Wife Or Nanny?

Wife Or Nanny?
59



Chris menatap datar ibunya yang masih terbaring diruang rawat inap. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa tidak ada racun atau obat-obatan dosis tinggi yang memicu serangan jantung. Satu-satunya dugaan dokter hanyalah serangan psikologis.


Namun Chris dengan sangat yakin bukan itu penyebabnya, karena itu dia meminta pemeriksaan menyeluruh. Ibunya bukan orang yang mudah dipengaruhi, lebih dari itu Chris mencurigai gerak gerik Adora.


"Kalian yakin sudah memeriksa semuanya?" tanya Chris setelah seminggu lebih menunggu hasil pemeriksaanenyeluruh ibunya. Dihadapannya, berdiri dua orang dokter yang bertanggung jawab merawat ibunya.


"Kami memang mencurigai ada pemicu. Namun kami belum menemukan hal itu." jawab dokter pertama.


"Tapi... para peneliti mencurigai ada jenis racun yang belum teridentifikasi. Ini hanya kecurigaan mereka melihat kerusakan kecil beberapa jaringan. Mereka masih menelitinya, Tuan." sambung dokter kedua.


"Kirim sampel ibuku ke Amerika. Aku akan menghubungi pusat peneliti disana." jawab Chris.


"Baik, Tuan. Kalau begitu kami mohon undur diri."


Setelah keduanya pergi, Chris memijit kepalanya. Sakit kepalanya kembali lagi.


"Anda butuh obat, Presdir?" tanya Jihan, dialah yang menemani Chris kerumah sakit.


Chris tidak menjawab, dia bangkit berdiri dan merapikan jasnya. Berjalan keluar ruangan rawat inap ibunya. Jihan menghela napas pelan akan sikap dingin Chris. Dia sangat tidak menyukai sikap Chris yang sekarang, tapi Jihan sadar diri dia tidak punya hak untuk memprotes.


Meski marah dan membenci Chris, Jihan tetap tidak bisa mengabaikan perubahan padanya. Dia juga tidak suka melihat Chris mengalami kesulitan. Terkadang, Jihan berpikir bahwa dia seperti seorang munafik yang handal. Logikanya menyuruhnya membenci namun hati kecilnya tidak bisa melakukannya.


Mereka sampai di sebuah ruangan rawat inap lain di lantai tiga. Sebuah ruangan yang paling ujung dan dijaga dua orang di luar pintu. Ketika masuk, ada dua pengawal lain disana. Jihan yang tadi penasaran siapa yang dirawat disana, terkejut ketika melihat Alex terbaring disana dengan penuh luka.


Arjun mengangguk memberi gekstur untuk menjawab pandangan bertanya dari Chris. Mundur beberapa langkah sehingga Chris berada paling dekat dengan Alex.


"Kamu bisa bicara?" tanya Chris.


Alex meliriknya dengan sinis. Tubuhnya sudah sedikit bisa digerakkan meskipun masih sakit disana sini.


"Aku tersanjung orang sepertimu mengunjungiku." sindir Alex, suaranya sedikit lemah namun masih terdengar sinis. Lalu matanya menangkap Jihan yang berdiri di belakang, sebelah kiri Chris. Dia menarik senyum tipis.


Menyadari arah pandang Alex, Chris melanjutkan pertanyaannya. "Kamu mengetahui sesuatu ketika berada disana, bukan?" tanyanya.


"Tahu apa? Aku hanya disiksa dan dikurung seperti anjing. Apa yang bisa aku dengar?" jawabnya.


"Sayang sekali, bicara tentang anjing, aku menawarkanmu posisi itu." Alex melemparkan lirikan penuh kekesalan.


"Kenapa aku harus? Hanya karena kamu menyelamatkanku bukan bearti aku akan jadi anjingmu."


"Memang apa yang bisa kamu lakukan sekarang?"


"Sialan! Apa mereka benar-benar mengambil semua milikku?" tanyanya.


"Seperti yang dikatakan Arjun. Rumah dan rukomu dibakar. Tidak ada yang tersisa kecuali bangunan yang belum roboh."


Alex menarik senyum tipis. "Apa tidak apa-apa dia mendengarkan pembicaraan kita selanjutnya? Dia bukan gangguan lagi bagimu?" tanya Alex, menatap Jihan yang sejak tadi masih menunjukkan wajah terkejut dan juga takut.


Chris menoleh, untuk pertama kalinya sejak kemarahan di dalam kantor saat itu, dia menatap Jihan lagi. Pandangan datar dengan sorot mata yang menyiratkan kemarahan dan kekecewaan.


"Dia hanya asisten, bukan apa-apa. Apa yang kamu maksud dengan gangguan?" katanya.


