
Ketika malam semakin larut, seluruh ruang di kantor sudah kosong, Chris masih duduk di dalam ruangannya. Seluruh lampu di lantai itu masih menyala. Chris masih mengerjakan beberapa pekerjaan. Bukan karena berniat lembur, dia hanya memanfaatkan waktu ketika menunggu menunggu seseorang.
Pintunya diketuk dua kali, suara Arjun kenggema dikeheningan malam, ketika Chris memerintahkan untuk masuk, barulah pintu dibuka.
Arjun datang dengan Alex dan beberapa orang yang berhasil melumpuhkan Bayu. Chris bisa melihat bekas perkelahian pada mereka. Bahkan Arjun memiliki bekas pukulan diwajahnya. Chris tahu tidak mudah mengalahkan Bayu meskipun dia sendirian. Bukan tampa alasan dia menjadi kepala pasukan pengamanan untuk keluarga dan perusahaan.
Bayu berdiri dengan tangan terikat kebelakang. Wajahnya cukup terselamatkan, seoertinya dia menerima banyak pukulan di tubuh lain. Chris bisa melihat bekas darah dikeningnya, lalu ada noda darah di perutnya. Chris mengangkat kemeja Bayu yang sudah berantakan, memperlihatkan perutnya yang terdapat luka terbuka yang masih mengeluarkan darah.
"Jadi, apa motifmu selain kemarahan pada ibuku?" tanya Chris.
Bayu tidak menjawab, dia hanya menurunkan pandangannya dengan wajah tampa ekspresi seperti biasa. Alex yang geram, menendang kakinya sehingga ia tersungkur ke lantai, bahunya menabrak meja kerja Chris.
"Kenapa tidak langsung membunuhnya, apa gunanya motif. Kamu membuat kami kehilangan banyak tenaga tahu!" protes Alex, dia mengeluarkan rokoknya namun Arjun segera merampasnya. Alex terlihat ingin protes, tapi melihat ekspresi Chris, dia langsung menutup mulutnya.
"Dudukkan dia!" perintah Chris.
Arjun membantu Bayu bangun dan berlutut di depan Chris.
"Jadi, kenapa kamu baru membalaskan dendammu sekarang? Apa karena kamu baru tahu kecelakaan itu disengaja?" tanya Chris.
"Kenapa Anda ingin tahu, Tuan muda Christoper?" tanya Bayu, sengaja memanggil nama Chris dengan cara seperti itu, memperlakukan Chris seperti anak kecil yang tidak tahu apa-apa.
Chris tidak peduli, dia sama sekali tidak terganggu. "Meracuni ibuku dengan sesuatu, merencanakan kematian ibuku seolah karena serangan jantung. Kamu tidak hanya berniat membunuh satu orang dalam keluargaku bukan? Apa aku selanjutnya?" tanya Chris.
"Bagaimana menurut anda, Tuan?" tanya Bayu balik.
"Sayang sekali, aku tidak punya sesuatu untuk mengancammimu. Kamu juga bukan orang yang takut mati. Bagaimana ini? Haruskah aku memohon padamu untuk jujur padaku?"
Bayu menyeringai, untuk pertama kalinya Chris melihat sorot mata seperti itu darinya. Bayu yang biasanya menghormatinya, tunduk padanya dan tidak pernah meninggikan suaranya, kini menatap Chris seolah ia sedang menatap kotoran.
"Apa yang harus aku lakukan padamu?" kata Chris. Membalas tatapan Bayu dengan ekspresi santai.
"Apa lagi? Anda bisa membunuhku. Lakukan seperti Anda membunuh kakak anda sendiri."
Chris berdiri, melangkah ke hadapan Bayu, lalu mencengkram rahangnya dengan keras. Memaksanya mendongak dan menatap matanya yang memancarkan kemarahan.
"Tahu apa kamu tentang kakakku! Jangan menyebutnya seolah kamu mengenalnya, sepertinya aku sudah cukup lunak padamu selama ini." bisik Chris, dia menghempaskan kepala Bayu ke samping.
Dia sudah akan melayangkan tendangnnya pada rahang Bayu ketika ponselnya bergetar diatas meja. Chris melirik layar yang menyala dengan matanya yang tajam, kemarahan masih terpatri disana. Namun, ketika nama Jihan yang ada di layarnya, dia segera mengangkatnya.
"Halo."
Jihan mengatakan bahwa anaknya pulang lebih cepat. Jadi dia meminta izin untuk menjemputnya sekarang.
