. Dia jadi teringat apa yang ia katakan di tepi pantai saat itu. Tiba-tiba pikiran bahwa perkataannya menjadi alasan kepergian Chris. Namun logikanya menyangkal dengan keras. Karena yakin orang dengan kepribadian seperti Chris tidak mungkin melakukan hal seperti itu hanya karena masalah hati.


.


Sementara itu, orang yang sudah membuat resah dengan kepergiannya, nyatanya sedang menikmati kopi panas di sebuah villa dekat gunung yang berada di sebuah desa. Sebuah laptop berada di hadapannya. Juga sebuah ponsel yang terus menerus menerima notifikasi pesan.


"Anda ingin cemilan Tuan?" tanya pengurus villa.


"Tidak, tinggalkan aku sendiri." jawabnya dengan suara yang sangat tenang. Ditangan kanannya, dia memegang foto Jihan yang dia dapatkan dari paket yang saat itu ia ambil.


"Aku akan membuatmu menjadi milikku dengan cara apapun. Bahkan jika harus membiarkanmu berada dalam sedikit bahaya." gumamnya pelan.


Chris memiliki banyak mata-mata yang ia bayar untuk bekerja padanya. Dengan imbalan uang pada setiap informasi penting, siapapun pasti tergoda untuk menjadi bagian dari orang-orang itu. Sehingga tidak sulit baginya untuk tahu banyak hal. Seperti saat ini, dia tahu apa yang terjadi dengan organisasi dibelakang Marcell. Siapa orang-orang yang berperan besar dalam bisnis mereka dan alasan pulaunya sangat diinginkan oleh mereka.


Lalu, apa alasan dia pergi dari semua orang? Padahal ibunya masih koma. Tentu saja, ibunya bukan penghalang baginya. Hubungan mereka tidaklah baik layaknya ibu dan anak. Chris patuh karena ibunya memegang rahasia kelamnya. Meski ada sedikit penyesalan akan keadaan ibunya, namun tidak menjadikan Chris anak yang akan berdiri di samping ranjang ibunya setiap waktu.


Apa alasan itu?


Tentu saja, alasan kekanakan bagi dia yang sama sekali tidak mengerti bagaimana menangani masalah cinta dengan benar. Anak remaja mungkin lebih paham dari pada pria dewasa yang tidak pernah jatuh cinta seperti Chris. Pria yang tumbuh dibawah tekanan orang tua yang memiliki kehidupan cinta yang buruk. Yang dididik dengan hati dingin dan hanya dianggap sebagai alat yang akan membuat mereka terus bertahan dalam posisi puncak.