Suasana hening yang menyesakkan terjadi beberapa detik setelah Chris mengatakan hal tersebut. Jihan menurunkan pandangannya. Menghindari tatapan tajam itu.


"Jadi aku salah paham? Baiklah kalau begitu." Alex menatap langit-langit ruangan itu. " Aku tidak mendengar banyak hal. Yang aku tahu, mereka mengatakan tentang Marcell yang berubah. Marcell yang fokus pada perusahaan, Marcell yang mencoba memanjat dari lubang dalam organisasi dan sejenisnya. Sepertinya dia mencoba menjadi orang baik. Ahk! Bajingan Aron itu ingin sekali membunuhku." keluhnya diakhir ketika dia mencoba mengangkat tangannya.


"Jadi dia bukan hanya ingin menjadikan perusahaan itu sebagai sarana cuci uang." komentar Chris dalam nada pelan dan lambat, "Istirahatlah dan jangan sampai mati. Aku harus pergi sekarang." kata Chris untuk mengakhiri percakapan.


Chris segera keluar dari sana. Jihan mengikutinya, namun Alex memanggilnya sehingga dia berhenti sejenak. Dengan ragu-ragu dia menoleh.


"Ap-apa?"


Alex tertawa, namun meyesalinya ketika dadanya menjadi sakit.


"Wanita yang dikatakan Aron, itu kamu bukan?" tanya Alex.


"Aron?" Jihan mengernyit bingung, dia tidak mengenal orang yang bernama Aron.


"Hati-hatilah, jangan pergi dari sisi bajingan itu. Meskipun kamu membencinya, kamu jauh lebih aman bersamanya."


Jihan mengepalkan tangannya. Kemarahan tiba-tiba menguasainya. "Pikirkan urusanmu sendiri! Kamulah yang membuat aku berada pada posisi ini, jangan bertingkah seolah sekarang kamu peduli. Orang licik sepertimu?" Entah dari mana datangnya keberanian itu. Jihan berbalik dan meninggalkan ruangan itu setelah mengatakan hal itu.


.


Sepanjang lorong rumah sakit Jihan terus memikirkan perkataan Alex. Dia tidak mengerti apa yang terjadi padanya. Tidak mengerti apa yang coba disampaikan Alex. Logikanya tertutup oleh amarah yang tiba-tiba memenuhi rongga dadanya.


"Berapa lama lagi kamu akan membuatku menunggu?"


Jihan tersentak, dia baru sadar sudah ada di depan pintu masuk lobi rumah sakit. Chris berdiri di samping pintu mobilnya. Menatapnya dengan galak. Jihan lupa kalau dia menjadi supir Chris juga, kunci mobilnya juga ada padanya. Dia segera berlari dan membukakan pintu untuknya.


"Maaf Presdir, saya tadi..."


"Lupakan! Cepat masuk!" potong Chris.


Jihan segera berlari masuk ke dalam mobil, duduk dikursi kemudi dan menyalakan mesin mobil dengan cepat.


Sepanjang perjalanan, Jihan dilanda kebingungan. Dia terus memikirkan perkataan Alex dan menduga-duga banyak hal dalam kepalanya. Takut kalau Alex tahu tentang Marcell yang berusaha merekrutnya. Dia hanya tidak ingin disalahpahami. Tapi ketika dia memikirkannya lagi, dia merasa aneh sendiri untuk apa memikirkannya sejauh itu. Akan lebih baik baginya untuk jauh dari Chris baginya. Penawaran Marcell berputar-putar dikepalanya.


"Berhenti menghela napas, itu menggangguku." kata Chris ketus.


"Ma-maaf Presdir, saya tidak menyadarinya." jawab Jihan.


Chris menoleh sedikit, melihat ekspresi lucu diwajah Jihan yang sedang merutuki dirinya sendiri. Namun ketika dia mengingat perkataan Jihan saat itu, kemarahan kembali merasukinya bersamaan dengan rasa sakit yang terus menyebar.


.


Ketika mereka sampai, Chris yang sudah dalam suasana hati yang buruk, semakin buruk ketika melihat Adora duduk di dalam ruangannya. Wanita itu tampak santai dan tersenyum padanya.


"Keluar!" usir Chris segera.


Adora bangkit dengan kesal. Berjalan mendekati Chris yang kini duduk di kursi kebesarannya.


Mendengar hal itu, Chris menatapnya dengan pandangan remeh.


"Kamu pikir ini tempat bermain? Seorang dokter ingin bekerja di perusahaanku?"


"Kamu bisa menyediakan klinik di perusahaan. Atau aku bisa menjadi sekretarismu. Kamu bisa melatih Jihan kenapa aku tidak?"