Chris memerimsa jam tangannya, "Tidak, ini terlalu larut." jawab Chris.
"Tapi Loli sudah disini. Aku baru saja menghubunginya."
'Jadi karena anak itu sudah ada disana, itu sebabnya di meminta izin?'
Chris menghela napasnya, jam ditangannya menunjukkan pukul sembilan lewat dua puluh menit. Dia tidak bisa menolak, karena hal itu akan memicu pertengkaran. Dia tidak ingin membuat Jihan marah lagi padanya.
"Suruh dia mengantarmu ke kantor, pergi denganku!"
Klik!
Chris mematikan sambungan dengan sepihak, dia tidak ingin ada bantahan yang berujung perdebatan. Dia masih belum selesai dengan Bayu.
"Anda sungguh berbeda dengan orang tua Anda, Tuan Chris. Itulah sebabnya saya tidak berniat mencelakai anda. Tapi mereka berbeda, orang tua anda, sama sekali bukan manusia. Mereka pantas mendapatkan kematian yang menyakitkan. Sayang sekali saya gagal dengan ibu Anda."
"Kamu!"
Chris tidak bisa melanjutkan perkataannya. Ingatan penyebab kematian kakek dan ayahnya muncul begitu saja. Melihat raut wajah Chris yang terkejut itu, Bayu menyeringai lagi.
"Anda menyadarinya sekarang?" kekehnya.
"Kamu... Bagaimana bisa kamu...!"
Bukan hanya Chris, Bayu dan Alex juga tampak terkejut. Mereka semua menatap Bayu dengan mata melebar.
"Kenapa? Apa alasanmu? Bukankah yang merekayasa kejadian yang menewaskan orang tuamu hanya mama?"
Bayu hanya menatapnya dengan pandangan menghina. Ia kembali bungkam. Bahkan ketika Arjun menyuruhnya bicara, dia tidak melakukannya. Alex sudah akan memukulnya kembali, namun Chris menyuruhnya berhenti.
"Kurung dia sampai dia mau bicara. Rahasia apa yang telah ia simpan, kita akan tahu seiring berjalannya waktu." perintah Chris.
Setelah Bayu dibawa pergi, Arjun yang masih disana memberikan tatapan kawatir pada Chris.
"Sepertinya, ini tidak sesederhana yang aku pikirkan." ujarnya pelan.
"Anda tidak harus memikirkannya terlalu berat, Tuan. Apapun yang dia sembunyikan, kami akan mencari tahunya. Tapi, jika ini menyangkut rahasia keluarga Anda, apa akan baik-baik saja jika anda tahu? Tidakkah sebaiknya kita menyerahkan dia ke polisi dengan tuduhan percobaan pembunuhan saja?"
Ponsel Chris bergetar lagi, ada pesan masuk dari Jihan yang mengatakan bahwa dia hampir sampai.
.
Jihan duduk disamping Chris yang sejak bertemu sudah terlihat dalam suasana hati yang tidak baik. Dia jadi bertanya-tanya apakah ini karena dirinya. Beberapa kali Jihan meliriknya, namun Chris sibuk dengan pikirannya sendiri.
Bukannya sengaja, Chris memang sedang memikirkan fakta yang baru saja di akui oleh Bayu. Bahwa kematian kakek dan ayahnya bukanlah kematian yang normal, melainkan sebuah pembunuhan berencana. Ada perasaan terganggu melebihi perasaan marah dihatinya. Chris benci mengakuinya, bahwa dibalik seluruh kebenciannya pada anggota keluarganya, masih ada hati yang menginginkan sedikit kasih sayang yang tidak pernah ia dapatkan, dan kini tidak ada harapan lagi setelah keduanya mati.
"Kita sampai, Apakah kita perlu masuk ke dalam Nyonya?" tanya Loli.
"Tidak perlu, kamu hanya perlu mengbari mereka." sel Chris.
"Ya, aku pikir ini juga terlalu larut untuk bertamu." jawab Jihan sembari mengetik sesuatu.
Lima menit berselang, pintu pagar terbuka. Jihan membuka pintu mobil dan langsung keluar untuk memeluk anaknya. Azam terlihat lebih kurus, hal itu membut Jihan sedikit kawatir dan sedih.
"Kenapa kamu jadi kurus?" tanyanya.
"Ini biasa saat anak-anak ujian." kata Haris.