"Aku sangat tidak menyukai parasit sepertimu berada dalam pandanganku. Kamu ingin pekerjaan? Apakah pesangon dari ibuku kurang setelah kamu berhenti bekerja?"


Adora menggeram menahan amarahnya. Dia mengepalkan tangannya dengan kuat. "Kamulah yang membuatku kehilangan penghasilan! Kamu juga yang menghentikan dana dari Mama untukku dan anak kita!"


Chris memang mengambil alih seluruh pengaturan uang milik ibunya setelah ibunya koma. Hal itu ia lakukan untuk menjaganya dari manusia serakah. Chris jugalah yang membuat Adora kehilangan pekerjaannya sebagai dokter. Itu adalah rencananya untuk membuat Adora pergi.


"Kamu ingin bekerja? Aku bisa memberikannya."


Mendengar itu Adora terlihat bersemangat. Membuat Chris menyeringai jahat.


"Menjadi pengasuh anak haramku." lanjutnya dengan kejam, lalu menyunggingkan senyum mengejek. Sangat puas melihat gurat kemarahan diwajah Adora.


"Dia anakmu! Bagaimana bisa kamu melakukan hal itu pada ibu dari anakmu!" kesal Adora.


"Keluar dari rumah itu dan jadi pengasuh anak itu. Aku akan memberimu uang setiap bulan. Bukankah itu adil? Lagipula tidak ada alasan bagimu untuk tinggal disana. Bahkan jika ibuku sadar, aku tetap akan mengusirmu. Pilihan ada ditanganmu."


Pintu diketuk dan Arjun masuk. Menyerahkan beberapa berkas untuk ditanda tangani oleh Chris. Adora menoleh dan menatapnya dengan marah.


"Beraninya kamu masuk! Kamu tidak lihat aku sedang bicara dengan atasanmu?" ketus Adora, tampaknya dia sudah lupa daratan sehingga mengucapkan kalimat tersebut.


Arjun menatapnya dengan wajah yang seolah-olah sedang bingung. Mengangkat sebelah alisnya sebelum menyunggingkan senyum palsunya.


"Maaf, aku tidak melihatmu." jawabnya. Lalu mengambil berkas yang sudah ditanda tangani oleh Chris. "Apa saya perlu memanggil keamanan, Presdir?" lanjutnya, kembali menatap Adora, kali ini dengan sorot menantang.


"Kamu! Beraninya kamu!"


"Hentikan!" ujar Chris pelan, meletakkan pena dan menatap Adora dengan malas. "Keluar dari sini. Pikirkan tawaranku atau tidak sama sekali. Anak itu tidak bearti apapun bagiku, jadi jangan jadikan itu senjata untuk tujuanmu." kata Chris tegas.


Adora berbalik, hendak pergi karena merasa sangat marah dan putus asa. Namun langkahnya terhenti ketika melihat Jihan berdiri di depan pintu dengan memegang sebuah berkas. Dari ekspresinya, jelas Jihan mendengar perkataan terakhir yang Chris ucapkan.


Adora berjalan melewatinya dengan menampilkan wajah yang sedih luar biasa. Dia tersenyum ramah seolah berusaha tegar dihadapan Jihan. Membuat Jihan merasa tidak enak hati.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Jihan.


"Aku pergi dulu." kata Adora, menunduk dan berlalu melewati Jihan yang terlihat kawatir.


Chris yang melihat drama itu, berdecak kesal. Arjun menoleh, lalu mengulurkan tangannya ketika Jihan sudah sampai di sampingnya. Memberikan berkas yang telah selesai ditandatangani dan mengambil berkas yang baru dibawa Jihan.


"Berikan ini pada direktur Jordi ya, Jihan." pinta Arjun.


"Baik."


Arjun menatap Chris yang tampak tidak peduli. Setelah Jihan pergi, barulah Arjun berani bertanya padanya.


"Apa tidak apa-apa membiarkan Jihan salah paham pada anda, Tuan?"


Chris yang fokus memeriksa berkas ditangannya tidak langsung menjawab. Setelah dia memberikan tanda tangan, barulah ia memberikan menjawaban.


"Aku tidak peduli. Dia sudah membenciku sejak awal jadi tidak ada bedanya sekarang."


"Kenapa anda tidak memberikan penjelasan. Juga soal hutang itu, maksud saya... anda mungkin terlibat di akhir. Namun bukan anda yang..."


"Apa gunanya sekarang? Dia sudah bertekat untuk tidak menerimaku lagi. Bahkan sebelum masalah hutang, dia membuangku dan tidak mempercayaiku. Aku pikir tidak ada gunanya usahaku sejauh ini."


Arjun melebarkan matanya, sangat terkejut mendengar perkataan Chris. Dia adalah orang pertama yang senang ketika Chris berubah menjadi lebih manusiawi. Jadi dia tidak ingin Chris kembali kedirinya yang dulu. Membayangkannya saja Arjun tidak mau.


"Tuan, anda jangan menyerah. Anda belum mencoba menjelaskan padanya bukan? Ajaklah dia bicara decara khusus. Apa saya perlu menyiapkan tempat..."


"Keluar! Lanjutkan pekerjaanmu." potong Chris tegas.


Mau tidak mau Arjun keluar dari sana meskipun masih banyak yang ingin ia sampaikan. Melihat Jihan yang baru saja kembali dari ruangan Jordi, Arjun menghembuskan napas dengan berat. Jihan yang tidak mengerti hanya acuh dan melanjutkan pekerjaannya sendiri. Membuat Arjun terlihat semakin frustasi.


.


Jam pulang tiba, seluruh karyawan yang sudah menyelesaikan pekerjaan mereka berbondong-bondong keluar dari gedung perusahaan. Tidak terkeculi tiga orang yang kini juga sedang bersiap-siap. Hari ini mereka beruntung karena tidak harus lembur.


Ketika turun dan baru keluar dari pintu lobi utama, Chris berdiri kaku disamping mobilnya setelah Jihan memohon izin dengan cepat dan berlari kecil menuju gerbang keluar. Dia berhenti disana dan menghampiri sebuah mobil yang berhenti di depan gerbang. Chris bisa melihat Marcell keluar dari mobil untuk menyambut Jihan dengan senyum lebarnya.


Seketika rahang Chris mengeras. Dia benar-benar merasa sangat marah hingga urat-urat di lehernya keluar. Dia mengira mereka sudah memiliki janji dan melihat Jihan yang langsung berlari, membuat ia merasakan sesak di dadanya. Jantungnya berdetak dengan sangat menyakitkan, seolah-olah ada ribuan jarum menusuknya disana. Memberikan siksaan yang menyakitkan.


Arjun yang melihat kejadian itu tidak bisa berkata apa-apa. Dia hanya berdiri diam menunggu perintah. Namun Chris tidak mengalihkan pandangannya sedikitpun dari sana. Dimana Jihan terlihat masih berbicara dengan Marcell. Arjun menatap atasannya itu dengan prihatin. Untuk pertama kalinya dia melihat sorot mata Chris yang terluka seperti itu.


Sementara itu, kejadian sebenarnya adalah Marcell yang tiba-tiba menghubungi Jihan dan mengatakan bahwa dia sudah di depan gerbang. Karena itu dengan cepat Jihan berlari keluar agar Chris tidak bertemu dengan Marcell. Jihan tidak ingin Marcell dengan gamblang mengatakan niatnya untuk menarik dirinya keperusahannya di hadapan Chris. Jihan bahkan belum memutuskan apapun.


"Kenapa anda kesini?" tanya Jihan.


"Aku hanya ingin menjemputmu."


"Saya sudah bilang saya tidak ingin dijemput. Bukankah saya sudah menjelaskan alasannya."


"Tapi Meri bilang kamu sering diantar oleh rekanmu. Dia juga laki-laki." jawab Marcell memberi bantahan. Jihan merutuki Meri dalam hati karena memberitahu Marcell dengan asal.


"Itu... Karena saya..."


"Karena itu perintah atasanmu?" potong Marcell. "Aku hanya mengantar, tidak melakukan apapun." bujuk Marcell.


Jihan terlihat sangat enggan, dia menoleh kebelakang untuk memastikan keberadaan Chris. Namun matanya terbelalak ketika Chris masih berdiri disana, menatap mereka dari jauh. Karena panik, Jihan akhirnya menyetujui ajakan itu. Dia tidak ingin mereka terlibat pembicaraan. Jihan tidak tahu kenapa, tapi dia hanya tidak ingin Chris tahu.


Setelah Jihan pergi, Chris membuka pintu mobil dan masuk. Lalu memerintahkan Arjun segera mengantarnya ke hotel.


Malam itu, Chris minum sangat banyak sekali. Arjun yang menemaninya terlihat sedih melihat keadaan Chris saat ini. Chris menghabiskan lima botol tampa makan malam. Dia hanya tertidur dengan wajah merah dan mulut yang terus meracau. Menggumamkan nama Jihan dan memukul dadanya berulang kali.


"Saya tidak tahu anda akan jadi semenyedihkan ini karena cinta, Tuan." ujar Arjun sambil menghela napas.