"Tapi tahun lalu tidak," sanggahnya.
Melihat keakraban itu, Chris tentu saja sangat terganggu. Dia segera turun dan menghampiri mereka.
"Udara semakin dingin dan ini sudah larut, sebaiknya kita berangkat sekarang." katanya dengan datar.
"Kenapa dia ikut bersamamu?" tanya Haris, suasana menjadi lebih tegang.
Loli yang memperhatikan mereka dari mobil hanya diam sambil mengunyah permen karet. Gadis tomboi itu malah memilih main game diponselnya.
"Kamu tidak tahu atau pura-pura tidak tahu?" tanya Chris.
"Kita harus berangkat sekarang, Azam! Ucapkan salam pada ayahmu." potong Jihan,
Azam yang mengerti segera mengambil tangan ayahnya dan mengikuti Jihan yang menariknya masuk ke dalam mobil.
Chris melemparkan tatapan tajam sebelum ia ikut masuk ke dalam mobil. Dia memilih duduk di depan dan membiarkan Azam dan Jihan di belakang.
"Ibu, Azam lihat berita di internet. Apakah benar kalian akan menikah lagi?" tanyanya tiba-tiba.
Keduanya tentu saja terkejut, namun alih-alih menjawab, Chris hanya diam saja. Dia ingin mendengar bagaimana Jihan menanganinya.
"Kamu jangan terlalu percaya gosip di internet. Tidak semua pemberitaan benar. Mereka hanya menduga-duga." elak Jihan.
"Karena itulah, Azam memastikannya langsung pada kalian. Itulah yang harus dilakukan saat kita ingin tahu kebenaran agar kita tidak berburuk sangka pada orang lain." sahut Azam dengan sangat bijak dan pintar.
Chris tersenyum lebar, dia sangat menikmati bagaimana bingungnya Jihan menghadapi anaknya yang pintar dan bijak itu.
"Azam, ini masih dalam pembicaraan. Lagi pula kamu masih kecil untuk membahas hal ini. Jangan pikirkan masalah ini terlalu banyak," katanya.
Azam terlihat tidak puas, maka dia dengan berani beralih pada Chris. "Om Chris, bagaimana? Apakah Om akan kembali menikahi Ibu?" tanyanya dengan sangat lancar.
"Hmm, bagaimana menurutmu? Apa kamu keberatan?" tanya Chris balik.
Azam menatap ibunya sesaat, lalu melihat Chris yang kini menolehkan kepalanya sedikit.
"Azam tidak masalah asal ibu bahagia." jawabnya.
Jihan tertegun mendengar jawaban anaknya. Dia sempat beradu pandang dengan Chris yang menoleh padanya sebelum membuang pandangannya keluar.
"Senang mendengarnya, Nak." sahut Chris.
"Kalau memang benar percepat saja. Kenapa malah kemana-mana berdua!" skak Azam dengan tegas. Membuat ibunya memerah ditempat.
"Nah, aku juga ingin cepat. Jadi tolong bujuk ibumu." sahut Chris. Dalam hati dia sangat senang dengan pembahasan ini.
"Tapi kami tidak berdua, ada Loli." sela Jihan.
Azam melirik Loli yang memakai topi dengan rambutnya yang tergerai. Namun jawaban ibunya sepertinya tidak sesuai dengan apa yang ia pikirkan.
"Tetap saja, kalian tidak boleh terlalu sering bersama kalau tidak ada alasan yang dibenarkan! Ibu, cepatlah menikah lagi!" tegasnya.
"Bagaimana kalau besok? Kita bisa bicarakan ini pagi-pagi dengan kakek dan nenekmu." jawab Chris.
"Ibu?" panggil Azam, dia ingin Jihan menjawab ide itu.
"Azam, ibu perlu berpikir untuk ini. Jangan terlalu..."
"Jihan!" sela Chris dengan tegas, seolah mengatakan jangan dilanjutkan. Karena akan menyakiti hati Azam jika dia tidak menghargai pendapat anaknya.
Seketika Jihan merasa bersalah, "Maaf, maksud ibu... Baiklah. Lakukan yang terbaik. Ibu minta maaf membuatmu kawatir." kata Jihan.
Pada akhirnya tidak punya alasan untuk menolak ketegasan sang anak. Dalam hati kecilnya, dia juga membenarkan perkataan Azam. Keegoisan dan rasa takutlah yang terus mendorongnya untuk menolak ajakan Chris.